ログインRuang makan Aditama malam itu lebih ramai dari biasanya. Apalagi tawa Aditama dengan Rafka yang memenuhi ruangan. Tiara melihat interaksi pria berbeda generasi itu. Tanpa sadar bibirnya melengkungkan senyuman, ini pertama kalinya Tiara melihat sang kakek tertawa lepas seperti itu. Tanpa Tiara tahu, diam-diam Rafka melirik ke arahnya. Ikut tersenyum. “Terus, apa yang terjadi dengan temanmu itu?” tanya Aditama yang tertarik dengan cerita Rafka tentang temannya yang takut dengan darah tapi memilih menjadi dokter bedah. “Dia masih bertugas kek, tapi ya itu… suka bikin malu kalau pas praktek. Suka pingsan tiba-tiba,” jawab Rafka yang kemudian dibalas tawa renyah Aditama. “Kalau kau… apa yang paling kau takutkan?”“Saya?” Rafka seolah sedang berpikir, “saya belum tahu apa yang saya takutkan selain menjomblo selamanya, kek.” Aditama mengangkat alisnya, kemudian menepuk bahu Rafka. “Jangan bercanda, mana mungkin anak muda sepertimu tidak mempunyai pasangan.”Entah kenapa tiba-tiba obrol
Siapa yang tahu kalau Naren akan berada di sini. Di sebuah bar pinggiran yang dindingnya bahkan sudah berjamur karena lembab. “Ada apa memintaku bertemu di sini?” ucap Naren ketus. Seorang pria yang duduk di kursi lusuh bar melirik ke arah Naren. “Kau beneran datang rupanya,” desis pria itu lalu kembali sibuk dengan minumannya. Naren mengetatkan rahangnya, lalu menarik kursi bar dan duduk di sebelah pria itu. Seorang bartender mendekat. “Minum?” Naren menggeleng.. Bartender mengangguk, lalu meninggalkan Naren. “Kau berhenti minum?” ujar pria di samping Naren.“Aku tidak mau mengulang kesalahan itu lagi. Apalagi saat bersamamu. Kau yang menjebakku, Jo!” ketus Naren. “Aku hanya ingin membantu kalian, Ren. Kau kan bilang sendiri padaku kalau kau tidak mencintai istrimu. Lalu, apa salahnya? Aku hanya ingin menghiburmu, Sheila juga sangat mencintaimu. Kau juga selalu baik padanya.”“Jo, itu bukan berarti kau membuatku tidur dengan Sheila! Aku punya istri saat itu,” sentak Naren. J
Tiara bekerja di kantornya sampai tidak sadar kalau hari sudah berubah menjadi malam. Dia menoleh ke arah jendela besar di belakangnya.Lampu-lampu kota sudah terang benderang. Seolah memenuhi hamparan kota dengan kelip kesibukannya. Tiara menghela napas panjang. Wanita itu sudah berdiri di sisi jendela, meninggalkan sesaat pekerjaannya yang entah kapan selesainya. “Benar kata Kak Andreas, beban mahkota dipikul oleh si pemakainya,” bisik Tiara pada dirinya sendiri. Dulu dia memilih jadi istri Naren dan menetap di rumah menunggu suaminya pulang. Tiara pikir dengan begitu Naren akan mencintainya dan memperlakukan Tiara dengan hangat. Ternyata menikah bukan seperti itu. Pernikahan tidak membuatmu jadi pengemis dan selalu berharap akan dicintainya. Tiara mendesah lebih berat. Menoleh ke arah meja kerjanya yang berantakan. “Sepertinya aku harus mengakhiri pekerjaanku sekarang.” Tiara memijat tengkuknya pelan dengan tangan. Kepalanya menggeleng ke kanan dan kiri. Melemaskan ototnya ya
Lampu kristal gantung memantulkan cahaya keemasan di meja Tiara. Dia sedang berada di sebuah restoran mewah sebuah hotel. Sengaja datang ke sana sendirian untuk menikmati waktunya sendiri.Matanya menatap jauh ke arah luar jendela besar, pemandangan kota di malam hari sangat indah. Cahaya lampu kota menemani Tiara yang duduk di sisi jendela besar itu. Malam itu cerah, bintang bertaburan di langit malam menambah siluet keindahan sendiri. Namun, keindahan itu ternyata tidak cukup menghibur hati Tiara yang sedang tak menentu. Beberapa waktu lalu dia bertemu dengan Narendra, mantan suaminya. Naren terlihat sudah berubah, dia meresahkan hati Tiara dengan kata-kata yang keluar dari bibirnya. Tiara menghela napas. “Apa yang sedang kamu pikirkan?” sebuah suara menarik perhatian Tiara. Tiara sedikit tersentak, melihat seseorang yang datang.“Kak Andreas?” Tiara tak menyangka akan bertemu Andreas di sini. Awalnya dia ingin menikmati waktunya sendiri setelah bertemu dengan mantan suaminya.
Rosalina keluar dari ruangan Tiara dengan menggerutu, kesal karena dia gagal melancarkan aksinya menindas mantan menantunya itu. “Sial! Kenapa dia sekarang berubah jadi kejam?! Dasar wanita ular,” gerutunya sembari masuk ke dalam lift. Karena melangkah terburu-buru keluar saat keluar dari lift. Wanita paruh baya itu terjatuh karena tersandung heelsnya sendiri. Rosalina menjadi bahan tertawaan orang banyak di lobi kantor Tiara. “APA KALIAN?! Jangan Tertawa!” bentaknya ke semua orang yang ada di sana. Bagi Rosalina sekarang semua orang bagaikan musuhnya. Dadanya naik turun dengan napas yang memburu. “Argh!” teriak Rosalina terdengar melengking. Sampai akhirnya dua petugas keamanan menghampirinya dan menyeret Rosalina keluar dari perusahaan karena membuat gaduh. Nasibnya sial sekali, gagal menyerang Tiara, dibenci oleh Naren anak kandungnya. Dan, sekarang dia diusir seperti gelandangan di perusahaan mantan menantu yang ia kira bodoh. ***Di tempat lain, Lucy sedang berlutut di kak
Naren berjalan gontai memasuki rumahnya. Kini, tempat itu tak lebih seperti cangkang kosong yang kehilangan nyawa.Sekarang dia tahu arti kehadiran seorang Tiara setelah wanita itu meninggalkannya. Naren menghembuskan napas berat, lelah sekali rasanya.“Rasanya aku kehilangan separuh milikku yang berharga.”Pria itu berjalan melewati ruang tamu dan keluarga dan menuju langsung ke kamarnya. Sepi, sunyi, tak ada apapun selain suara langkah kakinya sendiri.Rosa menyuruhnya pindah ke rumah utama. Tapi, Naren menolak dan memilih tinggal di rumahnya sendiri. Rumahnya dulu bersama Tiara.Pria itu menghempaskan tubuhnya ke atas ranjang king size yang entah sudah berapa tidak diganti spreinya. Nare
Apa yang bisa dilakukan seorang wanita yang sudah dikhianati kepercayaannya? Tidak ada.Salah. Dia bisa berubah menjadi kejam dan menyerang siapa saja yang melukainya. Tiara hanya melakukan itu saja, setelah resmi bercerai dari Naren. Dia hanya mengambil apa saja yang pernah dia berikan pada pria it
Rapat berakhir dengan cukup tegang, Tiara memang tidak langsung mengumumkan perusahaan mana saja yang akan diputus kerjasama dengan Santika. Hanya HEIRA yang pertama kali sebagai percontohan. Tiara benar-benar menguliti kebobrokan perusahaan itu. Bukan cuma kerugian yang dibahas, tapi juga kasus p
Selama ini Tiara tidak pernah mau masuk ke dalam lingkaran perusahaan karena semua sudah dipegang oleh sang kakek dan asistennya. Tapi, karena kakeknya sudah tidak lagi mampu mengurus, semuanya dipercayakan oleh manajer operasional. Manajer itu adalah orang kepercayaan sang kakek dan Tiara. Dia a
Andreas menemui Tiara di apartemennya, wanita itu menyambutnya dengan senyum tenang dan ramah. “Bagaimana kabarmu?” “Aku? Seperti yang kakak lihat, aku baik-baik saja.” Jawab Tiara sambil meletakkan segelas minum untuk Andreas. Pria di depannya mengangguk lega. Dia langsung memberikan dokumen ya







