LOGIN“Woy! Siapapun itu! Mau Tuhan, iblis, setan, mak lampir, atau semuanya! Dengerin Aku!” teriak Dewa sambil menatap langit dengan kesal. “Siapapun yang bisa bikin semua orang tunduk sama aku, kalian bisa ambil apapun yang aku punya. Ambil nyawaku juga gak masalah! Aku capek diinjak-injak terus!”
View More"Sampah tetap saja sampah, Dewa! Gak usah mimpi jadi sukses kalau bayar kos saja tidak becus," teriak bapak kos di depan banyak orang.
Dewa ingat, sadi sore bapak kosnya telah mengusirnya karena menunggak uang kos selama 3 bulan. Belum lagi surat-surat tagihan cicilan beserta bunga yang belum terbayar. Semuanya seperti sedang mencekik Dewa secara bersamaan saat ini. Kini, Dewa berdiri mematung di pinggir trotoar. Satu tangannya menggenggam map coklat berisi surat pemecatan dirinya, dan satu lagi menenteng kardus pakaian. “Ah!” keluh Dewa sambil menendang kerikil dengan asal. Namun, saat itu juga tiba-tiba hujan deras turun. Cres! “Ini hujan mau ikut ngeledek atau gimana sih,” gumam Dewa dengan tawa getir. Akhirnya, pria 30 tahunan itu mengangkat kaki lecetnya untuk kembali berjalan. Perutnya bahkan mulai terasa melilit karena hanya diisi air keran sejak pagi. Dewa berhenti di sebuah jembatan tua yang sepi. Tatapannya lurus ke arah air sungai yang mengalir berwarna hitam pekat, persis seperti masa depannya. Dia tidak bisa lagi menahan amarah di dadanya. BRUK! Kardus pakaian itu Dewa banting asal ke jalan. Surat pemecatan dan tagihan-tagihan itu bahkan dia lempar ke sembarang arah hingga berserakan. “Woy! Siapapun itu! Mau Tuhan, iblis, setan, mak lampir, atau semuanya! Dengerin Aku!” teriak Dewa sambil menatap langit dengan kesal. “Siapapun yang bisa bikin semua orang tunduk sama aku, kalian bisa ambil apapun yang aku punya. Ambil nyawaku juga gak masalah! Aku capek diinjak-injak terus!” Tiba-tiba— CTAR! Petir datang menyambar. Namun, Dewa tidak peduli dengan itu. Sampai akhirnya, suasana mendadak berubah. Hujan perlahan reda, hawa dingin semakin menusuk. Dari arah belakang, bau melati tiba-tiba muncul dengan kuat. Dewa langsung menoleh ke segala arah dengan panik. Rasa putus asanya tadi, mendadak berubah menjadi rasa takut. Dari balik kegelapan di ujung jembatan, tiba-tiba muncul sesosok makhluk aneh. Dari bayangannya, Dewa bisa melihat kepala orang itu memiliki dua tanduk, lalu ada dua sayap lebar di punggungnya. “Siapa itu?!” seru Dewa panik. “Permintaanmu itu berisik sekali, Dewa Baskara!” sahut sosok itu. ‘Perempuan?!’ batin Dewa terkejut. Begitu sosok itu berdiri tepat di hadapan Dewa, ia kembali terkejut. Wanita itu bertanduk, bersayap, bahkan berekor! Sesuai dengan bayangan yang ia lihat tadi! Tapi, bukan hanya itu yang membuat Dewa terkejut. Penampilannya … sangat seksi! Lekuk tubuhnya tercetak jelas di balik pakaian berbahan kulit yang sangat ketat. Dua buah kenyalnya menonjol besar di depan, bokongnya besar dan padat, bibirnya lumayan tebal. Glek! Dewa menelan ludah berkali-kali. Pandangannya tidak bisa lepas dari sosok di depannya. 'Gila, ini beneran setan atau model majalah dewasa? Kok bisa ada makhluk seseksi ini?' batin Dewa sambil gemetar. Rasa takutnya perlahan kalah oleh rasa kagum melihat kecantikan yang tidak masuk akal itu. "S–siapa kamu?" tanya Dewa dengan sedikit ragu. Wanita itu melangkah mendekat. Setiap gerakannya membuat dua buah kenyalnya bergoyang pelan, menambah kesan menggoda. Dia tersenyum tipis, memperlihatkan taring kecil di sudut bibirnya yang merah. "Siapa lagi kalau bukan jawaban dari permintaan berisikmu itu," ucapnya dengan suara merdu yang terasa menggetarkan telinga Dewa. “Panggil aku, Niskala.” Niskala mengulurkan tangannya yang lentik dan menyentuh dagu Dewa. Kulit jarinya terasa sangat dingin tapi halus sekali. Dewa hanya bisa terdiam saat mata merah wanita itu menatapnya tajam. Tubuhnya tiba-tiba kaku. "Aku bisa kasih kamu kekuatan dan kekayaan. Aku bisa bikin semua orang yang sudah injak-injak kamu merangkak di bawah kaki kamu. Tapi ada harganya, Dewa," bisik Niskala. Seketika, mata Dewa berbinar. Inilah yang dia inginkan! "Apa pun! Aku kasih apa pun asal aku nggak jadi sampah lagi!" jawab Dewa nekat. Dia sudah tidak peduli lagi meskipun wanita di depannya ini adalah iblis dari neraka. "Tapi, pastikan kamu gak akan menyesalinya nanti,” kata Niskala sambil tersenyum menyeringai, yang mana hal itu malah membuat wajah Niskala semakin menggoda di mata Dewa. "Persetan dengan penyesalan! Satu-satunya penyesalanku adalah menjadi sampah." Niskala tertawa kecil, suara tawanya terdengar sangat menggoda. Tanpa aba-aba, dia menarik tengkuk Dewa dan mencium dahinya. SRET! BRZZZT! Seketika itu juga, Dewa merasa ada energi dingin yang meledak di dalam kepalanya hingga semuanya menjadi gelap. ** Keesokan paginya …. Dewa terbangun di sebuah kamar mewah dengan kondisi tubuh yang sangat bugar. Dia merasa otot-ototnya lebih bertenaga dan otaknya terasa sangat encer. “Uh, tapi rasanya badanku kayak baru aja level up di dalam game,” pikir Dewa sambil meregangkan tubuhnya. Namun, tempat asing itu membuatnya bingung. “Tapi, ini dimana ya?” tanya Dewa pada dirinya sendiri. Pasalnya, Dewa ingat sebelumnya dia ada di jembatan sedang meratapi nasib. Sampai akhirnya muncul si wanita misterius itu. Hingga tiba-tiba— “Selamat pagi, Tuan Dewa. Kami telah menyiapkan air hangat untuk Tuan mandi dan sarapan di meja makan.” Dua pelayan wanita masuk sambil menunduk sopan. Dewa langsung mengernyitkan dahinya bingung. “Tuan? Eh kamu nggak salah manggil kah?” tanya Dewa heran, dia saja baru dipecat dan diusir, bisa-bisanya sekarang dipanggil dengan sebutan Tuan. “Tidak, Tuan. Kalau begitu, saya permisi,” jawab salah satu pelayan itu, kemudian keduanya berjalan mundur dengan kepala tertunduk. “Eh, tunggu,” cegah Dewa, dia langsung berjalan mendekati pelayan itu. “Ini dimana ya?” Dua pelayan itu saling bertatapan bingung, lalu salah satu menjawab sambil menundukkan kepalanya, “Tentu saja di apartemen Tuan Dewa.” Dewa langsung membelalakkan matanya. ‘Apartemenku? Yang bener aja?! Duit 500 ribu aja gak punya, gimana ceritanya bisa punya apartemen mewah begini?!’ teriak Dewa dalam hati. “Kalian nipu ya?” Dewa menatap dua pelayan itu tak percaya. Namun, belum sempat dua pelayan itu menjawab, suara sepatu hak tinggi terdengar, membuat Dewa langsung menoleh ke arah pintu. Niskala berdiri di sana dengan tanktop tipis yang dibalut blazer merah dan rok span selutut. Tentu tidak bisa menyembunyikan kemolekan depan belakang tubuhnya. Bibirnya dipoles dengan lipstik merah merona, tapi tetap tidak membuatnya terlihat norak. Tanduk dan ekornya entah hilang kemana. Dua pelayan itu langsung berjalan mundur meninggalkan Niskala dan Dewa. Setelah itu, Niskala melangkah mendekati Dewa dengan senyum menawannya. “Ini benar apartemen kamu Dewa. Semalam aku kan udah bilang kalau aku bisa kasih semua yang kamu butuhkan. Inilah bukti dari ucapanku, jadi selamat datang di kehidupan barumu.” Niskala tersenyum puas sambil melipat tangannya di dada, membuat gundukan besar itu semakin terlihat menonjol. Dewa kembali membelalakkan matanya terkejut. Dalam semalam dia bisa jadi orang kaya! ‘Gila, ini cewek beneran sakti!’Niskala tertawa kecil. Suaranya bergema pelan di dalam penthouse yang sunyi. Dia mengusap punggung Dewa yang basah oleh keringat, lalu menarik wajah pria itu agar bisa menatap matanya yang berkilat merah."Kamu terlalu fokus pada rasa sakitnya, Dewa," bisik Niskala lembut. Jemarinya menelusuri garis rahang Dewa. "Setiap kali aku menyedot energimu, aku sebenarnya sedang meruntuhkan batas-batas manusiamu. Proses ini hampir selesai. Kekuasaan penuh Mandala sudah di depan mata."Niskala bangkit sedikit, menggeser tubuh Dewa agar pria itu bisa bersandar di bahunya. Dia membelai rambut Dewa, menyembunyikan lima uban yang masih berdiri tegak itu di balik poni hitam dengan gerakan lembut."Pelabuhan tadi adalah kuncinya. Kamu sudah menghancurkan fondasi terakhir mereka, bukan? Itu tandanya akhir dari perjuanganmu sudah sangat dekat. Rasa lemas ini adalah seleksi akhir. Sisa-sisa kemanusiaanmu yang lemah sedang dikikis habis, digantikan dengan kekuatan mutlak yang akan membuat seluruh kota ber
Hantaman telak itu membuat seluruh tubuh Niskala bergetar hebat di bawah kungkungan Dewa. Liang hangatnya menjepit milik Dewa dengan sangat ketat, memberikan sensasi jepitan yang luar biasa nikmat sekaligus mematikan.Dewa mengerang berat, mulai menggerakkan pinggulnya dengan tempo yang cepat dan bertenaga. Setiap tusukannya dalam dan menghunjam, membuat sofa panjang di ruang tengah itu berderit halus.Bugh! Bugh!Niskala mencengkeram bahu kekar Dewa semakin erat. Mulutnya tidak berhenti mendesah parau, menikmati kebrutalan pria di atasnya. "Ah... Dewa... emmh... terus..."Namun, kenyamanan itu tidak bertahan lama. Baru beberapa belas kali Dewa melayangkan hentakan kuat, tiba-tiba—Deg!Jantung Dewa berdenyut dengan ritme yang sangat aneh. Bukan denyutan sakit seperti di pelabuhan tadi siang, melainkan rasa kosong yang teramat sangat, seolah-olah ada sebuah lubang hitam yang mendadak tercipta di dalam jiwanya dan mulai menyedot seluruh kesadarannya.Whuushh!Hawa dingin yang pekat men
Dewa mempererat cengkeramannya pada kedua pergelangan tangan Niskala. Dia menekan wanita itu ke bantal sofa. Tatapannya lurus mengunci mata Niskala."Jangan banyak bicara lagi," bisik Dewa. Suaranya berat.Niskala malah tersenyum. "Hihi... silakan, Tuan Dewa."Dewa menunduk. Dia langsung membungkam bibir Niskala.Cup!Lumatan Dewa terasa kasar dan menuntut. Dia melumat bibir bawah Niskala dengan kuat. Hawa hangat menjalar dari lidah Niskala, mengalir masuk ke tenggorokan Dewa. Rasa kosong di dadanya mendadak terasa sedikit terisi."Mmph..." Niskala melenguh.Kedua kaki Niskala yang berbalut rok satin hitam tipis bergerak gelisah di atas sofa. Kain satin itu bergesekan halus, tersingkap hingga ke paha atasnya yang putih mulus.Dewa melepaskan ciumannya sejenak. Napasnya memburu. Dia menatap wajah Niskala yang memerah dengan mata setengah terpejam.Plak!Dewa memindahkan tangannya ke pinggul jumbo Niskala, meremasnya dengan kasar hingga daging padat di sana berubah bentuk di balik kain
Mendengar kata-kata Dewa, Niskala tidak menjawab. Wanita itu hanya tersenyum tipis. Dia bangkit dari sofa, lalu melangkah ke arah dapur bersih sambil membawa cangkir kosong. Langkah kakinya terdengar berirama di atas lantai marmer. Rok kulit marunnya yang ketat bergoyang pelan seiring ayunan pinggulnya.Dewa memperhatikan punggung wanita itu sampai hilang di balik sekat dapur. Pria itu menarik napas dalam-dalam. Dia menyandarkan kepalanya ke bantalan sofa, mencoba mengumpulkan sisa tenaga yang terasa terkuras habis.‘Sial, kontrak ini benar-benar mengikatku hidup dan mati. Kalau setiap kali habis baku hantam aku harus sekarat begini, bisa-bisa aku mati muda sebelum menguasai seluruh aset Mandala,’ batin Dewa, merutuki kondisi tubuhnya sendiri yang sempat limbung tadi siang.Waktu berjalan merayap. Hawa panas dari pelabuhan di luar jendela kaca raksasa penthouse perlahan meredup. Warna langit berubah menjadi jingga tua, lalu perlahan menggelap total digantikan oleh kelap-kelip lampu ko
Kini, Dewa telah berada di lobby apartemen. Tak disangka, ternyata ini adalah salah satu apartemen paling mewah di Jakarta. Yang Dewa tahu, harga sewa unit paling murah di apartemen ini sekitar 50 juta per bulan. “Beneran aku tinggal di apartemen kayak gini? Wah … Niskala emang gila,” gumam Dewa se
Niskala mengangguk pelan. Dengan status janda seksi yang memiliki perusahaan raksasa, jelas semua orang di Jakarta tahu siapa Widya. Dewa mengernyitkan dahinya, lalu dengan polosnya bertanya, “Tapi, buat apa?” Niskala langsung mendorong dahi Dewa dengan telunjuknya. “Kamu ini udah jadi pengusah
“Kamu nggak bohong, kan?” Dewa masih tidak percaya.“Mana mungkin aku bohong,” jawab Niskala dengan nada santai. Wanita itu berjalan mendekati Dewa, lalu mengulurkan tangannya membelai dada Dewa, dan berbisik rendah, “Sekarang, giliranku untuk mendapatkan bayaranku.”Dewa sedikit membelalakkan mata
"Sampah tetap saja sampah, Dewa! Gak usah mimpi jadi sukses kalau bayar kos saja tidak becus," teriak bapak kos di depan banyak orang. Dewa ingat, sadi sore bapak kosnya telah mengusirnya karena menunggak uang kos selama 3 bulan. Belum lagi surat-surat tagihan cicilan beserta bunga yang belum terb






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviews