Share

34. Daren dalam Tekanan

Author: ime-chan
last update Huling Na-update: 2025-10-13 00:47:10

Ruangan konferensi Balai Kota dipenuhi aura tegang saat Daren masuk dengan langkah berat, jas biru gelapnya tampak kusut karena malam tanpa tidur. Di hadapannya, barisan tim kampanye dan pejabat tinggi menunggu dengan ekspresi campuran panik dan skeptis. Lampu ruangan menyinari wajah mereka tanpa ampun, menegaskan kelelahan yang terpancar jelas.

Suara Daren serak saat ia membuka rapat, seolah kelelahan dan tekanan telah mengikis ketegasannya sedikit demi sedikit. Ruangan itu sunyi, hanya denting jam dinding dan dengung pendingin ruangan yang terdengar samar. Ia berdiri di ujung meja oval panjang, tubuhnya tegak namun matanya menyimpan bayangan keraguan.

“Kita sedang menghadapi krisis kepercayaan, media menuntut jawaban, oposisi membidik kita, dan warga… mereka ketakutan,” ucapnya menggema di ruangan, menyentuh setiap sudut dan setiap orang yang duduk di sana.

Ia menatap satu per satu wajah di depannya — para pejabat, analis, dan kepala divisi — mencari sesuatu yang lebih dari sekadar
Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Locked Chapter

Pinakabagong kabanata

  • Aku, Raja Mafia dan Bayang-Bayang Kekuasaan   40. Pecahnya Keheningan

    Hujan deras mengguyur kompleks penelitian malam itu, memantulkan cahaya lampu neon di genangan air seperti permukaan kaca retak. Suara tetesan air di luar terdengar seperti jarum-jarum kecil yang menghujam logam, menciptakan ritme yang kontras dengan keheningan tegang di dalam ruang kerja utama. Ayesha berdiri di depan panel kontrol utama, tangannya bergetar di atas layar yang menampilkan grafik gelombang feromon. Ia mencoba memusatkan pikirannya pada angka-angka, tapi yang bergema di benaknya bukan data — melainkan kata-kata terakhir Alexei.“Kau tidak tahu apa yang aku sanggupi kalau harus menjagamu tetap di sini,”Langkah kaki berat terdengar di belakangnya. Tanpa perlu menoleh, Ayesha tahu siapa yang datang. Aura dingin dan kehadiran yang mendominasi ruangan itu hanya milik satu orang. “Masih bekerja?” suara Alexei rendah, datar, tapi mengandung sesuatu yang mengintai di balik ketenangan itu. Ayesha tidak menjawab. Ia tetap menatap layar, membiarkan keheningan menjadi dinding ya

  • Aku, Raja Mafia dan Bayang-Bayang Kekuasaan   39. Obsesinya Semakin Mendalam

    Pagi itu laboratorium terasa seperti ruang isolasi yang terlalu sunyi untuk disebut tempat kerja. Cahaya lampu neon memantul di permukaan baja meja eksperimen, menciptakan pantulan dingin yang menyilaukan mata. Mesin pendingin berdesis lembut di sudut ruangan, namun suasananya tidak tenang — ada ketegangan yang menebal di udara seperti gas kimia yang tak kasatmata. Ayesha menatap layar holografik di depannya, mencoba fokus pada data perilaku koloni Vespa mandarinia, tapi pikirannya terus terganggu oleh sesuatu yang lebih mengancam dari sekadar serangga. Atau mungkin seseorang.Pintu laboratorium terbuka otomatis, dan aroma logam bercampur ozon menyelinap bersama kehadiran Alexei. Kali ini dia tidak mengenakan jas laboratorium, hanya kemeja hitam polos yang lengan kirinya digulung sampai siku, menampakkan urat-urat tegang di lengannya. Wajahnya tampak lebih pucat dari biasanya, namun mata birunya justru lebih tajam — seperti kilatan dingin dari logam yang baru diasah.“Kau tidak seharu

  • Aku, Raja Mafia dan Bayang-Bayang Kekuasaan   38. Luka Lama yang Terpendam

    Suara dengung itu kembali hadir, merambat pelan dari sudut mimpi yang paling gelap. Awalnya samar, seperti bisikan angin yang menelusup di antara celah-celah kesunyian, lalu semakin jelas, semakin menusuk, hingga memenuhi ruang tak bernama di dalam kepalanya. Bukan sekadar dengung sayap Vespa mandarinia yang bergetar tajam, melainkan juga gema suara Daren—suara yang berlapis-lapis, berulang-ulang, seakan tak pernah berhenti. Setiap lapisan suara itu memantul, beradu, dan bergaung, seperti gema yang terjebak di ruang hampa tanpa dinding, tanpa batas, hanya berputar-putar di lingkaran tak berujung.“Kau tahu kenapa aku memilih dia, Ayesha?” suara itu terdengar samar, seolah datang dari balik kaca laboratorium, “karena kekuasaan bukan tentang siapa yang paling pintar, tapi siapa yang bisa mengendalikan yang lain.” Ayesha tersentak, terbangun dengan teriakan tertahan. Tubuhnya berkeringat, napasnya memburu. Ruangan laboratorium bawah tanah itu gelap, hanya diterangi cahaya biru redup dar

  • Aku, Raja Mafia dan Bayang-Bayang Kekuasaan   37. Bayangan di Laboratorium

    Laboratorium itu kini bukan sekadar ruang penelitian. Ia telah berubah menjadi arena sunyi di mana eksperimen ilmiah dan ketegangan emosional saling bertabrakan seperti dua reaksi kimia yang tak seharusnya bersentuhan.Suara mesin inkubator berputar dengan dengungan stabil, namun bagi Ayesha, suara itu terdengar seperti bisikan pengawasan. Lampu-lampu neon di langit-langit bergetar samar, memantulkan cahaya putih dingin di permukaan meja logam yang dipenuhi tabung reaksi, jarum suntik mikroskopis, serta wadah berlabel biohazard. Di udara, aroma ozon, etanol, dan feromon sintetis bercampur, menciptakan atmosfer yang menekan, nyaris membuat dada terasa sesak.Ayesha berdiri di depan tangki kaca bertekanan tinggi, matanya fokus pada satu koloni Vespa mandarinia yang sedang bereaksi terhadap sinyal elektromagnetik lemah dari modul kendali feromon. “Kau lihat?!” katanya tanpa menoleh, suaranya datar tapi sarat dengan ketegangan yang disembunyikan. “Frekuensi 18,7 kilohertz ini seharusnya

  • Aku, Raja Mafia dan Bayang-Bayang Kekuasaan   36. Celah di Balik Kendali

    Laboratorium bawah tanah itu dingin, terlalu sunyi bahkan untuk malam yang panjang di pusat penelitian rahasia itu. Lampu-lampu LED putih kebiruan berpendar lembut di atas meja kaca tempat Ayesha meneliti sampel genetik Vespa mandarinia, menyorot wajahnya yang pucat diterangi layar mikroskop digital. Suara lembut mesin pendingin nitrogen cair mengisi udara, diselingi bunyi berdengung halus dari serangga-serangga yang ditampung di ruang kaca isolasi. Aroma antiseptik dan logam memenuhi hidungnya. Di tengah rutinitas yang seharusnya tenang itu, Ayesha merasa ada sesuatu yang lain malam itu — sesuatu yang membuat nadi di lehernya berdenyut sedikit lebih cepat.“Sudah malam,” suara itu terdengar pelan tapi tegas dari balik pintu baja otomatis yang terbuka dengan desis halus. Ayesha menoleh sekilas, lalu menatap lagi ke mikroskopnya. Alexei berdiri di ambang pintu, mengenakan kemeja hitam yang digulung sampai siku dan mantel panjang berwarna abu tua. Sorot matanya tajam namun anehnya tida

  • Aku, Raja Mafia dan Bayang-Bayang Kekuasaan   35. Ayesha Dibalik Layar

    Di ruangan observasi markas Alexei yang remang, cahaya dari layar-layar besar menjadi satu-satunya sumber penerangan, memantulkan kilatan biru dan merah ke dinding beton yang dingin. Suasana di dalamnya terasa seperti jantung dari sebuah sistem yang mengawasi dunia yang sedang runtuh perlahan. Layar utama menampilkan berbagai statistik real-time — angka-angka yang terus bergerak, tak pernah berhenti, seolah menggambarkan denyut nadi dari kekacauan yang sedang berlangsung.Jumlah serangan bertambah setiap menit, zona-zona yang sebelumnya aman kini berubah menjadi wilayah terkunci, ditandai dengan warna merah menyala yang menyebar seperti luka di peta digital. Di sisi lain layar, grafis yang menunjukkan tingkat kepanikan publik berdenyut pelan namun pasti, seperti gelombang yang tak henti menghantam garis pantai. Setiap lonjakan grafik bukan sekadar data — itu adalah jeritan, ketakutan, dan kehilangan yang tak terlihat.Beberapa operator duduk di depan konsol, wajah mereka tegang, mata

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status