INICIAR SESIÓN"Bocah, kalau berani menantangku, jalanmu cuma satu, yaitu mati."Kasyapa berdiri di puncak pagoda dengan wajah tanpa ekspresi. Ewan tidak berkata apa-apa. Dia mengambil beberapa tanaman obat berusia ratusan tahun dari Kantong Kosmik, menghancurkannya sekaligus lalu langsung menelannya.Tak lama kemudian, kekuatan obat menyebar ke seluruh meridiannya. Ewan memanfaatkan energi murni alami untuk memulihkan lukanya dengan cepat.Sesaat kemudian."Bunuh!" Ewan meraung rendah sambil menggenggam Pedang Cahaya Senja, lalu kembali melesat menembus langit."Mati!"Dengan membawa aura ilahi yang mengguncang langit, Kasyapa meluncur turun dari udara dengan gelombang kehancuran yang menyapu segala arah.Boom!Tiba-tiba, petir turun dari langit dan menghantam tubuh Kasyapa.Ewan menggunakan Mantra Lima Petir.Meski Mantra Lima Petir sangat kuat, Kasyapa tetaplah kultivator tingkat dewa tahap menengah. Setelah terkena sambaran petir, dia sama sekali tidak terluka. Bahkan, serangan itu tidak mampu me
Ewan langsung terpental di tempat. Tak lama kemudian, keduanya sama-sama jatuh ke bawah Pagoda Seribu. Kasyapa berdiri tegak. Tulang bahunya hancur retak, sementara darah terus mengalir dari sudut bibirnya.Sebaliknya, keadaan Ewan jauh lebih menyedihkan.Setelah terkena Segel Vajra milik Kasyapa, tubuhnya terlempar dan menghantam tanah. Dua tulang di punggungnya patah, darah dan energi di dadanya bergolak hebat, lalu dia memuntahkan seteguk darah.Pfftt!Darah itu jatuh ke tanah dan memancarkan cahaya keemasan."Darah emas!"Hati Kasyapa terguncang. Lalu dia mencibir dingin, "Pantas saja kekuatanmu sedahsyat itu. Ternyata kamu memiliki tubuh spesial. Sayangnya, kamu bukan kultivator abadi. Kalau nggak, bahkan aku saja belum tentu bisa mengalahkanmu.""Jadi hari ini, kamu pasti mati."Ewan mengejek, "Jangan terlalu banyak omong kosong. Meski bukan kultivator abadi, aku tetap berhasil melukaimu. Cuma luka kecil, bukan masalah besar."Setelah berkata demikian, Kasyapa membentuk segel tan
Ewan melesat menembus langit. Begitu menyerang, dia langsung menggunakan Tinju Pembantai Naga dan menghantam ganas ke arah Kasyapa.Kasyapa tetap merendahkan Ewan. Dalam pandangannya, selama bukan kultivator abadi, maka orang itu tidak akan bisa mengancamnya. Karena itu, dia tidak mengeluarkan energi naga, hanya memakai Jurus Naga Gajah untuk mengalahkan Ewan dalam adu kekuatan."Boom!"Benturan kedua tinju itu bagaikan suara petir yang menggelegar.Ewan tidak mundur selangkah pun, sementara Kasyapa juga tetap berdiri di tempat.'Kuat sekali. Kekuatannya meningkat setidaknya lima kali lipat.' Ewan merasa terkejut dalam hati. Namun dia tidak tahu, keterkejutan Kasyapa justru lebih besar lagi."Mana mungkin? Kenapa kekuatan bocah ini bisa sebesar itu?"Kasyapa merasa sulit percaya. Dia kembali meningkatkan kekuatannya lalu menghantamkan satu pukulan lagi ke arah Ewan.Boom!Ewan mengangkat tinjunya dan menghadangnya secara langsung. Kali ini, hasilnya masih tetap seimbang."Lagi!"Kasyap
Ewan tahu, itu bukan suara petasan, melainkan tekanan aura Kasyapa yang terlalu kuat hingga menghancurkan udara.Ewan sama sekali tidak gentar, lalu kembali berteriak keras, "Dasar botak tua, turun dan terima kematianmu.""Kurang ajar!"Kasyapa mendengus dingin, gelombang suara langsung melesat. Ewan menghantamkan satu pukulan untuk menghancurkan gelombang suara itu, lalu segera mengeluarkan Pedang Enam Nadi.Sreettt ....Enam aliran energi pedang menembus udara dan serempak menebas ke arah Kasyapa."Cuma trik murahan."Kasyapa mengangkat telapak tangannya dan melambaikannya ringan.Dalam sekejap, enam aliran energi pedang itu menghilang tanpa jejak, seolah tidak pernah muncul sama sekali. Hati Ewan terguncang, diam-diam dia berpikir, 'Tingkat dewa memang beda. Jauh lebih kuat dibanding muridnya.'Kasyapa menunduk memandang Ewan lalu berkata, "Kamu bahkan bukan kultivator abadi, tapi berani datang membuat keributan di kuil suci. Benar-benar cari mati."Kasyapa berdiri bagaikan sosok ya
Ewan terus melangkah menuju bagian terdalam Kuil Kaisar. Tak lama kemudian, dia tiba di depan sebuah pagoda.Tinggi pagoda itu sekitar 60 hingga 70 meter, dipahat dari satu bongkahan granit utuh, dengan berat ratusan ton. Tampak berat dan khidmat.Ini sudah merupakan bangunan terakhir di Kuil Kaisar, yang berarti Kasyapa hanya mungkin berada di dalam pagoda ini."Di mana Kasyapa?!" Ewan berteriak keras.Suara itu mengandung kekuatan energi murni. Begitu dilontarkan, suara itu seperti petir yang meledak.Swoosh! Angin sepoi-sepoi berembus. Ewan mendongak. Di puncak pagoda, tiba-tiba muncul seorang biksu.Biksu itu tampak berusia 40 atau 50 tahun, tetapi sorot matanya yang penuh kelelahan menunjukkan usia yang sebenarnya jauh lebih tua.Dia mengenakan jubah hitam, dengan cincin emas besar di hidung, berdiri di atas pagoda. Di lehernya melilit seekor ular piton emas setebal lengan.Ewan merasakan kultivasi lawannya seperti jurang tak berdasar dan tak bisa diperkirakan. Dia lalu bertanya,
Bam! Tanpa berkata apa-apa, Ewan langsung menghancurkan biksu itu dengan satu pukulan.Beberapa biksu lainnya langsung ketakutan melihat cara Ewan. Mereka berdiri terpaku di tempat, tidak bisa sadar kembali untuk waktu lama. Jelas, mereka tidak menyangka ada orang yang berani membunuh di dalam kuil.Memanfaatkan kesempatan itu, Ewan melesat maju, menghantamkan beberapa pukulan seperti kilat, dan menghancurkan beberapa biksu lagi.Kemudian, dia melangkah ke bagian dalam Kuil Kaisar. Sepanjang jalan, Ewan kembali bertemu puluhan biksu. Tanpa pengecualian, semuanya dibunuh.Ewan terus bergerak menuju bagian terdalam kuil. Tiba-tiba, seorang biksu paruh baya dengan wajah ramah mengadang di depan.Biksu ini tampak berusia sekitar 45 tahun, berwajah bulat dengan telinga lebar, mengenakan jubah merah, dan memegang vajra di tangannya.Ewan melihat jubah biksu itu dijahit dengan benang emas dan wajahnya penuh wibawa. Dia pun menyadari, status biksu ini di dalam kuil pasti tidak rendah."Di mana







