LOGINDicap sebagai putri palsu keluarga Adipati Dirgantara, Elena hidup dalam bayang-bayang kebencian dan penghinaan. Tiga tahun ia menanggung siksaan, hingga akhirnya kepalanya dipenggal oleh orang yang paling ia cintai, yaitu Putra Mahkota Daniel karena fitnah dari sang putri asli, Kanaya. Tapi takdir memberinya kesempatan kedua. Elena terlahir kembali sebelum semuanya hancur, Elena tak lagi gadis lemah yang rela diinjak. Ia akan meninggalkan keluarga Adipati yang kejam, mencari keluarga kandungnya yang sesungguhnya, dan menuntut balas pada mereka yang pernah menghancurkannya.
View MoreDi sisi lain kota, suasana kediaman Elena terasa sunyi dan tenang. Pintu depan terbuka perlahan ketika seorang pria tua melangkah masuk dengan langkah berat, wajahnya tampak lelah seolah sudah berhari-hari tidak beristirahat. Itu adalah Tuan Bagas. Tatapannya kosong, namun di dalamnya tersimpan kegelisahan yang dalam. Seorang gadis segera menghampiri dari dalam rumah. Elena menatapnya dengan sedikit terkejut. “Kakek?” panggilnya pelan. “Ada apa datang tiba-tiba? Kakek terlihat sangat lelah. Ayo kitaa masuk dulu,” ajak Elena. Keduanya segera berjalan ke arah ruang tamu milik Elena. Terlihat Elena menjatuhkan bobot tubuhnya di kursi tepat di depan tuan Bagas. "Ada apa Kakek?" tanya Elena. Tuan Bagas tidak langsung menjawab. Ia hanya menatap Elena dalam diam, seolah sedang memastikan sesuatu yang sangat penting. “Elena,” suaranya serak. “Jawab Kakek dengan jujur.” Elena sedikit mengernyit. Ia belum pernah melihat pria tua itu seperti ini sebelumnya. “Apa kau benar-benar cucuku?”
Kanaya masih berdiri di tengah ruangan dengan tubuh gemetar. Tatapannya berpindah dari wajah Putra Mahkota Daniel ke Kaisar Noah dan Permaisuri Jenika, mencoba mencari celah penjelasan.“Aku tidak mengerti … pasti ada kesalahpahaman,” ucapnya lirih, namun tetap memaksakan diri terdengar tegas. “Yang Mulia, kau sendiri yang mengatakan akan melamarku … kau tidak mungkin—”“Diam.” Suara Daniel memotong tajam, membuat tubuh Kanaya tersentak. Tatapannya semakin dingin, seolah gadis di hadapannya adalah orang asing.Namun Kanaya menggeleng cepat. Ia melangkah maju satu langkah, nekat meski tekanan di ruangan itu begitu mencekik.“Tidak! Aku harus tahu!” katanya, suaranya mulai bergetar. “Apa kesalahanku sampai kalian memperlakukanku seperti ini?!”Permaisuri Jenika mendengus jijik. Ia menatap Kanaya dari ujung kepala hingga kaki, penuh hinaan.“Kau masih berani bertanya?” ucapnya sinis. “Setelah semua kebusukanmu terbongkar, kau masih berpura-pura tidak tahu?”Kanaya mengepalkan tangan. Air
Keesokan harinya, suasana kamar masih terasa sunyi saat Rima berdiri di ambang pintu. Ia menatap Kanaya yang duduk di ranjang dengan wajah ragu. “Nona, mohon jangan keluar dari penginapan ini,” ucapnya hati-hati.“Itu pesan dari Yang Mulia Permaisuri,” lanjut Rima pelan. “Untuk sementara akan lebih baik Nona tetap di dalam.”Kanaya hanya menatap sekilas, tanpa benar-benar mendengarkan. Rima menunduk, lalu perlahan keluar dari kamar dengan perasaan tidak tenang.Begitu pintu tertutup, Kanaya langsung mendengus pelan. Ia menggerakkan tubuhnya, lalu perlahan berdiri dari ranjang. Meski masih lemah, kini ia sudah bisa berjalan tanpa terjatuh.“Cih, hanya pelayan rendahan,” gumamnya sinis. “Berani-beraninya mengaturku.”Ia melangkah perlahan menuju meja, mengambil sebuah kantong berisi koin emas. Tangannya menggenggam erat, seolah itu cukup untuk memberinya kendali kembali.“Aku harus bertemu Putra Mahkota Daniel,” lanjutnya pelan. “Dia pasti sudah mencariku.”Tanpa ragu, Kanaya berjalan m
Beberapa hari berlalu dalam kesunyian kamar penginapan itu. Tirai tertutup rapat, hanya menyisakan cahaya tipis yang masuk dari celah jendela. Tubuh Kanaya yang selama ini terbaring tak bergerak akhirnya menunjukkan reaksi.“Ugh … sakit sekali .…” erangnya pelan. Alisnya berkerut, tangannya bergerak lemah menyentuh dadanya yang terasa nyeri.Pintu kamar terbuka perlahan. Rima masuk sambil membawa baskom air panas, langkahnya hati-hati agar tidak menimbulkan suara. Namun saat ia menoleh ke arah ranjang, matanya langsung melebar.“Nona!” serunya spontan, wajahnya langsung bersinar lega. “Akhirnya nona sadar!”Kanaya mengerjap pelan, mencoba menyesuaikan pandangannya. Ia mengerang lagi, lalu perlahan berusaha bangun. Tubuhnya terasa berat, seolah bukan miliknya sendiri.Rima segera meletakkan baskom itu dan bergegas mendekat. “Biarkan saya membantu, Nona,” ucapnya cemas sambil mengulurkan tangan.Namun Kanaya langsung menepisnya. “Tidak perlu,” katanya dingin. “Aku masih bisa.”Rima terd
Malam hari tiba dengan cepat. Langit gelap, dan butiran salju turun perlahan, menutupi halaman paviliun tamu dengan putih pucat. Elena berdiri sendirian di depan kolam ikan yang membeku sebagian, tatapannya kosong namun pikirannya sibuk berputar.Ia menarik napas panjang. ‘Casper dan keluarganya K
Elena berjalan memasuki paviliun dengan langkah pelan. Salju masih menempel di ujung rambutnya, dan napasnya membentuk uap tipis. Caspian mengikuti di belakang, wajahnya masih gelap menahan emosi.Baru saja mereka hendak menutup pintu paviliun, suara langkah cepat terdengar diikuti tangan kuat yan
Putra Mahkota Daniel berdiri diam di lorong istana yang lengang. Setelah kepergian Elena dan Caspian, aura dingin semakin terasa di udara seolah menambah sesak dadanya. Tanpa bisa menahan diri, ia mengayunkan tinjunya ke tembok batu.Braak! Suaranya keras, pantulan dari dinding yang kokoh. Rasa pe
Pria itu tiba-tiba jatuh berlutut di hadapan Cani, memeluknya erat sambil menangis tersedu-sedu. “Adikku Cani ini benar-benar kau.”Cani membeku, tubuhnya kaku. Ia menatap Elena penuh kebingungan dan ketakutan. “Nona … a–apa yang sedang terjadi?”Elena mendekat, menatap Cani dengan mata yang ikut b
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Ratings
reviewsMore