로그인Rumus hidup Olla itu simpel: serang dulu, nyesel kemudian. Berawal dari dendam salah alamat, berakhir di pelaminan yang salah kontrak! Olla, sang mantan jurnalis amatir, harus rela jadi "tameng hidup" bagi Aidan Halim, politikus ganteng tapi mulutnya super pedes. Tugasnya cuma satu: pura-pura jadi istri bahagia supaya kekasih asli Aidan aman dari sorotan. Namun, menjadi istri kontrak ternyata nggak segampang yang Olla kira. Antara drama penculikan yang nggak ada di naskah, dan rahasia yang hampir bocor ke media. Olla mulai bertanya-tanya: ini dia lagi main drama Korea atau masuk ke lubang buaya, sih?
더 보기Olla menyeduh kopi di pantry kantor surat kabar Berita Pertama, dimana ayah juga bekerja disini sebagai jurnalis veteran. Dia baru selesai sidang skripsi dan belum tahu mau kerja apa. Mencoba magang disini untuk mencari pengalaman. Ya sukur-sukur langsung diterima kerja 'kan?
"La, ayah mana? Ada berita yang masih nyangkut nih, belum bisa di publis." rekan kerja ayah mengikuti Olla yang membawa gelas kopi ke ruangan. "Bentar, aku tanya ayah dulu, mungkin masih di jalan." Olla duduk di kursi milik ayah. Sambil menelpon, tangannya mengambil figura yang menunjukkan potret dirinya, ayah dan ibu yang saling berpelukan di pantai. Beberapa saat gak ada jawaban, Olla mencoba menelpon ulang. "Di angkat, La?" "Belum, tante, bentar ya." Rekan kerja ayah yang lain, menaruh box makan siang di meja, "Ayahmu gak bisa angkat telpon, La." Dahi Olla mengerut, "Loh, kenapa, om? Emang ayah lagi ngapain?" Teman ayah melirik semua orang yang ada di ruangan. "Ayah ada kerjaan meliput, ya? Tumben gak bilang ke aku." Olla membuka aplikasi chat untuk protes pada ayah. "Hmmm," lelaki itu mengusap bahu Olla pelan, "Ayah sama ibu lagi di persidangan. Hari ini putusan cerai mereka dibacakan." Bagai tersambar petir di siang bolong, tubuh Olla membeku. Jangan lupakan ekspresi wajah amat terkejut dan mulut melongonya. Gelas transparan yang dia gunakan untuk membuat kopi—retak, seolah mewakili hidupnya yang hancur. "La, perceraian itu gak selamanya buruk. Semua udah jadi keputusan terbaik mereka. Yang sabar, ya." Olla berdiri dengan mata berembun, "Kenapa mereka pisah, om?" "Loh, bukannya mereka sering cekcok di rumah?" "Karena itu?" Olla tertawa, "Om bercanda 'kan? mereka pasti—ibu lagi bikin konten prank buat naikin viewer?" Suasana jadi gak nyaman. Rekan kerja ayah tahu, kalau Febiolla Ravasya adalah anak yang manja dan bergantung pada orang tua. Dia sering membanggakan diri memiliki keluarga cemara. Gak jarang hal itu membuatnya menjadikan konten di sosial media. "La, kamu tetep jadi anak mereka. Gak akan ada yang berubah dengan kasih sayang ayah dan ibu buat kamu." Gak ada jawaban. Olla meraih jaket dan pergi meninggalkan ruangan divisi elektronik. Tangisnya pecah saat menuruni anak tangga. Dia masih gak terima dengan kabar dadakan mengenai perceraian ayah dan ibu. Olla pikir selama ini hubungan mereka baik saja seperti yang sudah-sudah. Dia kecewa menjadi orang terakhir yang tahu, sehingga gak bisa mencegah perpisahan itu. Di lobi kantor, telinga Olla yang peka, mendengar dengan jelas suara pewarta di televisi tengah membicarakan sesuatu yang membuatnya ingin minggat dari kantor saat itu juga. "Jurnalis veteran, Dirman Sanjaya resmi bercerai dengan Tarina Jamasir, seorang konten beauty vlogger yang sedang naik daun. Kabarnya, Tarina tak meminta harta gono-gini dari dua puluh tiga tahun pernikahan mereka." "...Baik Dirman maupun Tarina menolak melakukan wawancara. Menurut kabar yang beredar, penyebab perceraian mereka adalah orang ketiga. Siapakah orang itu?" "Dalam sebuah unggahan netizen menggunakan hengpon jadul, Tarina terlihat ditemani mediasi beberapa kali oleh seorang politikus muda, Aidan Halim. Apa sebenarnya hubungan mereka?" Mata Olla terasa panas. Aidan Halim? Dia jelas kenal politikus yang baru kembali dari negeri Paman Sam itu. Orang namanya disebut dan mukanya seliweran dimana-mana. Enam bulan lalu Aidan baru menyelesaikan tugasnya menjadi Diplomat Muda di kedutaan besar Republik Indonesia di Washington, Amerika Serikat. Begitu kembali, Aidan langsung bergabung menjadi wakil komisi 6 Departemen Ekonomi Negara. Programnya yang mumpuni membuatnya dikenal luas masyarakat, selain karena tampangnya yang enak di pandang. Olla meremas jaket yang masih dia jinjing, "Aidan, awas lo, ya!" Sebelum benar-benar pergi, Olla untungnya ingat ada rapat yang digelar siang ini. Dia malah sudah telat karena baru ingat rapat di majukan satu jam lebih awal. Dengan tergesa, dia berlari ke aula. Olla cepat masuk dan duduk di pojok tempat khusus para jurnalis magang. "...Untuk liputan siang ini, saya mau kalian mendapat berita mengenai program terbaru dan tatalaksana komisi 6. Cari tahu juga mengenai kegiatan aktivis yang dilakukan Aidan Halim di akhir pekan." tutur redaktur. Salah satu jurnalis magang mengangkat tangan, "Pak, apa perlu kita mencari tahu kehidupan pribadi Aidan Halim untuk menambah informasi, mumpung kantor mau Anniversary? Ya sebut aja sebagai bumbu berita." "Contohnya?" "Seperti menanyakan siapakah perempuan yang disembunyikannya selama beberapa tahun ini, dan kenapa dia tidak memperkenalkan ke publik siapa kekasihnya. Bahkan Airan Halim saja, kakaknya, tidak tahu siapa perempuan itu." Olla menajamkan telinganya. Kedua alisnya mengerut serius, tak menyangka bahwa politikus yang digandrungi halayak terutama perempuan muda itu menyembunyikan kekasihnya selama ini. 'Jangan-jangan pacarnya itu—ibu, makannya di sembunyiin?' batin Olla. Redaktur menimbang, "Saya rasa gak perlu. Cukup tanyakan hal-hal terkait pekerjaan dan aktivitasnya aja. Lagian kita ini 'kan jurnalis berita, bukan gosip." "Baik, pak, dimengerti," Salah satu jurnalis senior mengedarkan matanya ke sekeliling ruangan, "Tolong dicatat baik-baik ya, untuk reporter dan adik-adik yang magang, bahwa kita bekerja di Berita Pertama bukan di gosip pertama." Ucapan itu disambut gelak tawa dari yang lain termasuk Olla. Kini, rasanya dia tahu apa yang harus dilakukan pada Aidan Halim. "Untuk yang liputan seperti biasa ya, satu jurnalis utama dan dua cadangan, untuk kameramen cukup satu. Rapat saya akhiri. Begitu nanti di depan gedung dewan, jurnalis yang sudah mendapat informasi untuk melakukan siaran langsung, dan yang lain kirim file untuk saya sunting segera. Apakah ada yang mau ditanyakan?" Olla mengangkat tangannya, "Pak, izin tanya, apa jurnalis magang boleh ikut liputan?" "Dalam liputan kali ini gak perlu. Nanti kita cari momen lain yang liputannya lebih fleksibel." "Ta-tapi saya—mau ikut, pak." tutur Olla dengan wajah mengiba. Redaktur baru ingat, hari ini adalah sidang putusan perceraian Dirman Sanjaya. Mata Olla yang terlihat merah, membuatnya ikut bersimpati. "Ya sudah kamu boleh ikut." Grup jurnalis Berita Pertama tiba di lokasi. Mereka duduk ngemper menunggu selesainya rapat komisi 6. Olla sudah menyiapkan pertanyaan untuk diberikan pada Aidan. Dia akan menjadikan momen ini untuk mempermalukan sang politikus yang ternyata orang ketiga yang membuat keluarganya hancur. "Aidan Halim keluar!" teriak jurnalis berita lain. Keadaan menjadi kacau. Semua jurnalis berlomba-lomba mendekati Aidan untuk melakukan wawancara. Olla tentu saja menjadi salah satunya. "Pak Aidan, apakah betul komisi 6 siap bekerja sama dengan komisi 9 di bidang kesehatan, yaitu membatasi pembelian Gula dalam jumlah tertentu, termasuk untuk pedagang, guna menekan angka Diabetes yang terus meningkat? Bagaimana dengan protes pelaku usaha UMKM atas itu?" "Pak Aidan, kami dengar, usul yang anda berikan terlalu beresiko, karena akan membuat stok Gula justru menumpuk karena pembelian yang di batasi akan menghambat pertumbuhan ekonomi?" "Pak Aidan, jika usul tersebut tidak jadi di sah kan, apa bapak memiliki opsi lain untuk keberlangsungan program terbaru komisi yang bapak wakili?" Aidan tersenyum sok ramah pada semua jurnalis, "Saya akan jawab semua pertanyaan kalian. Ada pertanyaan lain?" Olla mengangkat ujung ponselnya ke dekat mulut Aidan, "Pak Aidan apakah benar anda menyembunyikan kekasih anda dari publik selama ini, karena dia adalah istri dari jurnalis veteran Dirman Sanjaya?"Olla manyun di pintu ruang tamu ketika ayah mengajaknya pergi ke rumah Aidan. "Kamu mau jalan sendiri atau ayah gusur?" "Ayaaaah," rajuk Olla, "Aku gak hamil, gak perlu nikah sama dia." Ayah membuang nafas, "Jadi kamu mau bikin KK sendiri?" "Ayaaaah! Iya-iya, aku ikut ke rumah dia." Olla berjalan pelan, "Maksud aku tuh, ayah 'kan kerja. Ada wawancara penting sama menteri 'kan?" "Ayah udah izin sama om Hans, gak ada masalah. Ayo." Olla berjalan amat pelan, bagai Kukang yang belum nyemil dedaunan. Ayah yang baru mau mengunci pintu, melirik arah gerbang dimana mobil sedan mengkilat yang di ikuti mobil Lexus masuk ke halaman rumah. Mereka turun dari mobil. Satu orang diantaranya membuat Olla meringis. "Om baru mau ke rumah kamu." Aidan tersenyum ketika salim pada ayah, "Maafkan saya dan Olla, om." "Kita ngobrol di dalem." Ibu yang entah bagaimana ceritanya bisa ikutan bareng mereka dan kebetulan baru bisa bertemu lagi dengan Olla—karena anak tunggalnya ngambek dan enggan
Satu bulan kemudian...Olla menutup pintu kamar mandi dengan amat sangat pelan. Kalau bisa suara sedikitpun gak boleh kedengeran sama ayah yang lagi sarapan sendiri di meja makan, seperti duda kebanyakan. Dengan hati-hati, Olla membuka box tes pek yang ia beli diam-diam semalam, berdalih ke luar rumah untuk membeli Kerak Telor agar ayah gak curiga. "Hasilnya pasti negatif. Gue gak merasakan apapun yang mencurigakan di perut gue sebulan ini. Bibit si—Aidan pasti gak akan jadi gitu aja. Orang dia kerjanya kobam, mana mungkin bibitnya unggul." Dalam satu tarikan nafas, Olla yang sudah menampung air pipisnya di wadah, mulai memasukkan tes pek perlahan. "Oke, kata kemasannya tunggu tiga menitan," Olla diam sejenak, "Kayak lagi masak mi." Sambil menunggu alat tes kehamilan bekerja maksimal, Olla melakukan berbagai macam aktivitas. Mulai dari cuci tangan, cuci muka dan berakhir berjalan mondar-mandir kayak lagi nunggu hasil ujian. "Udah tiga menit." Olla mengambil tes pek yang semul
Satu hal yang pertama kali disadari Olla saat membuka mata, bukan langit-langit kamarnya yang penuh stiker bintang glow-in-the-dark murahan, tapi aroma kayu cendana dan peppermint. Wangi mahal. Wangi laki-laki mapan.Olla mengerjap. Pandangannya menangkap deretan jas rapi yang tergantung di walk-in closet transparan di sudut ruangan. Ini bukan kamarnya. Ini adalah kamar orang kaya yang harga rumahnya terasa murah saat di review agen properti di internet. Mata Olla mengerjap lagi. Tatapannya berubah waspada saat yakin sesuatu terjadi semalam. Ceklek. "Akhirnya bangun juga si jurnalis amatir ini." tutur Aidan berdiri di pintu. Mulut Olla masih terkunci karena sibuk mengumpulkan nyawa. Dia malah melirik sinis ke arah Aidan sambil mengeratkan selimut pada tubuhnya yang terasa dingin. Sedetik kemudian, dahinya mengerut kala melihat dirinya memakai baju yang berbeda dari kemarin sore di Bar. "Makasih ya servisnya malem. Boleh juga." Aidan pergi habis mengatakan kalimat ambigu itu. Ser
"Mbak?" pria tua berseragam supir jongkok dibelakang tubuh Olla yang meringkuk. "Aduh, ketabrak kayaknya ini. Pak Aidan, gimana ini?" Mendengar nama itu, membuat tubuh Olla terbangun sekaligus. Dia bahkan sudah mempersiapkan ancang-ancang untuk kabur saat mendengar suara sepatu pantofel mendekat ke arahnya. Suasana berubah mencekam. "Udah bangun pelakunya?" suara bariton Aidan membuat supir mengerut bingung. "Mbaknya korban, pak, bukan pelaku. Saya pelakunya." pak supir menunjuk dirinya sendiri dengan wajah takut. Olla memberanikan diri menatap Aidan. Mulai dari sepatunya yang mengkilat, kakinya yang panjang terbalut celana bahan linen premium, kemeja putih yang lengannya dilipat sampai siku, sampai wajahnya yang datar namun siap menerkamnya kapan saja. Tanpa sadar Olla meneguk ludahnya yang tiba-tiba terasa sakit. Aidan membungkuk, "Apa kabar Febiolla? Sepertinya kabar kamu sedikit.... Berantakan. Bener begitu?" Olla merasa pertanyaan itu gak perlu di jawab. Dia hanya pe
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.