Share

Bab 03

Author: Dadar
Manolia tidak ingin menanggapi provokasinya, menoleh ke samping dan ingin pergi.

Melihat dia mencoba lari, Yusvina mengernyitkan alis, hendak melanjutkan celaannya, tiba-tiba muncul sosok yang familier di koridor.

Dengan satu gerakan, Yusvina menarik tangan Manolia, menyeretnya dan melompat ke kolam air mancur.

Keduanya tidak bisa berenang, di dalam kolam terus memukul-mukul air, berteriak minta tolong.

Luka di tubuh Manolia kembali terbuka, darah mengubah warna air kolam menjadi kemerahan.

Air dingin masuk ke hidungnya, membuatnya tersedak dan batuk-batuk.

Rasa sakit yang menusuk membuatnya tak lagi mampu melawan. Tubuhnya pun jatuh begitu saja ke bawah.

Hampir mati lemas, dia melihat Wendrino berlari dan melompat ke air.

Pria itu berenang melewati Manolia tanpa menoleh, tidak menolong sama sekali, malah memeluk Yusvina dan naik ke tepi kolam.

Yusvina dengan mata merah bersandar di pelukannya, menatap Manolia yang masih tenggelam, pura-pura panik.

"Manolia nggak sengaja mendorongku ke air. Wendrino, kamu tahu aku hanya punya satu adik ini. Tolong angkat dia ke atas, ya?"

Mendengar kata-katanya dan menatap Manolia di kolam, Wendrino menampakkan ekspresi dingin.

"Yusvina, jangan lagi membelanya. Dia jelas ingin membunuhmu, lalu ikut terjun untuk melakukan sandiwara. Kalau sifatnya nggak berubah, biarkan dia sadar di air!"

Setiap kata menusuk telinga Manolia, menusuk hatinya dalam-dalam.

Wajahnya memerah kebiruan, telinga berdengung, seluruh tenaga habis.

Kesadaran makin kabur, pandangan perlahan buram.

Dengan tanpa daya, dirinya hanya bisa menatap Wendrino memeluk Yusvina melangkah pergi, lalu pingsan ....

Entah berapa lama, Manolia terbangun karena angin dingin.

Sambil meringkuk kedinginan, dia membuka mata. Terlihat olehnya Pak Antonio dan Bu Yuresha berdiri di depan dengan ekspresi marah.

"Kamu berani sekali mendorong Yusvina ke air! Apa kamu ingin membunuhnya untuk menggantikannya, lalu bersama Wendrino?"

"Aku sudah bilang, selama aku dan ayahmu masih hidup, hal ini nggak akan pernah terjadi! Dari awal sampai akhir, kamu nggak ada apa-apanya dibanding kakakmu, sama sekali nggak pantas dengan Wendrino. Aku sarankan kamu terima kenyataan, jangan punya khayalan lagi!"

Mendengar teriakan mereka, tubuh Manolia menggigil, matanya perlahan dipenuhi keputusasaan.

Rasa sakit yang terpendam bertahun-tahun akhirnya meledak sepenuhnya.

"Aku nggak pantas? Lalu dia pantas? Kalau bukan karena kalian berbohong, Wendrino seumur hidupnya nggak akan memedulikannya! Kalian merampas apa yang seharusnya milikku, memberikan padanya, bukankah itu sangat memalukan?"

Melihat Manolia masih berani melawan, Bu Yuresha marah sampai wajahnya memerah, Pak Antonio menjulurkan tangan dan sebuah tamparan dilayangkan!

"Kamu anak durhaka! Kami orang tua kandungmu. Hidupmu dan semua yang kamu miliki itu pemberian kami. Kami mau tarik kembali nyawamu, berikan ke kakakmu atau apapun, emang kamu berhak keberatan?"

"Kalau kamu berani mengungkap kebenaran, tunggu saja ...."

Sebelum ucapannya selesai, pintu kamar rumah sakit didorong terbuka.

Wendrino memasuki ruangan sambil mengernyitkan alis.

"Kebenaran? Kebenaran apa?"

Melihat dia tiba-tiba masuk, Pak Antonio dan Bu Yuresha terkejut, berbicara gagap, "Kami sedang menghukum anak durhaka ini, agar dia mengaku mengapa mendorong Yusvina ke air."

"Ya, memang benar dia nggak mau mengaku. Aku dan Tantemu hampir mati kesal. Entah bagaimana harus menghukumnya."

Keduanya saling bertukar pandang, lalu diam-diam mengalihkan topik.

Wendrino tidak berpikir panjang, menatap Manolia dengan mata dingin menusuk.

"Kalau dia masih nggak mau mengaku, kunci saja ke kamar mayat. Kalau dia sadar salah, baru dilepas."

Merasa itu ide bagus, Pak Antonio dan Bu Yuresha segera memanggil pengawal untuk menahannya.

Manolia menutup wajahnya yang merah bengkak, matanya terlihat kosong.

Dia tahu, melawan hanya akan mendatangkan hukuman lebih parah. Dirinya tidak meronta sama sekali, membiarkan mereka menyeretnya pergi.

Dikelilingi rasa dingin menyeramkan kamar mayat, dia hanya bisa memeluk tubuhnya yang gemetar, terus menggigil.

Tiba-tiba, Manolia teringat masa lalu di rumah lama Keluarga Sarion, saat dia dan Wendrino bersandar untuk menghangatkan diri di malam hujan badai.

Saat itu, Wendrino menanggalkan jaket untuk diberikan padanya, memegang erat tangannya, berulang kali berkata, "Aku di sini, jangan takut."

Kenangan manis dan kenyataan dingin bercampur, menyiksa sarafnya.

Waktu berlalu detik demi detik, kelaparan dan kedinginan melanda, kesadarannya perlahan memudar, sampai pintu terbuka.

Wendrino masuk dengan ekspresi dingin, memperlihatkan tatapan yang tajam menusuk.

"Setelah terkunci sehari semalam, apa kamu sudah sadar kesalahanmu?"

"Sadar, aku salah total."

Manolia meringkuk, dengan susah payah mengeluarkan suara serak menjawabnya.

Melihat ekspresi puas di wajah pria itu, dia tergopoh-gopoh beranjak dan meninggalkan ruangan, lalu berbisik di dalam hati: kesalahannya adalah memercayai janji pria itu, bahwa Wendrino akan bersamanya. Dia bersalah karena menyukai pria itu.
Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App

Pinakabagong kabanata

  • Bertemu Lagi Tanpa Tangis   Bab 24

    Sejak saat itu, Manolia tidak pernah lagi melihat Wendrino.Dia hanya mendengar bahwa pria itu menjual perusahaannya, dan sejak itu tidak ada lagi yang mengetahui keberadaannya.Pak Antonio dan Bu Yuresha kemudian juga pernah mencoba menghubunginya, tetapi Manolia tidak mengatakan apa pun. Dia hanya mengirim kembali surat pemutusan hubungan orang tua–anak yang dulu mereka kirimkan kepadanya.Kalau dibilang tidak tersentuh tentu tidak mungkin, tetapi Manolia juga tidak berniat lagi memiliki hubungan apa pun dengan mereka.Bagaimanapun, bagi dirinya semua itu sudah menjadi hal yang sangat lama sekali.Setahun kemudian, Manolia memiliki sebuah studio kecil miliknya sendiri.Dia juga memiliki beberapa teman baik yang mempunyai cita-cita yang sama.Dibandingkan saat dulu bekerja di perusahaan, dia merasa lebih lelah.Walau begitu, dia telah mewujudkan mimpi yang dulu pernah dia miliki.Di dalam hatinya hanya terasa kepuasan yang tak terbatas.Pada hari pertama studio itu berdiri, seperti bi

  • Bertemu Lagi Tanpa Tangis   Bab 23

    Setelah kembali dari supermarket, hujan sudah benar-benar berhenti.Manolia dan Levario membawa satu kantong besar bahan makanan dan berjalan santai di jalan.Terasa sangat menyenangkan.Tiba-tiba sebuah sosok yang sangat dikenal muncul di depan mata Manolia di bawah gedung apartemen.Senyum di sudut bibir Manolia perlahan menghilang.Dia sama sekali tidak menyangka itu adalah orang yang paling ingin menemukannyaOrang itu adalah Wendrino.Rupanya Wendrino benar-benar datang mencarinya sampai ke sini.Levario yang berpikiran tajam tentu juga menyadari ada yang tidak beres pada Manolia. Dia melirik Wendrino yang tidak jauh dari sana, lalu secara refleks berdiri di depan Manolia melindunginya.Sebelum melihat Manolia, hati Wendrino sebenarnya penuh harapan.Namun ketika melihat ada seorang pria di sampingnya, wajah Wendrino langsung menjadi suram.Setelah mendekat dan melihat jelas wajah Levario, Wendrino menjadi murka.Dia segera melangkah, dengan cepat mendekat, dan Levario yang menyad

  • Bertemu Lagi Tanpa Tangis   Bab 22

    Beberapa hari ini Wendrino selain mencari keberadaan Manolia, dia juga kembali dan tinggal di tempat yang dulu pernah dia huni.Karena dia adalah anak yang dibuang oleh Keluarga Sarion, tempat tinggalnya tentu tidak terlalu baik.Bahkan terkadang atap rumah sampai bocor ketika hujan, membuat seluruh ruangan menjadi lembap.Meskipun begitu, Wendrino sangat suka berada di tempat ini, karena ada jejak aroma Manolia.Itu membuat hatinya yang gelisah bisa mendapatkan sedikit ketenangan.Dia memandang perabotan di dalam kamar. Di dalam hatinya ada perasaan yang begitu akrab sekaligus asing. Dia merasa akrab karena keberadaan Manolia membuatnya merasa sangat hangat. Merasa asing karena sebelumnya dia sama sekali tidak bisa melihat.Satu-satunya yang membuatnya bisa merasakan adalah bimbingan sabar Manolia yang terus-menerus.Bisa dikatakan bahwa wanita itu adalah harapan dalam kehidupan gelapnya.Perasaan suka Wendrino terhadapnya bukan hanya sebatas cinta antara pria dan wanita, lebih banyak

  • Bertemu Lagi Tanpa Tangis   Bab 21

    Setelah menyelesaikan urusan Yusvina dan kedua orang tuanya, Wendrino tampaknya masih belum puas.Bagaimanapun, Manolia sekarang sudah bukan lagi milik keluarga Yanata, tentu saja Wendrino bisa membalas dendam pada Keluarga Yanata sepuasnya.Wendrino memerintahkan orang-orangnya memanfaatkan ketidakhadiran anggota Keluarga Yanata, mulai membeli banyak saham Grup Yanata dan mulai mengontrol jumlah pesanan perusahaan.Karena harga terlalu murah, perusahaan milik Keluarga Yanata akhirnya diboikot oleh banyak perusahaan.Dengan cepat perusahaan itu dijauhi oleh industri ini.Namun itu masih belum cukup, Wendrino juga sengaja memberitahukan kabar ini kepada tiga orang di ruang bawah tanah.Pak Antonio sangat terpukul dan segera pingsan, sementara Bu Yuresha juga sibuk berjalan kian kemari dengan kewalahan.Bagaimanapun, perusahaan Keluarga Yanata sudah menguras banyak tenaga dan usaha dari suami istri itu.Satu-satunya yang tidak peduli adalah Yusvina.Begitu melihat Wendrino, wanita itu te

  • Bertemu Lagi Tanpa Tangis   Bab 20

    Setibanya mobil di vila Keluarga Sarion, Yusvina masih bingung kenapa hari ini tidak ada yang membantunya membuka pintu mobil.Dia terpaksa melepaskan satu tangan yang memegang tas untuk membuka pintu mobil dan turun.Tiba-tiba sebuah tenaga dari luar menyeretnya begitu saja.Matanya segera ditutup dengan kain hitam tebal.Ketakutan yang luar biasa mencekam hatinya.Yusvina secara naluriah berteriak, "Siapa kalian?! Lepaskan aku!""Aku adalah istri Wendrino, siapa pun yang berani menyentuhku akan menyesal!"Suaranya tinggi dan halus.Pria yang mengikat tangannya tak tahan, menendang betisnya dan berkata dengan kejam, "Diam! Kalau ingin hidup, bersikaplah baik!"Mendengar itu, Yusvina berhenti berteriak dan tidak berani bersuara lagi.Entah sudah berapa lama.Yusvina hanya menyadari dirinya dibawa ke tempat yang kedap udara, bahkan udara di sekitarnya terasa tipis.Wendrino kemudian berjalan mendekat dan menyingkap kain hitam di mata Yusvina.Yusvina secara naluriah mundur."Kenapa? Beg

  • Bertemu Lagi Tanpa Tangis   Bab 19

    "Pak Wendrino, ini dokumen yang sebelumnya Anda minta aku selidiki."Asistennya meletakkan map dokumen di atas meja.Wendrino membukanya, terlihat lembaran tagihan rumah sakit saat itu.Tercatat dengan jelas bahwa saat Yusvina berusia tiga tahun, dia tiba-tiba sakit parah dan membutuhkan sel darah tali pusat secara darurat agar nyawanya bisa diselamatkan.Kelahiran Manolia tidak lain adalah untuk Yusvina.Wendrino meremas dokumen itu dengan tangan yang sedikit menegang.Dia selalu bingung dengan keberpihakan Pak Antonio dan Bu Yuresha, tetapi tidak pernah terlintas di benaknya tentang hal ini.Di dalam dokumen juga terdapat sebuah ponsel yang tampak sudah agak rusak.Wendrino mengenalinya, itu adalah ponsel yang pernah dipakai oleh Manolia.Asisten melalui catatan panggilan berhasil menemukan lokasi terakhir kartu SIM-nya.Kemudian menyerahkannya ke tim teknisi untuk memulihkan data.Barulah dokumen itu berada di tangan Wendrino.Dia menatap layar kunci dengan empat digit sandi ponsel,

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status