Share

Misi Pertama

Jalan yang diperlukan untuk sampai ke tempat misi membutuhkan waktu setengah hari. Tak ayal, Faisal sampai pada tempat misi sudah hampir gelap.

Itu adalah sebuah desa dengan beberapa rumah penduduk sederhana. Mayoritas desa kecil seperti ini tidak memiliki penjaga, kecuali penduduk sekitar yang berinisiatif mengadakan ronda.

Faisal kemudian bertanya pada seorang penduduk.

"Maaf, apa kalian tahu rumah kepala desa?" Tanyanya.

"Oh, kau seorang pendekar ya. Rumah kepala desa ada di tengah desa, dari sini kau terus saja nanti ada pertigaan beloklah ke arah kanan. Dari situ jalan beberapa langkah dan kau akan menemukan rumah kepala desa." Jawab penduduk desa.

Faisal mengangguk saat mendengar jawaban itu. "Terima kasih telah memberi tahu," setelah itu dia melangkah menuju arah yang ditunjukkan.

Setelah sampai di rumah kepala desa, Faisal disambut oleh seorang pria tua dengan pakaian khas pedesaan lengkap dengan topi caping bertengger di kepalanya.

"Ah, ada keperluan apa kau kemari anak muda?" Tanya Kepala desa yang melihat kedatangan Faisal.

"Saya kemari untuk menjalankan Quest yang anda pasang untuk mengatasi permasalahan Tikus Liar." Jawab Faisal sambil menunjukkan ID Pendekarnya.

"Oh seorang Pendekar dari Padepokan! Silahkan masuk untuk beristirahat sejenak," ucap Kepala desa.

Faisal segera masuk karena sudah diperintah, tidak enak rasanya jika menolak tawaran kepala desa tersebut.

"Tolong tunggu sebentar!" Pintanya.

Sang kepala desa lalu masuk ke dalam ruangan belakang, ketika muncul dia membawa nampan berisi teko tanah liat, dua buah cangkir bambu dan beberapa camilan.

"Kau pasti lelah berjalan seharian kemari, setidaknya terima jamuan dariku ini!" Ucap Kepala desa menawarkan hidangan tersebut.

"Anda tidak perlu repot-repot seperti ini, yang ingin aku tanyakan adalah sarang Tikus Liar itu berada?" Balas Faisal tegas.

Saat mendengar pertanyaan itu, Kepala desa nampak salah tingkah dan Faisal yang melihat sikapnya bertanya.

"Anda kenapa, Kepala desa?"

"Iya, memang kami memasang ke dalam Padepokan kalau masalahnya adalah Tikus Liar. Tapi sesungguhnya monster yang menggangu kami adalah Goblin!" Ucap Kepala desa dengan nada takut.

"Jadi permasalahan kalian adalah Goblin bukan Tikus Liar? Apa yang membuat kalian melakukan hal tersebut?" Tanya Faisal.

"Kebanyakan Pendekar tidak mau mengambil Quest Goblin karena mereka merepotkan. Tapi Quest Tikus Liar kadang ada yang ingin mengambilnya, Karena itulah saya mengajukannya dengan masalah Tikus Liar dan akan menerangkan hal sebenarnya pada Pendekar yang akan mengambilnya. Aku juga tidak memaksa dirimu untuk melakukannya!" Jawab Kepala desa.

Faisal kini bingung dengan sikap yang harus dia ambil untuk menanggapi jawaban kepala desa ini. Namun dia tidak ingin pulang begitu saja dengan tangan hampa.

"Aku akan menjalankan Quest ini, namun sebagai tambahan bayaran. Aku memerlukan beberapa alat tambahan, apa kau bersedia!" Balas Faisal.

"Tentu saja, sebutkan saja alat yang kau perlukan. Nanti aku akan memberikannya!" Ucap Kepala desa.

"Kalau begitu, aku ingin anda menyiapkan beberapa obor dan juga minyak tanah untuk kugunakan, apa itu bisa disiapkan sekarang juga?" Pinta dan tanya Faisal.

"Tentu saja, tapi boleh aku bertanya sesuatu?" Ucap Kepala desa gugup

"Boleh, tanyakan saja!" Balas Faisal.

"Apa kau mencoba menyerang mereka malam ini juga?" Tanya Kepala desa.

"Benar," jawab Faisal tegas.

"Bukankah berbahaya jika menyerang sekarang, kau baru sampai!" Ucap Kepala desa dengan cemas.

"Tidak usah mencemaskan diriku, sebaiknya anda siapkan saja barang yang kupinta dan aku akan memberantas Goblin itu. Agar tidak merisaukan penduduk desa ini lagi, Jawab Faisal.

Setelah berkata seperti itu, Pendekar muda itu memeriksa barang barang yang sudah dibelinya.

Kepala desa juga segera pergi untuk mendapatkan obor dan minyak tanah, yang dibutuhkan Faisal untuk membunuh para Goblin.

Niat dirinya hanya memburu para Tikus Liar, tapi ternyata malah para Goblin yang menjadi Quest pertamanya.

"Semoga saja, misi ini bisa kuselesaikan!" Gumam Faisal.

Setelah beberapa Waktu Kepala desa kembali, membawa Obor dan Beberapa botol minyak tanah sambil berkata.

"Hanya ini yang kudapatkan untuk menambal harga misi yang kuberikan pada Resepsionis Padepokan. Apa ini cukup?" Tanya Kepala desa.

Faisal melihat ada 3 buah obor dan 2 botol minyak tanah yang disiapkan Kepala desa.

"Itu sudah cukup terima kasih bantuannya, kalau begitu aku pamit untuk memburu mereka. Oh iya, Dimana letak sarang mereka?" Tanya Faisal sebelum berangkat menjalankan Questnya.

"Mereka membuat Dungeon di lereng gunung itu, entah berapa luasnya yang jelas jumlah yang mencuri makanan kami ada 2 Goblin." Jawab Kepala desa seraya menunjuk gunung yang dimaksud.

Faisal mengikuti arah yang ditunjukkan dan mengangguk untuk mengkonfirmasi kalau dia sudah mengerti serta membalas.

"Terima kasih, kalau begitu aku berangkat!"

"Semoga kau pulang dengan selamat, Pendekar muda!" Gumam Kepala desa seraya melihat punggung pendekar itu kian mengecil.

Untuk sampai pada tempat yang menjadi sarang Goblin, membutuhkan waktu satu jam setengah. Saat sampai mulut Dungeon, bau anyir dan amis menyeruak hidung Faisal.

"Sudah berapa banyak mereka berkembang?" Gumam Faisal.

Mulut Dungeon itu penuh lumut hijau dan beberapa cairan lengket, ada juga serangga serangga kecil yang beterbangan ke sana kemari.

"Saatnya memburu para Goblin." Gumam Faisal.

Pendekar Muda itu menghidupkan obor pertamanya, lalu Dungeon yang gelap itu samar bisa dia lihat. Banya beberapa jejak langkah seperti anak kecil tercetak di sana.

Ada juga sebuah jejak benda yang di tarik dengan bercak darah mennyertai. Faisal yakin kalau jejak itu adalah seorang wanita yang sudah dipukuli para Goblin, sebelum membawanya masuk ke sarang mereka.

Langkahnya tenang dan penuh keyakinan, sebab dia sudah membuang ketakutan pada kematian. Jadi dia tidak akan gentar, pada apapun dan siapapun.

Beberapa langkah dia lalui untuk mendatangi para Goblin. Lalu dari Kegelapan Dungeon itu muncul sosok hijau seperti anak kecil menyerang Faisal.

Karena tidak menduga serangan tersebut, Faisal terkena sayat di pelipis. Pendekar muda itu mendecih, karena kelengahan yang dia lakukan.

"Humph!" Dengusnya.

Faisal menyiapkan perisai dan menunggu makhkuk kerdil hijau itu menyerang lagi. Saat monster itu kembali mencoba menyerang lagi, Faisal gunakan perisai sebagai penahan.

Goblin itu menggelayut di perisai dan mencoba menusuk leher Faisal dengan Dagger miliknya. Mengetahui tujuan Goblin tersebut, Faisal segera mendorong menuju dinding Dungeon.

"Grrorrb," ringis Goblin itu sambil mengeliat-liat.

"Matilah!" Ucap Faisal dingin seraya menujuk kepala Goblin itu dengan pedang miliknya.

Goblin itu tampak kejang-kejang sebelum akhirnya terkulai.

Saat Faisal melemahkan dorongan, mayat Goblin itu tergeletak di tanah dengan kepala penuh darah.

"Gorrb Goorb!" Suara seperti itu terdengar beberapa kali setelah Faisal membunuh satu Goblin. kemudian muncul dari kegelapan tiga Goblin dengan berbagai senjata mengepung dirinya.

"Ternyata, yang satu tadi hanya umpan." Ucap Faisal.

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status