LOGIN"Do you mean we have to give out Emma as his betrothed bride in exchange for Maya?" "We have no choice. We have trained her and she will do well. We have to keep our own deal to the Carlos family." The steely resolve in Mr Lucas eyes told it was final. In a twist of fate, Emma, a country girl with a secret pas who was switched at birth is into a life of luxury becoming the real child of the family and as a replacement bride for the wealthy and enigmatic Adriel, the heir of the Carlos family. Bound by a marriage of convenience, they must navigate a web of secrets, lies, and hidden identities. But as they succumb to the attraction growing between them, Emma's remarkable talents and Adriel's unexpected strength redefines their love and their lives. Will their unexpected union be the key to unlocking their true potential, or will the secrets between them tear them apart?
View MoreMenara tiga bintang penuh sesak oleh pemuda. Hari ini adalah jadwal pertandingan antar pendekar yang diadakan setiap satu tahun sekali.
Lanting Beruga baru saja mendatarkan dirinya, tapi langsung mendapatkan ejekan dan caci maki dari pendekar muda yang lain.
"Bagaimana kau mau bertarung, sementara tubuhmu memiliki perjuangan?"
"Berkacalah Lanting Beruga, pertandingan kali ini bukan hanya antara pemuda di desa kita saja, banyak peserta dari desa lain, bahkan katanya akan ada perwakilan dari sekte Pedang Perak!"
Sekte Pedang Perak adalah perguruan yang menguasai Kota Ranting Hijau. Mereka jarang menurunkan murid untuk mengikuti pertandingan antar pendekar muda, karena satu alasan. Mereka pasti menang.
Namun hadiah yang ditawarkan musim ini cukup menggiurkan, sebuah kitab yang mempelajari 3 dasar keinginan pedang.
Satu dasar keinginan pedang saja setara 1000 koin emas, uang yang begitu banyak, cukup untuk hidup 10 tahun tanpa bekerja.
"Kau hanya akan mempermalukan desa kita! Sadar dirilah!"
Mendapat cacian itu, Lanting Beruga hanya tersenyum ketir, kutipan teman-temannya tidak sepenuhnya salah. Tubuhnya memang cacat.
"Kembalilah ke gubuk reotmu!" salah satu pendekar muda lain mengadu, lalu tertawa kecil.
"Benar juga, merengeklah bersama orang tua bertangan buntung itu, hahaha!"
"Seno Geni, namamu saja membuat kami jijik!"
Mendengar kata-kata itu, Lanting Beruga berbalik arah, melayangkan kepalan tinjauan tepat ke wajah pemuda berambut ikal. Tidak ada orang yang menghina kakeknya.
Pukulan itu mendarat tepat di wajah, tapi selang beberapa saat kemudian, Lanting Beruga berteriak keras. Tubuh pemuda berambut ikal terasa begitu keras, dua jari tangan Lanting Beruga hampir saja patah.
"Lemah sekali!" ucap pemuda itu, lalu melayangkan kepalan yang membuat tubuh Lanting Beruga terlentang dengan darah keluar dari bagian hidungnya.
"Kau tidak mungkin menang, manusia cacat!" Lantas mereka semua pergi meninggalkan Lanting Beruga itu sendiri.
Menyeka darah yang dari lubang hidungnya, lalu berusaha berdiri dengan susah payah, Lanting Beruga akhirnya melangkah menuju jalan pulang.
Tidak jauh dari jalanan itu, berdiri seorang gadis berbibir tipis dengan pakaian hijau muda. Lila Sari.
Gadis itu merupakan sahabat kecil Lanting Beruga, tapi menjelang remaja, Lila Sari mulai menjauh dari pemuda itu.Di era ini, tenaga dalam menguasai hampir seluruh dataran dunia. Bocah berusia 10 tahun saja sudah mulai memahami konsep energi tersebut, lalu bagaimana mungkin Lanting Beruga yang telah berusia 15 tahun tetap tidak mengerti.
Lila Sari tidak mungkin bersahabat dengan Lanting Beruga, pemuda itu tidak memiliki masa depan.
Lanting Beruga cukup sadar diri, jadi dia membuang muka dari Lila Sari, dan terus melangkah pulang.
"Lanting!" Serua wanita tua dari dalam gubuk reot, "apa yang terjadi dengan hidungmu!"
Wanita itu tak lain adalah neneknya sendiri, Wulandari. Si nenek yang begitu cerewet tapi sangat menyayanginya.
Buru-buru Wulandari mengambil pakaian usang dari dalam lipatan, menyeka darah yang tersisa di hidung Lanting Beruga.
Ah, Lanting Beruga sudah menyeka darah ini, dan semoga baik-baik saja agar neneknya tidak khawatir, tapi usaha ternyata gagal.
"Pemuda mana yang menghajar dirimu?!" ucap Wulandari, "aku akan memukul kepalanya, bahkan menghajar ke dua orang tuanya!"
"Nenek, jangan membuat malu diriku!" ucap Lanting Beruga, "ini hanya luka kecil, lagipula tidak ada yang mengalahkan diriku!"
Wulandari menyipitkan mata, cucu di selalukan memang selalu demikian, memperhatikan-pura kuat dan menahan udara ketika sakit.
Namun Wulandari pernah menjadi seorang pendekar, -tidak terlalu hebat seperti suaminya, tapi dia begitu paham mana luka karena pukulan atau luka biasa saja?
"Dimana kakek?" tanya Lanting Beruga.
"Kakekmu sedang mengurus domba," ucap Wulandari.
Lanting Beruga menemui kakeknya di belakang gubuk.
Seorang pria tua bertangan buntung sedang duduk di atas potongan kayu seraya menghitung puluhan domba yang ada di depan dirinya.
Ini adalah padang rumput yang cukup luas.
Banyak orang yang ingin membeli padang rumput itu, tapi Seno Geni bersikukuh untuk tidak menjualnya.
Angin laut tanpa halangan bertiup kencang di padang rumput ini, bahkan akan terdengar suara ombak menderu menghantam cadas penghalang.
"Apa kau kehilangan domba lagi, Kakek?" Lanting Beruga, kehadirannya membuat Seno Geni terkejut bukan kepalang.
Butuh tiga tarikan nafas agar pak tua terlihat tenang, tapi setelah melihat wajah cucunya, Seno Geni tertawa kecil. "Aku menghitung domba-domba ini, tapi otakku mulai tumpul. Kadang kala kembali 20 kadang kala 25, eh kadang cuman 15!"
"Itu karena Kakek sudah rabun!" Lanting Beruga bergurau kecil.
Domba-domba ini bukan milik Seno Geni, ini hanya domba Pemimpin Desa yang diurus oleh Seno Geni. Dari upah pengurusan piaraan inilah, mereka bertiga bisa makan.
Tidak jauh dari mereka berdua, ada makam cukup besar. Nisan makam itu berbentuk seperti kuku yang dibuat dari batu.
Kata Seno Geni, itu adalah makam sahabatnya, Srigala hitam yang setia. Telah meninggal ketika usia Lanting Beruga baru menginjak umur dua tahun.
Di sebelah makam itu, ada pula makam yang terlihat begitu bersih, bunga-bunga merah kuning masih basah di atas permukaan tanah.
Itu adalah makam ibu Lanting Beruga, meninggal ketika melahirkan dirinya.
Benar-benar ironi sekali nasip ini, Seno Geni kehilangan sahabat dan menantunya dalam satu bulan bersamaan.
Lalu bulan berikutnya, putra semata wayang malah pergi entah kemana.
"Kakek, aku akan mengikuti pertandingan antar pendekar muda di menara tiga bintang, katanya hadiah yang didapatkan cukup besar, 3 dasar keinginan pedang!"
Mendengar hal itu, wajah Seno Geni menjadi tegang. Lanting Beruga tidak pernah bertarung sebelumnya, lalu bagaimana dia bisa mengikuti pertandingan itu?
Dari bayi merah, Lanting Beruga memiliki hampir semua yang bisa dikatakan sangat langka. Dia tidak bisa membangkitkan tenaga di dalamnya.
Ketika dunia ini didukung dengan Tenaga Dalam, pemuda ini malah tidak memilikinya sama sekali.
"Lanting!" seru lagi suara dari belakang mereka, "Aku tidak akan mengizinkan cucu kesayanganku mengikuti pertandingan itu!"
Seno Geni saja ingin berkata, tapi Wulandari memotong ucapannya. "Lanting, kau tahu dunia persilatan itu begitu keras, terluka, pukulan adalah hal yang wajar!"
"Nenek, bagaimana aku bisa tahu dunia persilatan begitu keras, sementara aku belum memiliki!" timpal Lanting Beruga.
"Aku tahu dunia persilatan seperti apa, Kakekmu yang dijuluki sebagai dewa pedang terbaik di eranya, kini menderita."
Wulandari percaya pendekar akansakan dihari tuannya. Seno Geni adalah contoh nyata. Dia dijuluki sebagai dewa pedang terbaik, pemiliki kekuatan dewa matahari, memiliki strategi perang yang mumpuni.
Tapi sekarang, lihatlah! menghitung domba saja Seno Geni sudah tidak bisa.
Jadi sudah keputusan Wulandari, bahwa Lanting Beruga tidak akan terjun ke dunia persilatan. dia cacat.
"Tapi Nenek aku ingin menjadi Dewa Pedang-"
"Omong kosong! Jangan membantah Nenek! atau kau lebih baik pergi-"
Lanting Beruga tidak perlu mendengar lagi apa yang akan diucapkan Neneknya, dia segera berdiri dan pergi begitu saja.
Di sisi lain, Wulandari langsung menutup mulutnya. Dia memang suka marah, tapi kali ini sedikit kelewatan.
"Istriku!" Seno Geni menepuk pelan pundak Wulandari, "sepertinya kau terlalu berlebihan kepada cucu kita, kau ingin mengusir dirinya? bagaiman jika dia benar-benar pergi?"
Mendengar hal itu, Wulandari benar-benar terperanjat, dia tidak sadar dengan ucapannya. ketika mengungkapkan Lanting Beruga, sesuatu dari langit telah berdiri di hadapan pemuda itu.
"Lanting larilah!" teriak Seno Geni.
The room went silent and a took a long while before someone may as small as the sound of tapping the finger. “Errm…erm…we don't have to bring that up now.” Mr Carlos coughed, “I am sorry but I had to. I had to bring it up to explain my condition to everyone.” Adriel had a half sinister apologetic look on his face. Darwin's parent mother and stepdad were seated there.“Don't think you can put my son in jail after coming up with some stupid pile of evidence against him.” Maria, Darwin's mother spat out.Adriel had expected this. She was as evil as her son and would not back down easily. But in all, Adriel had the victory. Mr Carlos cleared his throat, making every other whisper in the dinning hall stop. “It is a beautiful evening to enjoy a beautiful dinner so let us enjoy it as a united family should. What has happened has happened. It is already in the past. One has to pay for his crime and bear the weight of the consequence of his actions.” He paused for some kind of effect,
“Don't keep me waiting, Harper. Just tell me now.” Harper grinned mischievously, enjoying the suspense. "Oh, Emma, you're so impatient! Can't you just savor the moment?" Emma rolled her eyes, laughing. "Savor the moment? You're killing me, Harper! Just spill the beans already!" Harper chuckled, taking a seat next to Emma on the couch. "Okay, okay. But first, let me ask you... how's married life treating you?" Emma's face lit up with a radiant smile. "It's amazing! Adriel is an incredible husband. I'm so grateful to have him." Harper's eyes sparkled with excitement. "That's so wonderful! I'm thrilled for you both. And speaking of thrilling news..." Emma's eyes narrowed, her voice playful. "Harper, don't tease me! Tell me already!" Harper giggled, stalling for a moment longer. "Okay, fine. But you have to promise not to freak out." Emma's hands flew up in exasperation. "I promise, I promise! Just tell me!" Harper took a deep breath, a sly grin spreading across her face. "I am
“Oops! My bad! I shouldn't be here.” Harper turned around, closing the door slightly. Adriel’s growling voice called her back. “Harper, stop right there.” “What do you want me to do? You shouldn't call me back in, just continue with whatever you were doing.” Emma kept nudging Adriel to stop as she was dying of embarrassment. “You already ruined the moment, Harper. Why did you have to rush in here?” “But it's Emma's room, not yours? I thought she would be the only one in. I didn't expect to see that scene.” The three stood awkwardly in the room. After a moment, Harper coughed, breaking the silence. “Alright, I am sorry about rushing in. I didn't expect to see you in.” “Well, I heard the news that happened in my absence and I rushed over to come see Emma. I haven't seen or spoken to her in a while after my impromptu trip outside the country.” Emma broke free from Adriel and drew Harper into a hug. “Thank you, Adriel.” “For what, Emma?” Harper asked, smiling and embracing he
“You look startled, babe.” Adriel whispered in Emma's ear as they were almost outside the hospital doors. “It is taking a while for me to take in everything that has just happened. It is quite ridiculous, isn't it?” “Do you feel well?” Adriel asked when he saw her scrunch up her nose in disgust. “I am fine, babe. I am just a little tired from all the happenings recently.” She yawned, covering her hand with her palm. “It is all over now and so you don't have to worry.” “Are you saying Darwin is not going to escape again?” “You can't trust me on that, babe. I have got the detective and his men around. He can't escape. Since he is not remorseful or repentant, he has to face the consequences of his actions and the law.” “Are you going to press charges, babe?” “Don't you want me to?” “I do but I just thought when I looked at you, you still have a little feeling for him and hoped he would change.” “Well, he is never going to change. That's the kind of person my brother is and I c
With newfound determination, he sprang into action.Mr. Lucas called his trusted assistant, Thompson, and instructed him to track down Miguel's whereabouts.Thompson quickly got to work, using his resources to locate Miguel. He soon discovered that Miguel was at a private meeting room in a downtown hi
“Mom! How can you let dad arrest me alongside that man? I don't know anything about his grudges with dad.” "I don't anything and why he keeps dragging me into all of this. We only met a few times and not to plot anything evil. Please mom, listen to me. Mr Lucas had come to see Maya. She was the onl
Adriel turned as he watched her walk in.“She is not ready to go down without a fight. I am going to give it to her too.”Adriel's hands moved quickly as he picked his phone to dial a familiar number, his mind still reeling from the encounter with Darwin. He couldn't shake off the feeling of unease th
Adriel stayed with her, not leaving her side for a bit.After a free hours, the hospital room door swung open, and Dr. Liam walked in with a warm smile. "Good news, Emma. You are cleared for discharge."Emma's face lit up, relief washing over her. "Really?"She was becoming nauseous in here. One of the






Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.