Bab 7_ Pelukan yang Diharapkan

Smith-lah orang pertama yang menemukan Lisa pingsan tidak berdaya.

Ketika itu Smith baru saja pulang sekolah. Seperti biasa, ia akan duduk sebentar di ruang tamu, menunggu jus segar buatan pembantunya. Ia merebahkan sejenak tubuhnya ke sofa sambil menutup mata.

Smith berusaha untuk menenangkan diri dan menanggalkan segala pikiran yang mengganggunya selama di sekolah. Tentu saja soal ayahnya yang tempo hari terlihat berbahagia bersama perempuan lain di taman kota.

Smith tidak mau ibunya sampai curiga pada sikapnya lagi. Ia akan berusaha untuk bersikap ceria dan energik sebagaimana biasanya, melupakan pemandangan buruk yang dipertontonkan sang ayah di tempat umum, yang mencolok kedua matanya dan menyakiti perasaannya.

"Bi Ipah, bagaimana keadaan Ibu hari ini?" tanya Smith sambil melepas sepatunya.

"Alhamdulillah Non, sepertinya Nyonya sudah lebih baik lagi. Beliau sedang beristirahat di kamarnya. Bibi diminta untuk tidak mencemaskan Nyonya. Beliau akan menelpon jika membutuhkan sesuatu," jawab Bibi Ipah sambil meletakkan minuman untuk Smith di meja.

Smith pun tersenyum lebar dan meneguk jus alpukat kesukaannya. Tidak lupa ia mengucapkan terima kasih pada Bibi Ipah yang telah menjaga dan merawat ibunya dengan sangat baik.

Gadis itu kemudian bergegas menuju lantai tiga, tempat kamar ibunya berada, tanpa mengganti baju terlebih dahulu. Meninggalkan Bibi Ipah yang juga tersenyum lega karena keadaan Lisa akhirnya sudah menjadi lebih baik.

Namun, setelah Smith tiba di kamar ibunya, betapa kagetnya ia karena sang ibu yang dikira sedang berbaring di atas ranjang, ternyata tidak ada di sana.

Smith menjadi panik dan mengarahkan matanya ke segala penjuru kamar. Pandangannya tersita pada pintu kamar mandi yang tertutup.

"Bu, ibu, apa ibu di dalam?" tanya Smith dengan detak jantung sangat cepat sambil mengetuk-ngetuk pintu kamar mandi.

Tentu saja Lisa tidak menyahut. Perempuan itu bahkan tidak bisa sekadar membuka matanya karena memang sedang tidak sadarkan diri usai terpeleset.

Tapi Smith sangat yakin kalau ibunya berada di dalam. Pertama, ketika ia hendak membuka pintu, tidak bisa karena terkunci dari dalam kamar mandi. Kedua, terdengar suara air mengucur. Smith sangat mengenal ibunya. Lisa tidak akan membiarkan kran air terbuka jika tidak sedang berada di dalam kamar mandi. Smith tahu ibunya termasuk orang yang bijak dalam menggunakan air.

"Ibu... ibu... Aku mohon bukalah pintunya ibu!" teriak Smith semakin lantang dengan air mata yang telah berderaian.

Suara gaduh dari kamar Lisa membuat orang-orang datang. Termasuk satpam yang kemudian mendobrak pintu kamar mandi.

Dan setelah beberapa kali pintu tetap ngeyel tertutup, akhirnya mulai terbuka juga.

"Ibu...!" jerit Smith melihat ibunya terlentang dengan darah yang keluar dari belakang kepala.

***

"Halo, ayah. Cepatlah pulang, ayah. Aku takut ibu kenapa-kenapa. Apa? Tidak bisakah ayah kemari sebentar. Ibu masih belum sadarkan diri. Halo, ayah. Ayah? Halo! Halo!"

Telepon yang baru diangkat setelah sebelumnya dimatikan sang ayah berulangkali, akhirnya ditutup begitu saja. Padahal sebelumnya Smith telah mengirimkan pesan kepada ayahnya tentang kondisi sang ibu yang mengkhawatirkan.

"Bagaimana Non?" tanya Bibi Ipah tidak kalah cemas.

Smith duduk lemas dan menggeleng. Wajahnya yang masam sudah cukup untuk menunjukkan bahwa kedatangan Hendry tidak perlu ditunggu lagi.

"Pak Jono, Bi Ipah, bawa ibu ke mobil. Aku akan mengambil uang untuk biaya pengobatan ibu di rumah sakit," perintah Smith sambil berdiri dan mengusap pipinya yang basah.

Dengan sigap, Pak Jono membopong Lisa turun ke lantai dasar, tempat mobil majikannya terparkir. Diikuti oleh Bibi Ipah yang ikut panas batinnya karena sikap majikan laki-lakinya yang tak acuh pada istrinya sendiri.

Sementara itu, Smith membuka brangkas yang ada di kamar ibunya. Ia ingat benar kalau kode yang digunakan untuk bisa membuka lemari besi itu adalah angka kelahirannya.

"Sial!" ujar Smith karena brangkas tidak bisa dibuka setelah kode dimasukkan.

Hal itu bukan lantaran kode kuncinya telah diganti, melainkan karena Smith keliru memasukkan angka. Rasa panik yang begitu besar membuat Smith kesulitan untuk mengendalikan diri.

"Tenangkan dirimu bodoh!" ujar Smith pada diri sendiri.

Smith menarik napas panjang. Lalu mencoba untuk memasukkan kembali kode brangkas dengan benar. Tangan gadis itu sampai bergetar karena pikirannya yang kacau.

"Berhasil!"

Smith mengambil beberapa gepok uang. Lantas menutup kembali brangkas itu.

Smith berlari secepat mungkin. Ia tidak ingin ibunya menunggu terlalu lama.

Bruk!

Smith terguling di dekat tangga. Kakinya berpijak terlalu ke tepi hingga akhirnya terjatuh.

"Ouch!"

Smith mengaduh ketika hendak bangun. Ia memegangi kakinya yang nyeri saat dipakai berdiri.

Tapi Smith tetap berusaha untuk bangkit. Meski tahu kakinya mungkin terkilir, gadis itu memaksakan diri untuk berjalan, bahkan berlari, dengan wajah meringis menahan sakit.

"Cepat kemudikan mobilnya, Pak Jono!" ujar Smith ketika memasuki mobil.

Gadis itu tampak komat-kamit mulutnya. Membaca doa agar sang ibu diberi keselamatan.

"Bertahanlah ibu. Kau harus tetap hidup," kata Smith dalam batin.

Dalam hatinya Smith bersumpah, jika hal buruk terjadi pada ibunya, ia tidak akan pernah memaafkan sang ayah.

***

Smith tidak pernah mengira jika ibunya akan terkena struk. Bukan hanya pada bagian tertentu, melainkan hampir seluruh tubuhnya.

Siapa sangka, baru kemarin Lisa terlihat lebih baik, dan kini terbujur saja di rumah sakit. Tidak mampu menggerakkan badannya, kecuali untuk berkedip dan berbicara. Itu pun masih sangat terbatas.

"Istirahatlah Non, biar Bibi yang menjaga Nyonya," kata Bibi Ipah yang kasihan melihat Smith terus menguap di samping ibunya.

"Tidak apa Bi. Bi Ipah istirahat saja."

Smith bertekad tidak akan pernah meninggalkan ibunya. Ia juga menahan segala ketakutan yang sebenarnya begitu menghantui.

Dalam benaknya, terbesit pikiran bagaimana jika kemudian ibunya meninggal? Bagaimana dengan dirinya? Siapa yang akan ini, yang itu, dan seterusnya.

Andai saja sang ayah ada di sisinya sekarang, pasti semua akan menjadi lebih mudah, sebagaimana ayahnya dulu yang sangat bisa diandalkan.

Smith menatap ibunya nanar. Matanya berkaca-kaca mengingat ayahnya.

"Apa yang bisa diharapkan dari pengkhianat itu? Akan lebih baik jika dia tidak pernah kembali," kata Smith dalam hati.

Tentu saja bukan itu yang ia ingin katakan. Sesungguhnya, Smith memang berharap agar Hendry lekas datang dan memeluknya supaya ia menjadi lebih tegar dan kuat dalam menghadapi segalanya.

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status