LOGINHanan adalah seorang pengecut sejati yang lebih takut pada kecoa terbang ketimbang monster. Dia hanya ingin hidup damai sebagai buruh desa di era baru saat Bumi menyatu dengan dunia sihir. Namun, ketika sebuah Dungeon Break meratakan desanya dan memaksa dirinya kalah telak, Hanan sadar dia tidak punya pilihan selain menjadi kuat. Direkrut oleh Agensi Hunter Saint terkemuka, Hanan justru memilih merangkak dari kasta paling rendah: Hunter Peringkat F. Namun, di balik statusnya yang dipandang sebelah mata, pemuda ini menyembunyikan kekuatan fisik murni yang sanggup menghempaskan monster raksasa dengan tangan kosong. Saat konspirasi politik dan lonjakan anomali Dungeon mulai mengancam kehancuran negara, Hanan terpaksa terseret semakin dalam ke puncak hierarki kekuatan. Hingga akhirnya, dia menyadari bahwa seluruh bencana di dunianya hanyalah sebuah eksperimen buatan di balik layar yang diatur oleh entitas kosmik yang menyebut diri mereka 'Dewa'. Didorong oleh rasa amarah atas penderitaan keluarganya, si Hunter penakut ini kini bersiap mengangkat senjata paling berat di baris depan, siap menantang sang pencipta skenario demi merebut kembali kebebasan dua dunia.
View MoreSesuatu yang luar biasa besar mendadak robek dari batas langit, terjun bebas membelah awan. Itu adalah seekor gorila raksasa berkepala banteng yang ukurannya dengan mudah menyaingi sebuah toko bertingkat dua.
Sembari meluncur deras, suara desingan angin yang terbelah bergemuruh hebat, menciptakan kepanikan di bawah permukaan tanah. Di bawah sana, terhampar sebuah desa terpencil yang tampak sangat damai, makmur, dan tenteram. Mungkin karena panik melihat daratan yang kian mendekat, makhluk buas itu memutuskan untuk melakukan tindakan taktis: menyemburkan napas api pekat dari moncongnya. Sial bagi sang monster, dia melupakan hukum fisika dasar. Terpaan angin kencang akibat kecepatan terjun bebasnya justru membalikkan kobaran api itu 180 derajat, langsung membakar wajahnya sendiri dengan sangat konyol. Monster itu melolong kepanasan, mencak-mencak di udara karena kebodohannya sendiri. Setelah menyadari betapa memalukan aksinya, makhluk itu dengan sisa-sisa harga diri yang ada memilih untuk memasang pose bersiap mendarat dengan penuh gaya, melipat tangannya di dada layaknya pahlawan super. Beberapa detik kemudian, benturan itu terjadi. BOOM!!! Gelombang kejut yang dihasilkan begitu masif hingga sanggup meratakan seluruh pemukiman desa dalam satu kedipan mata. Menariknya, nasib yang sama juga menimpa sang monster. Akibat tekanan gravitasi yang teramat mengerikan saat menghantam bumi, tubuh masifnya langsung rata dengan tanah, hancur berkeping-keping tak berbentuk lagi. Bersamaan dengan ketiadaan sang monster, seluruh masyarakat desa yang berada di area pusat kawah instan meregang nyawa seketika. Hanya mereka yang berada di pinggiran luar desa yang berhasil selamat, itu pun dengan tubuh yang dipenuhi luka-luka robek yang tidak terbilang ringan. Namun, lelucon langit belum selesai sampai di sana. Sebuah desingan aneh yang jauh lebih bising kembali terdengar dari atas langit. Dari celah dimensi yang sama, sesosok gorila berkepala banteng lain, yang kali ini ukurannya 'empat kali lebih besar' dari monster pertama, terjun bebas dengan kecepatan penuh. Senyum dan tawa seketika lenyap dari muka bumi. Semua penyintas yang tersisa di pinggiran desa langsung berhamburan berlari, memacu tungkai kaki mereka dengan sisa tenaga demi menyelamatkan nyawa. Namun, semua itu sudah terlambat. Beberapa detik kemudian, monster raksasa kedua mendarat dengan dentuman yang membelah dunia. Gelombang kejut yang dilepaskannya jauh lebih destruktif, melontarkan batuan, pepohonan, dan tubuh manusia dalam sepersekian detik. Mereka yang selamat dari ledakan pertama kini terbang terbawa gelombang kejut yang baru. Beberapa tubuh manusia langsung hancur di udara, meledak menjadi kabut darah yang halus di bawah tekanan udara. Yang lainnya tersungkur keras ke tanah, sebelum akhirnya tewas mengenaskan karena tertimpa puing-puing bangunan yang runtuh. Segalanya musnah hanya dalam beberapa detik. Desa yang damai, desa yang makmur, berubah menjadi neraka yang tidak dapat dideskripsikan dengan kata-kata. Makhluk masif itu kemudian menegakkan tubuhnya, mendongak ke langit, lalu meraung dengan teramat keras. “ROAAARRRR!!“ Suara lolongannya begitu pekat, menggetarkan fondasi jiwa setiap penyintas yang masih tersisa, memaksa mereka berada di ambang kematian hanya karena mendengar suaranya. Membunuh mereka yang kebetulan selamat dari gelombang kematian. Menghapus sisa-sisa harapan yang tersisa dibalik reruntuhan. Di tengah-tengah neraka dunia itu, sesosok makhluk humanoid bertelinga panjang dan runcing perlahan bangkit berdiri. Namanya adalah Rin, seorang pedagang dari ras Elf. Tepat di belakang punggungnya, seorang pemuda manusia ikut berdiri dengan bertumpu pada lututnya yang gemetar. Namanya adalah Hanan. Sekujur tubuh mereka berdua dipenuhi oleh luka robek dan lumuran debu tebal. Saat mereka berdua mencoba mengedarkan pandangan ke sekitar, tidak ada lagi pemandangan desa makmur yang tersisa. Yang ada hanya hamparan kawah yang sangat luas dan dalam, terbentuk dengan gorila berkepala banteng raksasa itu sebagai porosnya. Monster itu meraung-raung seolah-olah sedang mencari musuh yang mampu menyainginya. Tidak ada mayat yang utuh. Semuanya telah lenyap, melebur menjadi kabut darah kemerahan yang tipis di udara, baik itu tetangga yang menyapa mereka tadi pagi, kenalan, hewan peliharaan, hingga keluarga tercinta. Semuanya musnah tanpa sisa, meninggalkan mereka berdua yang entah bagaimana bisa selamat dari maut. Tik! Rin menjentikkan jarinya yang gemetar. Seketika, sebentuk sirkulasi energi magis berwarna biru terang mencuat, menyelimuti seluruh permukaan tubuh sang Elf. Dengan napas terengah-engah, Rin mengarahkan telapak tangannya ke dada Hanan, mentransfer kilatan energi biru yang sama untuk membungkus tubuh pemuda itu. Itu adalah sihir pemulih. Meskipun tidak mampu menutup luka secara instan, aliran mana hangat itu setidaknya membuat Hanan dapat kembali menghirup udara dan mengatur napasnya yang sesak, sementara rasa perih di kulitnya perlahan-lahan mereda. Meskipun fisiknya telah pulih, tatapan mata Hanan berubah drastis. Matanya menyipit tajam, memancarkan kilatan amarah murni yang begitu gelap dan sedalam lautan. Urat-urat di lehernya menonjol tegang. “Bajingan ini–!“ "Tenangkan dirimu, Hanan! Kita... kita tidak akan bisa melawan monster itu dengan kondisi kita sekarang," ujar Rin setengah berbisik, memegang pundak Hanan dengan kuat, berusaha menahan pemuda itu agar tidak mengambil tindakan gegabah. "Aku tahu itu, tapi—!!" Ucapan Hanan tercekat di tenggorokan. Giginya mengatup rapat hingga berdarah. Dia tahu persis seberapa tidak berdayanya dia dan Rin saat ini di hadapan entitas vulkanik tersebut. Namun, di dalam dadanya, ada badai yang menuntut pembalasan! Beberapa menit yang lalu, segalanya masih terasa begitu sempurna. Dia, Rin, bersama Ayah dan Ibunya sedang duduk melingkar, menikmati kehangatan secangkir teh dan camilan manis di teras rumah mereka yang damai. Namun, bencana yang datang tiba-tiba dalam hitungan detik ini telah merenggut seluruh hidupnya. Rumahnya, desanya, kenangan masa kecilnya... semuanya hancur total tak bersisa, lenyap ditelan bumi yang runtuh. Setidaknya, Hanan berharap bisa menemukan jasad kedua orang tuanya untuk dipeluk terakhir kali. Namun kenyataannya jauh lebih kejam; dia telah melihat dengan mata kepalanya sendiri bagaimana tubuh ayah dan ibunya hancur berkeping-keping, menguap menjadi kabut darah di hadapan wajahnya. Jika bukan karena fakta bahwa dia sedang berada tepat di dekat Rin saat kejadian, Hanan tidak akan pernah selamat. Rin memiliki sebuah artefak pelindung langka yang tertanam di tubuhnya, sebuah jimat magis yang akan aktif secara otomatis saat mendeteksi bahaya mematikan tingkat tinggi. Barang itu mampu melindungi sang Elf beserta siapa pun yang berada di radius terdekatnya dari serangan absolut, setidaknya untuk satu kali kesempatan. Kini, kesempatan satu-satunya itu telah habis terpakai dan hancur menjadi debu. Mereka tidak lagi memiliki jaminan keselamatan atau dinding pelindung tak terlihat. Mereka benar-benar telanjang, dipaksa berhadapan langsung dengan perwujudan teror dari fenomena 'Dungeon Break' yang tidak dapat diprediksi. Sesosok makhluk mengerikan pembawa kehancuran. Monster yang dikenal sebagai bencana berjalan. Golgothar.Panggilan telepon itu tersambung hanya dalam satu kali nada panggil."Kaelen," panggil Hanan santai, menyenderkan Greatsword raksasanya di bahu kiri. "Aku butuh sedikit bantuan di jalan raya distrik luar. Ada sepuluh orang asing yang tiba-tiba melompat menyergapku."Di ujung telepon, suara Kaelen yang biasanya tenang dan penuh wibawa seketika berubah drastis."Apa?! Sepuluh orang menyergapmu?!" teriak Kaelen dengan nada panik yang tidak bisa disembunyikan. "Hanan, bertahanlah! Jangan ambil tindakan nekat! Aku dan Albert akan segera meluncur ke lokasimu sekarang juga!"TUT... TUT... TUT...Panggilan diputus sepihak dari seberang sebelum Hanan sempat menyuarakan penjelasannya bahwa situasi di lapangan sudah sepenuhnya terkendali.Hanan menghela napas pasrah menatap layar ponselnya. "Dasar... mereka bahkan tidak mau mendengarkanku sampai selesai."Sambil menunggu kedatangan bantuan, Hanan menatap sepuluh penyerang yang masi
"Tua Bangka, Ikut aku ke ruang rapat utama. Kita harus membahas pergerakan kelompok ini lebih mendalam bersama divisi intelijen," ujar Kaelen seraya berbalik arah, melangkah keluar dari ruangan latihan yang hancur berantakan tersebut. Albert menepuk-nepuk celananya, mengibaskan debu logam yang menempel. "Bocah, lanjutkan latihannya sendirian. Jangan malas-malasan!" serunya pada Hanan sebelum mengekor di belakang Kaelen tanpa sepatah kata pun untuk berpamitan lagi. Hanan yang ditinggalkan sendirian di tengah ruangan lapang hanya menghela napas panjang. Ia sama sekali tidak berniat memikirkan isu kelompok pemburu itu. Prinsip hidupnya sederhana: politik agensi dan ancaman di luar sana adalah urusan para perwira tinggi. Selama ia terus mengasah kekuatan fisiknya, bahaya apa pun yang datang menghampiri akan sanggup ia ratakan. Hanan kembali menegakkan tubuhnya, memegang gagang Greatsword dengan erat. Selama be
Ruang latihan privat lantai bawah tanah Agensi Saint membisu dalam suasana serba canggih. Dinding-dindingnya dilapisi lembaran logam paduan khusus yang dirancang dengan teknologi Magitech paling mutakhir. Menurut standar agensi, struktur ini dibuat sedemikian rupa hingga digadang-gadang sanggup menahan guncangan ledakan nuklir skala sedang. Di era modern yang distopis ini, dunia bergerak murni di atas roda sistem kekuatan fantasi: 'Mana' untuk menyalurkan Sihir, serta 'Aura' untuk memperkuat fisik dan tebasan Pedang. Dunia ini sama sekali tidak mengenal apa yang disebut sebagai 'skill' layaknya cerita di komik-komik zaman dulu. Komik bergenre seperti itu sudah dianggap Ketinggalan zaman dan hampir dihentikan total produksinya oleh para penerbit. Satu-satunya alasan mengapa beberapa judul komik kuno itu masih terus digambar adalah keberadaan kolektor fanatic, dan Albert adalah salah satu dari sedikit orang kaya yang secara p
Proses pengumpulan material dan pembersihan area 'Dungeon' minimarket berlangsung jauh lebih cepat dari perkiraan semula. Bau amis darah monster yang sempat memenuhi aura ngarai perlahan sirnah saat kristal-kristal bercahaya dan bangkai 'Middle Boss' diangkut secara bertahap oleh barisan 'porter'. Begitu kaki terakhir anggota tim menapak kembali di atas aspal parkiran yang retak, suasana gembira langsung meledak di antara para Hunter. Hasil penaklukan itu dicatat secara resmi oleh Asosiasi Hunter: tidak ada korban jiwa dan tidak ada satu pun yang menderita luka berat. Hanya beberapa cedera gores ringan pada Hunter yang kurang waspada saat menghadapi sergapan 'Gargoyle'. Sebuah rekor yang amat jarang dalam sejarah penumpasan 'Dungeon' tingkat D ke atas, yang biasanya selalu memakan korban patah tulang atau luka bakar serius. "Pencapaian luar biasa untuk misi perdanamu sebagai perwira lini tengah, Hana
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviews