LOGIN"I will never marry and pass this curse on to another human being. Do you understand? It's your fault that I'm broken! I will never give you the satisfaction of having a child from me! I will remain a lonely man! I promise you that!" "They say you should; never say, Never." Dexter Lee is about to find out why that statement is so true. Though he meant every word he said, despite being tall, dark, and handsome, it doesn't hurt that he is the only son of one of the 3% wealthiest Billionaire families in the world. He's the kind of man a girl can only wish to obtain because he checks all the boxes perfectly on the outside. Yes, Dexter Lee would have been perfect if he wasn't a broken man with a haunting secret that only a unique martial bond could cure. But he promises Never to Marry. All that will change when he unimaginably meets the most unlikely and intriguing girl. Is Tameka Tran the cure this broken man needs? Or will she only make his lonely existence more miserable? It's a riveting sweet romance novel. No cheating. No cliffhangers. Happy ending? You'll have to read it to find out.
View More“Jika tidak dioperasi, ibu nona tidak akan bisa bertahan lebih lama...”
Tiba-tiba ruangan itu sunyi, hanya terisi oleh suara mesin-mesin rumah sakit yang berdenting begitu lambat.
Kanaya menahan napas, dadanya sesak hampir meledak. Di hadapannya, ibunya terbaring koma dan satu-satunya cara menyelamatkannya adalah dengan operasi transplantasi jantung.
“Apa tidak ada cara lain, Dok?”
Suara Kanaya bergetar. Sebelumnya Dokter itu juga berkata jika biayanya bisa mencapai 20an miliar. Apa yang harus ia lakukan?
Dokter yang menangani Ayunda, ibu Kanaya, menggeleng seraya mengalungkan stetoskop.
“Itu...
satu-satunya cara...”Kanaya menggenggam tangan ibunya lebih keras, ia terisak. Teringat ibunya yang menolak dibawa ke rumah sakit karena tak mau merepotkannya.
“Nona bisa pikirkan terlebih dahulu. Saya pamit,” ucap sang dokter yang mengangguk ke arah Kanaya dan langsung pergi dari ruangan itu.
Kanaya tak bergerak, ia membeku.
Sejak ayahnya meninggal, satu-satunya orang yang bisa diharapkan ibunya adalah dirinya.
Dan kali ini, setelah bertahun-tahun merawat ibunya di Emerald City, ia dihadapkan pada sebuah dinding penghalang yang besar, dinding keputusasaan.
Akankah ini menjadi masa terakhir dengan ibunya?
Kanaya menggeleng. Demi menjernihkan pikirannya yang kalut, ia melangkah keluar kamar perawatan ibunya untuk menghirup udara segar.
Langkah kedua kakinya menuntun Kanaya pada sebuah bangku taman. Dan ia duduk di bangku itu.
Angin sepoi-sepoi bertiup menyapa dedaunan, dan menyentuh kulit wajahnya. Kedua mata Kanaya menyapu tak tentu arah pada semua yang ada di sekitarnya.
Suster, dokter, dan pengunjung rumah sakit yang berlalulalang di dekatnya hadir di benaknya bagaikan sebuah delusi. Mereka semua nyata, senyata dirinya yang duduk di bangku taman itu, namun tak bisa memberikan jawaban dari permasalahannya.
Kanaya memejamkan matanya dan menarik nafas panjang.
Dalam keputusasaan, hatinya berdoa. Tuhan, berilah petunjuk, jalan keluar. Apa pun.
"Lihat, iklan ini muncul lagi."
Kanaya membuka matanya. Ia menoleh mengikuti asal suara itu. Tidak jauh darinya dua orang perawat sedang mengobrol.
Salah satu perawat memperlihatkan temannya apa yang ada di layar telepon genggam yang ia pegang.
Teman perawat itu melirik gawai yang dipegang rekannya dan berkomentar. "Sudah berapa kali dia mencari ibu pengganti? Apa masih belum dapat juga?"
"Yang aku dengar, sudah beberapa kali mereka gagal implan. Mungkin belum rejeki," jawab perawat pertama. "Padahal kalau sampai berhasil, aku dengar uang yang ditawarkan sangat besar, lho!"
Mendengar ucapan perawat itu, Kanaya mempertajam indera pendengarannya.
"Benar. Yang aku dengar, kalau berhasil, si ibu pengganti bisa dapat milyaran! Kalau aku masih gadis, boleh juga tuh, lumayan buat beli hp ipon dan jalan-jalan ke luar negeri. Dan yang pasti, tidak perlu kerja seumur hidup!" celetuk perawat yang satu lagi dengan canda sambil mereka berjalan melewati Kanaya.
Mata Kanaya membulat. Milyaran? Ibu pengganti? Tiba-tiba percakapan kedua suster itu bagai sebuah petunjuk untuknya. Apakah ini jalan keluar yang ia cari?
Istilah ibu pengganti pernah Kanaya dengar sebelumnya. Namun, bagaimana prosesnya tidak banyak ia ketahui.
“Maaf, suster. Boleh saya bertanya?”
Tiba-tiba dua suster yang dari tadi cekikikan berhenti dan menatap Kanaya dengan canggung.
Merasa mendapatkan atensi, Kanaya tidak menyia-nyiakan kesempatan itu.
“Boleh tahu iklan apa yang suster bicarakan?”
Mereka berdua saling menatap. Lalu setelah saling menyikut, seorang suster berambut cepol berkata pelan-pelan.
“Seseorang dari keluarga kaya sedang mencari seorang ibu pengganti dengan imbalan yang fantastis.”
“Apa saya bisa mendapatkan info iklan tersebut?” pinta Kanaya dengan mata berbinar.
Permintaan Kanaya kembali membuat kedua suster saling pandang.
“Urungkan saja niatmu itu, Nona. Walaupun bayarannya besar, tetapi presentase keberhasilannya sangat kecil. Jangan buang-buang waktumu.”
Kanaya tak peduli. Ia tetap tersenyum sambil menatap suster tersebut dengan penuh harap.
Setelah menghela nafas panjang, salah seorang suster memberikan Kanaya link iklan tersebut.
“Terima kasih, Suster!”
Dada Kanaya membuncah dengan secercah harapan. Ia segera kembali ke ruangan ibunya.
Optimisme yang pada awalnya begitu gelap, kali ini memunculkan asa baru!
Sekembalinya ke kamar perawatan ibunya, Kanaya masih fokus membaca iklan yang sebelumnya ia dapatkan.
Dikatakan dalam iklan tersebut imbalan yang begitu besar akan diberikan jika program itu berhasil ditunaikan.
Terbersit keraguan di dada Kanaya. Ia dituntut untuk mengandung seorang anak selama sembilan bulan, untuk kemudian memberikan anak itu kepada orang lain? Kanaya seketika menahan nafas.
Meskipun anak yang dikandungnya nanti bukan darah dagingnya, bisakah ia menyerahkannya begitu saja?
Di tengah kontradiksi pikirannya, tiba-tiba tangan yang sedari tadi ia genggam bergerak.
“Ibu, ibu sudah sadar?”
Ayunda berusaha menggerakkan tubuhnya, namun seketika ditahan oleh anak sematawayangnya itu.
“Ibu jangan bergerak dulu, kata dokter ibu harus istirahat yang cukup.”
Ayunda mengelus pipi kiri anaknya itu seraya menatapnya dengan sayu. "Naya, Ibu mau pulang. Ibu merasa sudah lebih baik."
"Nanti Bu, kalau Dokter sudah mengizinkan." Kanaya memaksakan sebuah senyuman. Ia tidak ingin ibunya tahu apa yang tengah dipikirkannya.
"Ibu sudah tidak apa-apa, kemarin ibu hanya kecapean saja. Sekarang sudah sehat! Lihat?!" Ayunda juga bersikukuh menunjukkan jika ia baik-baik saja.
Kedua mata Kanaya menggenang dan hatinya pilu memperhatikan ibunya yang berpura-pura tidak menahan sakit di depan matanya. Padahal Kanaya mengetahui kondisi ibunya sebenarnya sedang tidak baik-baik saja.
"Ibu, maafin Naya ya Bu." Kanaya memeluk ibunya dengan hati yang sedih. Ia merasa tidak berguna.
Ayunda melepas pelukannya dan menghapus airmata di pipi Kanaya. Ia menggeleng tidak ingin putrinya menyalahkan dirinya sendiri.
"Ibu sangat bangga padamu, Naya. Selama ini kamu sudah menjaga dan merawat ibu dengan sangat baik. Dan sekarang sudah waktunya kamu memikirkan masa depanmu. Jangan khawatirkan ibu, ya?"
Kanaya tidak ada jalan lain selain tersenyum, meski hatinya begitu sedih.
Biaya yang dibutuhkan untuk menyembuhkan ibunya begitu besar. Ia tak akan mendapatkannya bahkan dengan bekerja puluhan tahun.
Ia pandangi lagi nomor yang tertera pada iklan tersebut. Dadanya bergemuruh.
“Ibu, percaya sama Naya, ibu akan sembuh! Naya janji!”
Dexter thought about how it would pain him if he lost his Gamma. His family wasn't perfect, but he loved them. To lose his grandmother would be a significant loss in his life too. He held Taesha in his arms as they lay in bed and cried together. Then, they took a flight to Taesha's home for the funeral, and he served as one of the pallbearers for funeral. Unfortunately, they all had come together on such a sad occasion, but Dexter met even more of Taesha's family. She showed him pictures of her Chinese father, and Dexter could see the resemblance. He loved his mother-in-law. Taesha's Chinese father couldn't appreciate what he had in this woman, Taesha's dear mother. Dexter thought maybe Taesha’s father let the idea that she was black and he was Asian and how the outside world constantly tries to look down on interracial couples. Too bad her parents could find that kind of love they had for one another.~~~~Several weeks back at home and into their routine. Taesha realized her period
"Taesha! Taesha!" "What, boy? What's wrong with you?" She asked, turning to look at him, concerned by his panicked voice as he entered the kitchen, huffing, and puffing."Baby, are you sick?" Dexter asked breathlessly."No, why would you think that? Wait! So you do know what you did?" She looked at him suspiciously."I don't know what I did. Did I do something, Tae? You just freaked me out! Whew! It's good you're not sick. So what is it that I supposedly did to you without knowing I did it?" Dexter asked with a sigh of relief. Taesha swallowed hard. "Don't be sarcastic! You got me pregnant!... I think...!" "Pregnant?" Dexter chuckled. "No way. Did I get you pregnant?” He asked excitedly. “No, did we get each other pregnant?" He pointed at her continuing. "Sorry, I didn't get that memo." Dexter laughed."Don't laugh. Dexter, did you knot me up on purpose? Look at those eyes. Yes, you did! I've been trying not to think that you would do something like that, but you did! Ooh!" She
The honeymoon phase was filled with steamy nights at their home in the mountains. It appeared every two weeks, Dexter's sight would diminish and return to total darkness. But waking up blind wasn't as frightful now because he knew the capacity of one glass of Taesha’s homemade wine could do for his sight. Dexter, of course, was grateful for this breakthrough. Any breakthrough that could give him the sight he's always longed for, and he wanted Taesha to seriously consider sharing it with the masses of color-blind and legally blind people. But she was afraid of all the responsibility. Taesha was content, knowing it helped him; she didn’t want fame or notoriety. Even though she did want to help people, she had to figure out how to do it without drawing too much attention to herself. Taesha couldn't believe how one horrible night stranded on the side of the road turned into this dreamland life. But, then, she was a married woman. To a wealthy, handsome man name Lee Dexter, who were many
Careless or Careful?"I don't know why but It's in the music, books you read, and some movies. I decided if I found the one, and I did, I would treat you with the utmost love and dignity. Out in a world, it's full of lust, Taesha. It's all about pure selfishness. My music is successful because I write what women need and want to hear. But women are very complex creatures, emotional and all. I've seen countless women willing to do a lot to get a man, win his love, money, and sometimes his body. Observing, being alone, I've learned much from females.""You mean you used the females for business purposes?""That's not fair. I've never taken advantage of anyone.""What am I? Some experiment for you to examine and use?" She stepped away. "No, never! I'm trying to say that, for the first time, you were the first girl I couldn't read or figure out, and you certainly have never been willing to do whatever I wanted you to do, and you were careless about my wealth. And when it comes to my body












Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.
reviews