2. Target Pembunuhan

Devin bergegas menuju garasi, setelah memastikan pintu ruang kerja ayahnya sudah tertutup rapat. Dia yakin, kali ini Levin tak bisa berkutik di hadapan ayahnya--dengan bukti foto-fotonya bersama kekasih-kekasihnya, ditambah deretan angka yang akan membuatnya terbeliak. Devin harus segera mengirim kartu ucapan terima kasih pada The Vow, yang memberikan data itu sebagai imbalan pekerjaan terakhirnya.

Setidaknya, kertas-kertas itu akan membuat ayah dan si bungsu akan berada di ruangan itu sampai Devin meninggalkan mansion dengan motornya.

"Motornya sudah siap, Tuan." Marcus membuka pintu garasi ketika Devin baru melintasi selasar depan kamarnya. Garasi mansion  berada tidak jauh dari kamar Devin. Hanya dipisahkan oleh selasar dan taman bunga. Di dalamnya berisi mobil keluarga Chayton, masing-masing mempunyai dua mobil.  Hanya Devin yang memiliki satu mobil dan satu motor.

"Terima kasih, Marcus," ucap Devin seraya merapatkan kancing jas hitam pekatnya. "Dad dan Levin masih di lantai dua."

Marcus mengangguk hormat pada Devin, majikan kesayangannya semenjak kecil. Meski dia kepala pelayan di Mansion Batista, tapi perlakuannya pada Devin selalu lebih istimewa dari Levin.

Semula berawal dari pesan Andrew Chayton padanya. Bahwa saat ibu dua anak lelaki tampan itu kabur dengan selingkuhannya, Devin sampai jatuh sakit hingga harus dirawat di rumah sakit. Kerinduannya pada sang Ibu, membuat tubuhnya tidak bisa mentolerir kesedihan yang begitu kuat. Berbeda dengan Levin, yang nyaris tak pernah bertanya ke mana ibunya pergi. Andrew begitu khawatir pada kondisi psikis Devin, hingga menyuruh Marcus untuk melayaninya lebih baik dari Levin.

Dan nyata sekali dampak dari perpisahan orang tua, pada kedua anak lelaki itu. Devin menjadi pendiam dan dingin. Sedangkan Levin lebih suka menggoda wanita--sejak kecil. Tak ada wanita setelah Sabrina Brice, hingga dua lelaki itu besar dalam asuhan pelayan. Mempunyai persepsi masing-masing terhadap makhluk berjenis wanita, berikut kebencian yang sama pada satu wanita.

"Aku akan memastikan mereka tetap di sana, sampai makan malam."

Devin menerima kunci motor dari Marcus. "Aku tidak makan di rumah. Aku harus ke kota menemui beberapa pialang. Biarkan Dad dan Levin menyelesaikan urusan mereka."

"Soal Jack dan Jean?"

Devin mengangguk sembari menaiki motornya. "Bahkan dua penipu itu punya nama yang keren."

Marcus mengangguk hormat ketika Marcus menstarter motornya perlahan, lalu berlalu meninggalkan mansion. Seulas senyum mengembang di wajah Marcus. Devin selalu nampak sopan dan elegan selama berada di Mansion Batista. Tapi tidak bila sudah keluar dari pagar mansion.

***

08.17 pm.

Devin meyakinkan diri dengan menatap jam tangan hadiah ayahnya di ulang tahunnya yang ke-25. Hublot Big Bang berwarna coklat keemasan. Setiap melihat jarumnya bergerak, dia selalu teringat senyum lebar ayahnya.

“Biar kamu selalu tepat waktu untuk makan malam,” ucap Andrew.

Devin memang selalu terlambat makan malam, bahkan kerap melewatkannya. Karena pekerjaan kecilnya tidak selalu tepat waktu, terutama di tahap penyelesaian. Sering Devin meninggalkan pekerjaan kecilnya begitu saja bila Andrew sudah menelpon. Apapun yang terjadi, sesibuk apapun Levin dan Devin, mereka harus hadir di meja makan saat makan malam.

Rutinitas yang tak pernah mereka lewatkan sejak Sabrina Brice kabur dari rumah. Devin yakin, malam ini Levin dan ayahnya tidak akan makan malam bersama. Apalagi tanpa Devin. Andrew selalu menunggu anak-anaknya bila sudah ijin untuk terlambat makan malam--meski sampai dini hari.

Devin melirik motor trail yang dikendarainya tadi, tersembunyi di balik semak-semak. Gundukan tanah setinggi lima meter dengan semak-semak menutupinya, menjadi tempat persembunyian sempurna bagi Devin dan McMillan--senjata sniper kesayagannnya. Dari teleskop kecil di sebelahnya, Devin memindai jalanan lengang di bawah bukit kecil tempatnya bersembunyi.

Jarak satu kilometer darinya, ada iring-iringan tiga buah mobil berjalan dengan kecepatan cukup tinggi. Akan tiba dalam hitungan detik dalam jangkauan jarak tembaknya.

Mobil kedua, semua orang di dalamnya.

Devin sudah memasang perangkap di jalan, apabila ada sesuatu terjadi di luar prediksinya. Namun dia lebih yakin pada McMillan miliknya. Jemarinya sudah siap menarik pelatuk, sembari memfokuskan melihat targetnya. Mobil kedua.

Dua detik. Tanpa suara.

Devin mengangkat kepala dan memasang teropong. Mobil kedua berputar di jalan, kehilangan kesimbangan karena ban mobilnya meletus. Tembakan Devin tepat mengenai sasaran. Beberapa detik, mobil itu pun terhenti. Mobil di depan dan di belakangnya juga. Empat pria berjas hitam, keluar dari mobil ketiga. Mereka berjalan tanpa kelihatan terburu, menghampiri mobil kedua.

Dari mobil pertama, juga keluar empat orang pria. Mereka tampak bergegas menuju mobil kedua. Membuka pintunya dan tampak sibuk menanyakan kondisi penumpangnya.

Namun hal yang berikutnya terjadi di luar perkiraan Devin. Empat pria dari mobil ketiga, menembaki empat pria dari mobil pertama. Sasaran empuk tanpa perlawanan. Dan berikutnya, menembaki penumpang di mobil kedua.

“What?” teriak Devin dalam hati. Ini semua benar-benar di luar prediksinya. Pekerjaan kecilnya, ada yang menintervensi. Seharusnya, dia yang menghantar nyawa penumpang mobil kedua. Tapi para pria di mobil ketiga telah mendahului mengeksekusi. Ini akan menjadi masalah besar bagi Devin, bila dia tidak menyelesaikan.

Satu detik. Satu pria dari mobil ketiga berhasil dirobohkannya. Dan itu membuat panik ketiga pria yang lainnya. Berikutnya satu pria lagi berhasil dirobohkan Devin..

Dua pria lainnya, menyadari telah diserang sniper, segera masuk ke dalam mobil ketiga. Lalu memutar haluan. Tapi Devin berhasil memecahkan kaca jendela bagian belakangnya, sebelum mobil ketika melaju dan menghilang di tikungan.

Devin memindai lagi lokasi targetnya. Empat mayat dari mobil pertama. Dua mayat mobil ketiga. Dan entah berapa di mobil kedua--target utamanya.

“Damn,” maki Devin sembari membereskan McMillan-nya. “Apa-apaan The Vow malam ini? Apa mereka tidak percaya lagi padaku?”

Devin bergegas menghapus jejaknya dengan ranting pohon berdaun lebat. Memastikan tidak ada petunjuk apapun yang mengarah pada dirinya. Dia menuruni bukit kecil itu dengan meluncur, dan berhenti tepat di sebelah semak-semak tempat motor gunungnya disembunyikan.

Seharusnya dia membereskan pekerjaannya dengan rapi, seperti biasa. Tapi siapapun yang telah mengacaukan malam ini, entah itu The Vow atau lainnya--membuatnya tidak lagi memikirkan hal itu. Siapapun itu, akan menerima  balasan darinya. Devin Chayton tidak bisa diremehkan. Selama ini, small work-nya selalu sempurna tanpa cela. Dan tanpa intervensi siapapun.

The Vow harus punya penjelasan yang masuk di akalnya, untuk kejadian beberapa menit yang lalu.

Motor gunung itu melaju perlahan membelah jalan yang sunyi. Mansion Batista hanya lima kilometer dari lokasinya saat ini. Tapi tentu saja Devin tidak akan menuju ke sana. Dia harus mengganti kendaraan dan kostumnya di sebuah rumah tempat persembunyian, sepuluh kilometer dari lokasinya. Lalu menemui para pialang di kota. Sudah pasti akan melewati jalan tempat dua mobil dan mayat-mayat itu tergeletak di jalan. Namun Devin memastikan saat dia melewatinya, tempat itu sudah ramai polisi.

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status