LOGIN"Mega tidak mau, Bi, Mega tidak mau menikah kontrak apa lagi sampai memiliki anak, dan nantinya Mega harus melepaskan anak itu begitu saja?" Selalu dianggap benalu oleh keluarganya, dan dengan penuh keterpaksaan Mega yang harus tinggal dengan yang bukan orang tuanya membuat Mega hidup dalam tekanan setiap harinya. Hingga akhirnya dengan berat hati Mega pun setuju menjadi ibu pengganti bagi pasangan kaya raya, sampai hidupnya berubah dalam satu malam. Mega hanya membutuhkan uang untuk menyelamatkan keluarganya, tidak pernah terpikir bahwa rahimnya akan membawa janin pewaris keluarga kaya raya. Namun di balik kontrak perjanjian yang tebal dan aturan yang ketat, Mega justru terjebak dalam badai perasaan yang tak pernah ia rencanakan. Awan, sang suami dingin perlahan mulai menunjukkan perhatian yang tak semestinya. Sementara istrinya, Amelia, lama kelamaan merasa tak suka melihat suaminya dan ibu pengganti itu berada terlalu dekat. Di dalam rumah megah yang terasa seperti istana, Mega harus menjalani beribu kepahitan, di tengah cinta yang tak boleh dimiliki, dan kebencian yang makin mengakar. Akankah Mega sanggup menuntakan tugasnya?
View MorePROLOGUE: The Point of No Return
The silk of my gown felt like a second skin, but Xavier’s hands felt like fire.
We were in the library, the heavy oak doors locked against a house full of people who thought we were family. Outside, the gala hummed the clinking of champagne flutes, the soft orchestra, my father’s booming laugh. But inside, the air was thick with a sin I couldn’t take back.
"Astrid," he groaned against the hollow of my throat. His voice wasn’t the one I grew up with. It was dark. Hungry. Rougher than the silk slipping off my shoulder. "Look at me."
I did. And in his eyes, I didn't see the stepbrother who had been gone for three years. I saw Xavier Mattoe a man who had been waiting a lifetime to break me.
"We can’t," I whispered, even as I arched into him, my heart hammering against my ribs. "Xavier, if they find us… my father will kill you.
Your father doesn’t own you anymore," he rasped, his grip tightening on my waist, pulling me flush against the hard, demanding heat of his body. He leaned down, his lips brushing mine, tasting of expensive vanilla cake and dangerous promises. "I do. I own every breath you take in this house."
That was the night I realized some rules aren’t just meant to be broken. They are meant to be incinerated .
(Six Months Earlier)
I don’t remember the first day I realized my mother wasn’t coming back. She was gone the moment I took my first breath, leaving me with a debt of grief I never knew how to pay.
Maybe it was always there this soft, empty space in my life that no one wanted to talk about. I grew up with a name I didn’t understand, a silver picture frame beside my bed that felt cold to the touch, and a father who gave me everything except the answers I craved.
Her name was Rina Lyrien. Mine is Astrid. My father picked it because he said it sounded expensive. He always had a thing for appearances, for things that shimmered on the surface regardless of how hollow they were underneath.
Today, I turned eighteen.
I should feel older. Freer, maybe. But I woke up in the same silk sheets, with the same tight feeling in my chest that whispered I was running out of time. Nothing about me feels grown. Nothing about this house feels like home anymore. It’s too big. Too perfect. The kind of place where you hear clocks ticking in the silence, counting down the seconds of a life pre determined by men in dark suits.
Sometimes I imagine what she might’ve been like. A soft voice. Kind eyes. Maybe the kind of woman who brushed my hair before bed and kissed my forehead without rushing out the door. I don’t know if that version ever existed, or if I simply invented her to fill the echoing hallways of this mansion.
All I know is this life no matter how many carats or silk threads it’s draped in—feels empty without her.
I finished college early. That’s what happens when you’re homeschooled by the best tutors and don’t have any real friends to distract you. My life was planned before I even knew what a choice was. I was a project to be completed, a piece of the family legacy to be polished.
I walked down the hallway like I always do barefoot, quiet. You’d think I’d be used to marble floors and crystal chandeliers by now, but it still feels like I’m walking through a museum instead of a home. Everything is spotless. Like no one really lives here. Just ghosts and footsteps.
My father was already in his office. He doesn’t sleep much; he prefers to watch his empire grow in the dark. He’s always been… distant. Not cruel, just cold. Always in meetings, always building walls I couldn't climb.
He looked at me this morning for the first time in weeks. His eyes softened for a split second, a flicker of something human behind the CEO mask.
“You’re eighteen now,” he said. No smile. Just the words.
I nodded, clutching my silk robe tighter. “I know.”
“I’m proud of you, Astrid. You’ve become exactly what this family needs.” He paused, checking his gold watch, the movement precise and clinical. “Which is why I’ve made sure your security is settled. Xavier Mattoe is arriving this afternoon. He’s finished his business in London, and he’ll be staying in the East Wing permanently.”
The name hit me like a physical blow, stealing the air from my lungs. Xavier. My stepbrother. The boy who was all sharp edges and dark promises. The one person who knew exactly how to make me tremble with a single look. I hadn't seen him in three years, not since the night he was sent away the night I realized that his "protection" felt a lot like possession.
“He’s a man now, Astrid,” my father continued, already turning back to his computer. “Not the boy you used to follow around. Stay out of his way. Xavier has… changed. He’s ruthless, even by my standards.”
I walked back to my room, my heart hammering against my ribs. I thought I was safe. I thought I had grown up and buried the memory of the way Xavier used to watch me from the shadows of the staircase.
But as I looked at my reflection in the floor to ceiling mirror, I didn't see a woman celebrating her birthday. I saw a girl who had just been told the wolf was back at the door. And this time, there was no one left to protect me from him.
Rasa nyeri terasa menusuk hati Mega dengan begitu dalam, "tadi Mbak Minah yang menyambut saya kesini atas perintah Pak Awan...kalau kehadiran saya membuat Bu Amel terganggu biar saya kembali ke paviliun saja," pamit Mega. Amelia sini tersenyums, "baguslah kalau kamu sadar diri," Mega mengangguk, lalu memutar tubuhnya. “Tunggu, Mel… tadi memang aku yang meminta Mbak Minah memanggil Mega, mau bagimanapun Mega juga butuh asupan,” jelas Awan. Amelia menatap Mega dengan sedikit tajam. Ucapan Awan tak membuat Mega menghentikan langkah kakinya, dan Awan pun buru-buru mengejar Mega. Saat tepat di belakang Mega Awan segera meraih pergelangan tangan Mega dan sontak saja Mega pun menghentikan langkah kakinya namun tanpa menoleh ke Awan. "Kamu juga harus makan!" cegah Awan. "Saya belum lapar, lebih baik Bapak dan Ibu saja yang makan!" tolak Mega sedikit ketus. Awan menarik tangan Mega membuat Mega tersentak dan sontak saja tubuhnya berputar menghadap Awan. Sorot mata Awan tampak tajam me
Awan mengerutkan kening, sementara Mega menarik tangan hingga terlepas dari genggaman tangan Awan. “Maksudmu?” tanya Awan. Mega menghela nafas, “kemarin Bapak bilang Bu Amelia tidak bisa melayani selayaknya istri pada suaminya, itu alasan Bapak menjadikan saya sebagai penggantinya, bahkan sampai menyiapkan segala keperluan Anda pun juga saya yang lakukan, dan sepertinya sekarang Bu Amelia sudah bisa melayani Anda, jadi hari ini minta tolong pada Bu Amelia saja,” terang Mela yang kemudian pergi begitu saja dari hadapan Awan. Awan terhenyak sesaat, bukannya marah justru Awan mengembangkan sebuah senyuman di wajahnya. "Sikapnya ... apa itu artinya dia cemburu?!" gumam Awan, dada Awan seketika menghangat dan semburat merah tempak mengembang mewarnai wajah Awan kala itu.Awan lalu meneruska langkahnya, pelan ia susuri langkah demi langkah untuk menyusul Mega dan berutungnya dugaan Awan benar, ia bisa menemukan Mega yang tengah berdiri di tepian sungai buatan.Sebuah senyuma kembali te
"Mega!" Awan terkesiap. Awan lalu menoleh padan jam dinding yang ada di kamar Amelia, "sudah pagi ... jangan-jangan semalaman dia menunggu aku?" batin Awan. Awan pun bergegas bangkit dari ranjang Amelia, dan lebih dulu mengemasi pakaiannya untuk kembali ia kenakan. Namun baru saja Awan selesai berpakaian, Amelia yang baru saja keluar dari kamar mandi kembali mencegah langkah Awan. "Loh ... kamu mau kemana, Wan?" tanya Amelia, rambutnya masih tampak basah dengan butiran air yang masih tampak menetes dari ujung rambutnya. Setelah kejadian semalam, bahkan Amelia pun sudah tak merasa malu mengenakan pakaian terbuka di depan Awan. "Sudah hampir siang ... aku harus bekerja," jawab Awan. Sembari menggosok rambutnya dengan handuk, Amelia berjalan mendekati Awan lalu berdiri tepat di hadapannya. "Setelah apa yang kita lakukan semalam, kamu langsung meninggalkan aku begini, Wan," ucap Amelia, wajahnya tampak memelas. "Atau jangan-jangan ....!" wajah yang awalnya memelas kini ber
Awan menerima gelas pemberian Amelia lalu duduk di sofa, ia tatapi sejenak hidangan yang tersaji di meja yang ada di depannya, "kalau seperti ini, kenapa tidak makan di bawah saja?" tanya Awan."Aku kan tadi sudah bilang, Wan, aku ingin makan berdua ... kalau di bawah kamu pasti mengajak Mega juga kan!" Amellia memasang wajah cemberut, "tadi kan aku sudah bilang ... aku ingin dekat dengan kamu, kita harus mencoba saling membuka hati kan, Wan. Kamu membuka hati untuk Mega saja bisa masa untuk aku tidak," lanjut Amelia.Awan hanya diam namun tatapan tajamnya terus ia arahkan pada Amelia. Awan lalu menghela nafas, "terserah kamu saja," sahutnya singkat.Amelia tersenyum tipis, "bisa tolong ambilkan aku makanan,Wan, aku sudah lapar!" pinta Amelia dan Awan pun bangkit dari duduknya untuk kemudian mengambilkan makanan untuk Amelia dan juga untuk dirinya sendiri.Setelah memberikan piring berisi makanan itu pada Amelia, Awan pun memilih untuk kemba;li duduk di sofanya semula.Namun tak sepe
Amelia terkesiap, sejenak ia arahkan perhatiannya pada Awan "ada apa lagi? Kau meminta aku memulangkan dia lagi?" tebak Amelia sedikit sewot. Awan lebih dulu mengedarkan pandangannya kesegala arah, "masuk! Tidak enak membahas disini!" ajak Awan, lelaki itu berjalan lebih dulu sementara Amelia men
"Mumpung kita sudah dirumah sakit bagaimana kalau ....!" Amelia menghentikan ucapannya, lebih dulu ia arahkan pandangannya pada Mega dan Awan secara bergantian. Awan membalas tatapan Amelia dengan tatapan sinis, "kalau apa lagi? Kamu mau apa lagi?" tanya Awan masih dengan nada sinis. "Bagaimana k
"GADIS KAMPUNG!" seru Awan lagi. "Temui Tuan dulu, jangan buat Tuan menjadi marah lagi!" perintah Minah. "Tapi, Mbak ....!" Mega tampak ragu. Minah menganggukkan kepalanya, membuat Mega akhrinya mengalah dan kembali menemui Awan. Mega berjalan cepat, saat telinganya masih menangkap suara sang Tu
Kekhawatira tampak jelas pada wajah gadis desa itu. Tanpa sadar, perlahan Mega memijat lembut bagian tangan Awan yang terasa kram. Hal itu membuat Awan terpana dengan halusnya perlakuan Mega padanya. "Mari, Pak, biar saya kompres dengan air hangat!" tawar Mega. Awan terkesiap, dan tanpa ber






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.