LOGIN"Mega tidak mau, Bi, Mega tidak mau menikah kontrak apa lagi sampai memiliki anak, dan nantinya Mega harus melepaskan anak itu begitu saja?" Selalu dianggap benalu oleh keluarganya, dan dengan penuh keterpaksaan Mega yang harus tinggal dengan yang bukan orang tuanya membuat Mega hidup dalam tekanan setiap harinya. Hingga akhirnya dengan berat hati Mega pun setuju menjadi ibu pengganti bagi pasangan kaya raya, sampai hidupnya berubah dalam satu malam. Mega hanya membutuhkan uang untuk menyelamatkan keluarganya, tidak pernah terpikir bahwa rahimnya akan membawa janin pewaris keluarga kaya raya. Namun di balik kontrak perjanjian yang tebal dan aturan yang ketat, Mega justru terjebak dalam badai perasaan yang tak pernah ia rencanakan. Awan, sang suami dingin perlahan mulai menunjukkan perhatian yang tak semestinya. Sementara istrinya, Amelia, lama kelamaan merasa tak suka melihat suaminya dan ibu pengganti itu berada terlalu dekat. Di dalam rumah megah yang terasa seperti istana, Mega harus menjalani beribu kepahitan, di tengah cinta yang tak boleh dimiliki, dan kebencian yang makin mengakar. Akankah Mega sanggup menuntakan tugasnya?
View More"Mau tidak mau kamu harus pergi sekarang?" usir seorang wanita kepada seorang gadis muda yang sedang terisak di hadapannya.
"tapi, Bi, apa tidak ada cara lain? Mega tidak mau mengambil jalan itu, Bi?" tolak Mega masih dengan suara terisak. Sang Bibi berkacak pinggang, "cara lain, kamu pikir dengan cara apa untuk cepat mengumpulkan uang banyak sedangkan kamu sendiri tau pengobatan ibuku membutuhkan uang yang tidak sedikit," sinis sang Bibi. Pelan tapi pasti wanita bernama Romlah itu berjalan mendekati Mega dan sedikit membungkukkan tubuhnya membuat wajahnya begitu dekat dengan Mega. "Kamu jual diri dengan 100 priapun tidak akan bisa langsung menutup semua biaya. Dan tentunya kamu menginginkan kesembuhan Nenekmu kan? Ingat! dialah orang yang paling berjasa dalam hidupmu?" tegas Romlah yang kemudian bangkit membetulkan posisinya. mega lebih dulu menyeka air mata yang membanjiri wajahnya. Gadis itu menarik nafas dan menghembuskannya perlahan, 'apa tidak apa-apa?' batin Mega, keraguan masih menyelimuti hatinya. "Bagaimana, telalu lama berfikir hanya membuang-buang waktu, ibuku tidak bisa menunggu lagi," omel sang Bibi. Mega kembali menghela nafas lalu bangkit dari duduknya, "baiklah ... demi Nenek, apapun akan Mega lakukan," mantap Mega berucap. Romlah menyunggingkan senyum miring pada bibirnya, kepuasan tampak menyelimuti wajah. Romlah kemudian merogoh tas selempang yang ia sandang di lengannya, ia aduk-aduk isi dompetnya beberapa saat hingga secarik kertas kini sudah berada di genggaman tangannya. Potongan kertas itu kemudian ia berikan pada Mega, "itu alamat orang kaya yang akan menyewa rahimmu, setelah tiba disana segera minta uang imbalan agar Nenekmu bisa segera dioprasi," perintah Romlah. Sejenak Mega tatapi potongan kertas yang masih berada dalam genggaman tangan sang Bibi. "Ambil!" seru Romlah membuat Mega terjingkat kaget. Dengan tangan gemetar Mega mengembil potongan kertas itu dari tangan Romlah. Tak ia baca isi dalam potongan kertas itu, Mega memilih menyimpannya di dalam saku celananya. "Sebelum berangkat, biarkan Mega pamit pada Nenek dulu, Bi," pinta Mega. Romlah bersedekap, ia lalu memberi isyarat agar Mega masuk ke dalam rawat inap sang Nenek. ***** Di Dalam Ruang Rawat Narsih "Mega," panggil Narsih. Mega tersenyum dan segera duduk tepat di samping Narsih. Tanpa terasa air mata kembali luruh membasahi wajah Mega. "Ada apa? kenapa kamu menangis?" tanya sang Nenek. "Nenek seperti ini karene merawat Mega, ini waktunya Mega membalas budi Nenek," ucap Mega. "Maksudmu?" Narsih tampak terheran. "Pengobatan Nenek membutuhkan biaya banyak, Mega ingin bekerja, Nek. Mega sudah dapat pekerjaan," jawab Mega. "Pekerjaan? pekerjaan apa?" tanya Narsih lagi. "Menjadi Art di kota, Nek, dari pada di rumah, upahnya tidak sepadan!" jawab Mega tentu tak memberi jawaban yang sebenarnya. "Di kota? ... Tidak ... kamu tidak boleh ke kota!" larang Narsih. Tentu saja, kehilangan Lastri yang berpamitan hendak pergi ke kota namun tak berkabar sampai sekarang menyisakan rasa trauma tersendiri bagi Narsih. Apa lagi Mega satu-satunya harta berharga yang di tinggalkan oleh Lastri. "Tapi, Nek, kita butuh banyak uang?" sahut Mega. "Tidak, sekali Nenek bilang tidak, ya tidak boleh. kamu harus tetap di rumah, biar Nenek dan Bibi yang mencari uang," tegas Narsih. Mega menggenggam erat tangan Narsih. "Bohong memang kalau kita tidak butuh uang, tapi kalau kepergianmu hanya untuk pengobatan Nenek, itu semua tidak perlu, lagi pula Nenenk ini sudah tua, tidak usah di obati. Mengobati Nenek hanya buang-buang uang, toh lama kelamaan Nenek pasti akan ....!" Narsih tak melanjutkan ucapannya saat ia mendapati sang cucu masih terisak. "Nenek hanya tidak mau merepotkan kamu, Mega!" lanjut Narsih. "Tapi, Nek, Nenek harus sembuh!" Mega mengeratkan genggam tangannya. "Nenek harus sehat, Nenek harus berumur panjang. Di dunia ini Mega hanya punya Nenek, orang yang tulus menyayangi Mega. Kalau nenek tidak ada, bagaimana nasib Mega nanti, Nek!" kali ini tangis Mega semakin terdengar pilu. Tanpa memberi aba-aba, Mega segera memeluk Narsih dengan erat, "Mega janji, Nek, Mega akan berusaha agar Nenek bisa sembuh!" ucap Mega sembari terisak. Narsih melepas pelukan dari cucu perempuan semata wayangnya itu, di sekanya air mata yang telah membasahi wajahnya. "Nenek takut kamu seperti ibumu, pamit pergi tapi tidak pernah kembali, cukup sudah nenek kehilangan ibumu, Nenek tidak mau juga kehilangan kamu, Nak!" air mata Narsih ikut meluruh mendapati kesedihan Mega. Kembali Mega menggenggam erat tangan Narsih, "percayalah, Nek, percaya pada Mega, Mega tidak akan seperti ibu, Mega pasti akan kembali setelah ... setelah pekerjaan Mega selesai dan Mega rasa cukup untuk membiayai pengobatan Nenek!" lanjut Mega. Narsih tatapi wajah ayu sang cucu, ia belai lembut kedua pipi cucu perempuannya itu, hal itu membuat Narsih menangis tersedu. "Nenek jaga diri baik-baik ya! Mega pamit, doakan pekerjaan Mega di kota lancar agar Mega bisa cepat pulang untuk mengurus nenek lagi!" ucap Mega kembali memeluk sang nenek. Suasana di kamar rawat Narsih kala itu tiba-tiba berubah sendu, ada ketidak relaan dalam hati pasangan cucu dan nenek itu untuk saling berpisah. ****** Tanpa membawa apapun Mega melangkah keluar dari rumah sakit. Dengan perasaan kalut Mega melangkahkan kakinya menuju terminal Bus antar kota yang letaknya tidak begitu jauh dari Rumah Sakit tempat sang Nenek di rawat. Suasana Terminal sore itu begitu ramai, Mega yang belum pernah berpergian jauh masih merasa bingung harus memilih Bus mana yang bisa membawanya ke alamat tujuan. "Mbak?" sapa seseorang membuat Mega terkejut dan segera menoleh. "Mbak mau kemana?" tanya si lelaki yang menyadari kebingungan gadis dihadapannya. Mega lebih dulu merogoh potongan kertas yang ada di dalam saku celananya, lalu memberikan potongan kertas itu pada lelaki di hadapannya. "Kalau mau ke alamat itu, saya harus naik Bus apa ya, Pak?" tanya Mega ragu. Si lelaki dengan saksama membaca isi dari potongan kertas yang baru saja diberikan oleh Mega. "Emm, setau saya ini alamat perumahan elit, Mbak? Mbak yakin mau kesana?" tanya si lelaki meastikan. Mega mengangguk, "iya, Pak, Emm ... saya akan menjadi ART disana," jelas Mega. Si lelaki mengangguk-anggukkan kepalanya, "begini saja, Mbak, kalau naik Bus, Mbak, pasti repot, biar saya carikan trevel saja, walau bayarnya sedikit mahal tapi pasti diantar sampai tempat tujuan," jelas si Lelaki, beruntungnya Mega bertanya dengan orang yang tepat. ****** Di mobil Mega yang merasa lelah selama perjalanan, memilih menyandarkan tubuhnya pada sandaran kursi di belakangnya. Hingga tanpa ia sadari, perlahan matanya pun terpejam dan tertidur lelap. Sampai beberapa jam kemudian, mobil yang membawa Mega pun akhirnya tiba di rumah Angkasa. Mobil itu berhenti tepat di depan gerbang sesuai alamat yang ada pada sebekan kertas milik Mega. "Mbak ... Mbak ! bangun, Mbak, kita sudah sampai!" ucap sang sopir trevel membangunkan Mega. sejenak Mega mengerjapkan kedua matanya dan segera menegakkan posisi duduknya, mata Mega masih tampak memerah, sepertinya Mega masih belum puas dalam tidurnya. "Maaf ya, tapi kita sudah sampai sesuai alamat yang Mbak berikan tadi," ucap sang supir. Mega mengangguk dan segera turun dari mobil. Kedatangan Mega segera disambut oleh satpam yang menjaga rumah, "maaf ada yang bisa saya bantu?" tanya satpam. Mega sejenak kebingungan, "Emm, saya ... saya dari kampung," jawab Mega dengan nada kebingungan. "Maaf, Mbak, tapi saya tidak bisa sembarangan menerima tamu," jelas sang satpam. "Emmm, Bapak bisa panggilkan Bos, Bapak, bilang saja ada tamu dari kampung," perintah Mega sekenanya. Melihat jika gadis dihadapannya tak menunjukkan gelagat aneh, sang satpam pun memberikan ijin masuk kedalam halaman rumah. "Tunggu sebentar biar saya panggilkan Nyonya," ucap sang satpam. Sementara Mega menunggu di halaman, Mega dibuat terheran saat melihat rumah di hadapannya yang begitu besar, bahkan nyaris seperti istana. "Rumahnya besar sekali!" gumam Mega. Tidak lama berselang, "Mbak, silahkan masuk, Bu Amelia dan Pak Awan sudah menunggu di dalam," ucap satpam yang baru saja datang. Mega mengangguk, namun ia segera teringat, "aku baru bangun tidur, belum cuci muka!" guman Mega. Mega kemudian mengarahkan pandangannya ke sekeliling halaman rumah, dan sorot mata itu terhenti tepat pada sungai kecil yang mengalir di depan teras yang di lengkapi dengan air mancur di beberapa bagian. Sungai buatan itu nampak begitu asli di mata Mega. Tanpa bertanya lebih dulu, Mega segera melangkah menuju sungai kecil itu, sesaat Mega di buat takjub melihat banyaknya ikan yang sedang berenang kesana kemari di dalam aliran sungainya. Setelah puas menatap ikan, Mega segera teringat dengan niat awalnya. Mega kemudian bersiap mengeruk air yang mengalir di dalam sungai dengan kedua tangannya lalu mengangkat kedua tangan yang sudah penuh dengan air untuk ia sapukan pada wajahnya. "Hentikan!" cegah sebuah suara yang seketika membuat Mega membuang semua air yang sempat ia tampung pada kedua tangannya. Segera Mega menoleh pada sumber suara, hingga nampaklah sesosok lelaki berwajah tampan namun nampak garang degan perawakan tinggi sedang menuju ke arahnya. Merasa ketakutan, Mega segera bangkit menjauh dari pinggiran sungai, "maaf, Pak, maaf, saya tidak mengganggu ikan, Bapak, saya hanya ingin meminta air sedikit untuk mencuci muka!" jelas Mega sembari menundukkan kepalanya. "Siapa kamu?" tanya lelaki galak itu pada Mega yang masih menunduk ketakutan. Mega masih diam, ia begitu tercekam ketakutan saat berhadapan dengan Lelaki yang tidak lain adalah si tuan rumah. "Tegakkan pandanganmu dan lihat aku!" tegas Awan. Walau ragu, perlahan Mega mengangkat pandangannya, dan mengarahkan tatapannya itu pada Awan. Awan membalas tatapan dari Mega, 'siapa dia? Wajahnya familiar sekali?' batin Awan bertanya dalam hati. "Jawab pertanyaanku! Siapa kamu, kenapa kamu ada di rumahku?" ulang Awan. "Sa ... saya ... saya!" Mega masih gugup. "Jawab!" sentak Awan tak sabar. BERSAMBUNG ....Awan menerima gelas pemberian Amelia lalu duduk di sofa, ia tatapi sejenak hidangan yang tersaji di meja yang ada di depannya, "kalau seperti ini, kenapa tidak makan di bawah saja?" tanya Awan."Aku kan tadi sudah bilang, Wan, aku ingin makan berdua ... kalau di bawah kamu pasti mengajak Mega juga kan!" Amellia memasang wajah cemberut, "tadi kan aku sudah bilang ... aku ingin dekat dengan kamu, kita harus mencoba saling membuka hati kan, Wan. Kamu membuka hati untuk Mega saja bisa masa untuk aku tidak," lanjut Amelia.Awan hanya diam namun tatapan tajamnya terus ia arahkan pada Amelia. Awan lalu menghela nafas, "terserah kamu saja," sahutnya singkat.Amelia tersenyum tipis, "bisa tolong ambilkan aku makanan,Wan, aku sudah lapar!" pinta Amelia dan Awan pun bangkit dari duduknya untuk kemudian mengambilkan makanan untuk Amelia dan juga untuk dirinya sendiri.Setelah memberikan piring berisi makanan itu pada Amelia, Awan pun memilih untuk kemba;li duduk di sofanya semula.Namun tak sepe
Amelia mengepal geram, "sialan ... dia menolak aku, bahkan bersikap begitu sinis padaku ... tapi dengan perempuan desa itu dia bisa bersikap begitu manis," geram Amelia.Amelia terus mengarahkan tatapannya pada Mega dan Awan yang masih berbincang di pinggir kolam, "aku tidak bisa tinggal diam ... kalau begini terus lama-lama Awan bisa jatuh cinta pada perempuan kampung itu," grutu Amelia.Sementara di tepi kolam, Awan mengulurkan tangannya pada Mega, "ayo ... aku sudah lapar!" tagih Awan.Tanpa ragu Mega meraih tangan Awan dan keduanya pun berjalan bergandengan untuk kembali masuk ke dalam rumah.Dari jendela kamar Awan, Amelia masih begitu betah mengawasi, tanpa Amelia sadari kedekatan Awan dan Mega berhasil membuat hati Amelia memanas. Bahkan beberapa sumpah serapah beberapa kali terdengar keluar dari mulut Amelia. Melihat Mega dan Awan kembali, Amelia pun bergegas keluar dari kamar Awan untuk menyusul Mega dan Awan.Dari tempat Amelia berdiri, ia bisa melihat Awan yang baru saja
Dada Amelia kembang kempis menahan amarah di dalam dadanya. Amelia melirik tajam Mega dengan ekor matanya, "aku mau kita bicara berdua, bisa tidak suruh dia pergi!" pinta Amelia dengan nada sinis. Awan menatap ragu, namun beruntungnya Mega selalu paham akan posisinya, Mega mengangguk lalu mengalah untuk membiarkan Awan berbincang dengan Amelia. "Dia sudah pergi, jadi cepat katakan apa yang mau kamu bicarakan?" tanya Awan. Amelia yang tadi tengah menatap kepergian Mega pun menoleh pada Awan, Amelia menyipitkan matanya, "kenapa aku rasa kamu sinis sekarang, atau jangan-jangan perempuan kampung itu sudah berhasil mencuci otakmu agar membenci aku!" tuduh Amelai. "Kamu ini bicara apa, Mega bukan orang seperti itu," sahut Awan. "Oh ya ...!" Amelia memasang wajah masam. "Bisa kita bicara di dalam, Mega saja boleh keluar masuk ke dalam kamarmu seenaknya, masa aku tidak boleh,'' lanjut Amelia. Awan menatap Amelia dengan tatapan melas, lalu ia memberi isyarat agar Amelia segera m
Awan mengangkat kedua bahunya, "aku tidak tau," jawab Awan singkat. Dahi Mega berkerut, "memang Pak Awan tidak bertanya?" "Untuk apa?" sahut Awan dengan nada malas. “Memang Pak Awan tidak mau tau Bu Amelia pergi kemana?” sahut Mega. "Biar saja, asal dia tidak banyak tingkah aku tidak mau terlalu mengikuti urusannya," jawab Awan. ** Saat detik berganti menjadi menit, menit bergerak menjadi jam, jam berputar menjadi hari dan hari pun berganti menjadi minggu. Dan selama bebrapa hari tanpa kehadiran Amellia, tanpa Mega dan Awan sadari jika hubungan mereka terjalin semakin dekat dan semakin hangat. Setelah kedekatannya dengan Awan membuat keadaan kehamilannya tak lagi merepotkan, Mega tak lagi meraskan mual hebat seperti sebelumnya. Pagi itu, Mega terbangun lebih dulu dari Awan, dan seperti biasanya ia akan melakukan persiapan kebutuhan Awan. Namun baru saja akan beranjank dari tempat tidurnya Mela merasakan sebuah tangan menggenggam pergelangan tangan. Hal itu tentu saja m
Amelia terkesiap, sejenak ia arahkan perhatiannya pada Awan "ada apa lagi? Kau meminta aku memulangkan dia lagi?" tebak Amelia sedikit sewot. Awan lebih dulu mengedarkan pandangannya kesegala arah, "masuk! Tidak enak membahas disini!" ajak Awan, lelaki itu berjalan lebih dulu sementara Amelia men
Sesorang menyodorkan botol minuman pada Mega, "minum ini!", suara itu membuat Mega menoleh. "Pak Tomi!" ucapnya. Tomi lebih dulu mengangguk, "aku melihat saat kamu hampir tersrempet mobil tadi!" lanjutnya. "Minumlah, agar kamu lebih tenang!" lagi Tomi menyodorkan botol minum yang di genggamnya p
"Iya ... makanya cepat keluar, jangan buat mereka menunggu terlalu lama!" sahut Minah sedikit berseru. Mega lebih dulu menoleh pada jam dinding yang bertengger di atas dinding kamarnya. "Hah ... sudah setengah 8!" Mega terhenyak. Mega lalu turun dari ranjang, barulah kemudian berjalan cepat mer
"Mumpung kita sudah dirumah sakit bagaimana kalau ....!" Amelia menghentikan ucapannya, lebih dulu ia arahkan pandangannya pada Mega dan Awan secara bergantian. Awan membalas tatapan Amelia dengan tatapan sinis, "kalau apa lagi? Kamu mau apa lagi?" tanya Awan masih dengan nada sinis. "Bagaimana k






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.