Kisah Cinta Aliciya
Kisah Cinta Aliciya
Author: Mizy
Bulan Madu

Kisah Cinta Aliciya (1)

 

***

"Bulan madu?" ujar Wulan dan Rio serempak. Keduanya saling pandang setelah mendengar semua yang telah disampaikan putranya.

"Iya Mi, Pi. Bima ingin ajak Aliciya pergi bulan madu. Mami dan papi kan tau kalau sejak menikah, Bima dan Aliciya tidak pernah kemana-mana. Bima pikir sekarang saatnya Bima bisa jalan-jalan berdua dengan Aliciya. Nanti kalau Aliciya sudah melahirkan akan sulit bagi kami cari waktu untuk pergi berdua." ujar Bima panjang lebar menjelaskan keinginannya pada kedua orangtua mereka.

"Tapi apa tidak masalah bepergian dengan kondisi Aliciya yang saat ini sedang hamil muda?" tanya Wulan lagi.

"Kita perginya gak jauh kok, Mi. Cuma ke Bali dan gak lama. Hanya satu minggu. Bima sama Aliciya juga sudah konsultasikan masalah ini sama dokter kandungan. Sejauh ini kondisi Aliciya dan bayinya sehat dan memungkinkan untuk bepergian."

"Boleh ya, Pi? Papi kasih Bima cuti satu minggu, ya?" Bima berusaha membujuk Rio biar dikasih cuti selama satu minggu.

"Kalau papi sih, terserah mami saja. Kalau mami kamu izinkan papi juga akan izinkan. Tapi kalau mami kamu melarang, papi juga gak bisa izinkan kamu." ucap Rio, Papi Bima.

"Mi, kasih izin ya?" pinta Bima dengan tampang memelas.

Sebenarnya yang diucapkan Bima tadi benar adanya. Sejak mereka menikah mereka tidak pernah pergi berbulan madu. Setelah resmi sebagai suami istri, keduanya langsung menjalankan aktifitas masing-masing. Bima kembali melanjutkan kuliah dan Aliciya langsung masuk sekolah. 

"Ya udah, tapi kamu harus ingat ya ... Jangan sesekali buat Aliciya kecapean. Mami tidak mau terjadi yang buruk sama calon cucu mami." tegas Wulan, Mami Bima.

"Beres Mi, tak akan Bima biarkan itu terjadi." 

Senyum mengembang di bibir Bima ketika mendapatkan izin dari Rio dan Wulan untuk membawa Aliciya berbulan madu ke Bali. 

Terlambat memang, tapi lebih baik daripada tidak sama sekali. Bima juga ingin memiliki kenangan bepergian berdua dengan sang istri sebelum anak mereka lahir kedunia.

"Aliciyaaa." Setengah berteriak dia mencoba memanggil Aliciya yang sedang berada di dalam kamar di lantai dua rumah orang tua mereka.

"Aliciyaaaa ...." teriak Bima lagi. Kakinya mulai melangkah satu persatu menaiki anak tangga dengan tetap berteriak memanggil nama Aliciya.

Wulan dan Rio tersenyum simpul melihat pemandangan tadi, memang sejak mengetahui kehamilan Aliciya, Bima tampak kekanak-kanakan. Bukannya tambah dewasa dan dengan pola pikir yang matang sebagai calon ayah malah Bima kembali seperti ABG yang sering bertingkah manja. Entah itu pada Aliciya atau pada kedua orangtuanya.

Baru kemaren Aliciya merayakan kelulusannya. Mereka bersyukur Aliciya mampu melewatkan ujian akhir dengan nilai tertinggi seperti yang dia janjikan dengan pihak sekolah. Tentu saja semua itu diperoleh dengan dukungan dari keluarga. Selalu memberi semangat pada Aliciya dan mensupport setiap kegiatannya.

"Aliciya." 

Bima membuka pintu kamar secara perlahan, takut jika Aliciya sedang tidur suara decitan pintu akan membangunkannya. Bima tidak sadar saja kalau teriakannya tadi justru lebih keras dari bunyi pintu yang terbuka.

Aliciya tampak sedang duduk di balkon kamar mereka. Terpaan angin sore mengibaskan rambut hitam panjangnya kebelakang. Bima mendekat dan berdiri dibelakang Aliciya yang sedang asyik membaca sebuah buku parenting. Sejak hamil, Aliciya semakin cantik. Tubuhnya semakin berisi dan tampak semakin montok. Bima sangat menyukainya sampai dia tidak pernah bosan memandang kemolekan tubuh Aliciya yang semakin tampak seksi dimatanya.

"Aliciya, besok kita ke Bali, ya?" ujarnya sambil berjongkok disamping Aliciya. Tangannya memegang satu lengan Aliciya.

"Emang mami sama papi sudah kasih izin?" Aliciya menutup buku yang dibaca kemudian menyimpannya dimeja kecil yang berada di samping kursi yang di dudukinya.

"Sudah, barusan aku minta izin." ucap Bima.

Aliciya mengangguk mengiyakan. Awalnya dia ragu ketika Bima menawari perjalanan bulan madu ke Bali, dia merasa lucu pergi bulan madu dalam keadaan hamil tiga bulan. Setelah dibujuk dengan seribu rayuan ditambah dengan pernyataan dokter yang menyatakan dia dan calon anak mereka dalam keadaan sehat, Aliciya menyetujui ajakan Bima. Tentunya dengan syarat yang sudah mereka sepakati. Selama perjalanan tidak membuat Aliciya kelelahan atau membuat sesuatu yang akan membahayakan anak mereka.

***

Bulan madu ke Bali yang sudah direncanakan Bima berubah tujuan ke lombok. Tetiba Aliciya ingin mengunjungi Pink Beach/pantai Tangsi di Lombok.

Disebut pantai pink karena pasir pantai ini terdiri dari campuran antara pasir putih dan pasir merah yang berasal dari koral serta pecahan cangkang organisme laut yang bewarna kemerahan.

Pantai Pink ini adalah salah satu dari tujuh pantai yang ada di dunia dengan pasir bewarna Pink. Kabarnya ketika kita berada di pantai ini, kita akan merasa berada di dunia Barbie. Karena itulah Aliciya ingin sekali mengunjungi pantai ini

Dulu, sewaktu orangtuanya masih hidup, mereka pernah berjanji akan membawa Aliciya ke tempat ini. Janji itu tidak pernah terlaksana karena mereka telah meninggal dunia.

Jam empat pagi Bima dan Aliciya sudah berada di bandara. Usai check in, mereka istirahat sebentar di ruang tunggu sambil menunggu waktu keberangkatan pesawat pukul 05.45 pagi.

Pesawat mendarat di Bandara International Lombok pada pukul 08.55 waktu setempat. Bima dan Aliciya memilih langsung menuju desa Sekaroh, kecamatan Jerowaru, Lombok Timur.

Butuh waktu satu setengah jam dari Bandara Internasional Lombok menuju Pink Beach. Aliciya tampak semangat selama perjalanan, Bima malah ngeyel meminta Aliciya tidur dimobil sebelum sampai di desa Sekaroh tapi Aliciya tidak mengubris kata suaminya. Dia sangat menikmati perjalanan mereka. Hutan tropis menjadi objek pemandangan mereka sampai ke tujuan, desa Sekaroh.

Sampai di penginapan, mereka langsung menuju Pink Beach. Hamparan pantai yang menawan membuat mereka terpesona akan keindahan ciptaan tuhan. Tidak menyesal Bima menyetujui permintaan Aliciya untuk kesini.

Puas berlari-lari kecil sepanjang pantai, Bima dan Aliciya duduk di bibir pantai sambil menikmati keindahan pantai dengan bias sinar matahari yang mulai meninggi.

"Bima, aku mau lihat terumbu karang, boleh yaa? Ikannya juga cantik-cantik. Aku pengen lihat." rengek Aliciya.

"Gak boleh, bahaya untuk kamu." tolak Bima.

"Aku mau lihat, sudah lama aku ingin snorkling disini." bujuk Aliciya lagi.

"Jangan keras kepala Aliciya, nanti saja snorklingnya habis lahiran." tolak Bima mentah-mentah.

Aliciya sempat kecewa dengan penolakan Bima, diusapnya perutnya yang sudah tampak membucit.

"Beb, nanti kalau kamu sudah lahir mami janji akan kembali lagi kesini." katanya dalam hati.

"Snorkling diganti kesana aja ya." Bima berusaha memberikan alternatif spot wisata lain, tadi dipenginapan dia sudah mencari tau spot wisata apa saja yang bisa mereka kunjungi di Pink Beach ini. tidak mungkin Bima mengizinkan Aliciya untuk snorkling. Berbahaya untuk kandungannya.

"Kemana?" Aliciya mengikuti Bima

"Gili pasir, kamu pasti suka."

Gili pasir atau pasir putih adalah gundukan pasir putih ditengah laut. Tempat ini menjadi salah satu incaran para wisatawan karena disini mereka bisa mengexplore keindahan Pink Beach serta berselfie ria ditengah laut.

Desa Sekaroh merupakan desa sederhana yang berada diujung pulau Lombok, NTB. Tidak banyak warga yang tinggal disini. Bima dan Aliciya menyewa penginapan Bu Pita, Bu Pita termasuk salah seorang warga yang mempunyai ekonomi yang cukup tinggi dibanding warga lain di desa ini yang hanya berprofesi sebagai petani, peternak dan nelayan. 

Bu Pita memiliki usaha penginapan yang disewakan untuk wisatawan yang datang ke desa Sekaroh. Usaha ini cukup menguntungkan karena sekarang sudah banyak wisatawan dari dalam dan luar negeri yang mengunjungi objek wisata ini.

Dua hari di desa Sekaroh menikmati keindahan alam, sekarang mereka menuju ke kota Lombok. menghabiskan liburan yang tinggal empat hari lagi dipusat kota. Setelah itu kembali ke Jakarta.

***

"Hai, bangun. Sudah pagi. Mami sudah didapur menyiapkan sarapan." Bima mengusap lembut kepala Aliciya. Kemaren sore mereka baru sampai di Jakarta. Pagi ini Bima langsung berangkat kerja.

Sejak Aliciya lulus, mereka pindah ke rumah orangtua Bima. Dulu mereka mengontrak rumah biar jarak dari rumah ke sekolah menjadi lebih dekat. 

"Aliciya, banguuun." Bima menarik selimut. Memaksa Aliciya untuk bangkit.

"Masih ngantuk Bima, jangan ganggu." Aliciya merengut kesal.

"Sudah pagi, lihat matahari sudah meninggi. Aku sama papi mau berangkat kerja. Apa kamu gak mau antar suami yang mau berangkat kerja? Disalim kek, dicium tangannya, cium pipi kiri dan pipi kanan. Habis itu kalau mau tidur lagi, silahkan." cerocos Bima.

Aliciya tersenyum mendengar cerocosan suaminya. Rasa kantuk menghilang berganti bahagia. Bima sekarang mulai banyak meminta. Dulu, sebelum Aliciya hamil dia tidak pernah komplain atau menegur apapun yang Aliciya lakukan. Sekarang Bima tampak lebih manja.

"Bantuin berdiri dulu." Gantian Aliciya yang bertingkah manja. Direntangkan kedua tangannya minta digendong Bima menuju kamar mandi.

"Lihat beb, mami kamu mulai berulah lagi hari ini." Bima berkata sambil mengelus perut Aliciya. Lalu dia menggendong Aliciya ala bridal style menuju kamar mandi.

Baru berjalan beberapa langkah.

"Aliciya, mami pinj-" jeda beberapa detik, lalu

"Aliciya kenapa digendong? kram perut ya? morning sickness? pusing?" Tanya mami khawatir.

Sementara yang dipanggil memejamkan matanya karena malu ketahuan di gendong Bima menuju kamar mandi.

Bersambung....


Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status