LOGINOn New Year's Eve, my husband, Max Davis, took me to a private dinner hosted by a big industry player. We had barely made our way around the room when a strange woman suddenly shoved me into the pool. When I insisted on checking the surveillance footage and calling the police, Max firmly held me back. He warned me to "remember my place" and not embarrass him in front of everyone. In the brief time I changed into another gown, I returned to find that same woman perched on my husband's lap, her red lipstick leaving traces on his collar. "Max, you're right! That nasty scar on her stomach really does look like a centipede. It's so hideous!" She giggled with mock innocence, adding, "It's been so fun messing with your wife. Next time, can I slap her when no one's looking?" Meanwhile, Max gazed at her like she was the only woman in the world, gently tracing his finger over her nose. "Of course, you can," he replied, eyes still locked on hers. "I'll even tie her hands behind her back for you."
View MorePagi hari, di sebuah mansion mewah. Seharusnya seseorang merasa senang ketika berada di dalam sana. Namun, semua ini tidak berlaku kepadanya.
Hembusan angin yang dihasilkan oleh pendingin ruangan lembut menerpa dan menyentuh inci demi inci kulit putih dan mulus itu. Dingin. Hal yang pertama kali Ia rasakan sebelum akhirnya membuka mata dengan perlahan. Terang. Dia mengerjapkan matanya beberapa kali, mencoba beradaptasi dengan lampu ruangan yang dirasa sangat menyilaukan. Seorang wanita cantik terkulai lemah di atas ranjang tanpa menggunakan sehelai kainpun untuk menutupi tubuhnya. Dengan kedua tangan serta kaki yang terikat tali dan mulut yang dibekap lakban. Pandangannya buram dan tubuhnya sangat lemah sehingga dirinya tidak bisa dengan leluasa bergerak ataupun mencoba melepaskan ikatan pada tubuhnya. “Kau sudah sadar?” Tiba-tiba terdengar suara seoarang pria. “Tentu saja, kau harus segera sadar agar tidak menyusahkanku terlalu lama.” Pandangannya mengedar mencari asal sumber suara tersebut, hingga akhirnya pencarian itu terhenti pada satu sosok yang tengah duduk di atas sofa tunggal tepat di depan ranjang. Seorang pria mengenakan kemeja putih tengah duduk dengan kaki yang saling bertumpu dengan sulutan satu batang rokok di selah jemarinya. Siapa dia? Wajahnya tidak bisa Ia lihat dengan jelas. Tidak lama kemudian, pria tersebut beranjak dari tempat duduknya. Melangkah mendekat ke arah wanita cantik yang tengah terkulai lemah di atas ranjang. Pria itu mendekat, naik ke atas ranjang dan mulai merangkak di atas tubuh wanita cantik tersebut. Sebenarnya apa yang tengah terjadi? Kenapa seluruh tubuhnya terasa sangat lemas, dan hampir tidak bisa digerakan sama sekali. Kepalanya juga terasa sangat berat dan juga pusing, ini sangat menyiksa, ditambah pandangannya yang kabur dan tidak bisa melihat dengan jelas. Semakin Ia meronta, maka semakin terasa menyakitkan di seluruh tubuhnya. “Clara Alunna,” serunya seraya memegang rahang wanita cantik yang bernama Clara tersebut dengan sedikit kasar. Lalu PLAK! Satu tamparan keras dilayangkan tepat pada wajah cantik Clara tanpa alasan yang jelas. Clara mengerjapkan matanya beberapa kali, berharap agar pandangannya segera pulih dan jelas untuk melihat kembali. Namun sebelum itu terjadi, satu tamparan keras mendarat lagi di pipi putih mulusnya. Setelah itu, dengan paksa dan kasar pria tersebut membuka lakban yang membekap mulut wanita cantik itu. Itu menyakitkan, air matanya sampai menetes dari ujung mata akibat menahan rasa perih yang teramat. Tapi di balik rasa sakitnya, Clara masih mencoba membuka matanya kembali agar Ia bisa mengetahui siapa pria yang tengah mempermainkanya. Mata yang memerah dengan genangan air itu perlahan terbuka, melihat siluet samar di hadapanya. Who is he? Clara bahkan tidak mengenalnya. “S-siapa kau?” tanya Clara parau. Dahinya mengkerut tajam dengan tatapan yang heran dan juga waspada, bibirnya gemetar dengan bercak darah di ujungnya. Tidak hanya bibir, bahkan seluruh tubuhnya bergetar. Ditambah Ia tidak mengenakan sehelai kainpun untuk menutupi tubuhnya, dan yang lebih parahnya lagi ada seorang pria di sana. Namun perlahan kesadaran Clara berangsur pulih, meskipun rasa pengar di kepalanya masih begitu mendominasi. “Apa kau berhak bertanya seperti itu kepadaku?” tanya pria tersebut, dan lagi-lagi memberikan tamparan keras pada pipi Clara untuk yang ke tiga kalinya. Clara memejamkan matanya dengan bibir yang terus bergetar hebat, rasa perih dan juga sakit akibat tamparan yang bertubi-tubi pada wajahnya setidaknya masih dapat Ia tahan. “Kau tidak perlu mengetahui siapa aku, Clara. Diam dan patuhi! Aku membelimu dengan harga mahal,” ucapnya lagi dan kemudian mencengkram rahang Clara kembali dengan begitu kuat. Kini, pandangan Clara sudah dapat melihat dengan jelas. Pria bertubuh tegap dengan wajah yang tampan. Memiliki manik mata hazel, bibir yang sensual dan berwarna merah, dengan dagu yang sedikit terbelah. Sangat tampan, namun perilakunya sangat kasar. Pakaiannya yang dikenakannya juga sudah tidak rapih lagi. Kemeja putih itu kusut dengan beberapa kancing atas yang terbuka. Memperlihatkan sebagian dada bidangnya. Pria tersebut mulai mendekatkan wajahnya pada wajah clara. Bau nikotin menguar darinya saat tubuh itu semakin mendekat dan menjadi sangat dekat. Clara mencoba menolehkan wajahnya yang sedikit lagi akan bersentuhan dengan wajah pria itu. Namun cengkraman jemarinya pada wajah Clara sangatlah kuat, dan meronta hanyalah cara untuk tambah rasa sakitnya saja. “Lepas!” Clara meronta, namun setelah itu bibir sintal dan sexi milik pria yang tengah menguasai tubuhnya tiba mendarat tepat di bibir Clara kemudian menciumnya. Clara meronta, menggerakan kepalanya dengan sekuat tenaga agar bibirnya terlepas dari ciuman yang diberikan oleh pria itu. Namun dengan kedua tangan dan kaki yang masih terikat dan juga tubuh yang sangat lemas, usaha Clara hanya akan berbuah sia-sia. Ujung matanya mengeluarkan beberapa tetes cairan bening yang membasahi wajah cantiknya. Clara memejamkan matanya dengan menahan isak tangis di dalam dada. Ini bukan lagi sebuah ciuman. Namun, ini sebuah penyiksaan. Bukan lagi kenikmatan yang mana dihasilkan dari sentuhan-sentuhan itu. Melainkan rasa sakit dengan perih yang teramat. Selain menjelajahi bibir Clara dengan sangat liar, lengan pria tersebut juga mulai menyentuh lembut dada Clara yang terpampang jelas tanpa penutup. Menyentuh, dan memperlakukannya tanpa perasaan. Membuat wanita cantik itu semakin meringis kesakitan. Namun seketika panggutan bibir mereka terlepas, pria itu menarik tubuhnya menjauh dari tubuh Clara. Lantas Clara memberanikan diri untuk membuka matanya yang rapat oleh genangan air mata, dengan matanya yang memerah Clara melihat pria tersebut tengah membuka ikatan pada kaki dan lengannya mengggunakan sebuah pisau cater. Tentu saja tidak berakhir begitu saja. Nyatanya setelah membuka ikatan pada lengan dan kaki Clara, kini pria itu malah menarik kedua lengan Clara dan diikatkanya pada masing-masing sisi ranjang. Rontaan yang dilakukan oleh Clara sama sekali tidak berpengaruh kepadanya. Pria itu sukses mengikat kedua lengan Clara kembali namun dengan posisi yang berbeda. Setelah itu, pria tersebut mulai membuka pakaian yang menutupi tubuh bagian atasnya, lalu beralih membuka sabuk yang tengah digunakannya. O Lord tidak! Jangan hal itu! Teriak Clara dalam hati dengan tubuh yang semakin bergetar hebat. “No …” lirih Clana parau. Seketika Ia menghentikan aktivitasnya, kemudian beralih menatap Clara dengan tajam. “Why Clara?” tanyanya dengan seringai. “You are not a virgin anymore, why are you afraid to do it?” imbuhnya bertanya. I'M NOT A VIRGIN ANYMORE!Despite being a new company, my business grew steadily. Many of Max's employees flocked to join me, tired of sitting idle on a sinking ship. Without business prospects or decent pay at his company, the choice was clear for them.My company was the opposite: fast-growing, vibrant, and even reaching international markets. The day we secured our first overseas contract, I gave everyone cash bonuses, hosted a company dinner, and declared the next day off.During the celebration dinner, Max's call interrupted my evening. "Suri, can we meet up? I just want to talk."I hung up without responding.Though I was not actively following their drama, office gossip kept me informed. Coco's behavior at Max's company had only worsened since his public outburst at her, seemingly retaliating by harassing employees and driving away key personnel.She pretended to know everything about the business but could not deliver when it mattered. The company's reputation tanked quickly, and the empire Max spe
To celebrate my newfound freedom, I chose a private island getaway. While scrolling through social media, I saw Coco flaunting her relationship with Max, who promoted her to executive assistant. With that, she sat pretty as the queen of his company, just beneath him in authority.Coco reveled in her new power, but it quickly went to her head. On my second day of vacation, several longtime employees called me in tears. Apparently, Coco was targeting anyone who had been close to me, trying to force them out without severance.She was truly Max's loyal henchwoman, squeezing every penny for him.As I listened to their complaints, an idea struck me. These employees had been there since the beginning; they were the foundation of the company. Coco did not understand their value, but I did.I knew how hard they worked and how much they loved what they did. The situation left them heartbroken. Moreover, Max did not care about Coco's antics, leaving everything to rot.If they believed in me
That evening, I returned home, and surprisingly, so did Max. He brought an elaborate container of home-cooked comfort food."I made all of this myself. It's everything you love," he said, picking up a bowl of soup as the housekeeper handed him utensils.Leaning back on the couch, I watched as Max brought the bowl to me. He even blew on it to cool it down. "Drink this, it's good for you," he urged softly.I glanced at it dismissively. "Get it away from me. It's disgusting."Max's chest heaved, but he held back his anger and tried to embrace me. "Suri, I only love you. Why won't you believe me? The divorce threat was just to scare me, right? You wouldn't be so cruel."I immediately pulled away. "Mr. Davis, show some self-respect. Stop being so pathetic."Max contained his anger again as I casually flipped through a magazine. "Unless... you drown Coco and tell her you don't love her to her face. Then I might forgive you.""You're insane!" Max's facade finally cracked. The devoted h
The shock on Max's face lasted only a second before turning into a mocking smile. "Playing hard to get now, Suri? You'd never divorce me. You wouldn't throw away everything you worked so hard to build."So he knew. He knew I had invested everything in our marriage and was confident I would not leave. He thought he had me all figured out, but the truth was, I had misjudged him."I'm not as weak as you think, Max. I'll be better off without you," I said coldly. "Once we're divorced, your little assistant won't be a homewrecker anymore. She can officially be your partner."As I turned to leave, Max panicked and grabbed me from behind, but I shoved him away violently."Are you crazy? Keep your hands off me!" I snapped, wincing as the pain in my abdomen made me break into a cold sweat."Suri, be honest. Is there someone else? Is that why you want a divorce? You wouldn't actually leave me, would you?" His voice cracked slightly.When I tried to leave, Max lunged for me at the entrance,






Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.