Darah dan Tubuhmu Milikku (INDONESIA)
Darah dan Tubuhmu Milikku (INDONESIA)
Author: Kaitani_H
01 | Alin

"APA yang akan aku lakukan sekarang?"

Aku mengembuskan napas panjang, melemparkan dompetku ke atas meja, dan lantas menyandarkan punggung ke sofa.

Sial, benar-benar sial.

Jika aku tidak bisa pulang bulan depan, aku akan mati mengenaskan di tempat ini. Bukannya apa atau kenapa, hanya saja, lockdown mendadak dari pemerintah sejak satu minggu yang lalu sukses membuatku tidak berkutik.

Duduk diam di apartemen sempit dan berakhir mati kelaparan karena kehabisan uang. Aku hanya memindahkan beberapa dolar ke VISA sebelum terbang kemari, dan kalau keadaan seperti ini tetap berlanjut, mau diam atau keluar dari sini pun aku akan tetap mati.

"Kau terlihat sedih." Bahasa Jepang dengan aksen khas orang luar negeri menyahut.

"Berhentilah, Daniel, kau membuat mood-ku semakin buruk." Aku memejamkan mata, enggan menatap wajah menyebalkan yang menjadi tetangga sebelah kamar.

Sosok menyebalkan yang suka seenaknya masuk dan keluar apartemenku. Entah apa yang membuatnya merasa senang ketika menyusup rumahku, tapi ekspresinya memang selalu begitu, menyebalkan sekali, dan membuat semua kesialanku serasa bertambah hingga berkali-kali lipat.

"Kau kehilangan mood, karena tidak bisa keluar dari sini?"

"Kalau sudah tahu, jangan bertanya lagi."

Pria itu terkekeh. Dia berjalan mendekat, lalu duduk di sebelahku. "Aku hanya ingin menabur garam di atas penderitaanmu."

"Sialan!" Aku meliriknya. "Sedang apa kau kemari?"

"Hn, melihat kondisimu. Apa kau masih bernapas atau tidak di tempat kecil ini."

Aku mendengkus. "Tempatmu sama kecilnya dengan tempat ini, jangan menghinaku." Aku menatapnya.

"Aku tidak menghina, tapi memang beginilah kenyataannya." Daniel menatap langit-langit ruangan. "Setelah ini, apa yang akan kau lakukan?"

"Apa? Kalau aku bisa pulang, aku akan pulang sekarang juga."

"Mustahil."

Aku mendengkus. "Aku tahu."

"Dan jangan coba-coba mencari jalan ilegal hanya untuk pulang. Sayangi nyawamu."

Aku tak kuasa mendengkus keras. "Mau tinggal atau pulang, aku tetap akan mati, Niel. Kau pasti mengerti itu. Dan lagi, kenapa kita harus tinggal di rumah hanya karena pembunuh berantai yang wujudnya saja tidak jelas begini? Harusnya kita melarikan diri, bukannya diam di rumah bagaikan hewan ternak yang siap dibunuh kapan saja."

Daniel melirikku, mata biru dengan rambut pirangnya benar-benar memperlihatkan bahwa dia orang asing, bahkan sebelum ia menyebutkan namanya. Aku dulu berasumsi dia berasal dari London atau benua Amerika, dan benar saja, dia memang berasal dari London.

Tiba-tiba saja, Daniel mendekatkan wajah, sontak aku menjaga jarak. Mata birunya menatapku tajam, entah mengapa tatapannya sedikit berbeda dari yang biasanya, tatapan kali ini terasa dingin dan mencekam.

Aku baru saja hendak bangkit, saat tangannya menarik tanganku hingga tubuhku terempas di sofa. Mataku melotot. Daniel menindih tubuhku, senyum di bibirnya teramat lebar layaknya seringai mengerikan.

"Kalau kau butuh sesuatu, mintalah padaku. Aku takkan membiarkanmu mati di tempat kecil ini, Alin."

Aku menelan ludah susah payah, terlebih saat kurasakan embusan napasnya di dekat daun telingaku.

"Jangan berpikir untuk pergi, tidak, Alin. Aku takkan membiarkannya, kau bisa mati jika berani meninggalkan Akita."

"Ck, menyingkir dariku, bodoh!" Aku mendorong Daniel dan berhasil, pria itu terkekeh kecil dan duduk di sebelahku setelah aku terduduk. "Lagipula, apa yang mengintai di luar sana? Kau pasti tahu sesuatu, kan?"

"Apa kau ingin mengetahuinya?"

Aku menatapnya penuh harap. "Apa boleh? Aku akan membantu kalian mengungkap misteri sialan ini, tapi sebagai gantinya, izinkan aku pergi secepatnya dari sini. Aku-"

"Berhenti berpikir untuk meninggalkanku." Daniel berdiri. "Aku takkan membiarkanmu pergi dari sini."

"Ck, kau tahu, Niel? Kau adalah orang paling menyebalkan yang pernah kutemui."

Daniel menatapku dengan senyuman miris. "Terima kasih telah memuji polisi rendahan sepertiku, Nona."

Dia benar, Daniel memang seorang polisi yang bekerja di divisi kejahatan. Namun, anehnya, dia jarang masuk kantor polisi dan lebih sering masuk ke rumahku.

Bahkan, aku meragukan jika dia benar-benar polisi. Mengingat tindakannya yang kurang sopan, juga ... karena aku belum pernah melihatnya memakai pakaian polisi, aku ragu dia benar-benar seorang polisi.

____

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status