LOGINTinju dan mata pisau berbenturan tiga kali. Pada benturan terakhir, parang itu langsung patah oleh tinju Ewan."Hmph!"Maprana mendengus dingin. Dia menyadari bahwa kekuatan Ewan luar biasa besar, bahkan sedikit melampaui dirinya. Dia pun langsung mundur dengan cepat. Jarak antara keduanya langsung melebar hingga sepuluh meter.Mereka saling berhadapan dari kejauhan."Bukannya kamu mau bunuh aku? Kenapa berhenti? Aku nggak punya waktu untuk berbasa-basi denganmu," kata Ewan.Wajah Maprana tanpa ekspresi. Dia berkata, "Mengingat kamu baru saja menjadi ketua Organisasi Draken, aku nggak tega melihatmu mati tragis di sini. Lebih baik kamu bunuh diri saja.""Hahaha ...."Ewan tertawa keras, seolah baru saja mendengar lelucon paling lucu di dunia. Lalu dia menunjuk Maprana dan berkata, "Memangnya kamu siapa berani nyuruh aku bunuh diri?"Ekspresi Maprana menjadi muram. Ketegasan Ewan benar-benar di luar dugaannya.Ewan melanjutkan, "Hari ini adalah hari pemakaman Sida. Kamu berani membuat k
Urat di dahi Maprana menonjol. Matanya memerah dan wajahnya dipenuhi niat membunuh yang dingin. Ewan telah membunuh Mariadi dan Magana berturut-turut, membuatnya benar-benar murka."Bukan manusia namanya kalau aku nggak bunuh kamu hari ini!"Terpancar tekanan yang besar dari tubuh Maprana, seolah-olah dia menyatu dengan langit dan bumi, tanpa celah sedikit pun.Seorang ahli tertinggi!Mata Ewan sedikit menyipit. Dia menyadari bahwa kemampuan Maprana jauh lebih kuat dibandingkan Mariadi dan Magana."Bunuh!" teriak Maprana dengan keras. Dia melangkah maju dan tiba di depan Ewan seketika, lalu melayangkan pukulan.Bruk!Ewan juga melayangkan pukulan. Tinju mereka bertabrakan dengan keras. Dalam sekejap, terdengar suara seperti benturan logam, bahkan percikan api muncul dari kedua tinju mereka.Semua orang yang hadir terkejut."Luar biasa!""Mereka seperti para ahli yang keluar langsung dari novel silat.""Pantas saja Sida menyerahkan posisi ketua kepada Ewan. Walaupun masih muda, kemampua
Maprana mengangguk. Dia juga mengira bahwa Magana terbunuh oleh Ewan karena meremehkan lawan. Bagaimanapun juga, Ewan masih terlalu muda."Anak muda, ajalmu sudah tiba."Mariadi mengentakkan kaki kanannya ke tanah. Tubuhnya langsung melesat seperti peluru meriam dan seketika sudah tiba di depan Ewan.Plak!Mariadi melayangkan satu telapak tangan ke arah dada Ewan.Ewan tetap berdiri di tempat tanpa bergerak. Ketika telapak tangan Mariadi tinggal sekitar 20 sentimeter darinya, Ewan melayangkan satu pukulan.Bum!Tinju mereka bertabrakan, menimbulkan suara benturan yang berat.Namun, tinju dan telapak tangan itu dilapisi oleh energi dalam. Keduanya tetap mempertahankan posisi serangan dan berdiri di tempat tanpa bergerak. Ekspresi Mariadi seketika berubah drastis. Dia merasakan ada kekuatan dahsyat dari tinju Ewan yang menyerbu ke dalam meridiannya dan menghancurkan meridiannya satu demi satu."Kamu ... kamu ...."Mariadi menatap Ewan dengan mata penuh ketakutan.Dia tidak mengerti, baga
Magana dibunuh oleh Ewan di tempat. Seluruh lokasi langsung gempar.Semua orang memandang Ewan dengan tatapan yang berbeda.Mereka tidak menyangka bahwa ketua muda Organisasi Draken ini bertindak begitu tegas. Tanpa sepatah kata pun, dia langsung membunuh Magana.Dewa Perang menatap Ewan dan di matanya muncul rasa kagum. Seorang pria memang tidak boleh ragu sedikit pun saat bertindak kejam. Itulah lelaki sejati!Maprana dan Mariadi juga sempat terpaku.Jelas, ketegasan Ewan benar-benar di luar dugaan mereka. Kalau tidak, apa pun yang terjadi, mereka tidak akan membiarkan Magana dibunuh di depan mereka."Adik ...."Mata Maprana memerah.Mariadi yang pertama tersadar kembali. Dia menunjuk Ewan dan berteriak dengan marah, "Mau dewa yang turun dari langit sekalipun, nggak ada yang bisa nolong kamu hari ini!"Ewan menunduk dan melirik jam tangannya. "Masih ada delapan menit."Apa maksudnya?Semua orang bingung.Ewan memandang Mariadi dan Maprana lalu berkata, "Upacara perpisahan Sida akan r
"Sombongnya, nggak takut mati konyol apa?"Dewa Perang menatap Mariadi dengan wajah yang sangat muram. Dia juga tidak menyangka bahwa pada pertemuan kali ini, sikap Mariadi berubah total dan menjadi sangat arogan.Jelas sekali, kepercayaan diri Mariadi berasal dari Maprana.Maprana telah mengasingkan diri untuk berkultivasi selama bertahun-tahun. Sekarang setelah dia keluar, kekuatannya pasti telah meningkat pesat.'Entah sudah sampai tingkat apa kultivasinya sekarang?' Tatapan Dewa Perang beralih ke Maprana.Maprana memperhatikan tatapan itu lalu berkata dengan dingin, "Hari ini adalah urusan antara kami dan Ewan. Kusarankan sebaiknya kalian semua yang ada di sini jangan ikut campur. Kalau nggak, jangan salahkan aku kalau aku bertindak tanpa ampun."Swish!Begitu kata-katanya selesai, tubuh Maprana berubah menjadi bayangan. Semua orang hanya merasa pandangan mereka berkelebat, dan saat melihat dengan jelas kembali, Maprana sudah berada tepat di depan Dewa Perang.Apa yang ingin dilaku
"Di mana Ewan? Keluar dan terima kematianmu!"Suara itu menggema di setiap sudut alun-alun, membuat gendang telinga para tamu dan murid Organisasi Draken yang hadir hampir pecah.Ada yang buat keributan?Tanpa dikomando, semua orang menoleh ke arah timur laut.Terlihat tiga sosok yang berjalan mendekat. Mereka mengenakan jubah naga berwarna ungu, dengan mahkota emas yang mengikat rambut mereka dan memancarkan aura luar biasa.Setiap langkah mereka berderap keras. Lalu di tanah langsung muncul jejak kaki sedalam lima sentimeter."Siapa mereka?""Aura mereka sangat kuat!""Sepertinya mereka datang dengan niat buruk!"Dewa Perang menoleh sekilas. Matanya tampak sedikit menyipit. Dia sudah mengenali tiga tamu tak diundang itu.Maprana, Mariadi, dan Magana dari Kota Terlarang!Tandi tiba-tiba berdiri dan berteriak, "Pengawal, hentikan mereka!"Swish swish swish!Belasan prajurit yang memegang senapan segera maju dan berdiri di depan Maprana dan dua orang lainnya."Enyahlah!" Magana mengibas
"Kamu ada urusan malam ini?" tanya Aruna.Ewan mengangguk dan menjawab, "Malam ini aku harus temani Bu Neva ke acara makan malam.""Bu Neva ajak kamu jadi pasangannya?""Hmm.""Wah, hebat juga kamu, Nak. Dalam waktu singkat, kamu sudah menaklukkan Bu Neva." Aruna tersenyum, lalu meneruskan, "Ewan, n
Lisa terjatuh ke lantai karena tamparan dari Warsito. Darah mengalir dari sudut bibirnya, membuatnya terlihat sangat menyedihkan.Adegan ini membuat seluruh tamu undangan di tempat itu syok.Sejak Lisa datang ke Papandaya, dengan kemampuannya yang luar biasa, dia berhasil membangun perusahaannya hin
Namun, tongkat bisbol itu tiba-tiba berhenti hanya 20 sentimeter di atas kepala Ewan.Setelah melihatnya dengan jelas, pemuda itu baru menyadari bahwa ujung dari tongkat bisbol itu telah digenggam oleh Ewan."Wah, refleksmu lumayan juga," ujarnya sambil menyeringai, lalu menarik tongkat itu dengan s
"Putriku, izinkan aku memakaikan sepatu kaca untukmu!" ucap Dullah, lalu membungkuk, bersiap untuk membantu Neva melepaskan sepatunya.Melihat adegan ini, para wanita yang hadir pun berseru kagum."Pak Dullah lembut sekali!""Aku benar-benar jatuh cinta padanya!""Wanita itu pasti menyelamatkan gala






