MasukSatu malam mabuk di bar mengubah hidup Valerie selamanya. Pria asing yang menghabiskan malam bersamanya ternyata adalah Diego Oliver Stanford—bos barunya di kantor. Valerie berusaha menjauh, tetapi Diego justru semakin terobsesi. Hubungan terlarang itu terus menyeret mereka ke dalam skandal, rahasia, dan bahaya, terlebih saat status Diego sebagai pria beristri tak lagi bisa disembunyikan. Ketika cinta, obsesi, dan kekuasaan saling berbenturan, Valerie harus memilih: bertahan dalam jerat Diego atau pergi sebelum segalanya menghancurkannya.
Lihat lebih banyak“Kamu yakin?”
Seorang pria asing menarik pinggang Valerie erat. Pria itu melihat tajam penuh perhitungan.
Valerie mengangguk, matanya gelap dan basah. “Ya.” Wanita berkacamata itu pasrah dengan apa yang terjadi.
Langkah mereka terhuyung kecil menuju kamar hotel, masih dengan bibir yang sesekali bertemu. Pintu menutup dengan bunyi lembut di belakang mereka. Cahaya kamar yang redup membuat semuanya terasa lebih dekat dan intim.
“Bertahanlah, ini tidak akan lama,” bisiknya lembut.
Lelaki itu membopong Valerie ke tempat tidur. Ujung jarinya mengayun lembut menyisir tubuh Valerie yang memanas. Tatapannya mulai liar tak terkendali, begitu pula dengan desahan napasnya yang membuat Valerie mengerang pelan, menarik leher pria tersebut lebih dekat dan begitu dekat tanpa batas.
Malam habis tanpa hitungan waktu. Dua orang asing yang saling menemukan menukar hasrat yang tertahan. Tiap sentuhan pria itu tak terburu-buru, menyisakan Valerie yang tersenggal dalam balutan gairah yang membara.
Kepala Valerie berdenyut kencang saat terbangun. Melihat lantai yang berantakan membuatnya menggigit bibir.
Pria asing tertidur di sisi kirinya—tenang, telanjang dari pinggang ke atas, napasnya stabil. Valerie menatapnya lama, menelan ludah, mencoba mengingat potongan malam.
Valerie mengerjap, menutup wajah dengan telapak tangan. “Astaga…”
Valerie mengenakan blusnya kembali, sebelum membuat pria itu terbangun. Sebelum pergi, Valerie membungkuk, mengecup pipinya lembut.
“Selamat tinggal, Tuan…” bisik Valerie. “Semoga… kita tidak akan bertemu lagi.”
Ia meraih tasnya, membuka pintu kamar dengan hati-hati, dan keluar tanpa menoleh. Dengan perasaan aneh, setengah malu, setengah lega, setengah hancur, Valerie menghilang dari lorong hotel, meninggalkan pria itu dan malam yang seharusnya tidak pernah terjadi.
***
Lalu lintas LaSalle street Chicago di pagi hari begitu padat. Semua kendaraan berjejer rapi tanpa pergerakan. Ponsel Valerie terus bergetar di dalam tas.
Pesan beruntun dari kepala bagian divisi menanyakan keberadaannya. Hari ini CEO barunya pertama masuk kantor dan Lila, sudah memberi peringatan Valerie agar tidak membuat masalah.
“Kalau masih seperti ini, saya bisa terlambat sampai kantor.” Valerie panik.
Valerie terjebak kemacetan dan harus berjalan kaki sepanjang satu kilo meter untuk sampai kantor tepat waktu. Napasnya terengah-engah begitu sampai.
Gedung tinggi yang menjulang di depannya terlihat nyata. Valerie bergegas masuk dan segera naik. Ruang eksekutif terlihat sepi, tidak ada staf yang berjejer rapi.
Lila berdiri sambil melipat tangan. Pandangannya menyipit menangkap Valerie yang baru saja datang.
“Valerie, kamu terlambat!” bisik rekan sekantornya, Lila, dengan wajah pucat.
“Apa terjadi sesuatu?” tanya Valerie aneh.
Suasana kantor memang terasa berbeda. Memasuki ruang lantai eksekutif terasa menyeramkan. Aktivitas staf yang biasa padat tiba-tiba terasa sunyi.
“Pewaris tunggal Stanford Corporation sudah datang sejak tadi.”
Valerie menelan ludah. “Bos baru?”
“Ya! Bos baru, Diego Oliver Stanford dan sekarang kamu harus menemuinya.”
“Sekarang?! Apa harus sekarang?” Napas Valerie masih sangat kacau.
Tubuhnya basah kuyup karena harus berjalan jauh. Tidak mungkin ia menemui bos barunya dalam keadaan seperti itu.
“Dia marah saat melihat meja sekretarisnya kosong, jika kamu masih ingin bekerja di sini, masuklah segera!” Lila menarik tubuh Valerie berbalik mendorongnya segera masuk.
Wanita berkacamata itu menarik napas panjang sambil menyentuh dadanya . “Baiklah, Valerie. Kamu cukup tenang seperti biasa.”
Ketika sampai di depan ruangan besar dengan pintu kaca tebal, ia melihat bayangan seorang pria berdiri membelakanginya—tinggi, tegap, bahu lebar, mengenakan kemeja hitam yang rapi tanpa lipatan. Aura otoritasnya terasa dari balik pintu.
Valerie mengetuk. “Saya sekretaris anda. Apa saya bisa masuk?”
“Masuklah.” Suaranya rendah, dingin.
Valerie membuka pintu. Pria itu tidak menoleh. Kedua tangannya berada di saku celana, tubuhnya menghadap jendela besar yang menampilkan langit kota.
“Maafkan saya, Tuan… saya terlambat.” Suara Valerie nyaris tenggelam oleh detak jantungnya sendiri.
“Tidak perlu menjelaskan.” Suaranya datar, menusuk. “Sekretaris yang datang sesuka hati tidak akan bertahan lama di perusahaan saya.”
“Maaf, hal ini tidak akan terulang, Tuan Stanford,” jawab Valerie dengan suara pelan.
Pria itu menghela napas tipis, lalu berbalik.
Dan dunia Valerie berhenti.
Pria itu… rahang tegas dengan alis tajam. Sorot mata gelap yang ia lihat dari jarak sangat dekat serta bibir yang tampak familiar itu sempat meninggalkan jejak di bibirnya.
Valerie terdiam keras, napasnya tercekat. Diego menatapnya tanpa kata, mencoba memeriksa wajahnya seperti menghubungkan potongan puzzle.
“Apa kita pernah bertemu sebelumnya?” tanya Diego berpikir.
Valerie langsung menggeleng cepat. Wajahnya gugup, ujung tangannya gemetar melihat bos barunya.
Lelaki itu mendekat, masih dengan tatapan tajam. Melihat wajah Valerie yang gugup.
“Saya harap anda bisa lebih tepat waktu, Nona.”
“Ba–ik, Tuan.”
Diego memberi kode agar Valerie segera pergi. Wanita itu langsung menghela napas lega, tapi—
“Tunggu!” Suara Diego kembali menahannya.
Diego berjalan memutar. Mengelilingi Valerie, melihat penampilan sekretarisnya yang tidak modis dengan blus cream beserta rok pensilnya. Penampilan yang sangat menempel di ingatannya.
Diego mendekat, satu tangan terangkat menyentuh dagu Valerie, “Anda terlihat sangat tidak asing, saya yakin itu.”
Valerie menelan ludah, tatapan Diego membuatnya tidak mampu bergerak.
“Anda salah orang. Kita tidak pernah bertemu.”
Diego mengerutkan dahi. Kembali memindai Valerie dengan cepat. Bibir itu, sorot mata itu, mengingatkannya pada sesuatu.
“Nona Horny. Apakah itu kamu?” Diego langsung menyambung kepingan malam panasnya bersama wanita asing beberapa hari lalu.
“Nona Horny?” Valerie tertegun. “Saya Valerie. Sepertinya anda salah orang.”
“Tidak! Saya tidak salah orang. Itu memang kamu. Saya ingat bagaimana caramu berpakaian dan kaca mata itu…”
Valerie terkejut, ia mundur beberapa langkah. Ia tidak menyangka pria yang bercinta dengannya waktu itu adalah bos barunya.
Diego sudah terlalu dekat. Lelaki itu bahkan tersenyum tipis melihat ketakutan Valerie. Menemukan kebenaran yang baru saja ia temukan.
“Nona Horny, saya mencarimu selama ini dan ternyata kita bertemu di sini.” Diego tersenyum miring.
“Saya Valerie, anda bisa memanggil saya Valerie.”
“Sepertinya saya lebih suka memanggilmu, Nona Horny. Panggilan itu lebih tepat untuk wanita sepertimu yang bergairah besar dan meminta pria asing bercinta karena tidak tahan.” Diego tertawa lebar.
“Saya bukan wanita seperti itu. Malam itu hanya sebuah kesalahan.”
“Mm?” Diego mendekat lagi, kali ini lebih dekat, menundukkan wajah hingga jarak mereka hanya beberapa sentimeter. “Malam itu kamu terlihat sangat… bergairah. Apa itu kesalahan?” Kalimatnya tajam, tetapi diucapkan perlahan, membuat tubuh Valerie panas hingga ke telinga.
Valerie terdiam, tidak tahu harus marah atau kabur. Ia terlalu malu mengingat apa yang terjadi malam itu.
Diego kemudian berkata, “Tapi tenang saja.” Ia menegakkan tubuhnya, terlihat formal dan profesional. “Dalam jam kerja, kamu sekretarisku. Dan saya adalah bosmu.”
Valerie hampir lega mendengarnya, tetapi ketika mendadak Diego kembali mendekat, lebih cepat, lebih intens, jantungnya berdebar kencang. Bosnya meraih pinggiran meja di sisi Valerie, memerangkapnya di antara tubuh dan meja.
“Nona Horny…” suaranya kali ini lebih pelan, sensual, “kalau kamu tidak mau saya memanggilmu seperti itu… kamu harus berhenti menatapku seperti tadi.”
Valerie mengerjap. “Seperti apa?”
“Seperti kamu ingin melanjutkan malam itu.”
“Di mana kamu, Valerie?” Diego meremas cup coffee kosong di tangan. Ia singgah di sebuah cafe saat perjalanan pulang. Seluruh penjuru Cleveland sudah ia telusuri. Namun, ia sama sekali tidak menemukan jejak Valerie. Rumah orang tuanya yang berada di oakridge street terlihat senyap. Semua tetangga menutup rapat mulutnya.Fokus Diego terpecah saat perjalanan pulang hingga membuatnya salah ambil jalur selatan melewati Indiana polis dan perjalanannya harus menempuh waktu lebih lama untuk sampai Chicago."Saya tidak akan melepaskanmu lagi jika menemukanmu. Saya akan kembali merebutmu dari si brengsek itu!"Pandangan Diego beralih melihat ponselnya dan langsung menelpon Evan. Ia tidak bisa menunggu lama jika semua itu tentang Valerie. Ia memerintahkan asistennya untuk mengawasi Thomas dan ia tidak sabar ingin mengetahuinya.“Bagaimana? Kamu sudah dapat informasi?” tanya Diego tajam. Wajahnya mengeras menunggu jawaban asistennya. ujung sepatunya mengetuk aspal menunjukkan kecemasan.“Thoma
Diego memekik kesal di dalam apartemennya. Ia diusir dari rumah sakit dan tidak bisa masuk lagi. Semua ini karena pengaruh Thomas. Fotonya terpampang jelas di depan pintu utama rumah sakit. Seolah dirinya adalah penjahat.Semua keluarga Valerie percaya pada omongan Thomas tentang Diego. Bahkan scandal tentang pelecehannya pada Valerie muncul dan membuat kedua orang tua Valerie tidak menyukainya. “Thomas, sialan! Saya harus buat perhitungan dengannya.” Diego memukul meja makan di dapur. Gelas kristal di atasnya bergetar, jatuh dan pecah, memecah keheningan pikiran Diego yang kusut. Sementara pecahan kacanya dibiarkan berserakan di lantai dapur.“Valerie… kenapa harus bajingan itu?”Diego meremas rambutnya, berjalan mondar-mandir seperti singa terkurung.“Dia memanfaatkan amnesia Valerie,” ujar Diego kesal. Kini kedua tangannya mengepal, matanya menyipit mengingat bagaimana ekspresi Thomas mengejeknya. “Tidak! Saya tidak akan membiarkannya menang!”Benda tipis milik Diego di meja berg
Nama Valerie tertera di papan kecil di samping pintu, bibir Diego tersenyum tipis melihatnya. Reflek, tangannya mendorong pintu saat keadaan sudah aman. Valerie duduk setengah bersandar di ranjang. Rambutnya tergerai, wajahnya terlihat pucat. Ia sedang menatap jendela, tubuhnya menegang saat melihat Diego datang. “Kamu? Apa yang kamu lakukan di sini,” ucap Valerie pelan. “Saya sudah katakan, jangan menggangguku.”Diego menutup pintu tanpa menjawab. Ia melangkah masuk, tatapannya menelusuri wajah Valerie, seolah mencari sesuatu yang seharusnya ada di sana— rasa rindu, kenangan, cinta dan semua ingatan tentangnya.“Kita perlu bicara,” kata Diego pelan. “Sekarang.”Valerie menggeleng cepat. Tangannya mencengkeram selimut. “Tidak. Tolong keluar. Saya tidak ingin bicara denganmu. Kamu tidak bisa memaksaku bajingan!”Diego terkejut mendengar umpatan Valeri. Ia berhenti dan duduk di sisi ranjang. Aroma antiseptik bercampur dengan wangi Vanila yang dulu begitu membuatnya mabuk dan terikat.
Diego mengemudi dengan kecepatan tinggi. Ring road utara Chicago terbentang dingin, mobil putihnya melaju tanpa hambatan. Rahangnya mengeras, pandangannya tidak lepas sedetikpun dari jalan. Ia mengambil ponsel dengan tangan kiri, menekan nama Zayn untuk mencari informasi. “Zayn, kamu sudah dapat infonya?” tanya Diego tanpa basa-basi. “Saya sedang menuju Ohio?”Di ujung sana, Zayn menghela napas pendek. “Saya sudah mencobanya, pihak rumah sakit tidak mau memberikan informasi apapun. Bahkan saya sudah mengakses semua kontak dokter dan rumah sakit di Cleveland. Mereka tidak bisa memberikan info apapun.”Diego mencengkeram setir lebih kuat. “Kenapa mereka menyembunyikan Valerie?”“Pihak keluarganya menutup rapat semua tentang Valerie. Mereka minta menjaga privasi dan pihak rumah sakit tidak bisa memberikannya, bahkan pada dokter sekalipun.”“Shit! Apa maunya?!” Diego berteriak. Emosinya memuncak hingga darahnya mendidih. Ia menekan pedal gas, menambah kecepatan laju mobil. “Diego! Ten
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Ulasan-ulasan