Era Baru
Era Baru
Author: omuraryu
Munculnya Pilar Misterius

Duduk di antara bebatuan tajam, berada di ruang gelap, sesosok pria paruh baya tengah bertapa. Bertahun-tahun dia berlatih dan bertapa di gua yang terletak di lembah di antara pegunungan. Dia menetap di sana seorang diri.

Meninggalkan semua perkara duniawi dan memilih menyendiri, Barata masih juga belum bisa melupakan kejadian beberapa tahun lalu saat dia kehilangan semua arti hidupnya.

Dikenal sebagai Tangan Setan, dia memiliki ilmu kanuragan yang tinggi. Tidak banyak pendekar yang bisa menghadapinya.

Hanya duduk bersila dan memejamkan matanya saja, udara di sekitar tubuhnya terus bergejolak dan berubah-ubah yang mengakibatkan tak banyak orang yang bisa bernafas di dekatnya dengan baik.

Ia bertapa dalam waktu yang cukup lama, lebih dari lima tahun lamanya. Setiap kali pendekar maupun orang biasa mendengar julukannya, mereka akan memilih untuk lari.

Setelah menghancurkan sebuah perkumpulan yang menghabisi nyawa orang-orang yang ia sayangi, Barata menghindari segala kontak dengan manusia dan menyendiri di gua yang terletak di sebuah lembah yang dikenal dengan Lembah Iblis. Sebuah tempat yang sulit dijangkau oleh pendekar biasa maupun manusia biasa.

Hari-harinya berlalu dengan normal tanpa ada kejadian yang mengejutkan. Entah seperti apa dunia luar saat ini, dia tidak mengetahuinya. Terkadang, ingin rasanya kembali ke masyarakat, tetapi dia masih nyaman dengan keadaannya saat ini.

Akan tetapi, semuanya berubah hari itu, saat dia menyelesaikan tapanya. Dia mulai melatih dirinya lebih sengit lagi. Tanpa senjata, hanya tangan kosong semata, tetapi tiap pukulannya mampu meremukkan batu hingga hancur menjadi debu.

Julukan yang disematkan pada Barata bukanlah karena kekejamannya, tetapi karena pukulannya yang mampu menghancurkan organ dalam manusia.

Pria itu berlatih gerakan. Pukulannya melayang dengan cepat, menghantam sebuah batu yang lantas berubah menjadi debu. Gerakan kakinya seimbang, tidak terlalu cepat namun tidak lamban.

Kendalinya dalam memanfaatkan gerakan kaki cukup bagus, bahkan sangat baik. Kaki yang di belakang akan mengikuti langkah kaki pertamanya.

Keringat tak membasahi pakaiannya meski berjam-jam dia berlatih gerakan. Ia memiliki tenaga yang besar. Semua itu ia peroleh setelah mengalami pelatihan mematikan semenjak dia masih muda.

Barata terbiasa berlari memutari sebuah gunung dengan menggendong sebuah batu di punggungnya. Ia melakukan rutinitas itu sejak masih kanak-kanak sampai remaja.

Barata melepaskan semua kekuatan dalam setiap gerakannya, dan dia menghela nafas setelah itu. Mendapati dirinya tak lelah, Barata pun melangkah keluar meninggalkan gua.

Sudah berapa lama dia tak meninggalkan tempat itu? Setahun lebih? Tidak. Lebih dari itu. Dia benar-benar menutup dirinya.

“Udaranya segar sekali. Pohon-pohon ini memberikan udara sejuk dan juga melindungiku dari panasnya matahari. Kicauan burung juga terdengar merdu. Sudah lama aku tak merasakan ketenangan dan kedamaian seperti ini,” ucap Barata. Ia meregangkan tubuhnya, menarik otot-ototnya agar lebih rileks.

Melihat dan merasakan secara langsung pemandangan yang indah dengan udara yang sejuk, Barata tersenyum puas.

Namun, seberapa besar ia berusaha untuk menutupi semua kesedihannya, tetap saja ia masih mengingat kejadian berdarah itu. Meski pemandangan yang indah terpampang di depan matanya, dia hanya merasakan kebahagiaan itu sekejap.

Lepas itu, bayang-bayang kejadian berdarah tersebut terus menghantui dirinya. Walaupun ia sudah menghancurkan perkumpulan itu, tetap saja ia merasa tidak tenang. Tragedi berdarah itu meninggalkan luka yang tak akan pernah bisa disembuhkan.

Mengingat kejadian kala itu, Barata menatap sedih ke arah langit, menengadah layaknya meminta sesuatu pada Yang Maha Kuasa.

Sendu, ingin ia berteriak. Namun, apa yang akan berubah jika dia berteriak terhadap langit yang tak memberikan kebahagiaan untuknya. Kehilangan keluarga membuat dia tak bergairah lagi untuk menapaki kehidupan.

Duduk di antara pepohonan yang lebat nan menjulang tinggi ke langit dengan gagahnya, dia merasakan ada bagian di dalam tubuhnya yang perlahan-lahan menghilang.

Entah apa yang baru saja terjadi, tiba-tiba tubuhnya terasa lemas sekali. Menggerakkan jari saja terasa sangat menyakitkan.

Pandangannya tak jelas dan mulai kabur. Keringat mengucur deras di sekujur tubuhnya, membasahi pakaian yang ia kenakan. Wajahnya memucat, tubuhnya gemetar menahan rasa sakit yang tiada tara. Panas seperti dibakar hidup-hidup, lalu berganti dengan dingin layaknya ia ditenggelamkan dalam ribuan es.

Saat batuk, ia mengeluarkan darah. Tenaganya pun menghilang dan ia roboh seketika tak sadarkan diri.

Peristiwa itu terjadi di seluruh Nusantara. Bukan hanya Barata saja yang merasakan rasa sakit itu, semua pendekar yang mempelajari dan menguasai ilmu kanuragan pun kehilangan seluruh tenaga dalam, termasuk semua kemampuan mereka. Tak ayal, hal ini menimbulkan rangkaian reaksi yang tak terkira dari berbagai pihak.

Ratusan ribu orang yang mempelajari ilmu kanuragan, baik dari yang ahli sampai yang masih baru, mereka semua ambruk tak sadarkan diri dengan kondisi yang sama seperti Barata.

Para Raja dan yang lainnya tak lepas dari kejadian ini. Mereka juga mengalami kejadian serupa.

Tatanan masyarakat secara tiba-tiba menghilang bersamaan dengan robohnya semua pendekar yang tak sadarkan diri. Satu per satu kejadian aneh mulai bermunculan.

Angin ribut mulai meluluh lantahkan beberapa desa dan memasuki kawasan kota. Bumi terguncang dengan hebatnya, menghancurkan berbagai bangunan yang tak mampu menahannya.

Langit bergemuruh, petir saling menyambar satu sama lain, cuaca berubah menjadi tak menentu. Laut yang biasanya tenang mulai berdebur dengan ombak yang menyapu pesisir pantai hingga ke daratan.

Bencana yang terjadi semakin menjadi. Tak berselang lama, berbagai bangunan yang tak biasa mulai muncul satu per satu. Tanah terbelah membentuk celah. Sebuah bangunan berbentuk tabung keluar dari celah itu dengan garangnya.

Berbagai macam bangunan muncul di berbagai tempat. Ada yang turun dari langit bagaikan meteor, muncul dari kedalaman bumi, dan juga mencuat ke permukaan dari dasar laut. Semua kejadian itu menyebabkan kepanikan tak terhingga bagi seluruh penduduk Nusantara.

Sepuluh hari lebih mereka dilanda ketakutan tak berujung, sepuluh hari itu pula para pendekar tak sadarkan diri. Ketika para penduduk mulai merasa tenang dengan terhentinya berbagai bencana, mereka mendapati jika semua yang terjadi hanyalah sebuah awal dari sebuah akhir yang tak pernah mereka damba-dambakan.

Satu per satu makhluk dengan bentuk yang mengerikan menampakkan dirinya dengan bentuk yang tak biasa. Mereka memiliki kekuatan yang sama seperti yang dulu dimiliki oleh para pendekar.

Makhluk-makhluk itu berkeliaran di segala tempat, memangsa para manusia yang berkeliaran di sekitar tempat mereka.

Tak ada yang bisa menghentikan mereka. Orang-orang dengan keberanian besar mengangkat senjata mereka dan melawannya. Namun, tanpa kekuatan yang memadai, mereka hanya menghantarkan nyawanya saja.

Lima belas hari berlalu, para pendekar yang tak sadarkan diri mulai membuka mata mereka.

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status