Panasnya Ranjang Kakak Ipar

Panasnya Ranjang Kakak Ipar

last updateLast Updated : 2026-07-08
By:  Dre LAUpdated just now
Language: Bahasa_indonesia
goodnovel18goodnovel
Not enough ratings
6Chapters
19views
Read
Add to library

Share:  

Report
Overview
Catalog
SCAN CODE TO READ ON APP

"Sayang, ini baru permulaan. Aku akan memberikan kenikmatan yang nggak pernah suamimu berikan, jadi bersiaplah." Awalnya, ini hanya perjanjian satu malam antara Naya dan suaminya untuk mendapatkan benih dari sang kakak, tapi semakin lama, hubungan mereka makin tak terkendali...

View More

Chapter 1

1. Burungmu Terlalu Kecil, Mas!

"Bisa nggak sih kamu tuh luwes sedikit? Gimana kita bisa punya anak kalau kelakuanmu nggak pernah bisa bikin aku beringas?!" bentak Dewa, menghempaskan tubuhnya ke sandaran ranjang dengan kasar sambil melotot ke arah istrinya, Naya.

Naya merapatkan pakaian tidur tipisnya, menahan sesak di dada. "Mas, kok kamu malah nyalahin aku? Aku udah coba goda kamu duluan, aku udah ngikutin semua maumu malam ini."

Hari ini, sebelum Dewa pulang kerja, Naya sudah membersihkan tubuhnya dari ujung kepala sampai ujung kaki, mencukur semua bulu di tubuhnya, bahkan mengoleskan lotion lembut di sekujur tubuhnya, hanya untuk melayani dan membuat puas Dewa.

Awalnya, Dewa tampak sangat bergairah saat dia membuka pintu kamar dan mendapati istrinya yang cantik itu sudah duduk di ranjang dengan gaun tidur tipis dan pose begitu mengoda.

Apalagi saat Naya mendatangi Dewa duluan dan memeluk serta mencium sang suami, nafsu Dewa langsung bergejolak.

Namun... saat mereka selesai pemanasan dan Dewa mulai melucuti pakaian Naya, kejantanannya tiba-tiba loyo. Tidak bisa berdiri sama sekali.

"Gimana aku nggak nyalahin kamu, kalo kamu nggak bisa bikin aku nafsu, Naya! Tiap kali dekat kamu, aku nggak bisa nafsu, ini semua pasti salah kamu yang kurang menggairahkan!" Dewa lagi-lagi membentak, suaranya yang menggelegar membuat Naya ketakutan.

"Terus mas pengen apa biar mas nafsu ke aku? Apa aku perlu melepas semua pakaian aku dan nari di depan mas? Gitu?"

Balasan Naya bukannya membuat Dewa senang, tapi justru semakin marah. "Halah, pake nawarin nari tanpa baju segala! Kamu mau ngelakuin apa pun, nyatanya barangku tetap nggak mau bangun, kan? Itu karena kamu nggak becus melayani suami! Badanmu tuh kaku, nggak ada menarik-menariknya sama sekali. Pantes aja aku muak lihatnya! Kayak patung, nggak punya jiwa!"

Rentetan penghinaan keluar dari mulut Dewa, dia memandang sinis ke arah Naya, seakan-akan istrinya itu benar-benar wanita gagal, hal itu membuat Naya lama-lama tak terima.

"Mas Dewa, cukup! Ini bukan salahku ya, Mas!" bantah Naya dengan mata berkaca-kaca. "Dari bulan lalu kamu yang selalu gagal begini, kenapa ujung-ujungnya aku yang terus dihina? Kalau memang kamu yang bermasalah, periksa ke dokter, Mas, bukan malah melampiaskannya ke aku!"

Plakk!

Sebuah tamparan keras mendarat telak di pipi Naya. Tubuhnya sampai terhuyung ke tepi ranjang, sementara sudut bibirnya langsung terasa kebas dan menyisakan rasa anyir darah.

"Berani kamu ngelawan aku, hah?! Sekarang kamu mulai ngelunjak, ya!" Dewa menunjuk wajah Naya dengan tatapan penuh kebencian.

"A-aku cuma ngomong kenyataan, Mas. Kalau mas ada masalah nggak bisa nafsu lihat cewek, mas harus—"

PLAKKKK!!!

Tamparan kedua mendarat di pipi Naya, lebih kencang sampai membuat pipi wanita cantik itu lebam dan tubuhnya jatuh tersungkur.

"Denger ya, perempuan miskin! Kalau bukan karena aku yang berbaik hati bayarin biaya rumah sakit bapakmu yang penyakitan itu, kamu udah jadi gembel di jalanan! Jangan sok pintar ngajarin aku, apalagi nyuruh aku periksa! Yang bermasalah itu kamu, ya! Bukan aku!"

"Mas, teganya kamu mukul aku, Mas..." Naya memegangi pipinya yang memanas, air matanya tak lagi bisa ditahan, selama ini dia terus bertahan menghadapi suaminya yang mulutnya kasar, tapi tamparan kalo ini benar-benar membuat hatinya hancur.

"Hahhh!!! Nyesel aku nikah sama kamu! Bikin hancur mood aja!" umpat Dewa. Ia berbalik, melangkah keluar kamar dan membanting pintu dengan sangat keras.

Brak!

Tubuh Naya luruh ke lantai, menangis sendirian dalam keheningan kamar. Pipinya berdenyut nyeri hingga ke telinga. Merasa butuh es batu untuk meredakan bengkaknya, Naya perlahan bangkit dan berjalan gontai menuruni tangga menuju dapur di lantai bawah untuk mengambil es batu di lemari es.

Saat ia baru saja berbalik dari depan kulkas sambil membawa segumpal es batu, tiba-tiba...

Dug.

"Aduh!" Naya terkesiap saat keningnya menabrak dada bidang seseorang, dia pun refleks mengusap kening sambil mengaduh kecil.

"Hati-hati," sebuah suara berat dan familier mengalun di atas kepalanya.

Naya mendongak, matanya seketika membulat lebar. "Mas Rekha? K-kapan pulang dari London?"

Rekha adalah kakak tiri Dewa, meskipun Dewa terkenal tampan dan idola banyak wanita, Rekha benar-benar tak ada tandingannya dengan Dewa, selain sangat tampan, tinggi dan memiliki tubuh tegap, Rekha juga memancarkan aura dingin yang begitu mendebarkan sekaligus menggoda, membuat Naya tak pernah berani berada dekat dekat dengannya karena auranya yang begitu menekan.

Bukannya menjawab pertanyaan gugup Naya, tatapan tajam Rekha justru terkunci pada sudut bibir Naya yang memar. Pria itu mengikis jarak di antara mereka, mengangkat tangan kanannya perlahan.

"Mas Rekha... m-mau apa?" cicit Naya panik, jantungnya berdebar tak karuan mendapat perlakuan sedekat ini dari kakak iparnya yang dingin dan tak pernah bicara dengannya semenjak Naya menginjakkan kaki di rumah ini.

Ibu jari Rekha menyentuh sudut bibir Naya, mengusap noda darah di sana dengan gerakan lambat dan sangat berhati-hati. "Bibirmu ... berdarah."

"I-ini... tadi aku nggak sengaja kebentur pintu lemari, Mas," kilah Naya terbata-bata, mencoba memundurkan tubuhnya tapi punggungnya sudah terhimpit pintu kulkas.

Rekha tiba-tiba menunduk. Aroma maskulin langsung menyergap indera penciuman Naya. Wajah pria itu kini berada tepat di samping telinganya, membuat jantung Naya berdegup dengan aneh.

"Lemari nggak punya tangan buat menampar orang, Naya," bisik Rekha dengan suara rendah dan serak, tatapan tajamnya seakan mampu melelehkan kaki Naya, sehingga Naya hanya terdiam mematung.

"Dewa... mukul kamu lagi?"

Naya membeku mendengar pertanyaan mendadak Rekha. Dia... tahu kalau Dewa sering bersikap kasar?

"Naya, jawab. Memar ini... gara-gara dipukul Dewa? Iya?"

Naya masih tidak menjawab, mulutnya sedikit terbuka, tapi sebelum dia sempat merangkai kebohongan lain untuk membalas ucapan kakak iparnya, terdengar suara langkah kaki bergegas dari arah lorong depan, saat suara itu semakin mendekat....

"M-maaf, Mas. Aku... aku harus pergi!"

Naya langsung segera melarikan diri dari hadapan Rekha. Dewa sangat pencemburu, dia tak mau mendapat masalah baru, hanya karena ketahuan bicara berdua dengan kakak iparnya.

Expand
Next Chapter
Download

Latest chapter

More Chapters

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

No Comments
6 Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status