Bab 3 Kediaman Alexander

Kediaman Alexander

Yuan, Caramel, dan Devon telah sampai di halaman rumah Yuan. 

“Kak Yuan, ini rumah Kakak?” tanya Devon polos. 

“Bukan! Ini rumah peninggalan papa Kakak,” jawab Yuan santai. 

Kemudian Yuan menggiring Caramel dan Devon masuk ke dalamnya. Semua para pengawal dan pembantu tunduk terhadapnya. 

Caramel merasa sangat heran. 

“Sekaya apa sih orang ini? Sampai-sampai semua orang tunduk kepadanya.” Gumam Caramel dalam hatinya. 

Mereka telah sampai di ruang keluarga, dan Yuan memanggil seluruh anggota keluarganya. 

Semua penghuni nampak bingung dengan kedatangan Caramel dan Devon yang tengah tersenyum kikuk menyapa sang penghuni rumah. Tampilan Caramel yang memakai baju kebesaran, terkesan jauh dari kata modis. Hal itu lah yang membuat penghuni rumah bingung dibuatnya. 

Di rumah tersebut dihuni oleh Damitri (ibu Yuan), Selina (adik pertama Yuan), dan Jennifer (adik kedua Yuan). Ayahnya Alexander telah meninggal setahun yang lalu. Semenjak saat itu, kuasa di rumah itu sepenuhnya ada di tangan Yuan, sebagai kepala keluarga yang menggantikan posisi ayahnya. 

“Yuan ... siapa dia? Pembantu baru? Memangnya masih kurang pembantu di rumah ini?” Damitri bertanya to the point. 

Damitri memang orang yang sangat arogan. Dia memandang segala sesuatu dari status sosial. Dia juga mengedepankan sosialita di atas segalanya. 

“Kak? Kakak nggak sedang mabuk, kan? Jangan mentang - mentang Kakak putus dari kak Evelin, Kakak sekarang jadi gila!” Selina ikut menyaut.

Selina memang memiliki sifat dan watak yang hampir sama dengan ibunya. 

“Mah ... Kak ... apaan sih? Mana ada pembantu cantik dan manis begitu? Kak Yuan juga nggak gila Mah, Kak ... Kak Yuan sehat-sehat aja kok.” Jennifer ikut berkomentar. 

Jennifer memang sedikit lola {loading lama} di antara yang lainnya. Terkadang karena keterlambatan berpikirnya membuat kakak dan ibunya geram terhadapnya. 

“Jennifer!!” teriak Damitri dan Selina bersamaan. Seketika Jennifer menutup telinganya menggunakan kedua tangannya. 

“Sudah cukup! Mah! Sel! Jen ... perkenalkan wanita di sampingku ini namanya Caramel. Dan anak laki-laki di sampingnya itu namanya Devon. Caramel adalah istriku, dan Devon ... mulai saat ini dia juga adikku. Karena dia adik dari istriku,” jelas Yuan. 

“Istri?!” tanya Damitri, Selina dan Jennifer bersama-sama dengan nada tinggi. Mata mereka membelalak kaget. 

Mereka sangat terkejut dengan pernyataan yang Yuan lontarkan. Yang mereka ketahui, Yuan baru saja putus dari kekasihnya dan kini ia menikahi wanita yang jauh standarnya di bawah Evelin. Sungguh hal itu membuat mereka ternganga dan tak bisa berkata-kata. 

“Yuan? Apa kamu benar-benar sudah gila?!” Damitri tampak geram. 

“Kak ... Kakak bercanda, ya? Lihat dong penampilannya. Dia lebih pantas jadi pembantu kita, Kak! Apa kakak sedepresi itu sampai-sampai Kakak menikah sama gadis yang levelnya jauh di bawah kita?” Cela Selina ikut kesal. 

“Evelin pasti marah kamu menikah sama dia, Yuan!” lontar Damitri. 

“Aku tegaskan sekali lagi ... aku dan wanita itu, sudah tidak ada hubungan apa-apa lagi. Jadi, jangan pernah ada yang menyebut nama itu lagi di hadapanku!” tegas Yuan. 

“Kamu pasti hanya salah paham, Yuan! Mama yakin kalian bisa kembali bersama!” Damitri masih mencoba menyadarkan Yuan, yang menurutnya telah salah. 

Yuan tidak menghiraukan ucapan mama dan adiknya. Ia memanggil bi Tyas seorang asisten rumah tangga untuk mengajak Devon ke kamarnya. Kemudian ia mengajak Caramel naik ke atas menuju kamarnya, melewati barisan penghuni Alexander yang tak habis pikir dengan kelakuan Yuan. 

“Kamu benar-benar sudah keterlaluan, Yuan! Bagaimana kalau sampai teman-teman mamah tau. Mau taruh di mana muka mama?” teriak Damitri dengan melihat punggung Yuan yang perlahan hilang meninggalkannya. 

Yuan dan Caramel telah sampai di kamar Yuan. Kamar dengan nuansa dark grey, warna bed cover yang senada dengan warna tembok, serta aroma maskulin yang menyeruak masuk ke dalam hidung Caramel dengan sangat tajam. 

“Uhuk ... Uhuk ... ” Caramel terbatuk. 

“Caramel … kamu kenapa?” tanya Yuan khawatir dengan mengambilkan sebotol air minum yang ia letakkan di kulkas mini di sudut kamarnya. 

“Tidak apa-apa, Tuan. Saya hanya belum terbiasa dengan aroma di kamar ini,” jawab Caramel sopan. 

“Oh ... nanti biar aku ganti. Sekarang kamu mandi lah, kamar mandinya ada disebelah sana!” ucap Yuan dengan menunjukkan sebuah kamar mandi yang juga berada di dalam kamarnya. 

Caramel pun menurutinya. Ia mandi terlebih dahulu dan mengganti pakaiannya dengan baju tidur berwarna baby pink. Lalu ia keluar kamar mandi dengan rambut yang masih sedikit basah yang ia bungkus menggunakan handuk. 

Setelah mengganti aroma therapi di kamarnya dengan aroma yang lebih soft, Yuan sejenak melihat Caramel yang baru selesai mandi yang menurutnya sangat menggoda. Tanpa sadar Yuan menelan salivanya. Sebagai laki-laki normal, jika melihat seorang wanita dengan penampilan yang demikian tentu saja akan tergugah hasratnya. Meskipun wanita itu hanya diam dan tidak menggodanya sama sekali. 

“Aku mandi dulu,” ucap Yuan grogi. Ini pertama kalinya ia merasakan hal yang seperti itu. Grogi di hadapan wanita yang baru dikenalnya dan sudah sah menjadi istrinya. 

Yuan melewati Caramel, dengan cepat ia menuju kamar mandi. Ia tidak ingin Caramel mengetahui jika ada yang aneh di dalam tubuhnya. 

Caramel merasa asing dengan tempat yang kini disinggahi. Rasanya seperti mimpi. Kemarin ia masih lajang dan sekarang statusnya adalah istri orang. Semuanya terasa sangat cepat. Hanya dengan satu hari saja, telah berhasil mengubah status dan hidupnya. 

Setelah selesai menyisir rambut dan merias wajahnya natural dipantulan cermin, kini ia duduk di tepi ranjang dengan perasaan yang tidak tenang. 

“Apakah malam ini aku akan melakukannya? Tidak … tidak ... aku belum siap,” lirih Caramel gelisah dengan menggigit kuku jarinya. 

Yuan keluar dari kamar mandi dan menyadari Caramel yang tengah gelisah memikirkan malam pertamanya. Yuan tersenyum simpul dan mendekati Caramel. 

“Kamu tenang saja. Aku tidak akan melakukannya, sebelum kita sama-sama suka dan menginginkannya. Aku ingin hal besar itu terjadi pada kita karena rasa cinta, bukan sekadar nafsu semata,” ujar Yuan dengan senyum tipis di bibirnya. 

Glek ... 

Caramel menelan ludahnya. Ia sangat malu ternyata Yuan memergokinya yang tengah gelisah. Caramel tidak menyangka pria yang kini di hadapannya sangat menghargainya. Dia juga sangat mengerti keinginannya. 

“Tuan-,” ucapan Caramel terhenti. 

“Sshh. Jangan panggil aku Tuan. Aku ini suamimu. Mulai sekarang dan seterusnya, kamu panggil aku, Mas. Seperti pasangan suami istri pada umumnya,” potong Yuan dengan menutup bibir Caramel menggunakan jari telunjuknya.

“Baik Tu-,  eh Mas ...,” jawab Caramel. 

Kedua insan itu kemudian saling canggung dan diam dengan pikirannya masing-masing. 

“Mas, kenapa kamu baik sekali sama aku?” tanya Caramel memecah keheningan. 

“Aku hanya ingin melindungimu dari orang-orang yang jahat.” Yuan menjawab singkat. 

“Tapi selama ini kita tidak saling mengenal, Mas? Bagaimana Mas tau ada orang yang ingin menjahatiku?”

“Kamu tidak perlu pikirkan tentang itu. Yang penting sekarang kamu aman bersamaku. Aku akan menjaga dan melindungimu.”

“Terimakasih banyak, Mas.”

“Sama-sama. Sekarang kamu tidurlah di sini, aku akan tidur di sofa itu,” ucap Yuan dengan menunjuk sebuah sofa di samping ranjangnya. 

“Tidak, Mas. Biar aku saja yang tidur di sofa itu. Mas tidur saja di sini,” tolak Caramel. 

“Menurutlah dengan apa yang dikatakan oleh suamimu. Semua itu untuk kebaikanmu,” tambah Yuan semakin membuat Caramel beruntung bisa memilikinya. 

Bagaimana tidak? Tidak hanya sikapnya yang baik dan pengertian, Yuan juga memiliki wajah yang tampan di atas rata-rata. Jika Caramel menceritakan hal itu pada dunia, tentu semua orang akan iri terhadapnya. Ia hanyalah gadis miskin yang mendapat keuntungan besar bisa dinikahi pria tampan dan kaya di kotanya. 

Yuan berjalan ke arah sofa itu. 

“Mas … terimakasih,” ucap Caramel lagi. Yuan hanya tersenyum dan menganggukinya.

Caramel memposisikan dirinya agar merasa nyaman. Kemudian ia mencoba memejamkan matanya. 

Caramel menyipitkan matanya, kemudian ia mengintip Yuan yang sudah memejamkan matanya. Caramel tersenyum melihat wajah Yuan. Melihat wajah itu, perasaannya jadi menghangat dan merasa tenang. 

“Mungkinkah memang kamu jodohku yang Tuhan kirimkan untuk melengkapi hidupku, Mas? Kehadiranmu sungguh misterius. Tapi, Kamu pria yang sangat baik. Aku rasa tidak sulit untukku menjatuhkan hatiku kepadamu. Pria yang sudah sah menjadi suamiku.” Caramel bergumam dalam hati dengan senyum yang terus tergambar di sudut bibirnya. Kemudian ia menutupi wajahnya kembali menggunakan selimut dan mulai merajut mimpi di dalamnya. 

Yuan membuka matanya. Ia melirik ke arah Caramel yang tertidur dengan menutupi wajahnya. Cukup mengemaskan menurut Yuan. Melihat matanya yang polos dan senyumnya yang terlampau manis itu, membuat ia semakin yakin jika menikahi gadis itu adalah pilihan yang paling tepat. Yuan menilai Caramel sebagai gadis yang sangat baik dan jujur. Dia juga gadis yang sederhana dan tidak bertingkah polah yang membuatnya pusing seperti yang dilakukan oleh mantan pacarnya, Evelin. Evelin selalu meminta Yuan untuk menuruti semua keinginannya yang terkadang di luar nalar. 

 

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status