Chapter: Bab. 402Di sisi lain kota, suasana kediaman Elena terasa sunyi dan tenang. Pintu depan terbuka perlahan ketika seorang pria tua melangkah masuk dengan langkah berat, wajahnya tampak lelah seolah sudah berhari-hari tidak beristirahat. Itu adalah Tuan Bagas. Tatapannya kosong, namun di dalamnya tersimpan kegelisahan yang dalam. Seorang gadis segera menghampiri dari dalam rumah. Elena menatapnya dengan sedikit terkejut. “Kakek?” panggilnya pelan. “Ada apa datang tiba-tiba? Kakek terlihat sangat lelah. Ayo kitaa masuk dulu,” ajak Elena. Keduanya segera berjalan ke arah ruang tamu milik Elena. Terlihat Elena menjatuhkan bobot tubuhnya di kursi tepat di depan tuan Bagas. "Ada apa Kakek?" tanya Elena. Tuan Bagas tidak langsung menjawab. Ia hanya menatap Elena dalam diam, seolah sedang memastikan sesuatu yang sangat penting. “Elena,” suaranya serak. “Jawab Kakek dengan jujur.” Elena sedikit mengernyit. Ia belum pernah melihat pria tua itu seperti ini sebelumnya. “Apa kau benar-benar cucuku?”
آخر تحديث: 2026-05-07
Chapter: Bab. 401Kanaya masih berdiri di tengah ruangan dengan tubuh gemetar. Tatapannya berpindah dari wajah Putra Mahkota Daniel ke Kaisar Noah dan Permaisuri Jenika, mencoba mencari celah penjelasan.“Aku tidak mengerti … pasti ada kesalahpahaman,” ucapnya lirih, namun tetap memaksakan diri terdengar tegas. “Yang Mulia, kau sendiri yang mengatakan akan melamarku … kau tidak mungkin—”“Diam.” Suara Daniel memotong tajam, membuat tubuh Kanaya tersentak. Tatapannya semakin dingin, seolah gadis di hadapannya adalah orang asing.Namun Kanaya menggeleng cepat. Ia melangkah maju satu langkah, nekat meski tekanan di ruangan itu begitu mencekik.“Tidak! Aku harus tahu!” katanya, suaranya mulai bergetar. “Apa kesalahanku sampai kalian memperlakukanku seperti ini?!”Permaisuri Jenika mendengus jijik. Ia menatap Kanaya dari ujung kepala hingga kaki, penuh hinaan.“Kau masih berani bertanya?” ucapnya sinis. “Setelah semua kebusukanmu terbongkar, kau masih berpura-pura tidak tahu?”Kanaya mengepalkan tangan. Air
آخر تحديث: 2026-05-06
Chapter: Bab. 400Keesokan harinya, suasana kamar masih terasa sunyi saat Rima berdiri di ambang pintu. Ia menatap Kanaya yang duduk di ranjang dengan wajah ragu. “Nona, mohon jangan keluar dari penginapan ini,” ucapnya hati-hati.“Itu pesan dari Yang Mulia Permaisuri,” lanjut Rima pelan. “Untuk sementara akan lebih baik Nona tetap di dalam.”Kanaya hanya menatap sekilas, tanpa benar-benar mendengarkan. Rima menunduk, lalu perlahan keluar dari kamar dengan perasaan tidak tenang.Begitu pintu tertutup, Kanaya langsung mendengus pelan. Ia menggerakkan tubuhnya, lalu perlahan berdiri dari ranjang. Meski masih lemah, kini ia sudah bisa berjalan tanpa terjatuh.“Cih, hanya pelayan rendahan,” gumamnya sinis. “Berani-beraninya mengaturku.”Ia melangkah perlahan menuju meja, mengambil sebuah kantong berisi koin emas. Tangannya menggenggam erat, seolah itu cukup untuk memberinya kendali kembali.“Aku harus bertemu Putra Mahkota Daniel,” lanjutnya pelan. “Dia pasti sudah mencariku.”Tanpa ragu, Kanaya berjalan m
آخر تحديث: 2026-05-06
Chapter: Bab. 399Beberapa hari berlalu dalam kesunyian kamar penginapan itu. Tirai tertutup rapat, hanya menyisakan cahaya tipis yang masuk dari celah jendela. Tubuh Kanaya yang selama ini terbaring tak bergerak akhirnya menunjukkan reaksi.“Ugh … sakit sekali .…” erangnya pelan. Alisnya berkerut, tangannya bergerak lemah menyentuh dadanya yang terasa nyeri.Pintu kamar terbuka perlahan. Rima masuk sambil membawa baskom air panas, langkahnya hati-hati agar tidak menimbulkan suara. Namun saat ia menoleh ke arah ranjang, matanya langsung melebar.“Nona!” serunya spontan, wajahnya langsung bersinar lega. “Akhirnya nona sadar!”Kanaya mengerjap pelan, mencoba menyesuaikan pandangannya. Ia mengerang lagi, lalu perlahan berusaha bangun. Tubuhnya terasa berat, seolah bukan miliknya sendiri.Rima segera meletakkan baskom itu dan bergegas mendekat. “Biarkan saya membantu, Nona,” ucapnya cemas sambil mengulurkan tangan.Namun Kanaya langsung menepisnya. “Tidak perlu,” katanya dingin. “Aku masih bisa.”Rima terd
آخر تحديث: 2026-05-06
Chapter: Bab. 398“Bagaimana keadaan putriku, Tabib?” tanya Permaisuri Lola dengan suara tertahan. Tangannya mengepal di balik lengan jubahnya, menahan kecemasan yang tak bisa ia sembunyikan.Di dalam kamar penginapan mewah itu, suasana terasa sunyi dan berat. Tubuh Kanaya terbaring lemah di atas ranjang, wajahnya pucat, napasnya tipis. Tak ada lagi aura kuat yang dulu membuatnya disegani.Saat semua orang terfokus pada kejahatan Adipati Dirgantara, dan melupakan tubuh lemah Kanaya. Permaisuri Lola langsung bergerak cepat menyuruh orang suruhannya agar menyelamatkan putrinya tanpa disadari siapa pun.Tabib itu menunduk hormat. “Kondisinya … sangat lemah, Yang Mulia,” jawabnya hati-hati. Ia melirik sekilas ke arah Kanaya sebelum melanjutkan.“Bahkan, kemungkinan besar ia tidak bisa menjadi pendekar lagi,” ucapnya pelan. Kalimat itu jatuh seperti vonis yang kejam.Permaisuri Lola membeku. Tangannya mengepal semakin kuat, kuku-kukunya hampir melukai telapak tangannya sendiri. “Apa maksudmu, tidak bisa?” s
آخر تحديث: 2026-05-06
Chapter: Bab. 397Grep! Tiba-tiba sebuah tangan mencengkeram keras leher Adipati Dirgantara. Tubuhnya yang sudah lemah langsung terangkat sedikit dari lantai, membuat napasnya tersendat. Tatapan tajam Tuan Bagas kini penuh amarah yang tak terbendung. “Katakan!” bentaknya dengan suara menggelegar. “Di mana kau menyembunyikan cucu kandungku, bajingan?!” Cengkeramannya semakin kuat. Urat-urat di tangan Tuan Bagas menonjol jelas, menandakan betapa besar emosinya saat itu. Wajahnya memerah, matanya dipenuhi kebencian yang membara. “Menantu yang kupercaya…” desisnya pelan namun penuh racun. “Yang kuberikan kepercayaan … bahkan pasukanku … ternyata hanya pengkhianat!” Adipati Dirgantara tidak menjawab. Wajahnya mulai memerah, napasnya tersengal, namun bibirnya tetap tertutup rapat. Matanya hanya menatap kosong ke depan, menahan rasa sakit yang semakin menekan. “Katakan!” Tuan Bagas kembali membentak. Cengkeramannya makin kuat, hampir memutus aliran napas. “Di mana cucuku bajingan?!” Nyonya Andini melang
آخر تحديث: 2026-04-30
Chapter: Bab 536Setelah kedua bayi kembar itu dibersihkan dan dibedong dengan kain sutra lembut, Zhao Xueyan terlihat berbaring lemah namun wajahnya dipenuhi senyum kebahagiaan. Ratu Bing Qing duduk di samping ranjang, menggendong cucu laki-lakinya dengan hati-hati, menatap wajah mungil itu dengan penuh kasih. “Cucu nenek tampan sekali, benar-benar seperti ayahnya,” gumam Ratu Bing Qing sambil tersenyum haru. Di sisi lain, Kaisar Tian Ming duduk di samping Zhao Xueyan sambil menggendong bayi perempuannya. Tangannya mengusap pelan pipi sang putri yang putih kemerahan itu dengan mata berkaca-kaca. “Putriku, cantik sekali. Benar-benar mirip ibumu.” Saat itu Raja Zhao Yun mendekat, menatap sang cucu perempuan dengan tatapan gemas. Dia lalu menatap Kaisar Tian Ming dengan alis terangkat. “Yang Mulia, izinkan aku menggendong cucuku sebentar,” ujarnya sambil mengulurkan tangan. Namun Kaisar Tian Ming langsung memalingkan tubuhnya, menjauhkan sang putri dari jangkauan Raja Zhao Yun sambil menatapnya den
آخر تحديث: 2025-07-13
Chapter: Bab 535Sembilan bulan kemudian…Di paviliun Naga, suasana terlihat sangat tegang. Suara jeritan dan napas terengah-engah terdengar memenuhi ruangan. Zhao Xueyan terbaring dengan tubuh penuh peluh, rambutnya menempel di wajah pucatnya. Tangannya mencengkeram erat kain di bawahnya.“Arghhh … ahhh .…” suara Zhao Xueyan parau menahan sakit yang luar biasa.Di samping ranjang, Kaisar Tian Ming memegangi tangan istrinya dengan mata merah menahan tangis. Tangannya yang besar membelai kepala Zhao Xueyan dengan lembut.“Sayang, bertahanlah, sebentar lagi … sebentar lagi bayi kita lahir .…” suara Tian Ming bergetar menahan rasa sakit yang seolah ikut dia rasakan.Zhao Xueyan menatap suaminya dengan mata penuh air mata.“Tian Ming, sakit sekal i… ahhhh .…” jeritnya kembali menggema.Di sisi lain, Tabib Sun dengan sigap memeriksa sambil memberikan aba-aba.“Yang Mulia Permaisuri … tarik napas … lalu dorong! Sekarang!”Zhao Xueyan menarik napas dalam, menahan tangisnya, lalu mengejan sekuat tenaga.Niuni
آخر تحديث: 2025-07-13
Chapter: Bab 534Sebulan kemudian…Istana kekaisaran Tianyang kembali pada suasana damai dan megah seperti sedia kala. Setelah sekian lama diliputi ketegangan dan intrik kotor, kini suara musik lembut, aroma dupa, dan tawa bahagia terdengar di setiap sudut istana.Hari ini, Kaisar Tian Ming mengadakan perayaan besar-besaran untuk merayakan kehamilan sang istri tercinta, Permaisuri Zhao Xueyan.Terlihat Zhao Xueyan duduk anggun di singgasananya dengan hanfu putih bersulamkan benang emas, perutnya yang mulai membuncit menambah aura keibuannya. Ia tersenyum menatap rakyat dan para pejabat yang datang untuk memberi selamat.Seorang pejabat tua menatap Zhao Xueyan dengan senyum ramah lalu menangkupkan tangan memberi hormat.“Selamat atas kehamilan Yang Mulia Permaisuri, semoga putra atau putri yang lahir kelak membawa kejayaan dan kebahagiaan bagi Kekaisaran Tianyang.”Zhao Xueyan tersenyum lembut sambil membalas hormat dengan anggun. “Terima kasih atas doanya, Menteri Li.”Tak jauh dari sana, Kaisar Tian
آخر تحديث: 2025-07-12
Chapter: Bab 533Setelah Putri Min Ji beserta keluarganya diseret keluar aula penobatan dengan jeritan histeris, suasana altar kembali hening. Hanya terdengar suara napas berat Ibu Suri Gao yang perlahan melangkah mendekati suaminya.Dengan mata berkaca-kaca, Ibu Suri Gao menatap Kaisar Tian Jing. Tubuhnya bergetar menahan tangis. Kedua tangannya meraih lengan sang suami dengan lembut, seolah takut sentuhannya akan membuat pria itu menghilang lagi.“Suamiku … Jing’er … akhirnya kau kembali,” suaranya serak bergetar penuh kerinduan. “Aku … aku merindukanmu setiap hari. Aku mengira telah kehilanganmu selamanya.”Tapi tatapan Kaisar Tian Jing tidak menunjukkan kehangatan yang diharapkan sang istri. Matanya hanya menatap Ibu Suri Gao dengan sorot dingin yang penuh kekecewaan.Melihat itu, Ibu Suri Gao menelan ludah. Hatinya berdebar tak karuan. Perlahan ia bertanya dengan suara gemetar.“Ada … ada apa, suamiku? Kenapa kau menatapku seperti itu? Kenapa kau menatap istrimu dengan tatapan seperti itu? Apa ke
آخر تحديث: 2025-07-11
Chapter: Bab 532Saat itu, seluruh aula penobatan terdiam membeku. Hening yang menyesakkan seolah menelan semua suara. Hanya suara napas ketakutan Putri Min Ji yang terdengar pelan.Tiba-tiba, terdengar suara berat yang menua namun tegas memecah keheningan itu.“Benarkah … aku akan mati, Min Ho?”Suara itu bergema pelan namun menusuk ke jantung setiap orang yang mendengarnya.Semua orang menoleh dengan cepat, menatap ke arah sumber suara. Di sudut ruangan, di antara deretan kursi para tamu bangsawan, tampak sosok seorang pria tua dengan pakaian kekaisaran meski telah lusuh. Rambutnya sudah beruban seluruhnya, namun matanya tajam penuh wibawa.Deg! Itu Kaisar Tian Jing.Dia berdiri tegak meski tubuhnya kurus, tatapannya menusuk lurus pada Tuan Min Ho di atas altar.Di sampingnya, berdiri Zhao Xueyan dengan hanfu putih polos dan selendang biru. Wajah Zhao Xueyan tanpa riasan, namun sorot matanya begitu dingin dan tajam. Tatapannya mengarah pada Putri Min Ji dengan tatapan meremehkan yang menusuk.Mulut
آخر تحديث: 2025-07-10
Chapter: Bab 531Ibu Suri Gao menatap tajam ke arah Tuan Min Ho. Suaranya bergetar menahan amarah dan keterkejutan yang luar biasa.“Apa maksudmu Kaisar Tian Jing akan mati?” suaranya meninggi, matanya menatap tajam. “Suamiku itu sudah lama mangkat! Jangan menyebut-nyebut namanya sembarangan roh beliau akan merasa kau mempermainkan hal ini!”Tuan Min Ho justru tertawa terbahak-bahak. Tawanya terdengar menakutkan di tengah keheningan aula. Semua orang menatapnya dengan kengerian. Putri Min Ji yang terduduk menangis, perlahan menatap ayahnya dengan mata penuh harap.Nyonya Kim Na melangkah mendekat, menatap putrinya dengan senyum menenangkan. Dengan lembut namun tegas, dia membantu Putri Min Ji berdiri sambil berbisik pelan namun terdengar jelas.“Bangunlah, putriku. Kita belum kalah.”Mendengar itu, Putri Min Ji perlahan menghapus air matanya. Matanya yang bengkak kini menatap dengan sinar penuh harap, senyum kecil kembali muncul di wajahnya.Tuan Min Ho menatap lurus pada Ibu Suri Gao. Tatapan matanya
آخر تحديث: 2025-07-09