LOGINDi mata orang lain, Satria itu cowok "dungu" dan terlalu polos karena sering senyum dan mengalah, padahal itu cuma topeng. Aslinya, dia cerdas dan menyembunyikan kemampuan bela diri tingkat tinggi warisan gurunya di desa karena sebuah janji. Hidupnya berubah ketika dia diminta jadi satpam di rumah yang isinya tiga wanita cantik. Sejak saat itu, dia terjebak dalam pusaran harem gadis-gadis yang membuat dirinya terus menjadi idaman para wanita, termasuk di kampusnya.
View MoreNamaku Satria, pemuda berusia dua puluh satu tahun itu terlihat biasa saja dari luar, hanya seorang pelayan kafe dengan kaos oblong pudar dan celana jins belel.
Namun, seragam kerja kemeja cokelat yang kupakai hari ini terasa sesak di bagian lengan dan dada.
Latihan fisik bertahun-tahun di desa, mulai dari menghantam batang pohon pisang sampai mengangkat batu sungai, membuat tubuhku terbentuk sempurna di balik penampilannya yang kucel. Sayangnya, tidak ada yang tahu soal aset tersembunyi itu kecuali cermin buram di kamar mandi kosanku.
***
Cklek.
Satria menoleh cepat ke arah pintu pantry yang baru saja tertutup rapat dan dikunci dari dalam. Matanya langsung menangkap sosok Dinda yang berdiri di sana sambil menyeringai lebar. Rekan kerjanya yang bertubuh mungil itu memang terkenal agresif, tapi hari ini penampilannya benar-benar menguji iman.
Seragam kafe Dinda sengaja dipilih satu ukuran lebih kecil, membuat kemeja itu menempel ketat di tubuhnya yang berisi. Dua kancing teratasnya sengaja dibuka, memperlihatkan sekilas belahan dada yang putih dan padat setiap kali gadis itu bernapas.
"Din? Eh, ngapain dikunci pintunya? Nanti kalau Pak Rudi mau masuk gimana?" tanya Satria panik sambil memegang gelas erat-erat.
Gadis itu tidak menjawab dan malah melangkah maju dengan tatapan lapar. Dinda terus mendesak Satria mundur langkah demi langkah hingga punggung tegap pemuda itu menabrak dinding keramik yang dingin. Jarak di antara mereka terkikis habis.
"Biarin aja Pak Rudi tau, emangnya kenapa?" Dinda terkikik pelan, lalu meletakkan kedua telapak tangannya di dinding, tepat di samping kiri dan kanan kepala Satria.
Posisi itu membuat tubuh bagian depan Dinda menempel telak pada tubuh Satria. Satria bisa merasakan dengan jelas tekstur kenyal dari dada Dinda yang menekan dada bidangnya karena
Dinda sengaja membusungkan tubuh. Aroma parfum stroberi manis bercampur keringat tipis dari leher gadis itu langsung menyergap indra penciumannya. Wangi itu begitu tajam dan memabukkan, khas aroma wanita dewasa yang sedang birahi.
"Din, minggir dulu, ini gelasnya nanti pecah kalau kesenggol," ucap Satria dengan suara yang mulai serak.
"Pecahin aja gelasnya, Sat. Asal hati aku jangan kamu pecahin," bisik Dinda dengan nada manja sambil berjinjit mendekatkan wajahnya.
Napas hangat Dinda menyapu kulit leher Satria, membuat bulu kuduk pemuda itu meremang seketika. Reaksi biologis laki-laki normal langsung mengambil alih sistem sarafnya. Jantung Satria berdegup kencang, darahnya mendesir panas ke arah bawah perut.
'Si Pusaka' di balik celana bahan kerjanya langsung bereaksi keras, menegang kaku karena gesekan tubuh Dinda yang semakin berani. Celana bahan itu kini terasa sempit dan menyiksa aset masa depannya yang menuntut ruang lebih.
Dinda memejamkan mata, bibirnya yang dipoles lip tint merah muda mengerucut siap mendaratkan ciuman. Wajahnya mendongak, memperlihatkan leher jenjangnya yang basah oleh keringat tipis karena udara pantry yang panas.
Pemandangan itu begitu menggoda, membuat Satria menelan ludah kasar. Keringat dingin mulai menetes di pelipisnya karena panik campur gairah.
Namun, tepat sebelum bibir mereka bersentuhan, telinga Satria menangkap suara aneh dari arah lorong luar.
BRAK!
"Lepasin! Sakit, anjing!".
Suara benturan benda keras dan teriakan wanita itu terdengar sangat jelas bagi telinga terlatih Satria. Sumbernya berasal dari toilet wanita di ujung lorong yang sepi. Insting waspadanya langsung menyala, mengalahkan nafsu yang baru saja memuncak.
"Tunggu sebentar, Din!" Satria mendorong bahu Dinda dengan tegas hingga tubuh mereka terpisah.
Dinda membuka matanya dengan ekspresi kesal setengah mati. "Apaan sih, Sat?! Kamu tuh ya, alasan terus kalau diajak enak-enak!".
"Ada yang nggak beres di toilet cewek. Kamu denger nggak tadi ada suara teriakan?" potong Satria serius sambil meletakkan gelas di meja.
Tanpa menunggu omelan Dinda yang masih cemberut memandangi selangkangan Satria yang menggembung, pemuda itu langsung membuka kunci pintu pantry. Dia berlari keluar menuju lorong dengan langkah cepat dan senyap. Firasatnya mengatakan ada sesuatu yang buruk sedang terjadi.
Benar saja dugaan Satria.
Pintu toilet wanita di ujung lorong itu terlihat sedikit terbuka, menyisakan celah sekitar sepuluh sentimeter. Satria mendekat tanpa suara, lalu mengintip lewat celah sempit itu. Pemandangan di dalam sana seketika membuat darahnya mendidih sampai ke ubun-ubun.
Di dalam toilet sempit itu, Kevin sedang melakukan aksi bejatnya.
Kevin adalah pelanggan kaya yang sering pamer mobil mewah dan selalu memandang rendah para pelayan kafe. Pria itu kini sedang mencengkeram rambut panjang seorang gadis yang duduk tak berdaya di kursi roda.
Itu Laras, pelanggan setia yang difabel.
Kondisi Laras sangat berantakan dan menyedihkan. Blus mahal berbahan sutra yang dipakainya robek parah di bagian bahu kiri akibat tarikan kasar Kevin.
Robekan itu memperlihatkan tali bra hitam berenda yang menempel kontras di kulit bahunya yang seputih susu. Kulit mulus di area leher dan bahu itu kini memerah karena cengkeraman tangan laki-laki.
"Lepasin aku, Kevin! Kamu gila ya?!" jerit Laras sambil berusaha memukul dada Kevin dengan tangannya yang lemah.
Kevin justru semakin mengeratkan jambakannya, memaksa kepala Laras mendongak. Wajah pria itu merah padam karena nafsu dan alkohol. Matanya menatap liar ke arah dada Laras yang terekspos karena robekan bajunya.
"Diem lo! Gue udah lama ngincer lo. Mentang-mentang lo anak orang kaya, lo pikir lo bisa nolak gue terus? Di sini sepi, nggak ada yang bakal nolongin cewek cacat kayak lo!".
Kevin mendekatkan wajahnya dengan napas memburu, hendak mencium paksa leher jenjang Laras yang terbuka lebar. Tangan Kevin yang satu lagi mulai merayap turun ke arah paha Laras yang tertutup rok selutut.
Satria tidak bisa menahan diri lagi. Persetan dengan aturan dilarang ikut campur urusan pelanggan. Dia mundur selangkah untuk mengambil ancang-ancang, lalu menghantamkan telapak kakinya ke pintu toilet dengan tenaga penuh.
DUAR!
Pintu kayu solid itu terbuka paksa dengan suara ledakan keras. Daun pintunya menghantam dinding keramik di belakangnya sampai engselnya bengkok. Debu halus dari kusen pintu beterbangan di udara.
"Hey, Tuan Kevin, Anda tidak boleh berbuat onar di tempat ini!" Teriakan Satria menggema di ruang sempit itu, menciptakan efek intimidasi yang luar biasa.
Kevin terlonjak kaget setengah mati. Dia refleks melepaskan jambakannya pada rambut Laras dan mundur ke belakang karena panik.
Namun, Kevin lupa kalau dia sedang berdiri di ruang sempit. Tumit sepatu pantofel mahalnya tersangkut pada pijakan kaki kursi roda Laras.
"Awas!" teriak Satria, tapi semuanya terlambat.
Tubuh besar Kevin kehilangan keseimbangan dan jatuh menimpa sisi kursi roda Laras dengan keras. Kursi roda itu langsung terbalik karena hantaman beban yang tidak seimbang. Tubuh mungil Laras ikut terpelanting jatuh dari kursinya.
"Aaaaaaargh!" Jeritan kesakitan Laras terdengar menyayat hati.
Gadis itu jatuh terduduk di lantai keramik yang basah dalam posisi yang sangat tidak menguntungkan. Kaki kanannya menghantam pipa besi di bawah wastafel dengan telak.
Satria langsung masuk dan melihat kondisi Laras. Pemandangan di depannya membuat napasnya tercekat, campuran antara rasa kasihan dan kekaguman visual yang sulit ditolak.
Laras terduduk di lantai dengan posisi kaki terbuka. Rok selututnya tersingkap naik cukup tinggi hingga memperlihatkan paha bagian dalamnya yang putih mulus dan padat. Kulit paha itu terlihat sangat kontras dengan lantai toilet yang kotor. Akibat benturan tadi, pergelangan kaki kanannya yang putih itu mulai membengkak besar dan memerah.
Wajah cantik Laras basah oleh air mata, rambutnya berantakan, dan bahu kirinya masih terbuka memperlihatkan tali bra hitamnya. Dia terlihat begitu rapuh, berantakan, namun sangat sensual di saat yang bersamaan.
Satria harus menahan napasnya sejenak melihat paha putih yang terekspos jelas di depan matanya itu sebelum akhirnya berjongkok untuk membantu.
Tepat pukul satu siang, bunyi denting penutup laptop Vera terdengar mantap. Semua berkas validasi rantai pasok regional untuk hari ini berhasil dikirim ke server pusat tanpa hambatan sedikit pun.Vera meregangkan kedua lengannya ke atas sambil menghela napas panjang dan puas. "Pekerjaan hari ini beres total! Sekarang saatnya eksekusi menu makan siang kita, Sat."Satria yang sedang membaca majalah otomotif di kursi teras langsung menutup bacaannya dan bangkit berdiri. "Waktunya panen kemangi perdana."Mereka berdua berjalan menuju ambang jendela dapur. Vera mengambil gunting dapur kecil, lalu dengan hati-hati memotong pucuk-pucuk daun kemangi yang rimbun dan hijau tua dari dalam pot gerabah. Begitu batang daun terpotong, aroma harum khas kemangi yang segar langsung semerbak memenuhi area dapur."Wah, aromanya tajam dan segar banget, Sat! Beda memang kalau hasil tanaman sendiri yang dirawat pakai tanah subur," ujar Vera riang sambil mencuci seikat daun kemangi itu di bawah kucuran air b
Sinar matahari pagi kembali membasahi halaman depan rumah, memantulkan kilau bersih di atas paving blok dan daun-daun pohon mangga yang masih basah oleh embun. Suasana pagi itu terasa sangat berbeda dari hari-hari sebelumnya. Tidak ada lagi ketergesaan atau langkah kaki terburu-buru yang menuruni tangga untuk mengejar jam rapat kantor.Vera turun ke lantai bawah dengan pakaian santai, mengenakan kemeja katun longgar dan celana kulot abu-abu. Senyum cerah tersungging di bibirnya saat melihat Satria sedang menata meja makan dengan dua mangkuk bubur havermut hangat bertabur irisan pisang raja dan madu alami."Selamat pagi, Sat! Wangi madu sama pisangnya langsung tercium sampai ke tangga," sapa Vera ceria sambil menarik kursi kayu di meja makan.Satria menoleh sambil menuangkan air putih hangat ke dalam dua gelas bening. "Selamat pagi, Vera. Karena hari ini kamu mulai masa transisi kerja sistem daring dari rumah, sarapannya kubikin yang ringan dan sehat biar fokus kerjamu tetap prima."Ve
Pukul lima kurang seperempat, mobil SUV abu-abu gelap milik Satria sudah terparkir rapi di area penjemputan lobi kantor Vera. Mesin mobil tetap menyala halus dengan pendingin udara yang sejuk menyegarkan kabin. Satria melirik kaca spion samping, memperhatikan kerumunan karyawan yang mulai melangkah keluar dari pintu putar kaca gedung bertingkat itu.Tepat pada pukul lima lewat lima menit, sosok Vera muncul dengan senyum lebar yang tak bisa disembunyikan. Langkahnya mantap dan penuh percaya diri. Begitu membuka pintu depan dan duduk di kursi samping kemudi, aroma parfum vanila lembut miliknya seketika memenuhi ruangan mobil."Selamat sore, Penjemput Andalan!" seru Vera dengan mata berbinar riang sambil melepas blazer biru dongkernya dan menaruhnya di pangkuan.Satria tersenyum hangat seraya menginjak pedal gas perlahan untuk membelah jalan keluar dari area lobi. "Selamat sore, Bintang Kantor. Mukanya kelihatan puas banget. Ceritanya sukses besar ya?""Bukan cuma sukses, Sat," kata Vera
Sinar matahari pagi menyinari kaca depan mobil SUV abu-abu gelap yang terparkir di depan garasi. Hasil kerja keras Satria dan Vera mencuci mobil kemarin sore terlihat sangat nyata. Permukaan bodi mobil tampak begitu mengilap, memantulkan bayangan langit biru cerah tanpa ada setitik pun noda debu.Pukul tujuh pagi, pintu depan rumah terbuka. Vera melangkah keluar dengan setelan blazer biru dongker yang elegan dan celana bahan senada. Sepatu pantofel hitamnya berbunyi teratur di atas paving blok. Di tangannya, sebuah map dokumen tebal berwarna cokelat dipegang erat bersama tas jinjing kerjanya.Satria yang sudah berdiri di samping pintu kemudi dengan kemeja kasual rapi langsung membukakan pintu untuk Vera."Selamat pagi, Bu Manajer. Mobil dinas VIP hari ini siap meluncur," goda Satria sambil tersenyum ramah.Vera tertawa renyah sambil melangkah masuk ke kursi penumpang depan. "Gaya banget sih pakai sebutan mobil dinas VIP segala! Tapi beneran ya, Sat, mobil ini kelihatan kayak baru kelu












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviews