Partner In Crime
Partner In Crime
Author: Rafaiir
Pertemuan Mafia

Singapura, 28 Oktober 2031

Di salah satu sudut tersembunyi di Singapura, kawasan yang terkenal dengan perkampungan kumuh di tengah daerah industri megah dan gedung pencakar langit. Di tempat itu terlaksana pertemuan rahasia antar pemimpin organisasi dunia gelap se-Asia Tenggara.

Aku datang bersama dengan ajudanku, Reno Zagreb dan beberapa pengawal yang sengaja kubawa karena tingkat kerawanan daerah tersebut. Kupijakan kaki di tanah kotor, berlumpur dan tergenang tersebut dengan pasrah.

“Seharusnya mereka sudah berada di sini, kan?” tanyaku.

Reno yang berada di sampingku hanya bisa mengangguk tanpa mengucap sepatah kata pun. Kulihat waktu mulai bergulir dengan cepat dan belum ada satu kepala yang datang untuk menyambutku. Sungguh penghinaan yang besar!

Aku melanjutkan langkahku menyusuri setiap gang sempit dan gelap di daerah tersebut. Sesekali pandanganku tidak bisa lepas dari bayang-bayang kehidupan suram warga yang menetap di lingkungan seperti ini.

“Bagaimana bisa mereka hidup di keadaan seperti ini?”

“Entahlah, Tuan Revan, tapi setelah aku menelusuri daerah ini sebelumnya, mereka adalah pekerja buangan yang tidak mendapatkan kewarganegaraan,” ungkap Reno.

“Mereka imigran gelap?” tanyaku dengan penasaran.

“Sepertinya begitu, mereka datang dari berbagai negara dan bercampur di daerah ini.”

Pantas saja, aku menduga hal itulah yang terjadi. Mereka harus bertahan hidup di sini mau tidak mau, karena mereka tidak mempunyai tempat lain untuk pulang.

Tiba-tiba seorang pria berambut gondrong dan hanya mengenakan celana pendek memberikan surat kepadaku. Kuambil dan langsung kubuka dengan segera karena terpampang jelas cap dari salah satu organisasi mafia dari Malaysia.

Tiga puluh langkah ke depan dan belok kanan di pertigaan kedua, kau akan melihat sebuah gedung dengan nama La Vidre, batinku.

“Ada apa?” tanya Reno.

“Kita sudah dekat, mereka memberitahuku melalui surat ini,” ungkapku.

Reno hendak mengambil surat yang kupegang tetapi langsung kutangkis dan kusimpan rapat di dalam saku jas hitam. Mereka berjalan tepat di belakang tubuhku dengan penuh kewaspadaan, tampaknya mereka khawatir dengan pesan ancaman yang ada di surat tersebut.

Seperti dulu ketika aku bermain bajak laut untuk mencari harta karun. Kini aku disuruh untuk masuk untuk menghadiri pertemuan dengan perintah yang konyol. Namun, ini lebih baik daripada harus berputar-putar dan terus mengotori sepatuku.

Persis seperti apa yang dikatakan dalam pesan, sebuah gedung layaknya gedung pertemuan menjulang di depanku. Furniture-nya cukup kusam dan kuno, beberapa bagian rumah yang terbuat dari kayu mulai terkoyak dimakan rayap.

“Apa ini tempatnya?” tanya Reno.

“Sepertinya begitu.”

Kulirik beberapa orang di belakang punggungku, mereka semua tampak ketakutan ketika menghadapi sesuatu seperti ini. Suasana, keadaan, ketegangan, hampir semuanya mempengaruhi pikiran anak buahku.

“Apa mereka baik-baik saja? Para bocah-bocah itu?” tanyaku kepada Reno.

“Itu resikomu sendiri. Kalau dari awal kita ambil para anggota senior, mungkin keadaannya tidak akan seperti ini.”

“Oh tampaknya  kau mulai meragukanku, Reno. Apa aku benar?!” ancamku kepada Reno yang begitu tegang.

Sejak kecil, karena perundungan yang selalu kudapatkan sehingga membuatku mudah tersulut emosi ketika sedikit saja ada yang menyinggung atau tidak sependapat denganku. Mereka yang dulu berjuang bersama tentu paham betul sikap seorang Revan itu seperti apa.

“Tentu saja tidak, Tuan Revan. Maafkan aku,” pinta Reno, pria bertubuh besar dengan kepala plontos itu segera menundukan kepalanya di hadapanku.

“Kalau begitu lakukan sesuatu pada mereka, atau kau yang akan menanggung akibatnya sendiri!”

“Haha, jangan terlalu kasar pada mereka. Bisa-bisa anggotamu jadi berkurang.”

Terdengar suara pria yang begitu berat dari dalam rumah tersebut, lampu yang redup dan suasana yang cukup remang membuatku tak bisa memerhatikan dengan jelas wajah orang yang berjalan kearahku.

Aku akhirnya bisa melihat dengan jelas wajah pria itu. Pria berubuh besar dan gendut dengan cerutu yang menempel di mulutnya.

Sesekali pria itu menghembuskan asap cerutu tinggi-tinggi ke udara dengan senyum menyeringai yang tampak seperti mengejekku.

“Tak kusangka. Bapak besar obat-obatan hadir di sini, aku kira kamu akan menetap di dalam dan bermain dengan banyak wanitamu,” ujarku mengejeknya.

Orang-orang di sampingnya tampak tak terima dengan hinaanku, mereka langsung mengeluarkan senapan dari sarungnya dan mengarahkan benda itu ke kepalaku dengan cepat, ada sekitar 4 orang yang mengacungkan senapan.

“Sudahlah, aku juga tidak merasa tersinggung dengan apa yang ia katakan.”

Pria itu menyuruh anak buahnya untuk menurunkan senapan tersebut, pria yang kukenal dengan nama Hlong Liem itu dengan hangat menyambutku dan mengajak masuk ke dalam.

“Maafkan aku, mereka anak baru,” ucap Hlong seraya berjalan berdampingan denganku.

“Aku mengerti. Pertemuan ini tidak harus saling menumpahkan darah, kan? Lagi pula kita ini rekan bisnis, tidak elok saling bertikai,” ucapku.

Ia tersenyum seraya tertawa keras mendengar ucapan bijak dariku. Tentu saja ia akan bersikap baik mengingat bisnisnya tergantung dari bahan baku yang kujual padanya.

Hlong membuka pintu besar berukuran tiga meter di depanku, pintu yang begitu besar nan megah, dihiasi permata dan emas di setiap ornament-nya.

“Mereka sudah menunggu di dalam,” ucap Hlong.

Sungguh mempesona tampilan dari ruang besar yang berada di balik pintu megah tersebut, ruangan yang berlantaikan marmer dan pilar-pilar kokoh nan besar.

Aku bisa melihat beberapa orang yang sudah duduk kini terfokus kepadaku yang baru saja datang. Di antara mereka, aku bisa mengenali beberapa orang termasuk Nyonya Missa, dulu aku pernah bermitra dengan wanita itu untuk pengadaan senapan ilegal.

“Wah, tampaknya kekasihku baru sampai di sini. Yaampun, karena sudah lama tak bertemu, wajahmu selalu saja memesona diriku,” puji Missa

Wanita itu memang terkenal genit kepada lelaki tampan sepertiku, bahkan aku pernah mendengar kalau dia akan menyetujui kesepakatan apa pun jika dia berhasil memuaskannya selama 12 jam nonstop. Sunggu wanita gila!

“Aku punya banyak varian senapan baru untukmu, aku bisa mengirimkannya padamu percuma jika aku bisa mencicipi sejengkal milikmu yang kuinginkan itu,” goda Missa, membuat seluruh orang yang mendengar ucapan tersebut tersipu malu dan bukan tidak mungkin terangsang.

“Aku tidak tertarik. Aku lebih senang membayarnya dengan uang daripada tubuhku. Apa kamu pikir aku gigolo?!” bentakku dengan keras.

Bukannya merenung karena salah, Missa justru tertawa kencang seolah-olah mengejekku. Beberapa anggota yang pergi bersamanya juga tampak tengah menahan tawa, apa mereka sama genitnya dengan Missa?

“Yaampun … aku sudah lama tidak mendengar gigolo dari seorang anak muda,” ucap Missa.

Tak lama, datang seorang pria berpakaian serba hitam dengan topi fedora yang sama hitamnya. Selendang berwarna putih terpasang di kedua bahunya menandakan kalau dia adalah orang penting di dunia mafia.

Ketika pria itu turun tangga, seluruh ketua mafia se-Asia Tenggara segera bangkit dari tempat duduknya dan berdiri tegap seolah-olah menghormati pria tersebut.

“Siapa dia itu?” tanya Reno seraya berbisik kepadaku.

“Dia Ketua dari Perhimpunan Mafia Asia, Dong Yon Ji.”

Pria itu duduk di kursi yang disediakan sebelumnya. Seluruh pemimpin organisasi mafia juga ikut duduk bersamaan dengan Dong di kursi mereka masing-masing. Pandangan pria itu langsung tertuju kepadaku yang beberapa bulan lalu pernah bertegur sapa beberapa kali ketika perjalanan ke Hong Kong.

“You …  I remember you when we met in Hong Kong last month, Glad to see you here,” puji Dong Yon Ji kepadaku.

Seluruh pemimpin organisasi Mafia sontak memandangku dengan tatapan penuh ketidakpercayaan, beberapa ada yang menatapku dengan wajah iri dan juga bangga, aku tidak bisa menjelaskan raut wajah mereka satu persatu.

“Thank you, I appreciate that.” Aku menundukan kepalaku, sunggu suatu kehormatan bagi seorang pemimpin organisasi bisa dikenal oleh Pemimpin Perhimpunan Mafia se-Asia, Dong Yon Ji.

“Alright, let's start the meeting!”

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status