Part 3

Abraham tak bisa menahan lagi keinginannya, Ivy terlihat begitu menggiurkan di hadapannya.

Dengan pakaian yang sangat seksi menggoda, Abraham tidak akan menyia-nyiakan kesempatan ini lagi.

Gerakan sensual Ivy yang nakal, mampu membuat Abraham, menjadi tak bisa mengendalikan dirinya.

Baiklah, Abraham sudah tidak tahan lagi, dengan pelan tapi pasti Abraham naik ke atas ranjang.

Ia memulai semuanya, saat Abraham ingin memasukkan miliknya, ke milik Ivy. tiba-tiba saja ranjangnya bergoyang, dan...

"Aduh!" Abraham terjatuh ke lantai.

"Ah sial, ternyata cuma mimpi." gerutu Abraham sambil mengacak-acak rambutnya.

Ada apa dengan dirinya, sampai bermimpi seperti itu bersama Ivy, shiiittt milik Abraham benar-benar tegang hanya karena mimpi sialan itu.

Abraham pun segera membersihkan tubuhnya, dan menjernihkan pikiran ya. masih ingat dengan jelas, mimpinya bersama Ivy.

Setelah selesai, Abraham dengan cepat mengenakan pakaian kantornya. sambil memasang dasinya, Abraham menghayalkan jika Ivy menjadi istrinya, dan memakaikan dasi untuknya seperti sekarang.

Uh betapa bahagianya lah hidup Abraham, hasrat ingin memiliki Ivy seutuhnya, itu sudah dari dulu sejak Ivy masih bocah.

Parah memang, tapi itulah cinta, tak mengenal batasan usia. namun salahkah bila Abraham memiliki rasa pada Ivy? hal itu yang selalu membayang-bayanginya, jika Ivy menolaknya.

Karena itulah dia selalu bersikap dingin tak tersentuh, tapi hal itu malah membuat Ivy melarikan diri, mengasingkan diri ke rumah nenek kakeknya.

Bukannya Abraham tidak tahu, selama ini dia memantau Ivy dan melindunginya diam-diam, lebih tepatnya menyewa orang suruhannya untuk memantau Ivy 5 tahun lalu.

Dan sekarang Abraham tak ingin lagi kehilangan Ivy, untuk yang kedua kalinya, dia akan berusaha membuat Ivy nyaman. tidak bersikap dingin lagi, dia akan menjadikan Ivy miliknya, itu pasti!

"Sudah siap pak Bram?" tanya pak Maman sang supir.

"Sudah pak, yuk jalan!" Pak Maman mengangguk patuh.

Baru saja mobil Abraham keluar, ia melihat Ivy keluar dari rumahnya dan mobil pun berhenti.

"Mau kemana?" tanya Abraham.

"Mau kuliah," sahut mama Ivy.

"Yaudah yuk bareng om!" tawar Abraham, Ivy terlihat tak suka dengan itu.

"Sana sayang, di tawari om Bram." ucap mamanya tersenyum.

"Tapi ma, Ivy naik mobil saja, diantar pak Ujang."

"Ayo!!" ajak Abraham sekali lagi.

Mama Ivy mendorong pelan dirinya, hingga mau tidak mau Ivy masuk ke mobil Abraham, sekaligus menerima tawarannya.

"Nah gitu dong," goda Abraham, Ivy hanya tersenyum terpaksa menanggapinya.

"Ciyeeee, yang mulai kuliah di negaranya lagi." lagi Abraham menggoda.

"Apaan sih?" jawab Ivy kesal.

"Eh tapi bukannya Ivy tinggal semester akhir lagi?" Ivy mengangguk.

"Iya om, Ivy nerusin disini!"

"Kenapa tidak meneruskan disana?"

"Iya karena kangen mama dan papa."

"Oh gitu, kangen om juga gak?" Abraham terus menggoda Ivy.

"Ya kang... eh enggak lah." Abraham tertawa mendengarnya.

"Ciyeee kangen nih," Ivy membuang wajahnya ke arah lain.

"Dih, dia malu." Abraham masih terus tertawa, dan menggoda Ivy.

Ternyata menggoda Ivy itu seru, Abraham jadi banyak tertawa, setidaknya jika mereka bersama, maka Abraham bisa awet muda terus, ckckck.

Mobil sampai, "makasih ya om, untuk tumpangannya." Abraham mengangguk, namun sebelum itu...

Cup.

Abraham mencium Ivy, Ivy syok akan hal itu, mata mereka saling memandang.

"Kenapa? mau lagi?" pancing Abraham, mengedipkan sebelah matanya.

"iihhh apaan sih! genit banget.

"Oh... gitu ya?" pak Maman yang mengerti pun keluar dari mobil.

Abraham memegang pinggang Ivy, dan memulai aksinya yang dari tadi tak tahan, melihat bibir mungil Ivy yang merah alami.

Ivy yang awalnya hanya diam dan menahan dada Bram dengan tangannya, kini mulai hanyut dalam ciuman Abraham.

Mereka saling bertukar saliva, mencecap semua rasa yang ada di mulut masing-masing, saling berbelit lidah.

Abraham melepaskan Ivy yang kehabisan nafas, wajah Ivy merah padam dengan nafas yang ngos-ngosan.

"Ini gila!" ucap Ivy masih ngos-ngosan, Abraham tersenyum geli melihatnya.

"Gila tapi asyik kan?" ejek Abraham.

"Dasar om mesum!" Ivy memukul lengan berotot Abraham.

Ivy keluar dari mobilnya dengan kesal, Ivy pikir beneran tumpangan gratis, tapi nyatanya malah imbalan sebuah ciuman, sial!!

Tapi meskipun begitu Ivy tersenyum-senyum senang, ia menyentuh bibirnya yang tadi berciuman dengan Abraham.

Ivy tidak menyangka, bahwa dia dan Abraham bisa berciuman panas, seperti itu di pagi hari.

Abraham juga tak menyangka, dirinya bisa sebuas itu mencium Ivy, ia mendesis merasakan sesuatu yang tegang dan ngilu, hanya karena ciuman.

"Shiiittt, ivy!!!!" teriak Abraham dalam hati.

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status