Share

RARENDRA

Ckitt..

Ana tersentak kaget, karena secara tiba-tiba ada sebuah motor yang berhenti tepat di hadapannya. Ana tidak tahu dia siapa. Tapi dia memakai seragam sekolah yang sama dengan Ana.

~~~~~~~

Cowok itu membuka helmnya, dan turun dari atas jok motornya. Ia berjalan mendekat ke arah Ana. Ana tidak tahu harus berbuat apa, jadinya ia hanya mematung di tempat.

"Hai," sapa cowok itu.

Ana mengerjapkan matanya.

"Ahh, hai juga." balas Ana, tersenyum kikuk.

"Mau bareng gak?" tawar si cowok. Ana terkejut, tentu saja. Siapa yang tidak terkejut, ketika ada orang yang tidak dia kenal, mengajaknya berangkat bersama.

"Udah deket." jawab Ana, seraya menunjuk gerbang sekolah.

"Gak mau?" tanyanya lagi.

Ana menggelengkan kepalanya.

"Oh, yaudah. Gue tunggu Lo di gerbang." ucap si cowok. Dengan tampang dinginnya.

Ana yang tidak mengerti hanya menghendikan bahunya acuh. Ana kembali melanjutkan jalannya yang sempat tertunda. Tepat di depan gerbang sekolah, Ana melihat si cowok tadi. Ana kira ucapannya hanya main-main saja, tapi ternyata Ana salah besar.

"Ketemu lagi." si cowok berucap.

"Lo nungguin gue?" tanya Ana.

"Lo budek? Gak denger tadi gue bilang apa?" 

"Ya, gak gitu. Gue kira lo bercanda."

"Emang muka gue, keliatan kaya lagi bercanda?"

Ana menghendikan bahunya.

"Lo siapa?" pertanyaan itu lolos begitu saja dari mulut Ana.

"Gue, Rarendra." jawab Rendra.

"Lo kenal gue?" tanya Ana.

"Lebih dari kenal," jawab Rendra, di iringi dengan senyuman miring.

Ana di buat cengo mendengarnya. "Udah ayo. Gue murid baru di sekolah ini, gue mau lo. Yang ngajak gue berkeliling sekolah." Rendra menarik tangan Ana.

"Heh! Apa-apaan. Lepasin gak?!" teriak Ana, namun tidak di hiraukan oleh Rendra. Ana dan Rendra, sudah menjadi pusat perhatian sejak tadi. Banyak murid yang salah fokus dengan kehadiran Rendra di sekolahnya.

"Itu siapa? Cakep banget."

"Itu kok, narik-narik tangan Ana?"

"Dia siapanya Ana?"

"Ganteng banget gila." 

Begitulah ocehan-ocehan yang keluar dari mulut murid-murid SMA Lenggara. Ana masih sibuk mencoba melepaskan tangannya dari cekalan tangan Rendra. Gadis itu terus memberontak, minta di lepaskan. Tapi Rendra menulikan pendengarannya.

"Di mana ruang kepsek?" tanya Rendra, tanpa melepaskan cekalan tangannya.

"Lepasin dulu!" Ana mendengus.

"Gak. Nanti lo kabur."

"Yaudah, gak bakal gue kasih tau!" Ana mengancam Rendra.

Rendra menyunggingkan senyumnya. "Lebih bagus kalo lo gak kasih tau. Jadi gue bisa lebih lama berdua-duaan sama lo." ucap Rendra.

Ana membulatkan matanya. "Lepasin ih!" rengek Ana.

Rendra semakin mengembangkan senyumnya. Ia suka melihat Ana merengek seperti itu. Apalagi tadi Ana berucap 'ih' menurut Rendra gadis itu lucu ketika berucap seperti itu.

"Lepasin! Bentar lagi bel masuk." Ana menatap tajam, ke arah Rendra.

"Coba bilang sekali lagi 'ih' gitu." pinta Rendra, masih dengan senyumannya.

Ana semakin tidak percaya dengan orang di hadapannya ini.

"Apaan sih?!"

"Cepet. Nanti gue lepasin." 

Ana membulatkan matanya, ini adalah kesempatannya untuk kabur. Pikirnya.

"Lepasin ih!" Ana menuruti perintah Rendra.

Rendra melepaskan cekalannya pada tangan gadis itu. Ana mengusap-usap pergelangan tangannya. Lalu ia menatap Rendra dengan tatapan tajam.

"Dasar orang aneh!" setelah berucap begitu. Ana berlari sekuat tenaga, takut-takut nanti Rendra akan mengejarnya.

Rendra yang melihat itu hanya terkekeh. Menurutnya gadis itu sangat lucu. Rendra mengeluarkan handphone yang berada di dalam saku celana. Dia menelepon seseorang.

"Cepet kesini. Gue di depan perpustakaan." ucap cowok itu.

~~~~~~~

Sementara di sisi lain.

Ana sudah sampai di depan kelas. Ia tengah menetralkan nafasnya yang memburu akibat berlari. Setelah mengatakan itu, Ana langsung berlari sekuat mungkin. Takut-takut kalo Rendra akan mengejarnya. Amanda, Intan dan Hana. Yang melihat itupun mengerutkan dahinya bingung.

"An, lo kenapa?" tanya Amanda, gadis itu memegang pundak Ana.

Ana tidak menjawab pertanyaan yang Amanda lontarkan. Dia masih sibuk mengatur nafas.

"An lo gak pa-pa kan?" tanya Intan.

"Kaya habis di kejar hantu aja lo." Hana ikut menyahut.

"Gueh ..." Ana mencoba berbicara dengan nafas yang masih setengah terkumpul.

"Gue ketemu sama orang aneh." jawab Ana.

Amanda membawa Ana menuju tempat duduknya.

"Aneh gimana?" tanya Amanda. Setelah Ana duduk nyaman di kursinya.

"Jadi gini ...." Ana menceritakan semua kejadiannya kepada ketiga sahabatnya.

"What! Demi apa?" Intan berdecak tidak percaya.

"Sumpah ya! Gue sering baca cerita kaya gini di novel-novel. Dan ujung-ujungnya, si pemeran utama bakalan jadian." balas Amanda.

Ana menggeleng-gelengkan kepalanya, tidak mungkin kisahnya sama seperti di novel-novel.

Kringg

Bel masuk baru saja berbunyi, guru pembimbing datang membawa buku tebal di dekapannya. Dia tidak sendirian, di belakangnya terdapat seorang murid laki-laki yang sangat Ana hindari. Ana membulatkan matanya, ketika mata mereka saling bertemu. Rendra menyunggingkan sedikit bibirnya ketika Ana menatap ke arahnya. 

"Selamat pagi." ujar pak Budi.

"Pagi pak." jawab seluruh murid, serentak.

"Hari ini kalian kedatangan murid baru. Silahkan perkenalkan diri kamu."

Rendra mengangguk.

"Kenalin, gue Rarendra Anggara. Gue pindahan dari sekolah Ranjani." ucap Rendra.

"Udah?" tanya Pak Budi.

Rendra mengangguk.

"Yaudah, silahkan cari tempat duduk yang kosong." ujarnya.

Rendra mengedarkan pandangannya, sampai penglihatannya menatap ke arah tempat duduk Ana.

"Saya mau duduk sama dia pak." ucap Rendra.

Ana terkejut. Rendra menunjuk ke arahnya.

"Hana, kamu boleh berpindah tempat duduk?" Pak Budi bertanya.

"Kok saya pak?" Hana menunjuk dirinya sendiri. 

Pak Budi berbicara lewat tatapannya kepada Hana. Hana yang mengerti, pun, langsung bergegas membereskan semua barang-barangnya.

"Eh, eh Han. Lo mau kemana?" Ana memegang tangan Hana yang hendak memasukan buku paketnya ke dalam tas.

"Pindah tempat duduk lah." balas Hana dengan tampang lesunya.

"Kok pindah? Udah ih di sini aja!"

"Jangan dengerin Pak Budi." cicit Ana.

"Tenang, gue cuman pindah tempat duduk. Bukan pindah alam." Hana menepuk pundak Ana pelan.

Hana berjalan menuju kursi kosong yang berada di pojok kelas. Suram sekali nasibnya.

Sementara Rendra merasa sangat senang karena mendapatkan apa yang ia mau. Dia berjalan dengan gaya angkuhnya, menuju meja Ana.

"Hai, ketemu lagi kita." ucap Rendra.

Ana mentulikan telinganya. Ia berpura-pura tidak mendengar apa yang Rendra katakan.

"Sstt."

"Hei,"

"Ana." panggil Rendra. Ana sempat terkejut ketika Rendra tau namanya. Tapi Ana tetap tidak peduli.

"Sayang." panggil Rendra lagi.

Sudah cukup! Ana sudah tidak tahan lagi. Ana menggebrak mejanya. Dengan nafas yang memburu gadis itu menatap tajam ke arah Rendra.

Rendra mengerutkan dahinya.

"Lo bisa diem gak sih?!"

"Gue gak bisa fokus, karena lo dari tadi terus ngebacot." Ana murka.

Rendra menatap wajah Ana yang sudah memerah, menahan amarahnya. Rendra terdiam. Apa dia sudah keterlaluan? Apa Rendra sudah salah besar? Tanyanya pada diri sendiri.

Rendra mengerjap. Ketika Ana sudah kembali duduk seperti semula. Ana dan Rendra menjadi pusat perhatian seisi kelas. Ana mendengus malas.

"Kembali lagi ke pelajaran di depan!" teriak Pak Budi.

~~~~~~

Bab terkait

Bab terbaru

DMCA.com Protection Status