Legenda Siluman Ular Wei Lichun

Legenda Siluman Ular Wei Lichun

last updateTerakhir Diperbarui : 2026-05-21
Oleh:  Hz. Ceria Baru saja diperbarui
Bahasa: Bahasa_indonesia
goodnovel18goodnovel
Belum ada penilaian
7Bab
6Dibaca
Baca
Tambahkan

Share:  

Lapor
Ringkasan
Katalog
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi

Wei Lichun siluman ular putih. 900 tahun yang lalu dia menyaksikan keluarga nya, teman-temannya, kerabatnya mati di bakar manusia. manusia begitu kejam, demi mencapai kesehatan mereka mencari batu ular yang terkenal bisa menangkal semua penyakit dan menetralkan racun apapun. lichun kecil menyaksikan semua klannya di bakar sementara dia yang lemah hanya bisa bersembunyi di dalam batang pohon berlubang. Lichun di penuhi dendam, 1000 tahun kemudian dia terbangun dari hibernasi panjangnya, tujuannya satu yaitu mencari keturunan orang-orang yang telah membunuh keluarganya dan klan nya. hari itu adalah hari di mana kaisar melakukan pemilihan selir, Lichun menatap istana dengan tatapan matanya yang dingin.

Lihat lebih banyak

Bab 1

1 . Legenda of Wei Lichun

1000 tahun yang lalu lembah Baishi di penuhi siluman ular putih yang hidup damai. sampai suatu hari yang cerah, manusia-manusia berpakaian Jirah perang membakar, membunuh dan menguliti klan ular putih demi batu ular ajaib!

Wei Lichun, seekor ular putih yang baru menetas lemah, di sembunyikan di dalam lubang kayu oleh ibunya. menyaksikan bagaimana manusia membunuh keluarganya, membakar hingga udara di penuhi bau daging. lichun yang tidak mendapatkan kekuatan dari batu ular ayahnya di paksa melakukan hibernasi panjang.

hari ini adalah hari kebangkitan Lichun, pohon tua tempatnya bersembunyi meledak. Di balik jubah putih lusuhnya yang compang-camping, tangan Lichun terus mengepal. Setiap beberapa puluh langkah, dia terpaksa berhenti, bersandar pada batu besar sambil menekan dadanya yang berdenyut nyeri. Kekosongan di dalam dantiannya—tempat di mana seharusnya energi inti mengalir—terasa bagai luka menganga yang mengisap energinya tanpa ampun.

"Aku butuh energi," desis Lichun, suaranya nyaris tenggelam oleh desau angin gunung. Manik mata emasnya yang vertikal menatap lurus ke bawah, ke arah lembah di mana sebuah kota manusia yang padat mulai terlihat.

Dari kejauhan, kota itu tampak seperti sarang semut yang sibuk. Struktur bangunan kayu bertingkat dengan atap melengkung berdiri berdesakan, dikelilingi oleh tembok pertahanan batu yang tinggi kokoh. Asap mengepul dari ribuan cerobong dapur, dan suara sayup-sayup kebisingan fana mulai merayap naik ke lereng gunung. Itu adalah Kota Fuping, salah satu kota perbatasan terluar Kekaisaran Tianlong.

Lichun menarik napas dalam-dalam, mengumpulkan sisa sihir ilusinya yang tipis. Dengan satu kedipan mata, manik mata emas vertikalnya meredup, berganti menjadi sepasang pupil hitam legam yang tampak layu dan lelah—persis seperti mata seorang gadis manusia biasa yang kelaparan. Dia juga menarik rambut perak panjangnya yang mencolok, membiarkan energi spiritualnya menyelimuti helaian tersebut hingga berubah warna menjadi hitam pekat sewarna jelaga.

Setelah memastikan penyamaran fisiknya sempurna, dia kembali melangkah, membiarkan dirinya terseret ke dalam arus peradaban yang paling dia benci.

Gerbang Kota Fuping dijaga ketat oleh barisan prajurit berbaju zirah perunggu. Mereka memegang tombak panjang, memeriksa setiap kereta barang dan warga desa yang ingin masuk ke dalam kota. Lichun menyelusup di antara rombongan petani yang membawa tumpukan sayur mayur. Keberadaannya yang tampak kurus, pucat, dan mengenakan pakaian compang-camping membuat para penjaga gerbang mengabaikannya, mengiranya hanya sebagai salah satu dari sekian banyak pengemis yang mencoba mencari rezeki di dalam kota.

Begitu berhasil melewati gerbang, indra pendengaran dan penciuman Lichun langsung dihantam oleh gelombang informasi yang membingungkan. Bau minyak goreng, keringat manusia, kotoran kuda, dan wewangian murah bercampur menjadi satu aroma pekat yang membuat perut silumannya mual. Suara orang-orang yang berteriak menjajakan dagangan, denting koin tembaga, dan tawa keras manusia terdengar bagai siksaan di telinganya.

Lichun berjalan menyusuri jalanan utama yang ramai dengan kepala tertunduk, sengaja menyembunyikan wajahnya di balik kerudung lusuh. Namun, langkahnya mendadak terhenti saat dia melewati sebuah kedai teh bertingkat yang penuh sesak oleh pengunjung.

Di tengah-tengah kedai tersebut, di atas sebuah panggung kayu kecil, berdiri seorang pria paruh baya mengenakan jubah sarjana yang longgar. Pria itu memegang sebuah kipas lipat dan balok kayu kecil di tangan kanannya. Dia adalah seorang shuo-shu—pendongeng jalanan.

PAK!

Pria itu memukulkan balok kayunya ke atas meja, seketika membungkam riuh rendah penonton di dalam kedai.

"Hadirin sekalian!" seru sang pendongeng dengan suara lantang yang sengaja digetarkan untuk menarik perhatian. "Hari ini, kita merayakan Hari Kemenangan Agung, seribu tahun sejak leluhur agung kita, Kaisar Pendiri Klan Long, membawa kedamaian abadi bagi tanah Tianlong! Mari kita kembali mengenang pertempuran legendaris di Lembah Baishi!"

Darah di dalam tubuh Lichun seketika mendidih mendengarkan nama tempat kelahirannya disebut. Dia membalikkan tubuhnya, melangkah perlahan mendekati ambang pintu kedai teh, berbaur dengan kerumunan orang yang berdiri menonton dari luar. Matanya yang hitam kini berkilat berbahaya di balik bayangan kerudung.

Sang pendongeng membuka kipas lipatnya dengan sentakan dramatis, lalu mulai berjalan mondar-mandir di atas panggung. "Seribu tahun yang lalu, wilayah barat ini bukanlah tanah yang aman seperti sekarang. Tempat ini adalah neraka kediaman klan monster ular putih yang kejam! Mereka adalah iblis melata yang memangsa bayi-bayi manusia, menyebarkan wabah racun hijau melalui aliran sungai, dan menuntut persembahan gadis perawan setiap bulan purnama!"

"Benar! Monster-monster itu pantas mati!" sahut salah seorang penonton tua sambil meneguk araknya, diikuti oleh anggukan setuju dari orang-orang di sekitarnya.

Lichun mengepalkan tinjunya begitu erat hingga kuku-kukunya memutih. "Bohong," teriaknya dalam hati. 'Kami tidak pernah memangsa manusia! Kami tidak pernah menyebarkan wabah! Manusia yang datang ke lembah kami untuk mencuri tanaman obat, dan kami hanya melindungi wilayah kami!' Suara jeritan ibunya kembali terngiang di kepalanya, tumpang tindih dengan bualan mual yang keluar dari mulut pria di atas panggung.

"Namun, langit tidak menutup mata!" lanjut sang pendongeng, suaranya kian meninggi, penuh dengan nada dramatisasi yang memuja. "Melihat penderitaan umat manusia, Jenderal Agung Long Yan— yang agung menerima mandat langsung dari Penguasa Langit. Beliau memimpin sepuluh ribu pasukan suci menembus kabut beracun Lembah Baishi. Dengan pedang keadilan di tangan kanan dan berkah dewa di tangan kiri, beliau memotong kepala raja monster ular dan menyucikan lembah tersebut dengan api suci!"

PAK!

Balok kayu kembali dipukulkan. Penonton bersorak-sorai, bertepuk tangan dengan antusias seolah-olah mereka baru saja menyaksikan kemenangan itu dengan mata kepala sendiri.

"Melalui api suci itu," sang pendongeng tersenyum bangga, "seluruh kejahatan klan ular dimusnahkan tanpa sisa hingga menjadi abu. Dan sebagai bukti kemenangan umat manusia atas kegelapan, Jenderal Agung Long berhasil mengamankan sebuah batu giok suci dari sarang monster tersebut—Batu Jiwa Langit, yang kini menjadi pusaka kekaisaran yang melindungi takhta klan Long dari generasi ke generasi!"

Tawa dan sorak-sorai manusia di sekitar kedai teh itu terdengar bagai jarum-jarum beracun yang menusuk langsung ke telinga Lichun. Dada gadis itu naik turun dengan hebat karena amarah yang tak tertahankan.

"Batu Jiwa Langit?" Lichun mendesis pelan di balik bibirnya. "Itu adalah Batu Ular milik ayahku! Itu adalah inti kehidupan klan kami yang kalian rampas dengan paksa setelah membantainya secara licik!"

Rasa muak yang luar biasa membuncah di dalam diri Lichun. Buku sejarah manusia telah memutarbalikkan kenyataan dengan begitu menjijikkan. Para pembantai, penjarah, dan pembunuh berdarah dingin dipuja bagai dewa dan pahlawan, sementara klan ular yang menjadi korban genosida dihina sebagai iblis terkutuk yang pantas dilenyapkan. Dunia manusia ini benar-benar sebuah panggung sandiwara yang dipenuhi oleh kebohongan yang membual.

Di tengah sorak-sorai yang kian meriah, Lichun perlahan membalikkan tubuhnya. Dia tidak bisa tinggal lebih lama lagi di tempat ini tanpa melepaskan racun silumannya dan membantai semua orang di dalam kedai teh tersebut. Energi spiritualnya yang tipis bergeliat liar, dipicu oleh kebencian yang mendalam.

"Kalian merayakan kematian kami..." bisik Lichun pada dirinya sendiri, suaranya sedingin es yang tidak akan pernah mencair. Dia menatap ke arah langit, membayangkan istana megah di ibu kota tempat keturunan klan Long duduk dengan angkuh di atas takhta emas mereka.

"Kalian mengira telah membakar kami tanpa sisa. Namun kalian lupa... abu yang tertinggal bisa melahirkan badai."

Sambil melangkah pergi meninggalkan kedai teh yang bising itu, sebuah kepastian baru tertanam di dalam jiwa Wei Lichun. Pembalasan dendamnya tidak boleh hanya berupa pembunuhan acak di jalanan. Itu terlalu murah untuk harga darah ibu dan ayahnya. Dia harus naik ke tempat tertinggi, menyusup ke dalam lingkaran terdalam klan Long, dan menghancurkan seluruh kebohongan kekaisaran ini dari puncaknya.

Dia akan membuat kaisar mereka merangkak di kakinya, memohon ampunan, dan mengembalikan setiap tetes darah yang telah mereka curi seribu tahun yang lalu. Benih dendam di dadanya kini telah tumbuh menjadi pohon beracun yang siap berbuah kematian bagi seluruh keturunan klan Long.

Tampilkan Lebih Banyak
Bab Selanjutnya
Unduh

Bab terbaru

Bab Lainnya

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

Tidak ada komentar
7 Bab
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status