LOGIN"You will be treated like nothing except my fuck toy. You will get spoiled food once a week and water one sip a day. You will always stay naked. No clothes for you. No electricity for you. You will be locked in 1 room with just a floor forever. You will never be treated like a human being again from this day on."
View More"Mas yang mengambil uang di laci ya?" tanya Novi dengan pelan.
Novi mendekati Ahmad yang sudah selesai makan malam. Ia tampak asyik merokok sambil mata menatap di layar ponselnya. "Iya, besok aku ganti," jawab Ahmad dengan ketus, tapi mata masih tetap fokus pada ponsel. "Besok kapan?" tanya Novi lagi. "Kalau sudah dapat uang, pelit amat sih! Sama suami sendiri kok perhitungan sekali." Ahmad menjawab dengan kesal, kemudian menatap tajam pada Novi. "Bukannya pelit, Mas? Uang itu mau dipakai untuk bayar sales rokok besok! Terus besok aku harus membayar pakai apa?" kata Novi dengan nada kesal juga. "Kebiasaan sekali Mas Ahmad ini, mengambil uang hasil penjualan di warung untuk kepentingannya sendiri. Mending kalau mengambil uang terus ngomong. Ini, nggak pakai ngomong! Jadi kesannya seperti mencuri uang di warung." Tentu saja Novi hanya berani berkata dalam hati. Selesai salat dan makan malam tadi Novi masuk ke warung untuk mengecek uang yang ada di laci. Novi kaget, ternyata uangnya tinggal sedikit. Padahal tadi ia menghitung uangnya lumayan banyak. Biasanya uang tersebut Novi simpan sebagian, tapi karena tadi sibuk, Novi tidak sempat menyimpannya. Novi menyalahkan dirinya sendiri, kenapa bisa lupa. Berarti Ahmad mengambil uangnya ketika Novi tadi mandi atau ketika ia sedang salat Magrib. "Ya bayar pakai uang, dong. Masa pakai daun! Pakai dulu uang yang ada." Ahmad masih menjawab dengan ketus. "Memang uangnya dipakai untuk apa?" tanya Novi lagi. "Untuk bayar hutang!" Jawaban singkat dari Ahmad membuat kening Novi berkerut. "Hutang apa?" tanya Novi dengan nada agak tinggi. "Kemarin main kalah." jawab Ahmad dengan singkat, padat dan jelas. "Mas, yang namanya judi itu nggak ada untungnya. Menang baru sekali, kalahnya sepuluh kali," kata Novi memberi pengertian pada Ahmad. Ahmad memang suka berjudi bersama teman-temannya. Novi sudah sering mengingatkan untuk menghentikan kebiasaan itu. Tapi sepertinya ucapan Novi hanya dianggap sebagai angin lalu saja. Orang tua Ahmad juga sering mengingatkan, tapi tetap saja Ahmad susah untuk berhenti berjudi. Entahlah sudah berapa banyak uang yang dihabiskan untuk berjudi. Mungkin karena ia tidak merasakan bagaimana susahnya mencari uang, jadi seenaknya saja menghabiskan uang yang ada. "Cerewet kamu, jangan sok menasehati aku. Jangan mencampuri urusanku." Ucapan Ahmad membuat Novi kaget. "Mas, aku ini istrimu dan yang Mas ambil itu kan uang warung, aku berhak ikut campur." Novi menjawab dengan pelan. "Nih uangnya aku kembalikan," kata Ahmad sambil melempar uang ke muka Novi. Novi kaget, tidak siap memegang uang itu. Akhirnya uang berhamburan ke lantai. Air mata Novi menetes, perlakuan Ahmad membuat Novi merasa sangat terhina. Ingin rasanya Novi melawan suaminya sendiri, tapi karena Novi sedang hamil, Novi berusaha untuk bersabar. Dengan menghela nafas panjang, Novi mengambil uang yang berserakan di lantai. Sebenarnya dia sudah sangat lelah dengan sikap Ahmad selama ini. Ingin rasanya ia berpisah dari Ahmad, tapi lagi-lagi alasan klasik yang selalu menghambat langkahnya mengambil keputusan itu. Ia tidak mau anaknya nanti kehilangan kasih sayang dari ayahnya. Lagi pula ia tidak sanggup menyandang status janda. "Nggak usah cengeng. Kayak gitu aja pake nangis segala. Ingat, kamu buka warung ini kan juga modal dari orang tuaku. Kamu masuk rumah ini hanya membawa badan dan pakaian yang melekat di badan. Ingat itu!" Ahmad berkata lagi. Novi paling benci kalau Ahmad mengungkit-ungkit itu terus. Memang, modal awal warung ini dari mertua Novi. Tapi kalau Novi tidak mengelola dengan baik, nggak bakalan maju warung ini. Novi menghitung uang yang sudah diambil dari lantai. "Tapi ini kurang, Mas," kata Novi pada Ahmad. "Sisanya besok." Ahmad langsung pergi keluar dengan sepeda motornya. "Mau kemana Mas?" teriak Novi. "Ngilangin stress. Di rumah cuma dengerin kamu ngomel terus!" teriak Ahmad, kemudian melajukan kendaraannya. Novi hanya bisa mengelus dada dengan kelakuan Ahmad. Selalu ribut masalah uang. Ahmad merupakan anak kedua dari dua bersaudara. Berbeda dengan kakaknya, Alif, memiliki usaha bengkel dan toko sparepart motor. Usahanya cukup maju. Ahmad terbiasa hidup manja dan foya-foya, tidak pernah merasakan susahnya mencari uang. Novi terlahir dari keluarga sederhana. Ia memiliki satu kakak perempuan yang juga sudah menikah. Lulus SMA Novi bekerja di toko baju, karena Pak Budi, bapaknya Novi, tidak mampu membiayai kuliah. Keluarga Ahmad merupakan pindahan dari pulau Jawa. Mereka mendapatkan uang ganti rugi, ketika daerah mereka digusur untuk membangun sebuah bandara. Akhirnya mereka merantau ke Sumatera dan membuka usaha disini. *** Azan Subuh berkumandang, Novi terbangun dari tidur. Terdengar ada yang membuka pintu depan, pasti Ahmad yang baru pulang dari main judi, pikir Novi. Ahmad memasukkan motor kemudian langsung masuk ke kamar dan tidur. Salat subuh yang selalu terlewatkan. Novi hanya bisa menghela nafas panjang. Sudah capek ia menasehati Ahmad untuk salat lima waktu. Ahmad memang tidak bisa menjadi contoh yang baik bagi anak dan istri. Boro-boro jadi imam ketika salat berjamaah, salat lima waktu saja hampir tidak pernah ia kerjakan. Selesai salat, Novi sibuk dengan kegiatan di dapur, menyiapkan sarapan untuk Ahmad dan Dina yang berusia lima tahun. Setelah semua beres, Novi mandi kemudian membangunkan Dina. Jam setengah tujuh pagi warung Novi sudah buka. Kadangkala pagi-pagi ada orang beli gula, kopi atau keperluan lainnya. "Bu, Dina berangkat sekolah ya?" kata Dina yang sekolah TK. "Sudah sarapan belum?" tanya Novi sambil mendekati Dina. "Sudah Bu!" "Bekalnya sudah ada di tas ya? Ini uang untuk jajan." "Terima kasih Bu, Assalamualaikum," pamit Dina, yang kemudian melambaikan tangannya. "Waalaikumsalam." Dina berangkat sekolah dengan jalan kaki karena sekolahnya tidak terlalu jauh dari rumah. Ia berangkat bersama teman-temannya. Kadang-kadang ia berangkat naik sepeda. Novi mulai menyapu lantai sambil menunggu pembeli yang datang. Tampak Ahmad yang sudah rapi bersiap hendak berangkat kerja. "Dek, Mas berangkat ya?" pamit Ahmad sambil mengelus perut Novi. Ahmad memang seperti itu, kalau sedang romantis membuat hati Novi bahagia. Dia lupa kalau tadi malam dia marah-marah. Padahal Novi masih merasa sakit hati, Ahmad sudah lupa. "Iya Mas, hati-hati," kata Novi pada Ahmad. "Ya Allah, sampai kapan aku harus seperti ini? Menghadapi suami yang mau menang sendiri. Aku sudah lelah," kata Novi dalam hati."if i turn you to police, you have a 97% chance of getting a death sentence. " he said sympathetically stepping closer to me."as it should" i say carelessly looking away from him staring at the blank dark wall which has been my bestfriend lately. "i can't let you die." "why" "i just can't!" he shouted. bro relax. "i murdered your mother" he squints his eyes at the realisation. the whole situation is so fucked up and i don't know what to say. "you are free. run. before i change my mind." he declared looking away from me sniffing. the fuck is wrong with this guy. "personally, if you murdered my mother, I'd have killed you" "that's the difference between us. you've cheated on me and i forgave you, you would have never forgiven me if it was me who cheated. you murdered my mother and i am letting you get away from it. because you're a part of me, an evil fucked up part of me, causing you pain causes me pain ten folds. seeing you cry and in pain makes my heart feel like it's been
"you're going to stay here for the rest of your life because jail is too luxurious" he said, throwing me into a dark, stinky and small room. "Take off your clothes before I tear them off with a knife without giving a fuck about hurting you" he continued angrily. He hates me. I hate myself too. Please kill me. I stand there without moving an inch.He goes out of the room and comes back with a knife I suppose and grabs me by my hair. I let out a painful scream while he pulls my hair and tears my dress off with the knife which leaves cut marks on my waist and breasts.He then opens the torch of his phone and focuses it over my naked body and laughs like a monster."Time is strange. I used to love and admire this body of yours and now I don't feel shit. I just want to give you pain in every possible way." He said as he unzips his pant and proceeds to rape me.I don't know if it's actually a rape because as shameless it is of me for saying this, I am enjoying it."Look how wet you are."
"Get the fuck out of my son's house bitch." His mother said, fuming into anger."Sure I guess." I said hopelessly. "She's not going anywhere!" Arnold shouted entering from the door. "She will stay with me. And she will also come to tonight's party." He said to mom. His mom, I mean. "Arnold seriously? Did you forget what she made you go through? Did you forget how depressed and lifeless you were for years because of her disloyalty? I remember your tears and sufferings. It was so painful to see you that way. Just listen to my advice. Please don't make the mistake of trusting her again. That's so foolish. Please." She told Arnold and not gonna lie, it hurts. I really wished she trusted me a little but yeah."I can't live without her. I have tried everything. But my soul belongs to her. And only her. I love her so much mom. I just can't stay alive without her. I forgave her for her immorality. I expect you to do the same. Please. " he said to his mom who seemed to melt.Did I melt too?
He parked the car near a tree. I don't understand where he's taking me.He leans towards me to kiss me with his eyes closed.Lol joker.I let him come really close to my lips until there was just a 3 centimetres gap between our lips and I placed my hand in between our lips and laughed."I was joking." I said."I don't care." He said as he removed my hand and claimed my lips by cupping my face to which I don't protest.I'd be lying if I say I didn't miss him or his touch or his kisses.After a really long kiss which lasted for minutes, he pulled away. We are both breathing heavily but we try to collect ourselves and I try my best to not push this sexual tension any further."Shut up and drive." I said."Yeah it was totally me who said 'kiss me' " he said as he started driving. Huh.We finally reached home. His home I mean, actually a mansion. Which used to be my home too once upon a time. I miss it. We get down from the car and start walking towards the entrance. "It was a joke ok." I
"I will kill him if he dares to touch you!" he declared. His voice was echoing in that tiny little room of hers. He was angry. His red eyes were scary and showed that he really wouldn't hesitate to kill. But she wasn't scared of him."I am going to marry him today. Get out of my life and my room!" S
"if you're trying to make me jealous, try it with someone who could give me competition at least." He said as he drove the car while his red face said otherwise. Poor guy was a little insecure. And I am angry. I am going to make him regret every second of his decision of taking me with him against m
Darlina: "What?" How could he do this to me? How could he stoop so low to blackmail me about murdering my parents? Is he for real? "I knew you're stubborn. I initially tried to convince you with love and affection but you just don't listen. Your dear lovely parents are in my basement at my mercy."






Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.