Mag-log inAllison, daughter of Fox City's most powerful gang family, a medical doctor, a passion and dream contrast to her family's life back at home. Her past, a ghost she thought she'd buried, was about to return with a vengeance –colliding with the present life she had built. On her birthday, a letter arrives from her father, Gerald Wenston —a man who has ignored her for years. His words, cloaked in a sweet tone, are not a request, but a command: return home and marry the heir of a rival gang —Michael Shelby, to secure an ancestral peace and rule treaty. But peace is the last thing Allison finds on her return, a single, forbidden night with a stranger —Luke Reynolds, her father’s right-hand man, ignites a dangerous passion that threatens to shatter the fragile truce. Caught between the duty to her family and a love that could ignite a gang war, Allison must navigate a web of family secrets and deadly betrayals. For in the shadows, a rival —her half sister Hayley also vying for Michael's affection, is waiting to claim everything she holds dear, even if it means destroying her and the city she's meant to save. Allison's choices could either save her family or condemn them all to a bloody war.
view moreSudah satu tahun berlalu semenjak Langit menjatuhkan talaknya untuk Raihana, hidup sang mantan istri dan buah hati yang hari ini genap berusia empat tahun, telah banyak mengalami perubahan.
Tepatnya setelah palu perceraian diketuk, wanita itu memilih pergi menjauh. Meninggalkan segala kenangan yang mungkin takkan pernah terhapus meski waktu terus bergulir. Karena buatnya, Langit adalah cinta pertama yang diharap akan bersama hingga menutup usia.
Tiga tahun lamanya Langit dan Hana hidup seatap, sang istri berpikir dia akan bisa mengubah perasaan suaminya seiring perjalanan rumah tangga mereka terlalui. Tapi nyatanya, lelaki itu masih sama. Masih sedingin saat pertama kali mereka berjabat tangan di depan wali nikah.
Setiap kali Hana meminta penjelasan, lelaki itu selalu diam seribu bahasa. Dan anehnya, Hana selalu memilih bertahan hingga tiga tahun berlalu dengan begitu berat.
Dan kejadian malam itu telah membuka hati dan pikiran sang wanita, bahwa sampai kapanpun dia tidak akan pernah ada dalam hati suaminya. Dia hanya kerikil yang sangat ingin ditinggalkan Langit.
Malam itu, malam saat Langit mabuk hebat, dia jujur akan semua yang terjadi pada dirinya.
"Aku tidak pernah mencintaimu, Hana. Aku menikahimu hanya karena permintaan kedua orang tuaku yang merasa bersalah karena telah membuat kedua orang tuamu meninggal."
Hana tercengang, ingatannya terlempar pada masa lima tahun silam, saat kedua orang tuanya dinyatakan meninggal dalam sebuah kecelakaan lalu lintas.
Kala itu Hana masih duduk di bangku kuliah semester tiga, dia merasa hidupnya hancur. Ditinggal secara bersamaan oleh dua orang yang paling dicintai. Hana seakan ingin menyus mereka.
Namun, Papa dan Mama Langit yang sudah menyebabkan semua itu tetap menunjukkan tanggung jawabnya. Merekalah yang kemudian mengambil alih membiayai kuliah dan kehidupan Hana.
Tidak berakhir sampai di situ, kedua orang tua tersebut masih merasa bersalah hingga meminta anak mereka satu-satunya untuk menikahi Hana sebagai penyempurna pertanggungjawaban yang diberikan mereka kepada Hana.
"Apa kau dengar Hana?"
"Dengar apa, aku tak paham dengan maksud omongan Mas barusan?"
"Harusnya kita tidak menikah, Hana? Atau kamu pura-pura tidak tahu jika aku sudah punya kekasih yang sangat ingin kunikahi?"
Meski Langit saat itu sedang mabuk, tapi Hana sadar apa yang diucapkannya adalah benar. Hati Hana hancur, sungguh sakit mendengar kejujuran itu keluar dari bibir sang suami.
"Harusnya jika kamu sudah punya kekasih, kamu menolak saat kedua orang tuamu menjodohkan kita, Mas."
"Aku tidak mungkin menolak, mereka adalah segalanya untukku. Seharusnya kamu bisa lebih peka membaca keadaan. Berapa kali Mama memintaku menemuimu, tapi bukankah aku selalu menolak? Itu karena aku tidak menginginkan pernikahan ini."
Dua mata Hana seketika dipenuhi cairan. Lelaki yang ia cintai selama ini, yang ia pertahankan kehadirannya meski kerap menyakiti hati, ternyata tak pernah mencintainya. Justru sangat merasa tersiksa dengan pernikahan ini.
"Jadi Mas tidak mencintaiku sama sekali?"
"Maafkan aku Hana, aku tidak bisa mencintaimu. Cintaku hanya untuk kekasihku. Syarlina."
"Lalu anak kita? Apa dia juga terlahir karena keluguanku?"
"Aku minta maaf, sebenarnya aku tidak pernah ingin menyentuhmu. Semua itu karena Mama, beliau yang sudah menaruh obat perangs*ang dalam minumanku. Dia tahu selama kita bersama, aku tidak pernah menyentuhmu. Makanya, Mama mencari cara agar kau bisa hamil dan beranggapan bahwa setelah kita melakukannya, maka hatiku akan mencintaimu. Tapi nyatanya, cintaku masih untuk Syarlina."
Dada Hana seperti teremas mendengar perkataan itu, inilah kejujuran yang seharusnya ia dapat semenjak hari pertama pernikahannya dengan Langit. Saat dimana dia bertanya pada lelaki itu apakah benar bersedia belajar mencintainya seperti pesan kedua orang tuanya di hari memberi wejangan.
"Jadi selama ini Mas menyentuhku tanpa cinta?"
"Iya. Ooekk!"
Langit menjawab seraya memuntahkan isi lambungnya. Meski hati tersayat, Hana tetap membantu Langit untuk bisa lebih baik. Dia membalur punggung suaminya dengan minyak kayu putih sembari mengusap air mata di kedua pipi.
"Hana, sudahlah. Mari kita akhiri semua ini. Bukankah aku sudah sangat menyakitimu? Kedua orang tuaku juga sudah tiada, mari kita berpisah."
Hana menghentikan gerakan tangannya, cukup sesak terasa di dada. Permintaan ini apakah karena Langit sedang mabuk? Atau memang itulah yang diinginkan sang lelaki semenjak dahulu.
"Mas bersungguh-sungguh ingin kita bercerai?"
Langit mengangguk. Membuat cairan bening semakin deras membanjiri wajah Hana. Tapi wanita itu tak mau gegabah. Siapa tahu ini hanya karena pengaruh miras yang ditenguk Langit. Dia bangkit hendak keluar.
"Mau kemana Hana?"
"Istirahatlah, Mas. Jika kau sudah sadar dari mabuk, kita bicarakan lagi masalah ini."
"Tidak Han, apa kamu pernah melihatku seperti ini?"
Hana terdiam sejenak, detik berikutnya dia menggeleng. Nyatanya Langit memang tidak pernah seburuk malam ini.
"Aku sengaja mabuk, agar aku punya keberanian untuk mengakhiri semua ini?"
Deg.
"Hana, aku ingin bercerai."
Seluruh kekuatan sang wanita seolah tercabut paksa mendengar kalimat itu.
"Aku akan mengurus perceraian ini ke pengadilan. Maaf, jika kemauanku ini telah menyakiti hatimu, Han."
Hana menarik napas berat, ia mulai paham keinginan Langit. Lelaki itu bertahan hanya karena merasa tak enak untuk mengajukan cerai.
Ia tak mungkin lagi berjuang, semuanya telah jelas. Hana menghela napas dalam.
Ia juga paham hukum menceraikan istri meski dalam keadaan mabuk yang disengaja adalah sah. Tak ada haknya lagi untuk berlindung di rumah ini. Dia akan pergi.
*
Sudah satu bulan, Hana bolak balik rumah sakit untuk memeriksakan keadaan buah hatinya. Kejadiannya berawal dari penyakit batuk, pilek dan demam yang diderita Syaina. Berbulan-bulan berobat tapi batuk yang diderita bocah itu tak kunjung sembuh. Hingga ia putuskan untuk membawa buah hati pada salah satu dokter spesialis anak.
Betapa terkejutnya Hana dengan diagnosa yang disebutkan dokter itu, Leukimia. Wanita itu terduduk lemas tak bisa lagi berkata apapun. Sedemikian sulit hidup yang harus mereka jalani, sekarang masalah baru kembali menimpa.
Hana menangis, tak sanggup melihat sang buah hati kesakitan. Hingga ia bertemu dengan dokter Rezky Abang kelasnya semasa SMA yang ternyata kini berpraktik di Rumah Sakit Umum Kota Purwokerto.
Dia adalah dokter spesialis kedua yang mengatakan bahwa masih ada kemungkinan lain selain Leukimia. Saat itu semangat Hana yang tadinya sudah benar-benar hilang, perlahan kembali menghampiri.
Selama lebih dua minggu tak bisa menelan makanan, kini wanita itu mulai kembali memiliki keinginan untuk mengisi perut.
Hari ini ia kembali menemui Rezky untuk melakukan pemeriksaan kedua
"Hallo Syaina, apa kabar Sayang?"
Syaina bergeming, pagi ini keadaan bocah itu tidak baik. Dia bahkan menolak untuk diperiksa.
"Kelihatannya lemas banget, ayo jujur sama dokter ada apa?"
Maisa masih terdiam. Pandangan dokter Rezky kini jatuh pada sang ibu.
"Syaina dari rumah emang udah menolak ke rumah sakit, Mas."
Sesuai permintaan dokter Rezky, ia meminta agar Hana cukup memanggilnya dengan sebutan nama atau Mas tanpa embel-embel dokter. Maka Hana pun mematuhinya.
"Lo kenapa? Tapi katanya mau sehat? Mau sekolah lagi kayak teman-teman yang lain? Harus semangat ya Nak, biar cepat sembuh," terang Dokter itu seraya mengusap kepala sang anak.
Sebuah perlakuan yang selalu membuat Hana merasa sedih. Jika mengingat bahwa disaat-saat sulit seperti ini, seharusnya lelaki bergelar ayah selalu ada untuk mendampingi. Meski mereka sudah bercerai. Tapi apa yang terjadi, dia justru harus melewati semua itu berdua bersama sang anak.
"Semangat untuk sembuh ya, Nak."
Syaina hanya mengangguk, lalu ia pun dibawa untuk masuk ke sebuah ruangan pemeriksaan selanjutnya.
*
Syaina sudah tertidur di dalam pangkuan sang ibu. Setelah melalui serangkaian pemeriksaan, mereka kini menunggu obat yang sedang disiapkan di apotik.
Tiba-tiba sebuah suara membuat pandangan Hana teralihkan.
"Belum selesai nebus resep?"
"Belum, Mas."
Dokter Rezky yang sepertinya hendak pulang terlihat duduk kembali di kursi depan apotik tepatnya di samping Hana.
"Mohon maaf sebelumnya, aku ingin bertanya hal pribadi padamu."
"Iya, silahkan."
"Selama kamu dan Syaina berkonsultasi, aku tidak pernah melihat kalian ditemani seorang lelaki. Apa Papa Syaina di luar kota?"
Hana tercenung sejenak mendengar pertanyaan itu, apa yang seharusnya ia katakan? Haruskah ia jujur?
"Aku dan Papanya Syaina sudah berpisah, Mas."
"Oh maaf, aku jadi merasa tidak enak."
"Tidak apa, Mas."
"Sebenarnya aku bertanya seperti ini tidak lain, karena tadi sebelum pemeriksaan sempat mengajukan sebuah pertanyaan kepada Syaina. Apa yang dia inginkan setelah pemeriksaan ini selesai. Kupikir dia akan menjawab ingin kesembuhan atas penyakit yang diderita. Tapi ternyata jawaban yang diberikan Syaina sungguh membuat terharu. Dia hanya meminta kepada Allah, agar Papanya datang menjenguk."
Hana terdiam, rasa sedih tiba-tiba saja memenuhi kalbu. Selama ini, Syaina tak pernah menyinggung apapun soal sang papa padanya, tapi kejujuran yang diutarakan pada Rezky memberitahu hati bahwa sang anak begitu merindukan papanya.
"Mungkin kamu bisa menelpon sekedar membicarakan kesehatan Syaina, siapa tahu dengan kehadiran Papanya, Syaina bisa lebih semangat menjalani semua pemeriksaan."
Hana terdiam, hal itu sudah pernah dia lakukan. Tapi apa yang didapat, telponnya justru dijawab oleh seorang wanita yang mengaku bernama Syarlina. Tak hanya itu, sampai detik ini Langit bahkan tak jua menelpon balik.
"Terima kasih Mas atas sarannya."
Tiba-tiba ponsel Rezky berdering, lelaki itu segera mengangkat.
"Hallo Rez, kamu dimana?"
"Aku di depan apotik, masuk aja. Aku tunggu di sini."
"Oh oke."
"Saya ada janji keluar sama teman lama semasa di Fakultas Kedokteran Umum, sebenarnya masih pengen duduk di sini nemani kamu dan Syaina."
"Tidak apa Mas, Syaina juga sudah tidur."
Rezky mengangguk tapi masih enggan bangkit menemui sahabatnya. Dahulu semenjak SMA, tak bisa dipungkiri dia memang pernah jatuh hati pada Hana. Tapi sayang, sifatnya yang pengecut, membuatnya tak berani menyatakan walau sekadar mengungkapkan rasa suka.
Dan kini ketika takdir justru kembali mempertemukan mereka, apalagi dia tahu wanita itu telah bercerai, ada sedikit keinginan untuk kembali mengulang sesuatu yang dahulu tak terwujud. Tapi tentunya Hana yang sekarang adalah sosok berbeda yang pasti menyimpan banyak luka? Terbukti dari cara dia memandang dan berbicara.
Nomor antrian sepuluh.
Hana melirik kertas antrian yang ada di tangan, lalu bangkit ke depan untuk mengambil obat.
"Biar Mas yang ambil."
"Tidak usah, Mas."
Hana langsung berjalan ke depan. Bersamaan dengan itu, seorang lelaki terdengar menyapa Rezky.
"Hallo Dokter Rezky."
Tubuh Rezky berbalik.
"Hai Dokter tampan, Dokter Gagah Langit Rahagi. Apa kabar?"
Rezky bangkit dari duduknya dan berjalan menghampirinya lelaki itu, mereka berpelukan.
Tanpa arahan dua netra Langit justru tertuju pada sosok perempuan yang tengah menggendong seorang anak yang sedang mengeluarkan sejumlah uang untuk menebus obat.
Langit membelalak.
"Hana?"
***
Bersambung.
Terima kasih sudah membaca. Jangan lupa subsrcribe, like, koment dan share ya.
Utamakan baca Al-Quran.
Allison's POV"Fuu...ck," I gasped, the sound escaping my throat as a soft, shuddering moan. He was fully focused on me. His tongue danced over me, expertly charting my depths. Above, his hands were relentless, kneading the fullness of my breasts as his fingers squeezed them with a practiced, deliberate softness.He abandoned the lower region and surged upward to my breasts. His tongue circled the circumference of one nipple, a teasing prelude, before he dove in, suckling the peak with the desperate greed of a newborn, while his fingers worked the other, pinching it gently until I cried out.I couldn't hold it in. A loud, unrestrained scream of pure pleasure tore from my throat, a sound fueled by the lust that utterly clouded my senses. The sheer volume was his only warning: he instantly stopped, his body going rigid against mine. His head snapped to the door. He noticed instantly that it was still slightly ajar. He pushed me aside, moving with the quick, predatory efficiency of a
Allison's POV"Call Luke!"The name was a thunderclap. A frantic, white-hot anxiety seared through my veins, instantly eclipsing the shock of the kidnapping. My mind seized up, unable to choose a reaction. One half of me felt the sickening guilt of dreading Michael's abduction, while the other half was consumed by a far more terrifying question: How was I supposed to breathe the same air as Luke without shattering every rule I was born to follow? His name was the most dangerous word in Fox City, and now my father had just yelled it across the room.Gerald didn't wait for a reply; he simply bellowed the order into the phone, his voice scraping against my raw nerves: Luke was to get down to the house right now. They needed to strategize the immediate rescue of Esme, his only sister, and Michael, my betrothed. The man I had risked my entire future to sleep with was now being summoned to save the life of the man I was sworn to marry. The entire city was collapsing into a single, absu
Michael's POVWe arranged the flight for the next morning: Botswana. That night, sleep was a luxury I couldn't afford. I was dying of nervousness, yet a counter-current of pure, reckless excitement surged beneath my skin. Every time I closed my eyes, I didn't see failure; I saw the $2 billion diamond and my father's redeemed smile. I finally passed out with a feverish certainty that this gamble, this one ridiculous, last-ditch effort, would fix everything.……We landed in Botswana in the early hours, the sun already a harsh, bright disc. After a seamless check-in at separate luxury hotels, Esme’s first instruction cut through the jet lag: "Arrange the meeting with your 'business friend,' Karem, for noon."By 2:00 PM, we were seated across from him. The polite formalities lasted all of sixty seconds before Karem laid down the first, non-negotiable term: "No security allowed."Esme’s back went ramrod straight. She didn't pause, didn't even consult me. Her response was a glacial, dec
Michael's POVEsme had agreed to meet me at The Truth Restaurant at 11:00 AM.I arrived at 9:00 AM, two hours early. I ordered a black coffee to keep my nerves down as I sat with my back to the wall, watching the door like a nervous guard dog.Esme didn't wait; the world waited for her. She wasn't merely time conscious; a delayed meeting was an insult she repaid in kind, usually by adding an extra zero to whatever I already owed her. Keeping her waiting was a sin that cost millions.At precisely 11:00 AM, Esme swept through the door. She didn't walk; she commanded the space. I sprang from my seat, rushing to usher her into the plush banquette. "The usual, ma'am?" I asked the waiter, who had materialized the moment her foot crossed the threshold. She didn't glance at the menu. She sat across from me—a picture of porcelain skin and icy control , her eyes, the treacherous venom of a Shelby, speared straight into my skull."Michael," she purred, the sound sharper than a diamond edge. "
Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.
Rebyu