LOGIN"Sayang, ini baru permulaan. Aku akan memberikan kenikmatan yang nggak pernah suamimu berikan, jadi bersiaplah." Awalnya, ini hanya perjanjian satu malam antara Naya dan suaminya untuk mendapatkan benih dari sang kakak, tapi semakin lama, hubungan mereka makin tak terkendali...
View MoreDulu, di detik-detik seperti ini, Naya akan langsung menjatuhkan benda itu, berlutut, dan menangis memohon ampun sambil meratapi nasibnya. Tapi malam ini, cangkang ketakutan itu telah pecah dari dalam. Di balik dadanya, *voice recorder* yang menyimpan kebohongan busuk Arga tentang kecelakaan lima tahun lalu berdenyut bagaikan bara api. Naya tidak lagi melihat Arga sebagai pahlawan yang terluka. Ia melihat monster yang harus dihancurkan. Naya tidak menyerah. Alih-alih melempar ponsel itu atau gemetar ketakutan, Naya justru menegakkan dagunya. Ia perlahan mengangkat tangan kanannya, memamerkan ponsel satelit itu di bawah sorot lampu senter, lalu menyunggingkan sebuah senyuman tipis yang dingin—senyuman yang belum pernah dilihat Arga seumur hidupnya. "Ponselmu, Mas," jawab Naya dengan suara yang luar biasa tenang, tanpa ada getar kepanikan sedikit pun. "Benda yang selama ini kamu sembunyiin rapat-rapat dari aku. Benda yang kamu pake buat ngatur semuanya." Wajah Arga menegang se
Pintu terbuka selebar sepuluh sentimeter. Naya mengintip ke luar. Koridor lantai dua rumah singgah itu tampak sepi dan remang-remang. Dari lantai bawah, sayup-sayup terdengar suara Arga sedang berbicara dengan nada tinggi menggunakan walkie-talkie, membahas koordinat pelayaran dengan anak buahnya. Naya melangkah keluar dari kamar, berjalan jinjit di atas lantai kayu tua yang dingin tanpa alas kaki. Tujuannya bukan langsung kabur keluar rumah—ia tahu ia tidak akan bisa melarikan diri lewat gerbang depan yang dijaga ketat oleh preman-preman bayaran Arga tanpa tertangkap. Tujuannya adalah meja kerja kecil di sudut ruang tengah lantai dua, tempat di mana Arga sering meninggalkan barang-barang penting saat pria itu merasa aman. Naya tiba di meja tersebut. Di atas permukaan kayu yang berdebu, tergeletak sebuah benda persegi panjang berwarna hitam legam: ponsel satelit enkripsi milik Arga. Ponsel yang sama yang digunakan Arga untuk berkomunikasi dengan Bastian, sang pengkhianat, dan me
Pintu kamar mandi berderit terbuka, menampilkan Arga yang keluar dengan handuk melilit di pinggang, sementara sisa air masih menetes dari rambut hitamnya yang basah. Pria itu menatap ke arah tempat tidur, tempat Naya meringkuk diam dengan selimut yang menutupi setengah wajahnya. "Kamu belum tidur, Sayang?" suara Arga terdengar lembut, sarat akan kepedihan palsu yang selalu ia gunakan untuk memancing rasa iba. "Mas masih bikin kamu ketakutan, ya?" Naya perlahan menurunkan selimutnya. Ia sengaja membuat matanya tampak sayu, merah, dan membengkak—efek dari tangisan palsu yang ia latih di depan cermin beberapa menit lalu. Bibirnya bergetar hebat saat ia menatap pria yang baru saja ia ketahui sebagai dalang utama di balik kehancuran hidupnya. "Aku... aku cuma masih kebayang omonganmu soal Rekha tadi, Mas..." cicit Naya pelan, suaranya parau dan lemah, seolah menyisakan sedikit saja sisa tenaga. "Aku takut... kalau Rekha nemuin kita, dia bakal bunuh kita..." Arga mendengus pelan, sebuah
Di dalam dadanya, Naya merasa ada sesuatu yang patah dan mati selamanya. Naya yang lugu, Naya yang penuh rasa iba, dan Naya sang korban, telah tewas di dalam kamar ini malam ini. Yang tersisa kini hanyalah seorang wanita yang otaknya telah berevolusi menjadi hakim dan algojo. Naya melengkungkan bibirnya, membentuk senyuman manis dan polos yang terlampau sempurna, meniru persis topeng yang selama ini digunakan Arga padanya. "Nggak apa-apa, Mas," balas Naya lembut, meraih tangan Arga dan mengecup punggung tangan pria itu dengan kepatuhan palsu yang menipu. "Aku bisa nunggu. Asal ada Mas Arga, aku rela nunggu sampai kapan pun." Mendengar itu, dada Arga membusung bangga. Sang psikopat merasa kemenangannya sudah mutlak, tak menyadari bahwa wanita yang sedang menunduk di hadapannya ini diam-diam telah mengasah sebilah belati tak kasat mata di dalam pikirannya. */'Nikmati kemenanganmu malam ini, Mas,' batin Naya dengan tatapan sedingin es di balik matanya yang terpejam. 'Karena be












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviews