Mag-log inDi mata orang lain, Satria itu cowok "dungu" dan terlalu polos karena sering senyum dan mengalah, padahal itu cuma topeng. Aslinya, dia cerdas dan menyembunyikan kemampuan bela diri tingkat tinggi warisan gurunya di desa karena sebuah janji. Hidupnya berubah ketika dia diminta jadi satpam di rumah yang isinya tiga wanita cantik. Sejak saat itu, dia terjebak dalam pusaran harem gadis-gadis yang membuat dirinya terus menjadi idaman para wanita, termasuk di kampusnya.
view moreรถสปอร์ตสีดำราคาแพงวิ่งเข้าไปจอดยังพื้นที่ที่เขียนเอาไว้ว่า VIP แสดงให้เห็นว่าเจ้าของรถเป็นคนพิเศษสำหรับสถานที่แห่งนี้ โรงพยาบาลเอกชนชื่อดังของจังหวัดซึ่งเป็นที่รู้กันดีว่าลูกค้าส่วนใหญ่ต้องกระเป๋าหนักพอสมควรถึงจะสามารถเข้ามาใช้บริการได้
พอรถจอดสนิทเจ้าของรถก็เก็บของใช้ส่วนตัวที่วางอยู่บนเบาะข้างคนขับ ก่อนที่เจ้าหน้าที่ของโรงพยาบาลจะกุลีกุจอมาเปิดประตูรถให้ หญิงสาวตัวเล็กร่างบางสวมแว่นสายตาแฟชั่นที่รับกับใบหน้ารูปไข่ก้าวขาลงจากรถ โชว์เรียวขาขาวให้คนเปิดประตูให้ได้เห็นเป็นบุญตา ชื่อของเธอคือคุณหมอ “นาดา” ลูกสาวคนเดียวของเจ้าของโรงพยาบาลแห่งนี้ ที่ใคร ๆ ต่างก็รู้ดีว่าในอนาคตเธอจะก้าวขึ้นมาเป็นผู้บริหารรุ่นต่อไปของโรงพยาบาล หมอสาวคนนี้มีทั้งความสวยและความเก่งระดับสอบเข้าคณะแพทย์ได้ในอันดับต้น ๆ ของมหาวิทยาลัยชั้นนำ ก่อนจะจบออกมาด้วยเกียรตินิยมอันดับ 1 ยิ่งรวมกับฐานะทางบ้านด้วยแล้วทำให้เธอเป็นที่หมายปองของหนุ่ม ๆ ตระกูลดังแต่นาดาก็ยังไม่คิดที่จะคบกับใครจริงจัง และแม้จะเพิ่งเรียนจบมาได้ไม่ถึงปีแต่ความเก่งในด้านการรักษาผู้ป่วยของหมอนาดาก็เป็นที่ยอมรับในหมู่เพื่อนร่วมงาน ไม่ใช่เพียงเพราะเธอเป็นลูกเจ้าของโรงพยาบาลเท่านั้นแต่เธอรู้จักวางตัวและให้เกียรติเพื่อนร่วมงานทุกคนตั้งแต่หมอด้วยกันไปจนถึงแม่บ้านของโรงพยาบาล “นาดา” แปลว่าน้ำค้าง เป็นชื่อที่คุณตาของเธอตั้งให้ เปรียบเหมือนน้ำค้างยามรุ่งอรุณที่กระทบกับแสงแดดอ่อนในตอนเช้าแล้วเปล่งประกายสวยงาม ซึ่งนอกจากความรวยและความเก่งแล้วความสวยของหมอนาดาก็ไม่เป็นรองใคร เรียกว่าเป็นนางในฝันของผู้ชายเลยก็ว่าได้ หมอนาดาเดินออกจากโรงจอดรถความสวยของเธอทำให้หลายคนอดเหลียวมองไม่ได้ พอเข้ามาในอาคารหมอสาวก็ขึ้นลิฟท์ไปยังห้องของผู้บริหารโรงพยาบาลซึ่งก็คือคุณแม่ของเธอนั่นเอง “สวัสดีค่ะแม่ ดาว่าดามาเช้าแล้วยังสายกว่าแม่อีกตามเคย” “ก็เลิกงานแล้วแม้ไม่ได้ออกไปเที่ยวที่ไหนเหมือนลูกไง กว่าจะกลับก็เกือบสว่าง ยังดีนะที่ตื่นมาทำงานทัน” “มันก็ต้องมีบ้างสิคะแม่ ทำงานเหนื่อย ๆ ก็ต้องพักสมองบ้าง เดี๋ยวดาขอตัวก่อนนะคะ มีตรวจคนไข้” “เดี๋ยวดา แล้วตกลงเรื่องที่จะไปเรียนต่อเมืองนอกว่าไงลูกตัดสินใจได้หรือยัง” “ขอเวลาดาอีกหน่อยนะคะ ตอนนี้ยังสนุกกับงานอยู่เลย” หมอสาวตอบคำถามผู้เป็นแม่ก่อนเปิดประตูออกไปทำหน้าที่คุณหมอรักษาคนไข้ซึ่งเธอภูมิใจกับสิ่งที่เป็นอยู่จนยังไม่อยากไปเรียนต่อ แต่อีกเหตุผลหนึ่งที่เธอไม่เคยบอกคนในครอบครัวก็คือเธอไม่อยากห่างจากแฟนหนุ่มไปไกลในเวลานี้แฟนของหมอนาดาชื่อคาวีเป็นหนุ่มคณะวิศวะที่คบกันมาตั้งแต่สมัยเรียน แต่เธอยังไม่เคยพาเขามาเปิดตัวกับคนที่บ้าน เพราะรู้ดีว่าพ่อกับแม่ของตัวเองยังไม่อยากให้เธอมีแฟนจนกว่าจะไปเรียนต่อกลับมา แม้จะดูหัวโบราณไปหน่อยแต่ด้วยความที่เป็นตระกูลใหญ่ที่ใคร ๆ ก็รู้จัก การจะเลือกลูกเขยสักคนก็เลยต้องคัดสรรกันเยอะหน่อย
ด้วยเหตุนี้การคบกันของทั้งคู่จึงมีเพียงเพื่อนสนิทจริง ๆ เท่านั้นที่รู้ว่าหมดดากับคาวีนั้นคบหากันอยู่ จนบางครั้งคาวีเองก็อดน้อยใจไม่ได้ที่หมอนาดาไม่เคยเปิดตัวแฟนอย่างเขากับครอบครัวเลยสักครั้ง อาจเพราะเขาเป็นแค่ชนชั้นกลางที่ต้องหาเลี้ยงตัวเองและครอบครัวไม่ได้มีฐานะร่ำรวยเทียบเท่ากับแฟนสาว คาวีนั้นได้ทั้งตัวและหัวใจของหมอนาดามาตั้งแต่สมัยเรียนปีสอง ทั้งคู่รู้จักกันเพราะต่างคนต่างเป็นคนชอบออกกำลังกาย เขาหลงรักหมอนาดาตั้งแต่แรกเจอเลยก็ว่าได้ และพยายามตามจีบจนเธอใจอ่อนในที่สุด และในคืนวันวาเลนไทน์ของปีนั้นเองที่เขาตัดสินใจรวบหัวรวบหางนาดามาเป็นของตัวเอง และยิ่งภูมิใจเมื่อได้รู้ว่าตัวเองเป็นผู้ชายคนแรกของว่าที่คุณหมอสาวสวย เขายังจำคืนนั้นได้ไม่มีวันลืมเพราะมันก็เป็นครั้งแรกของเขาเช่นกันที่ได้ใกล้ชิดกับแฟนสาวจนถึงขั้นนาดายอมมีอะไรด้วย จากที่อย่างมากก็แค่ยอมให้เขากอดจูบแต่ด้วยฤทธิ์ของแอลกอฮอล์กับบรรยากาศที่เป็นใจและลูกอ้อนของเขาในที่สุดเขาก็สามารถครอบครองทั้งตัวและหัวใจของนาดาจนได้ และนับวันแฟนสาวของคาวีก็ยิ่งร้อนแรงมากขึ้นจนแทบจะเปลี่ยนเป็นคนละคนเลยล่ะ....Jalanan sepi itu ditinggalkan begitu saja oleh Satria. Dia sama sekali tidak peduli dengan nasib empat pembunuh bayaran elit yang sedang pingsan menumpuk di aspal. Biar saja mereka diurus oleh warga besok pagi.Alih-alih mencari taksi atau menelepon bala bantuan, Satria malah memilih berjalan kaki. Jarak dari lokasi kejadian ke rumah mewah Vera di Menteng sebenarnya lumayan jauh. Tapi bagi pendekar gunung yang terbiasa mendaki tebing curam setiap hari, berjalan di atas trotoar aspal ini rasanya hanya seperti jalan-jalan santai di taman.Satria berjalan sambil bersiul pelan. Kedua tangannya dimasukkan ke dalam saku celana. Sesekali dia berhenti sebentar untuk melihat-lihat lampu jalanan kota yang masih menyala terang. Perjalanannya memakan waktu cukup lama, hingga jam di pergelangan tangannya sudah menunjukkan lewat tengah malam.Begitu sampai di depan gerbang rumah keluarga Vera, Satria melihat pemandangan yang tidak biasa. Lampu ruang tamu dan teras depan menyala sangat terang bender
Rasa sakit dan malu bercampur menjadi satu di dalam dada Elang Hitam. Sebagai pembunuh bayaran dengan reputasi tanpa cacat, dikalahkan tanpa perlawanan seperti ini jauh lebih menyakitkan daripada tusukan pisau.Dengan sisa tenaga dan raungan marah, Elang Hitam memaksakan dirinya untuk berdiri. Dia mengabaikan rasa kebas di kakinya dan memaksakan satu serangan terakhir. Pria itu melompat maju, mengumpulkan seluruh sisa tenaganya ke dalam satu pukulan mematikan yang mengarah tepat ke wajah Satria.Satria hanya menghela napas panjang melihat kekerasan kepala pria di depannya ini."Masih ngeyel aja," ucap Satria datar.Bukannya menghindar, Satria menyambut pukulan itu. Dia menangkap kepalan tangan Elang Hitam dengan telapak tangan kirinya. Bunyi benturan keras terdengar, tapi Satria tidak bergeser satu sentimeter pun.Sebelum Elang Hitam menyadari apa yang terjadi, tangan kanan Satria melesat cepat seperti kilat dan menghantam telak ulu hati pria tersebut. Pukulan itu tidak terlihat keras
Satria menoleh ke arah Elang Hitam, masih dengan Kobra yang meronta ronta kehabisan napas di cengkeraman tangan kanannya."Gimana, Bos? Mau lanjut main tembak tembakan, atau mau kita selesaikan pakai cara sehat dan berolahraga tangan kosong?" tawar Satria sambil menyeringai tipis.Melihat temannya tumbang dengan begitu memalukan, wajah Elang Hitam berubah menjadi merah padam. Harga dirinya sebagai pembunuh bayaran nomor satu di dunia bawah tanah Jakarta terasa diinjak injak oleh pemuda yang kini tersenyum mengejek di depannya.Satria melepaskan cengkeramannya. Tubuh Kobra langsung jatuh membentur aspal. Pria bertato itu batuk batuk keras meraup oksigen sebanyak mungkin sambil memegangi lehernya yang memar parah."Sialan kamu, anak muda!" geram Elang Hitam dengan suara yang bergetar menahan amarah.Bukannya mundur atau melarikan diri, Elang Hitam malah melemparkan senapan laras pendeknya ke tanah. Bunyi logam beradu dengan aspal terdengar nyaring. Dia sadar kalau senjata api tidak akan
DOR! DOR! DOR!Suara letusan pistol otomatis Kobra memecah keheningan malam. Tiga butir peluru tajam melesat dari moncong senjata dengan kecepatan mematikan, mengincar tepat ke arah dada dan kepala Satria dari jarak yang sangat dekat.Bagi manusia biasa, jarak sedekat itu adalah vonis mati yang tidak bisa dihindari. Namun bagi seorang pendekar tingkat tinggi yang terbiasa menangkap nyamuk terbang dengan sumpit di tengah kegelapan hutan, kecepatan peluru pistol hanyalah sebuah lelucon.Di mata Satria, lintasan ketiga peluru itu terlihat melambat drastis.Dengan wajah datar, Satria memiringkan kepalanya sedikit ke kanan. Peluru pertama mendesing lewat hanya beberapa milimeter dari telinganya, membelah angin malam. Tanpa membuang waktu, pemuda itu memutar bahu kirinya ke belakang. Peluru kedua dan ketiga melesat melewati ruang kosong di depan dadanya, sama sekali tidak menyentuh kain jas hitamnya.Kobra melebarkan matanya. Mulut pembunuh bertato kalajengking itu terbuka lebar. Dia tidak
Udara dingin dari pendingin ruangan di kamar tamu belakang itu seolah kehilangan fungsinya. Hawa panas menguar kuat dari dua tubuh yang saling membelit di atas kasur empuk tersebut. Akal sehat Satria sudah sepenuhnya menguap, terkalahkan oleh ancaman pemecatan dan gairah darah muda yang meledak aki
Satria perlahan memejamkan matanya. Tangan kanannya yang tadinya mengambang di udara kini turun, bertengger ragu-ragu di pinggang ramping Dinda. Merasakan sentuhan itu, Dinda semakin berani. Gadis itu mengalungkan kedua lengannya ke leher Satria, menarik tubuh pemuda itu agar semakin rapat denganny
Hening sejenak. Dinda mencerna kata-kata Satria dengan mata terbelalak."Kamu ... tinggal di sana?" suara Dinda bergetar, nada suaranya berubah menjadi sangat rendah dan berbahaya. "Di rumah gedongan itu? Sama tiga cewek kaya yang cantik-cantik itu setiap hari? Pagi, siang, malam?!""Iya, tapi kan
Dia melempar beberapa lembar foto ke tengah meja. Foto-foto itu memperlihatkan pertemuan rahasia antara Pak Handoko, Pak Rudianto, dan orang kepercayaan Tuan Brata di sebuah kelab malam. Ada juga bukti transfer rekening mencurigakan."Saya tahu kalian bermain mata dengan Brata," lanjut Vera, suaran
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Rebyu