Masuk“Kamu lebih milih nikah sama aku atau uang 200 juta?” Di benak Tiko, dia ingin kalau calon istrinya mengatakan kalau perempuan itu lebih memilih Tiko daripada uang. Namun, Tiko salah, rupanya dia harus menerima sebuah kemalangan besar di malam pernikahannya dengan Violet. Musababnya, Keluarga Vio membatalkan pernikahan itu lantaran Tiko belum bisa mengabulkan mas kawin yang diminta oleh calon istrinya. Malang benar nasibnya, sebab orang-orang menghina dan merendahkannya. Tapi, di malam yang sama, Tiko menerima kabar yang luar biasa tidak terduga: mamanya telah mentransfer uang 10 Milyar padanya. Mengetahui hidup Tiko telah berubah menjadi seorang miliarder, Vio dan keluarganya menginginkan Tiko kembali, tetapi ia lebih memilih menjalani hidup barunya, dan membuktikan kepada dunia, kalau menjadi kaya raya tidak menjadikan dirinya sombong, dan tetap memegang prinsip rendah hati.
Lihat lebih banyak“Kalau kamu nggak punya duit, jangan harap kamu bisa jadi menantu saya!” bentak Maria, calon mertua Tiko dengan nada kasar.
Hari ini sebenarnya adalah hari yang paling ditunggu-tunggu Tiko dalam hidupnya. Betapa tidak, pemuda itu akan melangsungkan acara pernikahan dengan kekasih yang sangat dicintainya yang bernama Violet. Pernikahan itu sudah dipersiapkan dengan matang jauh-jauh hari oleh Tiko, dan hari ini akan menjadi hari yang paling membahagiakannya seandainya calon mertuanya tidak dengan tiba-tiba mencegat Tiko sebelum tiba di acara pernikahannya.
“Ada pa, Ma?” tanya Tiko dengan nada bingung ketika Maria menghadang Tiko untuk ke resepsi acara.
“Jangan panggil saya Mama, saya bukan ibumu,” jawab Maria dengan nada ketus. “Kok nanya ada apa sih? Seharusnya kamu mikir deh kalau saya jegal begini, pasti ada apa-apanya sama kamu!”
Mendengar perkataan Tante Maria, tentu saja membuat Tiko bingung bukan kepalang.
Kenapa Tante Maria jadi sepedas ini? Gumam Tiko dalam hati, seolah tak percaya dengan perubahan sikap Tante Maria.
Sore ini, Tiko sudah mengenakan setelan berupa jas hitam, dan bawahan hitam, terlihat sangat pas di tubuhnya yang kekar. Penampilannya terlihat sempurna, dengan rona wajah yang terlihat sangat bahagia. Namun, kebahagiaannya berangsur-angsur pudar ketika Maria, calon mertua Tiko, menyatakan keberatan atas pernikahan yang akan berlangsung. Musababnya: Mas kawin yang tidak sesuai dengan yang dijanjikan.
“Kamu udah janji sama kami kalau kamu bakal ngasih mas kawin 200 Juta!” ujar Tante Maria tanpa tahu malu.
Perkataan Tante Maria diamini oleh Raul, kakak Vio, yang tiba-tiba nyelonong begitu saja, dan membuat keributan, membuat para tamu yang hadir di sana mengalihkan pandangan mereka menuju pusat keributan.
“Lo janjiin kami 200 Juta, tapi sampai sekarang lo cuman ngasih ke kita 100 juta. Berarti lo masih punya hutang sama kami 100 juta lagi!” bentak Raul dengan wajah seolah akan mengajak berantem.
Ya, Tiko tahu betul kalau Mas Kawin yang akan diberikan olehnya masih kurang seratus juta. Ini bukan tanpa alasan. Uang seratus juta yang diberikan oleh pemuda itu sebenarnya berasal dari pinjaman seorang sahabat yang telah berbaik hati kepadanya.
Bukannya Tiko tidak ingin lepas dari tanggung jawab membayar mahar sebesar dua ratus juta itu, karena sejujurnya Tiko tidak mempunyai uang sebanyak itu. Tiko sudah berusaha keras mencari kekurangan uang mas kawin yang diminta Keluarga Vio, tapi sampai tiba di hari pernikahannya, uang itu tidak kunjung datang.
Lagipula, sebenarnya Tiko tidak menjanjikan uang sebesar itu sebagai mas kawin, Keluarga Violet-lah yang memaksa untuk meminta uang sebanyak itu.
Tiko pikir, dengan membayarnya setengah dan berbicara jujur tentang kondisi keuangannya, Keluarga Vio akan menerima kondisinya apa adanya.
Lagipula, bukankah yang paling penting sekarang adalah pernikahanku dengan Vio berjalan lancar karena aku dan kekasihku adalah sepasang insan yang paling mencintai? gumam Tiko dalam hati.
Ketika berpikir seperti itu, muncullah Vio dari balik gerbang dengan gaun pengantin putih. Hari ini Violet terlihat sangat cantik bak seorang puteri raja yang akan dipinang seorang pangeran.
Kemunculan Vio di tengah prahara itu membuat Tiko merasa tenang.
Aku yakin Vio akan berada di pihakku dan mengerti akan kondisiku, aku harap Vio akan menjelaskan semua kekacauan ini kepada ibu dan kakak laki-lakinya, gumam Tiko dengan penuh pengharapan.
Langsung saja Tiko menghampiri Vio dan meminta perempuan itu menjelaskan semuanya kepada ibu dan kakak laki-lakinya.
“Sayang, bisa kamu jelasin semuanya sama Mama dan Kakakmu,” ucap Tiko kepada Vio dengan penuh harapan, sambil berusaha memegang pipi kanan calon pengantinnya yang cantik.
Betapa terkejutnya Tiko ketika tangan kanannya ditepiskan dengan sangat kasar oleh Vio sehingga semua tamu undangan yang hendak masuk menjadi ribut.
“Jangan sentuh aku, Tiko!” ujar Vio dengan nada ketus.
Sejak kapan Vio memanggil Tiko dengan sebutan nama?
Perlakuan Vio yang seperti itu tentu saja membuat Tiko terperangah.
Ada apa dengan Vio? Gumam Tiko sambil menatap wajah Vio dengan tidak percaya.
“Kamu kenapa, Sayang?” tanya Tiko seolah sedang meyakinkan dirinya sendiri kalau apa yang dilakukan Vio barusan cuman ada di dalam khayalannya saja.
“Kamu bilang aku kenapa?” balas Vio dengan nada judes. “Harusnya kamu mikir Tiko kalau emang ada apa-apa sama kamu!”
“Betul!” ucap Tante Maria ikut-ikutan nimbrung. “Kamu tuh jangan belaga bloon begitu deh, Tiko. Jelas-jelas kamu itu sudah ingkar janji! Dan kami paling jijik dengan orang yang suka ingkar janji!”
“Dasar kamu orang miskin yang pura-pura kaya. Miskin mah miskin aja! Dasar kere!” bentak Raul tanpa malu-malu.
“Boleh aku bicara empat mata dengan Vio, Tante?” pinta Tiko kepada Tante Maria.
Masih ada harapan di benak Tiko kalau acara pernikahannya akan berjalan lancar. Dan Tiko masih menaruh harapan besar kepada Vio bahwa perempuan itu akan mengubah keputusannya.
“Sayang, kita bisa bicarakan semuanya dengan baik-baik,” pinta Tiko kepada Violet.
“Tidak ada yang perlu dibicarakan lagi, Tiko!” bantah Vio dengan nada ketus. Wajahnya yang cantik itu mendadak berubah menjadi sangat angkuh dan dingin.
“Bagaimana dengan janji sehidup semati kita, Sayang? Bukankah kamu selalu bilang kalau kamu sangat mencintai aku apa adanya? Bahwa kita akan selalu bersama menjalani hari-hari kita meski badai menghalangi hubungan kita!”
“Kalau memang kamu cinta aku, seharusnya kamu tahu diri dong. Cowok sejati harus mau ngorbanin apa aja demi orang yang dicintainya. Berkorban seratus juta apa susahnya sih! Apalah artinya uang seratus juta kalau pada akhirnya kamu bakal bahagia selamanya dapetin cewek cantik macam aku. Aku mau tanya sama kamu, kamu beneran cinta aku nggak sih?”
“Tentu saja aku cinta kamu,” jawab Tiko dengan pandangan mata tajam ke arah Vio.
Di tengah-tengah keriuhan itu, tiba-tiba Salsa—sahabat Tiko, muncul dan mulai membantu Tiko supaya Vio bisa mengubah pikirannya.
“Tidak bisakah semua ini dibicarakan lagi!” pinta Salsa dengan nada memohon kepada Vio.
Mendengar perkataan Salsa yang seperti itu, sontak membuat Vio mendelikkan matanya ke arah sahabat Tiko itu.
“Ngapain kamu ikut campur urusan saya? Lagian kamu siapa? Pahlawan kesiangan?” cemooh Vio kepada Salsa.
“Iya ngapain sih kamu ikut campur masalah kami?” timpal Tante Maria. “Nggak usah ikut campur, ya. Anakku kan udah bilang kalau dia nggak mau nikah sama cowok yang nggak mau berkorban. Kalau dia nggak mau nikah sama sahabatmu, mending kalian nikah aja berdua sana. Sama-sama kere kan! Jadi kayanya kalian cocok deh! atau jangan-jangan emang kamu suka ya sama Tiko si kere ini!”
“Bukan begitu, Tante, saya cuman kasihan dengan sahabat saya!” ucap Salsa menjelaskan.
“Alah alesan, mending ngaku aja deh. Mending sekarang bawa aja deh sahabatmu yang kere ini. Saya udah enek ngelihat tampang miskinnya. Untung aja ya ketahuannya sebelum nikah, coba kalau udah nikah, bisa berabe, hidup anak saya bakal susah. Saya ga sudi punya menantu kere.
“Cukup! Cukup! Aku tanya sekali lagi sama kamu, Sayang,” ucap Tiko dengan menatap wajah Violet dalam-dalam. “Kamu lebih milih aku atau uang seratus juta itu?”
Sausan terpaksa menjawab telepon dari Vincent yang seharian ini sudah beberapa kali coba menghubunginya, entah apa yang ingin dikatakan lelaki yang begitu menggilai diri Sausan itu, sehingga di dunia maya dia sampai nekat mengakui kalau Sausan itu adalah kekasihnya.“Halo, Sausan, kamu dengar aku, kan?” ucap Vincent di seberang sana.“Iya, tentu saja aku mendengar, aku belum budeg...” jawab Sausan sekenanya.“Bisaaa... aja kamu...,” ujar Vincent terdengar tertawa kecil.“Ngapain sih seharian ini kamu neleponin aku terus... kamu nggak punya kerjaan lain emangnya?”“Kerjaanku banyak, tapi kerja utamaku ya mendekati kamu... hehehe...”“Lebay ah, aku nggak suka...”“Ya maaf..., tapi Sausan, terus terang aku memang serius menginginkan kamu dari pertama kita bertemu, coba katakan apa syaratnya agar aku nggak kamu PHP-in terus kayak gini?”“Idihhh... siapa juga yang PHP-in kamu? Selama ini kan kalau aku setuju untuk ketemuan hanya untuk urusan kerjaan, apa pernah aku ketemu kamu memang niat
Sebagai orang yang memiliki banyak relasi, dalam waktu singkat Tiko akhirnya mengetahui bahwa yang memuluskan jalan agar Salsa naik jabatan adalah seorang dokter muda dan tampan yang selama ini menyukai Salsa, Dr. Jims.Tiko merasa penasaran dengan identitas Dr. Jims, lalu seperti bisa dia meminta Sausan untuk memeriksanya. Tidak lama kemudian Sausan menyerahkan informasi yang diinginkan Tiko. Tiko pun mempelajari informasi mengenai properti Dr. Jims, rupanya lelaki itu memiliki perumahan mewah atas nama dirinya, tetapi saat ini dia juga memiliki pinjaman hipotek dan bahkan tagihan yang sudah jatuh tempo yang belum dibayarkan. Dr. Jims juga memiliki tagihan lain-lain lebih dari 100 juta. Tiko benar-benar tidak tahu dan tidak habis pikir dari mana asal uang Dr. Jims untuk membayar promosi Li Yanran yang mencapai ratusan juta. Kemudian Sausan memberi tahu Tiko lagi, bahwa ada aliran dana yang tidak diketahui asalnya sebesar 1 Miliar di rekening Dr. Jims. Tiko meminta Sausan untuk men
“Siapa tadi yang menyuruh mematahkan kaki adikku?” tanya Liana penuh amarah menatap pada Hengky. Dengan sigap Liana mengambil tongkat di sudut ruangan dan berbalik dengan cepat menyerang Hengky, tapi lelaki tua itu berhasil menghindari pukulan itu. Liana memang tidak ada maksud menciderai Hengky, yang dilakukannya hanya sebuah gertakan.“Sebentar... sebentar... sabar Bu Liana, percayalah aku tidak sungguh-sungguh ingin mematahkan kaki Pak Tiko. Ini hanya sebuah kesalahpahaman. Tapi, tolong jelaskan kaitan antara kalian bertiga sebenarnya. Liana mengatakan kalau Tiko adalah adiknya, lalu apa ada kaitan mereka berdua dengan keluarga Bu Sausan selaku anak dari Pak Martin Setiawan, pemilik perusahaan Arthama Karya group? Karena setahuku Tiko hanya seorang manajer biasa, tapi kenapa terkesan sangat penting dan diistimewakan oleh Bu Sausan?” tanya Hengky sambil mengutarakan pandangannya “Itu hanya perasaan Pak Hengky saja. Ingat tidak saat pertama kali kita ketemu di Hotel Arthama, bukank
“Dugaan Pak Hengky tepat, memang saya yang melaporkan bisnis ilegal Bapak, karena bisnis yang Bapak lakukan itu tidak betul, mana boleh membiarkan investor asing melakukan bisnis tanpa prosedur yang benar semata-mata untuk menghindari pajak,” jawab Tiko dengan tegas tanpa rasa takut sedikit pun.Hengky tampak menunjukkan kemarahan melalui sorot matanya yang membulat ke arah Tiko.“Bapak tahu sendiri kan pajak itu untuk pembangunan bangsa dan untuk kesejahteraan rakyat. Itu artinya Bapak sudah menghilangkan hak banyak orang. Makanya hati saya tergerak untuk menyelesaikan masalah ini, dan jalan satu-satunya yang paling mudah adalah melaporkan Bapak ke Dinas,” jelas Tiko mengutarakan idealisme dalam dirinya.“Jangan menggurui aku, kamu itu masih bau kencur dalam hal bisnis. Pengalamanku tidak ada seujung kuku pun dengan pengalaman bisnismu. Sekarang aku tanya, apa kamu bisa buktikan kalau uang-uang pajak itu digunakan sebagaimana mestinya untuk kesejahteraan rakyat? Apa kamu tidak pernah
Vincent merasa marah mengetahui, kalau Margareth sekarang sedang dirawat di rumah sakit swasta milik Arthama, yang lebih membuatnya marah besar saat Yohanes mengatakan bahwa Margareth dilindungi Tiko dan Liana. Tanpa berpikir panjang lagi, Vincent menyuruh asistennya itu untuk membelikan tiket pesa
Tiko pulang dari kantor hari ini lebih awal, karena nanti malam dia ada janji keluar makan malam bersama Violet. Hingga sampai di rumah, dia masih punya waktu untuk beristirahat sejenak melepaskan kepenatan bekerja hari ini yang lumayan padat.Seperti halnya yang Tiko lakukan pada Sausan tadi siang
“Gagah banget lo, Bro... kirain siapa?” ujar Franky saat Tiko sudah berada di hadapannya.“Lo juga langsingan sekarang, diet ya...?” balas Tiko sambil memperhatikan tubuh Franky.“Bukan diet gua, Bro... tapi kurang makan dan banyak pikiran... hehehe...” canda Franky membuat Tiko ikut tertawa.“Oh i
Warga kampus Atma Jaya bergembira menerima kehadiran Tiko untuk belajar kedokteran ilmu onkologi di kampus mereka, beberapa profesor turut didatangkan untuk memberikan kuliah umum demi memperdalam pengetahuan mengenai pengobatan penyakit kanker. Layaknya mahasiswa, Tiko memakai pakaian putih hitam






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.