Bab 10_ Teman untuk Nona Smith

Smith melangkah. Ia tidak peduli dengan suara Hendry yang terus memanggilnya.

Sesaat ada sesal di hatinya lantaran telah meletakkan selimutnya di tubuh sang ayah. Semestinya orang seperti itu tidak pantas untuk diperlakukan dengan baik. Begitulah gerutunya dalam benak.

"Sasmitha! Ayah mohon, katakanlah sesuatu."

Kali ini Smith yang telah berada di atas tangga menghentikan langkah kakinya. Ia menarik napas panjang untuk melapangkan dadanya yang selalu sesak saat berada di dekat ayahnya.

Bukan hal mudah bagi Smith untuk bisa berbicara pada Hendry. Ia mesti kuat mengendalikan segala emosinya yang selalu membesar hanya karena melihat wajah ayahnya.

Selama ini Smith memang tidak banyak bicara. Segala keluhan, kebencian, dan kemarahan pada sang ayah selalu ia telan begitu saja. Semuanya belum pernah sampai terutarakan.

Benar, walaupun Smith sangat marah dan benci kepada Hendry, ia tidak pernah membentak, berteriak, apalagi sampai memaki ayahnya. Meski sebenarnya Smith sangat ingin melakukan itu.

Smith selalu menahan diri. Ia berusaha untuk melaksanakan pesan terakhir ibunya agar tidak berkata buruk pada ayahnya walau apapun yang terjadi. Hal itu pula yang kemudian membuat Smith berusaha menghindari Hendry. Sebab segala amarahnya selalu ingin keluar begitu ada sang ayah di sekitarnya.

"Jika sudah tidak ada hal penting yang ayah lakukan di sini, pulanglah," ucap Smith lirih saja.

"Tapi ayah sudah pulang, nak. Kau meminta ayah pulang kemana lagi?" tanya Hendry dengan dada sesak. Sebagai seorang pengusaha sukses, ia tidak mengerti cara untuk membuat putrinya berhenti bersikap dingin padanya.

"Pergilah ke rumah istri ayah. Setidaknya ada dua orang yang menunggu kedatangan ayah di sana. Kalau di sini, tidak ada siapapun yang mengharapkan kehadiran ayah di sini."

Smith berbicara tanpa melihat ke arah Hendry. Lalu kembali menggerakkan kakinya menaiki tangga.

"Sas, kau tidak mengerti. Ayah sangat..."

"Tidak, ayah!" ujar Smith yang membalikkan badan dan tersenyum kecut. Ia memandang wajah ayahnya lekat-lekat dengan bola mata berkaca-kaca.

"Aku mengerti segalanya. Sangat mengerti. Aku tahu bagaimana cemasnya menunggu kedatangan seorang ayah. Aku tahu bagaimana kecewanya seorang anak karena ayahnya tidak kunjung pulang. Jadi, pulanglah, ayah. Aku tidak ingin mereka merasakan apa yang ibu dan aku rasakan. Itu sangat sakit."

Smith berhasil membuat Hendry menelan ludah kegetiran akibat perbuatannya dulu. Gadis itu lantas berjalan cepat menuju kamarnya sambil mengelap kasar pipinya yang basah. Meninggalkan Hendry yang kembali terduduk lesu di sofa ruang tamu.

***

Janu belum bisa memejamkan matanya. Ia tidak bisa lupa pada senyum manis Smith yang ia lihat di dekat pos satpam fakultas waktu itu. Lantas pikirannya kembali pada semua ekspresi menakutkan yang kerap dipasang Smith pada wajahnya. Keduanya sungguh berlainan dan berhasil membuat kepala Janu menjadi pening memikirkannya.

Meski gadis Singa Jantan itu cukup tenar di jurusannya, tidak ada satu pun orang yang benar-benar mengenal Smith dengan baik. Bagaimana karakter asli gadis itu, mengapa ia selalu terlihat curiga dan bahkan marah kepada semua orang, dan sebagainya. Tapi di sisi lain, gadis itu juga kelewat baik pada Pak Hadi yang menjadi satpam fakultas.

"Wajahnya juga selalu terlihat penuh beban. Tidak, aku harus mencari tahu kebenarannya. Aku bisa gila jika hanya menebak-nebak hal yang tidak aku ketahui sama sekali. Jika memang dia sedang dalam masalah, aku harus membantunya," kata Janu pada dirinya sendiri.

Pikir Janu, mungkin akan cukup membantu jika Smith memiliki seorang sahabat. Sehingga Smith bisa menceritakan apa yang selama ini dirasakan dan dialami. Setidak-tidaknya itu akan sedikit mengurangi beban yang dirasakan.

Tapi masalahnya, di kampus, bahkan mungkin juga di tempat lainnya, Smith tidak dekat dengan siapapun. Sepertinya gadis itu tidak memiliki teman yang akrab dengannya. Ia bahkan seperti menutup dirinya dari orang lain.

"Baiklah, kalau begitu, aku akan mencoba untuk menjadi temanmu Nona Smith."

Janu tersenyum dan berusaha menutup kedua matanya. Ia berharap akan melihat senyum manis Smith lagi besok.

Lelaki tersebut sama sekali tidak takut pada ancaman Smith di jalan kecil itu. Dalam batinnya ia tertawa kecil menebak-nebak memangnya masalah apa yang akan Smith ciptakan untuknya.

Janu tidak peduli. Yang pemuda itu yakini sekarang, Smith tidak seburuk apa yang dikatakan orang-orang di kampus. Sebaliknya, ada sisi lain Smith yang tidak diketahui oleh orang-orang. Sisi yang memang sengaja tidak ditunjukkan kepada mereka, dengan alasan entah.

Tapi sikap Smith yang tidak ingin terlihat baik di hadapan orang lain itu, justru membuat Janu menjadi begitu tertarik pada gadis itu.

***

Seperti biasa, Smith duduk sendiri di beranda lantai dua gedung jurusannya. Di tangan kirinya ada buku tulis polos ukuran A5, dan di tangan lainnya tergenggam sebuah pena biru.

Smith terlihat menulis sesuatu. Ia fokus pada bukunya, sambil sesekali melihat ke arah bawah, mengamati orang-orang yang sibuk dengan segala urusan mereka.

***Wajahnya selalu membawa teduh.

Matanya tidak pernah lelah menyinariku.

Rambutku terasa lembut saat dia mengelusnya.

Senyumku tidak pernah pudar karenanya.

Lalu apa yang bisa aku lakukan tanpanya?

Aku terlalu lemah dan cengeng untuk menatap dunia.

Mengapa Tuhan membiarkan tangan kecilku mencari jalan keluar sendiri?

Mengapa Tuhan tidak membiarkan dia terus menggenggam tanganku?

Aku sungguh merindukannya Tuhan.***

Smith mengakhiri tulisannya dengan menekankan ujung penanya ke kertas. Memunculkan tanda titik yang sangat tegas.

"Siapa dia? Apa dia kekasihmu?"

Suara yang tetiba terdengar itu jelas mengagetkan Smith yang sedang sangat kusut pikirannya.

"Kau? Apa yang kau lakukan di sini? Dan, dan sejak kapan kau berdiri di belakangku?" kata Smith langsung dengan nada tinggi sambil menutup rapat buku catatannya.

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status