LOGIN"Sayang, ini baru permulaan. Aku akan memberikan kenikmatan yang nggak pernah suamimu berikan, jadi bersiaplah." Awalnya, ini hanya perjanjian satu malam antara Naya dan suaminya untuk mendapatkan benih dari sang kakak, tapi semakin lama, hubungan mereka makin tak terkendali...
View More"Terus mas pengen apa biar mas nafsu ke aku? Apa aku perlu melepas semua pakaian aku dan nari di depan mas? Gitu?"
Balasan Naya bukannya membuat Dewa senang, tapi justru semakin marah. "Halah, pake nawarin nari tanpa baju segala! Kamu mau ngelakuin apa pun, nyatanya barangku tetap nggak mau bangun, kan? Itu karena kamu nggak becus melayani suami! Badanmu tuh kaku, nggak ada menarik-menariknya sama sekali. Pantes aja aku muak lihatnya! Kayak patung, nggak punya jiwa!" Rentetan penghinaan keluar dari mulut Dewa, dia memandang sinis ke arah Naya, seakan-akan istrinya itu benar-benar wanita gagal, hal itu membuat Naya lama-lama tak terima. "Mas Dewa, cukup! Ini bukan salahku ya, Mas!" bantah Naya dengan mata berkaca-kaca. "Dari bulan lalu kamu yang selalu gagal begini, kenapa ujung-ujungnya aku yang terus dihina? Kalau memang kamu yang bermasalah, periksa ke dokter, Mas, bukan malah melampiaskannya ke aku!" Plakk! Sebuah tamparan keras mendarat telak di pipi Naya. Tubuhnya sampai terhuyung ke tepi ranjang, sementara sudut bibirnya langsung terasa kebas dan menyisakan rasa anyir darah. "Berani kamu ngelawan aku, hah?! Sekarang kamu mulai ngelunjak, ya!" Dewa menunjuk wajah Naya dengan tatapan penuh kebencian. "A-aku cuma ngomong kenyataan, Mas. Kalau mas ada masalah nggak bisa nafsu lihat cewek, mas harus—" PLAKKKK!!! Tamparan kedua mendarat di pipi Naya, lebih kencang sampai membuat pipi wanita cantik itu lebam dan tubuhnya jatuh tersungkur. "Denger ya, perempuan miskin! Kalau bukan karena aku yang berbaik hati bayarin biaya rumah sakit bapakmu yang penyakitan itu, kamu udah jadi gembel di jalanan! Jangan sok pintar ngajarin aku, apalagi nyuruh aku periksa! Yang bermasalah itu kamu, ya! Bukan aku!" "Mas, teganya kamu mukul aku, Mas..." Naya memegangi pipinya yang memanas, air matanya tak lagi bisa ditahan, selama ini dia terus bertahan menghadapi suaminya yang mulutnya kasar, tapi tamparan kalo ini benar-benar membuat hatinya hancur. "Hahhh!!! Nyesel aku nikah sama kamu! Bikin hancur mood aja!" umpat Dewa. Ia berbalik, melangkah keluar kamar dan membanting pintu dengan sangat keras. Brak! Tubuh Naya luruh ke lantai, menangis sendirian dalam keheningan kamar. Pipinya berdenyut nyeri hingga ke telinga. Merasa butuh es batu untuk meredakan bengkaknya, Naya perlahan bangkit dan berjalan gontai menuruni tangga menuju dapur di lantai bawah untuk mengambil es batu di lemari es. Saat ia baru saja berbalik dari depan kulkas sambil membawa segumpal es batu, tiba-tiba... Dug. "Aduh!" Naya terkesiap saat keningnya menabrak dada bidang seseorang, dia pun refleks mengusap kening sambil mengaduh kecil. "Hati-hati," sebuah suara berat dan familier mengalun di atas kepalanya. Naya mendongak, matanya seketika membulat lebar. "Mas Rekha? K-kapan pulang dari London?" Rekha adalah kakak tiri Dewa, meskipun Dewa terkenal tampan dan idola banyak wanita, Rekha benar-benar tak ada tandingannya dengan Dewa, selain sangat tampan, tinggi dan memiliki tubuh tegap, Rekha juga memancarkan aura dingin yang begitu mendebarkan sekaligus menggoda, membuat Naya tak pernah berani berada dekat dekat dengannya karena auranya yang begitu menekan. Bukannya menjawab pertanyaan gugup Naya, tatapan tajam Rekha justru terkunci pada sudut bibir Naya yang memar. Pria itu mengikis jarak di antara mereka, mengangkat tangan kanannya perlahan. "Mas Rekha... m-mau apa?" cicit Naya panik, jantungnya berdebar tak karuan mendapat perlakuan sedekat ini dari kakak iparnya yang dingin dan tak pernah bicara dengannya semenjak Naya menginjakkan kaki di rumah ini. Ibu jari Rekha menyentuh sudut bibir Naya, mengusap noda darah di sana dengan gerakan lambat dan sangat berhati-hati. "Bibirmu ... berdarah." "I-ini... tadi aku nggak sengaja kebentur pintu lemari, Mas," kilah Naya terbata-bata, mencoba memundurkan tubuhnya tapi punggungnya sudah terhimpit pintu kulkas. Rekha tiba-tiba menunduk. Aroma maskulin langsung menyergap indera penciuman Naya. Wajah pria itu kini berada tepat di samping telinganya, membuat jantung Naya berdegup dengan aneh. "Lemari nggak punya tangan buat menampar orang, Naya," bisik Rekha dengan suara rendah dan serak, tatapan tajamnya seakan mampu melelehkan kaki Naya, sehingga Naya hanya terdiam mematung. "Dewa... mukul kamu lagi?" Naya membeku mendengar pertanyaan mendadak Rekha. Dia... tahu kalau Dewa sering bersikap kasar? "Naya, jawab. Memar ini... gara-gara dipukul Dewa? Iya?" Naya masih tidak menjawab, mulutnya sedikit terbuka, tapi sebelum dia sempat merangkai kebohongan lain untuk membalas ucapan kakak iparnya, terdengar suara langkah kaki bergegas dari arah lorong depan, saat suara itu semakin mendekat.... "M-maaf, Mas. Aku... aku harus pergi!" Naya langsung segera melarikan diri dari hadapan Rekha. Dewa sangat pencemburu, dia tak mau mendapat masalah baru, hanya karena ketahuan bicara berdua dengan kakak iparnya.Mata Dewa memerah seketika. Urat di pelipisnya menonjol keluar saat mendengar ancaman dari Naya tersebut. PLAK! Satu tamparan keras mendarat telak di pipi Naya, membuat wanita itu terhuyung dan menabrak ujung ranjang. Namun, sebelum Naya bisa menyeimbangkan diri, Dewa sudah menerjang maju dan mencengkeram rahang Naya dengan kasar, memaksa wanita itu mendongak menatapnya. "Lepaskan! Sakit, Dewa!" rintih Naya, air matanya jatuh membasahi tangan suaminya. "Berani sekali kamu mengancamku, Pelacur Kecil?!" desis Dewa dengan napas memburu, wajahnya hanya berjarak beberapa sentimeter dari wajah Naya yang ketakutan. "Kamu pikir ada yang akan percaya pada omongan wanita miskin kayak kamu?! Kamu pikir ibuku akan mendengarkan pembelaanmu, hah?!" "A-aku... aku akan membuktikan semuanya!" "Dengan apa?! Nggak bakalan ada yang akan membelamu di rumah ini, Naya!" Dewa menghempaskan wajah Naya hingga wanita itu tersungkur ke lantai. Dewa merogoh saku jasnya dengan kasar, mengeluarkan p
"Naya, dengarkan aku baik-baik. Kamu sangat bersyukur karena aku telah menyelamatkan nyawa ayahmu dari kematian, bukan? Kamu tentu masih ingat dengan sangat jelas siapa pahlawan yang mau mengeluarkan uang ratusan juta demi operasi jantungnya setahun yang lalu, ya kan?" Naya sedikit bingung dengan arah pembicaraan Dewa, tapi segera menjawab dengan lembut. "Tentu saja aku selalu mengingatnya. Aku sangat berterima kasih padamu atas semua itu. Aku berhutang nyawa ayahku padamu. Tapi... kenapa kamu tiba-tiba mengungkit hal masa lalu ini di saat seperti ini?" "Nggak kok, Sayang. Aku cuma lagi ingin mengingatkan ingatanmu kalau nggak ada kebaikan yang gratis di dunia ini. Dan sekarang... aku butuh kamu membalas budi besar itu padaku." "Membalas budi? Dengan cara apa, Dewa? Aku selalu setia menuruti semua keinginanmu tanpa pernah membantah. Katakan saja apa yang harus kulakukan untukmu sekarang," jawab Naya, sedikit kebingungan dengan nada bicara Dewa yang berputar-putar, beda dengan
"Tentu saja itu palsu, bodoh! Aku yang menyuruhmu memalsukannya untuk menutupi kelemahanku! Kalau Ibu sampai tahu akulah yang sebenarnya impoten dan tidak bisa membuahi wanita mana pun, tamat sudah riwayatku!""Lalu apa rencana Bapak sekarang? Kondisi medis Bapak sejujurnya memang tidak ada kemajuan. Pengobatan dan terapi luar negeri sejauh ini sama sekali tidak berhasil mengatasi disfungsi Bapak.""Kamu pikir aku nggak tahu?! Bangsat! Aku tahu aku nggak mungkin bisa menghamili Naya! Tapi anak itu harus ada. Harus ada benih di dalam rahim Naya sebelum batas waktu tiga bulan ini habis!""Kalau begitu... apakah Bapak mempertimbangkan untuk mengadopsi bayi secara diam-diam? Atau mungkin menggunakan donor sperma anonim dari luar negeri?" tanya Andi, menawarkan jalan keluar untuk Dewa, tapi Dewa langsung menggeleng."Nggak mungkin! Ibu nggak sebodoh itu. Dia wanita yang licik, Andi. Dia pasti akan menuntut tes DNA kalo bayi itu lahir untuk memastikan garis keturunannya. Aku butuh seseorang
PLAK! Sebuah map tebal berbahan kulit dilemparkan dengan kasar ke atas meja kayu mahoni, menyebarkan beberapa lembar kertas berisi grafik dan tulisan medis ke segala arah, begitu Dewa masuk ke ruang kerja Nyonya Widya, ibunya. "Jelaskan padaku apa maksud dari semua ini, Dewa! Sekarang juga!" bentak Nyonya Widya, urat-urat di lehernya menonjol menahan amarah yang sewaktu-waktu bisa meledak.Dewa langsung panik saat melihat laporan medisnya dan Naya, kini berhamburan di meja kerja sang ibu. "Ibu, tenangkan dirimu dulu. Itu... itu kan cuma rekam medis Naya dari rumah sakit kemarin. Bukankah Ibu sendiri yang menyuruhku mengambilnya?" jawab Dewa dengan suara sedikit bergetar, mencoba menghindari tatapan tajam ibunya. "Tentu saja aku yang menyuruhmu! Dan baguslah aku melakukannya! Mandul? Istrimu divonis nggak bisa memberikan keturunan, dan kamu baru berani memberitahuku sekarang?!" pekik Nyonya Widya, menunjuk ke arah kertas-kertas tersebut dengan jari telunjuknya yang berhias ci












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.