Mag-log in"Mega tidak mau, Bi, Mega tidak mau menikah kontrak apa lagi sampai memiliki anak, dan nantinya Mega harus melepaskan anak itu begitu saja?" Selalu dianggap benalu oleh keluarganya, dan dengan penuh keterpaksaan Mega yang harus tinggal dengan yang bukan orang tuanya membuat Mega hidup dalam tekanan setiap harinya. Hingga akhirnya dengan berat hati Mega pun setuju menjadi ibu pengganti bagi pasangan kaya raya, sampai hidupnya berubah dalam satu malam. Mega hanya membutuhkan uang untuk menyelamatkan keluarganya, tidak pernah terpikir bahwa rahimnya akan membawa janin pewaris keluarga kaya raya. Namun di balik kontrak perjanjian yang tebal dan aturan yang ketat, Mega justru terjebak dalam badai perasaan yang tak pernah ia rencanakan. Awan, sang suami dingin perlahan mulai menunjukkan perhatian yang tak semestinya. Sementara istrinya, Amelia, lama kelamaan merasa tak suka melihat suaminya dan ibu pengganti itu berada terlalu dekat. Di dalam rumah megah yang terasa seperti istana, Mega harus menjalani beribu kepahitan, di tengah cinta yang tak boleh dimiliki, dan kebencian yang makin mengakar. Akankah Mega sanggup menuntakan tugasnya?
view more"Kamu ini bagaimana, Wan! aku kan sudah bilang kamu harus memastikan kalau dia meminum obat itu," kesal Amelia dengan raut wajah penuh amarah. "Jangan marahi Pak Awan, saya yang salah, saya yang lupa," ucap Mega. Awan seketika terhenyak, perasaan haru mencuat dari dalam dadanya setelah mendepat pembelaan dari Mega. Amelia menatap Awan dan Mega secara bergantian, nafasnya kembang kempis menahan kekesalan namun segera ia berusaha meredam amarahnya agar Awan tak merasa curiga. "Sekarang ambil dan segera minum obat itu. Memangnya kamu mau seperti ini terus," ucap Amelia dengan nada mengomel. Mega mengangguk, baru saja akan melangkah namun Awan segera mencegahnya, "biar aku saja yang ambil," Mega menoleh pada Awan lalu perlahan ia gelengkan kepalanya, "tidak apa-apa, biar saya ambil sendiri," tolak Mega. Mega pun melanjutkan langkahnya, dan langkah itu ia bawa menuju paviliun. Setelah tiba di kamarnya, sejenak Mega terduduk di pinggiran ranjang. Ia edarkan pandanggannya men
Mega dan Amelia saling beradu pandang, hingga tanpa keduanya sadari Awan telah bangkit dari duduknya dan telah mendekati mereka.Yang lebih membuat Amelia dan Mega terkejut adalah saat tiba-tiba saja Awan mengulurkan tangannya pada Amelia, "mari kita duduk, aku sudah menunggumu sejak tadi," ucap Awan, nada suaranya terdengar begitu lembut.Awan menuntun tangan Amelia sampai kembali ke tempat duduknya semula sementara Mega masih mematung terdiam menatap perlakuan manis Awan pada Amelia."Loh, Mega ... cepat duduk ayo kita makan malam sama-sama," ajak Amelia yang seketika membuat Mega terhenyak."I ... iya, Bu," jawab Mega tergagap yang kemudian berjalan menuju meja makan, Mega mengambil posisi duduk berhadapan dengan Awan."Sudah lengkap, ayo kita makan aku sudah lapar," ucap Awan.Awan lalu bengkit berdiri, Awan tampak begitu pengertian dengan lembut Awan mengambil piring milik Amelia. Awan menyendokkan nasi lengkap dengan lauk pauk dan kemudian ia letakkan kembali tepat di hadapan Ame
Baru saja Awan bangkit, namun Mega segera menangkap tangan Awan membuat Awan lebih dulu menoleh padanya. "Itu obat apa?" tanya Mega. Awan kembali duduk, "itu obat penguat kandungan," jelas Awan. Mega terhenyak sesaat, lalu menatap Awan dengan lekat. "Kenapa?" Awan membalas tatapan Mega. "Walau kamu masih ragu tapi aku yakin di dalam perutmu sudah ada anakku, jadi kamu harus meminum obat agar dia bertumbuh sehat disini," Awan kembali memeluk pinggang Mega lalu mengelus perut Mega yang masih rata itu. Wajah Mega seketika tampak murung, ada di dilema dalam hatinya, satu sisi ia merasa bahagia atas kabar kehadiran buah hatinya, namun disisi lain ia juga merasa sedih karena anak yang di kandungnua kelak tidak akan menjadi miliknya. "Bu Amelia sudah pulang, lebih baik Pak Awan kembali kerumah utama saja," pinta Mega. Seketika itu juga Awan melepaskan pelukannya pada tubuh Mega, "justru Amelia yang menyuruhku kesini, dia menyuruh aku menemani kamu," jawab Awan. Jawaban Awan
Amelia membulatkan kedua bola matanya, "lalu?" Amelia tampak penasaran. "Sudahlah, kamu tidak perlu tau. Nanti aku beri obatnya. Dan tugasmu memberikan obat itu pada madumu itu," perintah Aditya. "Tapi reaksi obat itu bagaimana? kalau langsung berreaksi pasti Awan akan curiga dan dia pasti menyadari kalau itu ulah kita?" Aditya menyentil lembut kening Amelia, "jangan khawatir, asal madumu itu rajin meminum obat, maka janin di dalam perutnya tidak akan berkembang," bisik Aditya. Wajah Amelia seketika sumringah, "kamu memang pintar," puji Amelia memeluk erat tubuh kekasih gelapnya itu. ****** Di Rumah Awan Awan berjalan melewati depan mobilnya, ia buka pintu mobil lalu membantu Mega turun dari mobil miliknya itu. "Pelan-pelan," ucap Awan. Mega menerima uluran tangan Awan, dan segera keluar. "Ayo kita masuk!" ajak Awan, namun seketika Mega menepis tangan Awan dari lengannya. "Biar saya pulang ke paviliun saja. Sesuai kesepakatan yang Bapak bilang pada Bu Amelia kala
Tok Tok Tok Suara ketukan pada pintu utama sontak saja membuat Mega dan Awan sama-sama terkejut. Awan yang baru saja berhasil mendaratkan bibirnya pada bibir Mega pun segera melepas dan sedikit menjauh. Debaran nafsu yang sudah menguasai dada keduanya terpaksa tertunda karena datangnya tamu ya
Mega mengangguk, ada binar harapan pada mata Mega kala itu, "apa, Mbak Minah bisa membantu?" tanya Mega. "Mbak punya anak sepertinya usianya tidak jauh dari kamu, dia bekerja di sebuah restouran, nanti biar Mbak suruh dia kesini kalian bicara sendiri ya!" jawab Minah. "Tapi janji, kalau Tuan ma
"Kau cemburu?" cletuk Awan. "Uhukkk!" Ucapan Awan membuat Amelia terkejut hingga tersedak. Buru-buru Awan meraih segelas air putih lalu memberikanya pada Amelia , "minum ini dan makanlah yang benar!" Amelia menerima gelas berisi air putih itu dan segera menenggaknya. "Kenapa sampai seperti it
Amelia terkesiap, sejenak ia arahkan perhatiannya pada Awan "ada apa lagi? Kau meminta aku memulangkan dia lagi?" tebak Amelia sedikit sewot. Awan lebih dulu mengedarkan pandangannya kesegala arah, "masuk! Tidak enak membahas disini!" ajak Awan, lelaki itu berjalan lebih dulu sementara Amelia men












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.