Se connecter(WARNING 🔞) Di masa depan, dunia tak lagi butuh cinta. Dunia butuh keturunan, untuk menghindarkan manusia dari kepunahan. *** Fiora diutus untuk mengandung anak dari seorang pria misterius yang ada di sebuah pulau tersembunyi. Sebagai salah satu dari segelintir wanita yang selamat pasca tragedi virus mematikan yang membuat sebagian besar wanita seluruh di dunia tewas, Fiora dituntut oleh untuk melahirkan bayi sebanyak mungkin agar manusia tidak punah. Namun betapa terkejutnya Fiora saat ia baru saja tiba di Pulau tersebut... ... dan ternyata bukan hanya untuk melayani hasrat satu orang pria, melainkan lima! Dan bukan cuma sangat tampan dan kuat, namun mereka juga berbahaya serta memiliki kekuatan di luar batas manusia biasa. Vael, yang bisa mengendalikan ingatan, sekaligus pemimpinnya. Riven, si pembaca pikiran. Darius, yang super kuat. Elyon, memiliki kemampuan penyembuh. Dan Zephyr, si pengendali angin. ***
Voir plusSuara baling-baling helikopter berdengung keras di telinga Fiora.
Gadis itu duduk diam di kursinya, menatap keluar jendela dengan sorot mata yang sulit diartikan. Di bawah sana, hamparan laut biru membentang luas, berkilauan terkena pantulan cahaya matahari. Angin mengguncang badan helikopter perlahan, namun Fiora tetap tenang. Atau setidaknya… berusaha terlihat tenang. Ini adalah hari penugasannya. Hari di mana ia akan dikirim ke pulau tempat seorang pria tinggal, pria yang akan menjadi pemberi benih untuknya. Jantung Fiora pun seketika berdetak lebih cepat. Dan tanpa sadar, pikirannya pun melayang kembali ke penampungan, tempat tinggalnya selama beberapa tahun terakhir. BEBERAPA SAAT YANG LALU... "Sudah siap berangkat, Fiora?" Gadis muda bersurai merah gelap itu mengangkat wajahnya, lalu tersenyum pada Rea, temannya yang barusan bertanya. "Ya. Hari ini adalah penugasanku ke pulau itu," sahut Fiora, lalu memeluk Rea yang mulai tampak sedih. Mereka sudah menjadi teman sekamar selama beberapa bulan di penampungan, jadi pantaslah Rea merasa bersedih ditinggalkan oleh Fiora. "Cepatlah buat pria itu menanamkan benihnya di rahimmu, lalu segeralah pulang ke sini," ucap Rea dengan bibir setengah cemberut dan mata yang berkaca-kaca. "Hm? Tapi nanti malah kamu yang tidak ada di sini," gurau Fiora, sembari menjawil ringan hidung Rea. "Bukankah kamu juga akan ditugaskan?" Wajah Rea pun semakin tampak muram mendengarnya. Ya, ia memang sudah mendengar bahwa dirinya juga akan ditugaskan ke suatu tempat, untuk bertemu dengan pria yang akan menanam benih di tubuhnya. Sebagai gadis muda dengan tubuh sehat, Fiora dan Rea tidak bisa menolak takdir mereka sebagai "penampung benih". Ini semua demi kebaikan, demi keberlangsungan hidup seluruh umat manusia agar tidak punah. Semua bermula karena tiga puluh tahun yang lalu, sebuah wabah virus misterius dan mematikan yang dikenal dengan sebutan EVE-13, telah menewaskan milyaran manusia di bumi. Korban terbanyak adalah dari anak-anak dan wanita, hingga akhirnya hanya menyisakan beberapa saja yang mampu bertahan. Biasanya yang kebal pada virus EVE-13 adalah wanita muda seusia Fiora dan Rea, antara 17-24 tahun. Usia di bawah atau di atas itu, mereka tidak akan mampu bertahan. Sedangkan dampaknya untuk para pria, adalah ketidakmampuan untuk bereproduksi. Dengan kata lain, mandul. Hanya pria dengan kondisi kesehatan benar-benar prima saja yang masih tetap normal. Kehilangan jumlah manusia secara besar-besaran ini pun pada akhirnya membuat para pemimpin dunia sepakat untuk menyusun "Project Genetic". Yang poin-poinnya adalah mendata gadis-gadis dengan rahim sehat, mengumpulkan mereka pada lokasi-lokasi penampungan, dan menjadikan mereka sebagai "penampung benih." Project Genetic juga mendata pria-pria sehat yang bisa memproduksi sperma berkualitas, untuk "dipasangkan" dengan gadis "penampung benih." Jika sang gadis telah berhasil mengandung, dia harus kembali ke penampungan untuk mendapatkan perawatan terbaik hingga bayinya lahir. Dan bila bayi tersebut selamat hingga lahir, sang ibu tidak akan bisa merawatnya. Karena bayi itu akan segera dibawa ke laboratorium khusus milik pemerintah. Dibesarkan di sana dengan pengawasan yang sangat ketat hingga dewasa. Sementara sang ibu? Setelah memulihkan kondisi pasca melahirkan selama enam bulan, maka ibu tersebut akan ditugaskan kembali menjadi penampung benih. Terdengar kejam, namun sejujurnya langkah ini cukup berhasil untuk mengatasi "kiamat kecil" yang melanda dunia sejak itu. Fiora dan Rea, juga adalah produk hasil penanaman benih. Mereka tidak mengenal siapa ibu dan ayah mereka, rahasia itu hanya dipegang oleh pemerintah yang mengatur semuanya. Fiora mencoba memeriksa penampilannya sekali lagi pada cermin besar yang menempel di dinding. Rambut merah ikalnya dikepang ala French twist dengan rapi, panjang hingga ke pinggang. Menyisakan helai-helai halus kemerahan yang jatuh lembut di pipinya yang putih. Gaun putih dari sutra lembut dengan bagian dada yang terbuka, menampilkan dua bukit yang menggoda namun tetap terlihat manis. Bagian bawahnya hanya sebatas paha, membuat kaki jenjang dengan betis indah itu terpampang menggiurkan. Ia harus tampil maksimal agar si pria "pemberi benih" itu tertarik padanya. Semakin cepat selesai, semakin baik. Suara pintu yang diketuk, membuat kedua gadis itu menoleh ke arah yang sama. "Fiora, sudah saatnya untuk berangkat!" ucap suara seseorang dari balik pintu yang masih tertutup. Fiora menghela napas pelan. "Ya, aku akan keluar." Saat itu juga, Rea berjalan mendekat dan memeluknya. Air matanya telah tumpah, namun gadis itu masih menahan isaknya. Baru saja beberapa bulan ia merasakan persahabatan yang mendalam dengan Fiora, namun sekarang mereka harus berpisah. Entah apakah mereka masih bisa bertemu lagi di masa depan. Mungkin Rea sudah pergi, atau Fiora yang tidak kembali karena dipindahkan ke penampungan lain jika berhasil mengandung benih di rahimnya. Fiora tersenyum menguatkan, sembari menggenggam tangan sahabatnya. Dengan lembut, gadis itu pun mengecup pipi Rea. "Sampai jumpa lagi, Rea. Jaga diri dan kesehatanmu," ucapnya pelan, sebelum melangkah keluar kamar untuk menjemput takdirnya. *** "Pulau tujuan kita sudah dekat. Bersiaplah." Suara seorang pria berseragam tentara membuat lamunan Fiora sirna seketika. Dengan mengernyitkan keningnya, Fiora berusaha menghalau sinar matahari yang masuk melalui jendela helikopter. Di bawah sana, ada sebuah pulau hijau yang dikelilingi pantai yang luar biasa indah. Lautnya yang jernih bagai berlian biru yang memukau. Pasirnya yang putih keemasan memantulkan cahaya, membuat Fiora terkesima. Seketika senyum pun terukir di bibirnya. Sudah lama sekali ia tidak melihat pantai! Mungkin hanya sekali dalam seumur hidupnya, dulu sekali. Karena seluruh sisa hidupnya lebih banyak dihabiskan di dalam penampungan atau laboratorium. Fiora merasakan jantungnya mulai berdebar. Itu adalah pulau dimana si pria pemberi benih tinggal. Semoga saja pria itu terkesan dengan penampilannya, dan mereka bisa bekerja sama dengan baik. Fiora merasakan badan helikopter itu mulai bergerak turun dengan perlahan di atas permukaan laut, menerbangkan bulir-bulir air dan pasir yang beterbangan di udara yang bersih. Pandangan gadis itu tertuju pada sosok seorang pria yang tiba-tiba muncul dari balik rerimbunan tanaman. Masih muda, mungkin hanya beberapa tahun di atasnya. Wajahnya tampan, rambutnya gelap, dan warna matanya... merah?? Fiora mengerjap pelan. Apa dia salah lihat? Apa ada manusia dengan warna mata seperti itu?? "Oh, rupanya salah satu calon pemberi benih-mu sudah datang untuk menjemput," ucap pria yang mengawal Fiora. Sontak saja gadis itu terkejut mendengarnya. "Tunggu. Apa maksudnya 'salah satu??'" tanya Fiora seraya menatap pria berseragam tentara yang barusan berucap. Pria itu pun hanya diam dan saling melirik temannya yang lain, tampak ragu untuk menjelaskan. "Bukankah memang hanya ada satu??" kembali Fiora bertanya, kali ini sedikit mendesak. Pria tentara itu akhirnya menghela napas pelan. "Sepertinya kamu tidak diberitahu, ya?" "Apa? Diberitahu apa??" Fiora kini mulai tampak panik. "Pemberi benih-mu bukan cuma satu orang, Fiora. Mereka... ada lima." ***Fiora terdiam. Jemarinya masih mencengkeram ujung kaus Vael, seolah takut pria itu akan pergi jika ia melepaskannya. Namun tatapan heterochromia yang begitu tajam dan dalam itu membuat napasnya semakin kacau. Hingga akhirnya Fiora pun menundukkan wajah, karena tak sanggup untuk terus menatap kedua mata berbeda warna yang selalu berhasil membuat jantungnya seolah kehilangan detak. Dan waktu pun baru saja berlalu hanya beberapa detik, sebelum Vael menarik lembut dagu Fiora, dan membuat gadis itu kembali mendongak menatapnya. “Kalau kamu diam begini…” suara rendah itu terdengar sangat dekat. “…artinya kamu tidak akan menyesal.” Kalimat itu membuat manik coklat Fiora sedikit bergetar. Vael memandanginya begitu lekat, seolah sedang berusaha menahan sesuatu yang sejak tadi hampir lepas dari kendalinya. Lalu perlahan, pria itu pun menundukkan wajahnya, lalu bibir mereka akhirnya kembali bertemu dengan lebih pelan dan dalam, serta jauh lebih berbahaya bagi jantung Fiora. Fi
Mereka berdua bermain cukup lama di pantai, Fiora bahkan sempat berlari kecil sambil tertawa mengejar ombak. Sampai akhirnya napasnya mulai sedikit berat, dan itu tak luput dari pengamatan Vael. “Kamu lelah?"Fiora menggeleng. “Aku masih kuat!” bantahnya. “Tapi tadi aku melihatmu baru saja menguap.” Fiora membeku. “…ketahuan, ya?” “Mm.” “Boleh main sedikit lagi?" “Boleh, tapi besok malam."Jawaban Vael itu membuat Fiora mendelik, sementara pria itu hanya menatapnya sebentar, lalu berkata pelan. “Kita pulang.”***Fiora memutuskan untuk mandi sesampainya di Mansion, karena tubuhnya sedikit lengket akibat pasir dan keringat..Setelah tubuhnya terasa segar, Fiora keluar dari kamar dengan rambut merahnya yang masih sedikit basah. Namun langkahnya berhenti saat menghirup aroma manis dan hangat di udara. “Susu coklat?” gumannya pelan. Ia pun mengikuti aromanya sampai ke dapur, dan menemukan Vael yang berdiri membelakanginya di sana. Pria itu sepertinya juga baru selesa
Malam hari pun datang dengan perlahan. Langit di luar jendela berubah gelap, menyisakan garis tipis cahaya di cakrawala, sebelum akhirnya ditelan oleh awan. Di ruang makan Mansion, Fiora duduk sambil menatap hidangan di depannya. Sup hangat, roti panggang, sayuran tumis, dan ikan yang dimasak dengan aroma rempah ringan. Semuanya sederhana, namun selalu terasa lezat. Diam-diam, Fiora pun melirik pria yang berada di seberang meja--Vael, yang sedang menuangkan minuman dengan gerakan tenang seperti biasa. Dan tiba-tiba saja sebuah pikiran muncul di kepalanya. Apa aku benar-benar dimanjakan? Karena sejak datang ke pulau ini… selalu ada seseorang yang menyiapkan semuanya. Tapi setelah dipikir-pikir… hampir selalu orang yang memanjakannya adalah Vael. “Kenapa melihatku begitu?” Fiora langsung tersentak. “A-Aku tidak melihat!” “Mm.” “Kamu tidak percaya?!” “Tidak juga.” Dua kata itu diucapkan Vael dengan tenang, dan Fiora pun sontak terdiam seraya mengunyah makanny
Hembusan angin siang membawa aroma dedaunan dan tanah yang basah. Vael dan Fiora segera bergegas menuju arah jatuhnya drone itu, mengabaikan rumput tinggi yang bergesekan di kaki mereka, saat keduanya melewati jalur kecil di antara pepohonan. Beberapa menit kemudian, langkah Vael akhirnya berhenti. “Di sana," ucapnya, dan Fiora pun mengikuti arah pandangnya. Di atas hamparan rumput hijau, beberapa serpihan logam kecil tampak berserakan. Ada pecahan baling-baling kecil, kabel tipis, dan potongan rangka hitam. Namun bagian utamanya masih utuh. Dan anak panah Vael masih menancap tepat di bagian tengah badan drone. Fiora sedikit membungkuk dengan ekspresi takjub. “Tembakan kamu ternyata benar-benar mengenainya…” Vael tidak menjawab. Ia berlutut, lalu mengambil benda itu. Tangannya membalik drone tersebut perlahan, memeriksa tiap sisi dengan teliti. Dan tatapan heterochromia itu pun memicing. “Aneh." Fiora langsung menoleh. “Apanya yang aneh?” “Sepertinya ini buka






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
commentairesPlus