Masuk"Apa kamu masih per*wan?" tanya Aland pada Rania. Rania terkejut mendengar pertanyaan dari pria yang baru saja sah menjadi suaminya itu. Bukan tanpa alasan Aland menanyakan hal tersebut. Sebab, tepat setelah ijab kabul dilakukan, Aland mendapatkan kiriman foto-foto dari orang yang tak ia kenal. Foto-foto yang memperlihatkan keadaan Rania yang tengah tertidur bersama seorang pria di tempat yang nampak seperti hotel. Aland menatap tajam ke arah wanita yang masih mengenakan gaun pengantin itu. Melihat Rania dan juga foto-foto yang dikirimkan padanya itu membuatnya murka. Sebab dalam satu hari, Aland tak hanya mendapatkan luka kepergian Zara —calon pengantinnya— tapi juga masa lalu dari wanita yang menggantikan posisi calon istrinya. "Akan kucari tahu siapa pengirim foto itu dan apa tujuannya," ujar Aland, menatap tajam. Sedangkan Rania, ia yakin jika si pengirim foto itu pasti dari mantan kekasihnya, Devan. "Kalau benar memang dia, aku nggak akan biarkan dia kembali merusak hidupku. Devan, kamu harus terima akibat dari perbuatanmu!" batin Rania tegas. *** Apakah yang akan terjadi selanjutnya? Akankah pernikahan Aland dan Rania yang serba mendadak itu akan berujung pada perpisahan? atau justru sebaliknya? Lalu, bagaimana dengan Rania? mungkinkah ia adalah wanita seperti yang disangkakan Aland? Mampukah Aland menemukan siapa pengirim foto itu dan alasannya? Lantas bagaimana nasib akhir dari Zara? dan mengapa ia meninggalkan Aland tepat di hari pernikahan mereka? Temukan jawabannya di cerita terbaruku "My Husband, Marry Me : Balas Dendam Pengantin yang Terluka" Terima kasih sudah membaca, Tetap Utamakan Baca Al-Qur'an 💜 🤗
Lihat lebih banyakBab 1 Apa Kamu Masih Per*wan?
"Apa kamu masih per*wan?" Rania tersentak kaget mendengar pertanyaan yang baru saja dilontarkan oleh pria yang baru saja menjadi suaminya itu, Aland. Aland Adhitama, CEO dari perusahaan Adhitama yang sudah cukup memiliki nama di negeri ini. Pria yang baru Rania kenal sekaligus mendadak menjadi suaminya. "Ma-maksud kamu apa, Mas?" tanya Rania tak mengerti. Ia betul-betul tak paham mengapa tiba-tiba pria berwajah dingin itu melontarkan pertanyaan tersebut. Bahkan, di saat ia masih mengenakan gaun pengantin yang sebelumnya ia kenakan saat acara. Aland menatap tajam wanita berhijab itu. Tatapan dingin yang membuat Rania sedikit memalingkan wajah karena merasa ketakutan. Terlebih, bagaimana ia bisa menjadi bagian dari kehidupan pria berkulit putih itu, membuat Rania semakin takut kalau-kalau dirinya salah memilih keputusan. Masih dengan tatapan serius dan ekspresi wajah yang tampak murka serta rahang yang mengeras. Ditambah urat-urat di tangannya yang terlihat menonjol saat mencengkeram ponselnya. Aland lantas menyodorkan benda pipih itu tepat ke mata Rania. "Lihat baik-baik!" ucap Aland dengan suara rendah menahan amarah. Rania terperangah melihat foto yang diperlihatkan Aland padanya. Aland menarik ponselnya. "Wajar kan kalau aku tanya soal kamu masih per*wan atau enggak." Rania masih terdiam. Ia syok karena Aland yang memiliki foto masa lalunya itu. Sebuah foto yang memperlihatkan dirinya tengah terlelap di balik selimut putih yang hanya menutupi sebatas dada dengan rambut yang terurai bebas, membuat dirinya seolah-olah menikmati kehangatan bersama seorang pria yang ia kenal. Padahal sebenarnya, di balik kain putih tersebut, masih ada pakaian lengkap miliknya. Walaupun memang terlihat sedikit berantakan. Devan —mantan kekasih Rania— adalah pria yang tidur bersama Rania di dalam foto yang ditunjukkan oleh Aland sebelumnya. "Awalnya aku pikir itu cuma foto editan. Makanya aku nggak gubris foto itu. Tapi si pengirim justru terus-terusan memintaku untuk memeriksa keasliannya. Dan ya, setelah sekretarisku memeriksanya, ternyata foto itu memang benar adanya," jelas Aland. Ia berbalik arah dengan rasa tak percayanya. "Rania. Asal kamu tau, saat orang tuaku memilih kamu untuk menggantikan posisi pengantin wanitaku." Aland kembali melihat ke arah Rania. "Tanpa banyak pikir, demi nama baikku, keluargaku dan perusahaanku, aku yang melihatmu tampak agamis langsung menerimamu. Tapi nyatanya ...." Aland sengaja menggantungkan ucapannya. Bukan karena tidak sanggup, tapi lebih karena tidak menyangka jika wanita yang ia nikahi bukanlah seperti yang disangkakan. *** Beberapa jam sebelumnya, Aland yang masih dilanda rasa gugup karena harus menghafalkan ijab kabul, tiba-tiba mendapatkan pesan yang membuat dunianya runtuh seketika. [Maafkan aku, Aland. Aku harus pergi di hari pernikahan kita. Semoga kamu tetap baik dan selamat tinggal] Aland menatap layar ponselnya dengan perasaan sedih, hancur juga marah. Sebuah pesan singkat baru saja ia terima dari Zara —calon istrinya— tepat beberapa jam sebelum akad nikah dilaksanakan. Aland mencoba menghubungi Zara, tapi sayang nomornya tidak aktif. Berulang kali ia mencoba seolah nomor yang ia tuju baik-baik saja yang membuat pria bertubuh tinggi itu tampak hampir gila. Padahal, hari ini adalah hari yang sebelumnya menjadi rencana dari perjalanan hidupnya bersama wanita pilihannya itu. Brakk! Aland membanting ponselnya. Tak lama setelah itu, kedua orang tuanya membuka pintu dan keheranan melihat anak satu-satunya itu. "Aland, ada apa?" tanya Bu Desi, ibu kandung Aland. Aland mengusap kasar wajahnya. Ia benar-benar terlihat frustasi dengan keadaannya sekarang. "Aland bicara, Nak. Ada apa?" desak Bu Desi. "Zara pergi, Ma. Zara ninggalin aku," jawab Aland. Kedua matanya meneteskan air mata. Ia benar-benar tak habis pikir dengan keputusan wanita yang dicintainya setahun terakhir ini. "Pergi?!" sahut Pak Darma, ayah Aland. Aland mengangguk dengan menahan tangisnya. "Wanita itu, berani-beraninya melakukan ini pada anakku." Pak Darma mengepalkan tangannya dengan tatapan murka. Bu Desi mendekati Pak Darma. Wanita paruh baya itu mencoba menenangkan suaminya itu. "Sudah, Pa. Tahan emosi Papa. Lebih baik sekarang—" "Kita harus cari pengantin pengganti buat anak kita," tukas Pak Darma, melihat ke arah istrinya. "Pengantin pengganti?" "Iya, Ma. Kita nggak bisa batalkan pernikahan anak kita gitu aja. Mau di taruh di mana wajah kita kalau sampai acara ini batal cuma karena wanita si*alan itu," papar Pak Darma. "Tapi kita mau cari di mana, Pa? Nyari wanita yang mau dinikahi secara mendadak gitu kan juga bukan hal yang mudah. Sekalipun anak kita tampan, kita punya uang, tapi kita juga gak bisa asal milih menantu. Apalagi mendadak seperti ini." Belum sempat Pak Darma membalas perkataan istrinya, tiba-tiba terdengar suara yang membuat Aland dan kedua orang tuanya mengalihkan pandangan mereka. "Bagaimana dengan adik saya?" Rayyan —kakak kandung Rania, sekaligus teman Aland— berjalan mendekat ke tempat Aland berada. "Sebelumnya saya minta maaf karena nggak sengaja mendengar permasalahan yang dialami Aland," ujar Rayyan, tak enak hati. "Lupakan. Saya mau dengar sekali lagi ucapan kamu sebelumnya. Soal adik kamu," potong Pak Darma. Rayyan tersenyum simpul. Lalu mengeluarkan ponselnya dari saku celananya. Ia lantas mencari sebuah foto dan menunjukkan pada Pak Darma. "Namanya Rania. Dia adik perempuan saya satu-satunya," ucap Rayyan. Pak Darma mengambil ponsel milik Rayyan dan mengamati foto wanita yang mengenakan hijab itu. Melihat suaminya yang tampak serius, Bu Desi lantas mendekat. "Cantik, Pa," cetus Bu Desi. Pak Darma mengembalikan perangkat itu ke pemiliknya sembari bertanya," kenapa kamu ingin adikmu yang menjadi pengantin wanitanya Aland?" Pak Darma terlihat serius. Meski istrinya sudah mengakui kecantikan yang dimiliki Rania, yang kemudian dibenarkan oleh Pak Darma walaupun dalam hati, pria berkepala lima itu tak lantas mengiyakan penawaran dari Rayyan. Sekalipun ia tahu, pria di hadapannya itu adalah teman dari anaknya. "Saya akan jelaskan mengapa saya menawarkan adik saya untuk menggantikan posisi pengantin wanita dari Aland." Bersambung ... ☘️☘️☘️☘️☘️ Terima kasih sudah membaca, semoga suka dan happy reading yaa 🤗 Tetap Utamakan Baca Al-Qur'an 💜Bab 37 Misi DimulaiAland berjalan mendekati istrinya. Mengusap lembut kedua sisi rambut Rania dengan senyum yang tak kalah manis. Senyuman yang membuat hati wanita itu meleleh dan jantung yang mendadak berdebar."Ada hal yang mau aku katakan," ucap Aland, menatap dalam netra Rania."Apa itu, Mas?" tanya Rania penasaran.Aland menatap lekat kedua bola mata istrinya. Ia kembali mengulas senyum untuk Rania. Senyuman tulus yang kini bisa Rania dapatkan setiap saat. "Waktu bermain sudah hampir dekat," ujar Aland serius."Bermain?" Rania mengernyit. Pikirannya mendadak negatif dan ia mulai tersipu malu. Mengingat bagaimana hubungan mereka akhir-akhir ini. Lebih hangat, intim dan terasa bukan lagi sepasang suami istri di atas kertas.Aland mengangguk kecil. "Iya," jawabnya setengah lirih."Tunggu. Maksud Mas Aland bermain apa, sih?" tanya wanita itu dengan ragu. Ia takut salah menafsirkan apa yang dikatakan pria dengan baju tidur berwarna hitam di hadapannya itu.Pertanyaan Rania barusan ju
Bab 36 Modal Awal Pembalasan Di sudut basement, Arga yang diikuti oleh Ryan dan Zaky kini dihadapkan pada sebuah benda besar yang tertutup kain putih."Ini apa, Pak?" tanya Zaky penasaran.Arga tersenyum tipis. "Kalian akan tau sebentar lagi," ujar pria dengan tatanan rambut yang selalu rapi itu.Arga pun menarik kain tersebut dan terlihatlah sebuah mobil campervan berwarna hitam. Meski berukuran sedang namun kendaraan pribadi yang jarang dimiliki orang itu sungguh terlihat mewah dan elegan. Mendapati pemandangan di depan mata yang belum pernah dilihat secara langsung, Ryan dan Zaky sama-sama kompak membelalakkan mata dengan mulut yang sedikit terbuka."Gila! Keren banget!" cetus Zaky. Pria dengan sikap selengekan itu tampak semringah."Beneran selera CEO ini, mah." Ryan geleng-geleng kepala. Tak kalah kagumnya dengan partner kerja barunya itu."Ayo masuk!" ajak Arga pada dua orang itu. Ia pun masuk ke mobil campervan tersebut dan diikuti oleh Ryan dan Zaky. Di sana, Arga menjelaskan
Bab 35 Misi dari Aland"Sekali lagi saya minta maaf, Pak. Saya sudah lancang memberikan nomor pribadi Pak Aland pada orang lain. Apalagi orang itu adalah orang di masa lalu istri Pak Aland." Ryan sedikit menunduk. Tampak jelas dari raut wajahnya, ia tak berani menatap wajah Aland yang dingin.Ditambah dengan sikap Aland yang masih belum memberi respon. Ryan takut jika kehadirannya di ruangan orang nomor satu tempat ia berkerja itu justru membawanya harus mengemasi semua barangnya.Hingga akhirnya, Aland pun memberi respons. Ia mengangguk kecil dan kembali menatap Ryan dengan serius. "Saya nggak akan mempermasalahkan itu. Saya mengerti kondisi kamu. Jadi, kamu tenang saja. Lagipula, kamu pernah membantu saya," ujar pria bersetelan jas warna hitam itu.Ryan tersenyum lega mendengar jawaban dari Aland. Kini, hatinya perlahan tenang karena rasa bersalahnya mulai menghilang."Dan sekarang, ada hal yang jauh lebih penting dari masalah yang sudah berlalu itu. Dan saya mau kamu melakukannya,
Bab 34 Terungkap Fakta"Sebelumnya aku minta maaf sama kamu, Ray. Karena sebenarnya, kemarin pas aku nemuin Zaky, aku emang minta tolong sama dia buat cari tau soal Devan. Tapi aku minta sama dia kalau kerjain tugasnya itu selama masa liburan aja. Aku nggak tau kalau dia bakal minta waktu tambahan selama itu," jelas Aland. Berharap Rayyan bisa mengerti akan keputusannya."Aaa gitu ya," balas Rayyan sambil tersenyum sungkan. Kini, malah dirinya yang mendadak tak enak hati pada Aland. Karena apa yang dilakukan Aland menyangkut adiknya sendiri."Sekali lagi aku minta maaf ya, Ray. Aku janji setelah ini aku akan telepon Zaky buat nggak ngelanjutin—.""Gak pa-pa, Land," potong Rayyan cepat. Aland memperlihatkan raut wajah bertanya-tanya."Udah nggak pa-pa. Biarin Zaky menyelesaikan misi dari kamu itu. Soal minimarket masih bisalah aku yang urus. Kamu tenang aja," jelas Rayyan."Aku justru berterima kasih sama kamu. Karena kamu mau sepeduli ini sama adikku yang padahal dia cuma bawa beban












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.