MasukIl y a longtemps, Pierre a rencontré un être unique et merveilleux. Une Petite Fée de Noël, qui pour combler un de ses souhaits n'a pas hésité à accomplir un acte interdit. Pierre a grandi, en oubliant ses rêves d'enfants. Mais lorsqu'à la veille de Noël il rencontre une jeune femme un peu extravagante dans un magasin bondé, son coup de foudre se heurte vite aux mystères qui gravitent autour de celle-ci. L'amour qu'il éprouve pour Gaëlle est pourtant réciproque. Leur attirance est d'autant plus forte qu'elle obéit à des règles qui font également de lui un être d'exception, sans qu'il le sache encore. Mais Pierre arrivera-t-il à dépasser les trois-cent-soixante-cinq jours qui courent devant lui sans révéler le secret de sa belle, au risque de la perdre à jamais ? Entre la jalousie d'une assistante éconduite et les manigances d'un ancien fiancé venu d'un royaume improbable, les embuches seront nombreuses. Une histoire en deux parties, qui mêle notre univers contemporain à un monde parallèle secret et féérique, au sein duquel évolueront deux couples, liés par les imbrications du destin.
Lihat lebih banyakSetiap keinginan, terlepas itu sesuatu yang baik atau buruk, selalu menuntut pengorbanan. Bahkan keinginan yang mulia sekalipun, tak jarang berakhir tragis dan menjadi penyesalan bagi mereka yang tak bisa menahan diri.
Itulah yang terjadi pada seorang prajurit gagah perkasa, yang membaktikan hampir seluruh hidupnya untuk kebaikan orang banyak. Setelah kematiannya, dia meninggalkan istri dan anak yang hampir tak merasakan kehilangan. Karena mereka sudah kehilangan dirinya jauh sebelum kematiannya.
“Yang tabah yo, ndok!” pesan seorang perempuan tua terhadap janda yang masih terlihat sangat muda itu.
Meski wanita itu nampak kuat, tak sedikitpun ada kesan sedih dan kelemahan pada dirinya. Namun perempuan tua tersebut masih nampak khawatir terhadapnya. Karena seorang janda yang masih begitu cantik dan belia itu sekarang ditinggal suami tanpa seorangpun penjaga.
Sementara anak laki-lakinya masih sangat muda. Apa lagi mereka tinggal di pinggir hutan, agak jauh dari rumah-rumah penduduk desa lainnya.
“Rangkabumi adalah pahlawan dan kebanggaan desa ini. Jika ada masalah, jangan sungkan mendatangi kami,” pesan kepala desa sebelum dia dan penduduk desa lainnya memutuskan untuk pergi dari kuburan tersebut.
Di depan batu nisan itu, setelah semua tangis dari khalayak ramai sirna dan meninggalkannya, tinggallah istri dan satu orang anak dari kesatria itu di sana. Mereka berdua hanya terdiam tak tahu harus bereaksi bagaimana, karena mereka sudah terbiasa belajar hidup ditinggalkan sejak lama oleh sang kesatria.
Kepergiannya sekarang tak lagi begitu menyedihkan mereka. Satu-satunya yang mereka pikirkan saat ini adalah bagaimana untuk terus hidup setelahnya. Karena sang kesatria yang dielu-elukan sebagai pahlawan itu tak meninggalkan harta selain rumah sederhana dengan kebun sempit di belakangnya.
“Kamu dengar, Rangkahasa!” seru sang ibu pada anaknya. “Jangan biarkan keinginanmu membuatmu buta, tak peduli seberapa mulianya keinginanmu,” pesannya di depan kuburan suaminya yang mati sebagai seorang pahlawan itu.
Wanita itu pun mengelus rambut anaknya dengan penuh perhatian. “Apa lagi, jika keinginanmu itu sudah menyangkut kehidupan orang lain,” lanjutnya menasehati dengan penuh penekanan.
“Baik, Bu!” jawab anak tersebut, meski mungkin dia sendiri belum sepenuhnya mengerti akan pesan yang diterimanya.
Sang ibu menepuk bahu anaknya tersebut dua kali, sekadar memberitahu sudah saatnya mereka pergi meninggalkan tempat pemakaman. Namun anak laki-laki tersebut masih menyempatkan berdiam diri di depan pusara ayahnya.
Dia tak tahu kalau wejangan dari ibunya tadi berhubungan dengan kondisi ayahnya itu. Namun tetap saja, ayahnya adalah seorang pahlawan baginya. Dia hanya ingin sedikit lebih lama mengenang dan merasakan kebanggaan tersebut di dalam dadanya.
Ibunya terhenti sesaat, menoleh ke arah anaknya. “Rangkahasa?” panggilnya dengan nada yang lembut.
Anak laki-laki itu akhirnya pergi meninggalkan pusara ayahnya, membalas senyuman ibunya dengan senyuman yang tak kalah lembutnya.
Menjelang senja, mereka sampai di halaman rumah mereka yang letaknya cukup terpencil jauh dari penduduk lainnya. Sang anak meminta izin pada ibunya untuk pergi ke tempat di mana dia biasa menambatkan sapi-sapi piaraannya. Tak mungkin sapi-sapi itu dia biarkan bermalam di luar sana.
“Jangan terlalu lama. Sebentar lagi gelap, nak!” pesan sang ibu sebelum dia memasuki rumah mereka yang sederhana sendirian.
Begitu wanita itu masuk ke dalam rumah, alangkah terkejutnya ia ketika menemukan seorang laki-laki sudah duduk menantikan kedatangannya di dalam rumah. Wajah yang tak asing baginya. Namun ketidakasingan itu justru membuatnya merasa tidak nyaman berada satu ruangan dengannya.
“Apa yang kau lakukan di sini?” tanya wanita tersebut. “Bagaimana kau bisa masuk ke sini? Aku bisa saja memanggil warga desa untuk datang ke sini dan melaporkanmu sebagai perampok,” ancamnya.
Laki-laki itu malah tersenyum seakan tak peduli dengan sambutan tak ramah si tuan rumah yang tak menerima kehadirannya. Dia pun berdiri, dan berjalan menghampiri wanita itu.
Hal itu membuat wanita tersebut semakin risih. Dia mengeluarkan belati dari kantong yang terbuat dari anyaman daun pandan yang dijinjingnya, dan langsung menghunuskannya pada laki-laki tersebut.
Laki-laki itu santai saja terus berjalan ke arahnya. Masih dengan senyuman yang sama seakan tak peduli sama sekali. Namun ternyata dia terus berjalan menuju pintu keluar, yang pada akhirnya membuat wanita itu sedikit lega.
Hanya saja, begitu wanita itu berbalik, laki-laki itu ternyata menutup pintu dan menguncinya dari dalam.
“Kenapa tidak coba saja berteriak?” tanya laki-laki itu dengan seringainya yang buruk.
“Mungkin masih ada dedemit yang masih mau menolongmu,” lanjutnya seakan mengejek peluang wanita itu untuk mendapatkan bantuan. “Atau kau bisa meminta bantuanku untuk mengisi kesepianmu setelah kematian suamimu,” lanjutnya dengan tatapan yang penuh nafsu.
Wanita itu nampak tak senang dan menatap laki-laki itu dengan tatapan merendahkan.
“Kau tahu, sifatmu yang kotor seperti inilah yang membuatku tak pernah bisa menerimamu. Tak peduli seberapa gagah dan perkasanya dirimu, aku yakin tak ada satupun wanita di dunia ini yang akan mau menerimamu,” jawab wanita tersebut.
Namun laki-laki itu masih tetap dengan seringai jeleknya. Seperti sadar kata-katanya sudah tak lagi ada artinya, wanita tersebut bergegas menuju dapur hendak melarikan diri lewat pintu belakang.
Laki-laki itu mencabut sebuah keris dari pinggang bagian belakangnya, dan langsung menancapkannya ke lantai kayu dari rumah. Seketika itu juga, bagian di mana keris itu tertancap langsung berubah seperti onggokan daging.
Daging itu nampak berdenyut, terus menjalar dan menyebar dengan cepat ke seluruh isi rumah.
Joachim détestait devoir s’enfuir, mais privé de ses pouvoirs, il devait admettre qu’il ne faisait que la gêner. Rageant contre son inutilité, il fila le long de la barre rocheuse. Il évitait de trop s’approcher du bord de la crevasse qui déroulait un sol uniformément plat à perte de vue. S’il voulait aider Kalinda, il devait d’abord trouver un endroit où se dissimuler. Le sable ralentissait sa course, mais il atteignit un amoncellement de gros rochers sans être inquiété. Derrière lui, les explosions, les cris et les imprécations se multipliaient. Tant que le combat se poursuivait, il avait une chance de tirer la jeune femme de ce mauvais pas. Demeurant à couvert, il escalada une petite butte en espérant avoir un meilleur point de vue sur la bataille. Arrivé en haut, il se retourna. Kalinda parvenait encore à faire front à ses adversaires. Elle reculait toutefois de plus en plus contre la mura
Ils déambulaient entre les parois abruptes, lorsque Joachim ralentit pour l’interpeller : — Je suppose que tu vas dévoiler l’existence de Sylfinata. — Non. — C’est bien. — C’est bien ? Juste ça ? Étonné, il la dévisagea. — Qu’attendais-tu que je te dise ? — Je ne sais pas, moi : félicitations ; tu me surprends ; je suis fier de toi , énuméra-t-elle, sans parvenir à cacher sa déception. Elle devenait pathétique, et elle souhaita qu’il poursuive sa route en l’ignorant. Mais il conservait son regard posé sur son profil, et une chaleur embarrassante enflamma les joues de la jeune femme. Ce fut le moment qu’il choisit pour répondre : — Félicitations ; tu me surprends ; je
Passé maître dans l’art de la guerre, Joachim aurait pu profiter du sommeil de Kalinda pour neutraliser Némor et tenter de s’enfuir. La chauve-souris avait beau être rapide, elle ne possédait pas l’efficacité des menottes. Mais le risque de tomber entre des mains moins caressantes, joint à l’obscur besoin de ne pas décevoir sa geôlière l’arrêtaient. Il tenait donc sa parole en gardant la jeune femme endormie blottie contre lui. Il aurait pu tout aussi bien lui briser le cou. Partager une étreinte ne rendait pas un ennemi plus doux. C’était même une manière redoutable de tromper sa confiance. Une imprudence contre laquelle il se promit de mettre en garde la jeune femme au bout de leur périple. Ce serait son dernier cadeau. Quoique l’idée qu’elle puisse être défaite si facilement le heurtait moins que celle qu’elle se donne ainsi à un autre. Une constatation qui l’obligeait à une conclusion déra
Une heure plus tard, Joachim barbotait dans un grand baquet de bois rempli d’eau tiède. Un simple rideau l’isolait du reste de la chambre, et il entendait Kalinda vaquer de l’autre côté. Exceptionnellement, la jeune femme avait accepté de lui retirer ses menottes pour qu’il puisse se déshabiller. Ne plus être entravé par les bracelets de fer lui donnait l’illusion d’une liberté, qui s’évanouissait chaque fois que ses yeux se posaient sur Némor. Perchée sur le haut de l’armoire, la chauve-souris l’observait avec une acuité presque gênante. Kalinda avait été la première à se décrasser, et l’établissement étant ce qu’il était, il devait se contenter de l’eau de son bain pour ses ablutions. Mais après la marche forcée qu’il venait de vivre, il aurait consenti à bien moins pour retrouver une peau et une chevelure propres. Rassemblant cette dernière pour la tordre, il sortit de l’eau pour se s
Quelques minutes plus tard, Joachim pataugeait devant elle dans l’eau noire jusqu’à mi-mollet. Il se déplaçait en essayant de faire peu de bruit, et elle le suivait en guettant avec anxiété les remous qui se formaient sous ses pas. Pour une raison indéterminée, une fois l
Après avoir marché un long moment, ils parvinrent dans une clairière délimitée par le mur abrupt qui les entourait. L’ouverture d’une immense grotte bâillait largement sur la paroi. Son hall d’entrée était si vaste que le chœur d’une cathédrale aurait pu s’y nicher. Zébré
De l’autre côté de la rivière, Kalinda contemplait le grand feu avec autant de fatalisme que d’irritation. Les nuits étaient douces en Féérie, et contrairement aux deux baigneurs malencontreux, elle ne redoutait pas de prendre froid. Mais si elle ne voulait pas rater le d
Les deux hommes se jetèrent un regard aussi circonspect que contrarié. Devant leurs mines déconfites, Aëlwenn eut un sourire à la fois désolé et amusé. — C’est absolument indispensable ? s’enquit Joachim, en toisant son rival d’un œil hosti
Bienvenue dans Goodnovel monde de fiction. Si vous aimez ce roman, ou si vous êtes un idéaliste espérant explorer un monde parfait, et que vous souhaitez également devenir un auteur de roman original en ligne pour augmenter vos revenus, vous pouvez rejoindre notre famille pour lire ou créer différents types de livres, tels que le roman d'amour, la lecture épique, le roman de loup-garou, le roman fantastique, le roman historique et ainsi de suite. Si vous êtes un lecteur, vous pouvez choisir des romans de haute qualité ici. Si vous êtes un auteur, vous pouvez obtenir plus d'inspiration des autres pour créer des œuvres plus brillantes. De plus, vos œuvres sur notre plateforme attireront plus d'attention et gagneront plus d'adimiration des lecteurs.