Bloody Red Moon: The Alpha Twins Male Luna Volume I

Bloody Red Moon: The Alpha Twins Male Luna Volume I

last updateTerakhir Diperbarui : 2022-07-31
Oleh:  HazeusTamat
Bahasa: English
goodnovel16goodnovel
9.3
25 Peringkat. 25 Ulasan-ulasan
64Bab
16.1KDibaca
Baca
Tambahkan

Share:  

Lapor
Ringkasan
Katalog
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi

Angelo once thought when he was five that he was powerful, when he turned 15, his childishness that he was powerful was shattered into pieces after he meet two men. He should be angry and frustrated but he can’t, one of the men who make him feel him hopeless possess the brightest smile he had longed to ever see plus the force that was telling him to get close and be intimate had make Angelo surrender all of his stubbornness and followed what was his heart was advising. The other one had strong rejection that make Angelo feel disappointed and hurt but he still let the other go because he knew his other mate would find happiness than with him. Angelo thought that this would continue, him being lovey-dovey with the ‘gentle’ mate that didn’t reject him while his other mate continue to put an expression of disgust, he was wrong. In his 17th, when the Red Moon appears in the window sill of his room, his mates appear at the same time using the Red Moon as their door. The mate that was full of rejection towards him had an obsess expression put on his face while his gentle mate still wore that gentle facade but there were lust, obsession that was written all over their transformed golden eyes when they approached him like a hungry wolf ready to mark him as theirs. Angelo black eyes also transformed into golden after the red moon appeared. Hades busily torn Angelo clothes apart while Zeus caresses Angelo angelic face, he reach for Angelo ears that was faintly red then exhaled their Luna scent heavily, releasing his pheromones. Both the twins golden eyes flash, they opened their lips and says the same thing, “Our Luna, it’s time for our mating"

Lihat lebih banyak

Bab 1

Synopsis

“Kenapa… kenapa Bapak ada di sini?” suara Khanza Alzea nyaris berbisik, nafasnya tercekat, tubuhnya membeku di tempat.

Rajendra Sky Anggakara, suami majikannya.

Khanza tidak tahu sejak kapan pria itu berada di kamarnya. Padahal pintu terkunci, dia yakin sudah menutupnya sebelum tidur. Tapi sekarang, pria itu berdiri di sana, tanpa suara, tanpa ekspresi, hanya sorot matanya yang berbicara.

Rajendra tidak menjawab. Hanya ada keheningan di antara mereka, ketegangan yang mencekik udara di sekitarnya. Lalu, pria itu melangkah maju, perlahan.

Langkahnya tenang. Terlalu tenang.

"P—Pak…" ucapnya dengan suara gemetar, hampir tak terdengar.

Khanza mundur, punggungnya membentur dinding. Ia bisa merasakan jantungnya berdetak kencang.

Rajendra menunduk sedikit, cukup dekat hingga Khanza bisa mencium aroma maskulin yang begitu khas dari tubuhnya. Aroma yang berbahaya.

Bibir pria itu melengkung tipis. "Jangan berteriak. Aku hanya ingin melihatmu lebih dekat."

Khanza merasa tubuhnya melemas. Ia harus keluar dari sini. Harus pergi. Tapi kakinya seakan tak bisa bergerak.

Lalu, tangan Rajendra terangkat.

Dan saat jemarinya hampir menyentuh wajah Khanza—

TOK! TOK!

Suara ketukan keras di pintu membuat tubuh Khanza tersentak.

Rajendra diam. Matanya masih menatap wanita yang ada di hadapannya itu. tetapi kini ada sesuatu yang lain di dalamnya. Sebuah peringatan.

"Lidya..." gumam Rajendra pelan.

Khanza membelalakkan mata. Suara itu adalah suara Lidya istri dari lelaki yang bersamanya itu.

“Khanza?” Suara Lidya disertai suara ketukan pintu.

Dengan jantung yang berdegup kencang, Khanza mendorong kuat tubuh lelaki itu. Matanya melotot ke arah Rajendra.

“Saya tidak mau dipecat oleh nyonya Lidya. Saya mohon Bapak diam di sini sampai istri Bapak pergi,” ucap Khanza.

Rajendra tidak menjawab. Dia melangkah mendekati Khanza dengan sorot mata tajam dan penuh damba.

“Saya akan turuti kemauan kamu, tapi ini tidak gratis.” Rajendra seakan mengambil kesempatan itu untuk melakukan aksinya yang sempat tertunda karena kedatangan istrinya itu.

“Terserah, Bapak.” Khanza tidak peduli, saat ini dia hanya berharap Rajendra tetap diam sampai Lidya pergi dari sana. Setelah itu barulah dia mengusir suami majikannya itu.

“Khanza? Apa kamu sudah tidur?” panggil Lidya lagi.

“Ya, Bu. Saya belum tidur,” sahut Khanza. Ia membukakan pintu dan menemui majikannya yang berdiri di depan pintunya.

Lidya menatap lekat wajah pucat dan berkeringat ART-nya itu. “Kamu kenapa? Kamu terlihat seperti orang panik,” tanya Lidya.

“Saya hanya kaget saja saat dipanggil sama Ibu. Tadi saya sudah tidur,” jelas Khanza yang tentunya berbohong.

“Gitu ya? Oh iya, apa tadi Mas Rajendra kasih tahu kamu kalau dia pergi?” tanya Lidya.

“Saya tidak tahu, Bu. Pak Rajendra juga tidak beritahu saya.” Lagi dan lagi Khanza terpaksa harus berbohong lagi. Karena, jikalau dia mengatakan yang sebenarnya makanya sudah pasti akan terjadi masalah besar dan pastinya dia akan dipecat dari pekerjaannya itu.

“Oh, saya pikir dia kasih tahu kamu. Kalau begitu saya ke kamar dulu.” Lidya langsung kembali ke kamarnya tanpa merasa curiga sama sekali pada ART yang baru beberapa bulan kerja di rumahnya itu.

Khanza bernafas lega, kemudian dia dengan cepat menutup pintu kamar. Tubuhnya ia sandarkan pada pintu, ia berdiri di sana sambil mengelus dadanya. Ia benar-benar takut kalau sampai ketahuan majikannya itu.

Dari sudut kamar mata elang Rajendra menatap tajam ke arah Khanza. Tidak berselang lama ponselnya berdering tanda ada panggilan masuk dan yang menelponnya adalah Lidya, istrinya.

Rajendra mengangkat panggilan dari Lidya dan berbicara dengan suara kecil. “Ada apa?” tanya Rajendra.

“Kamu dimana, Mas? Saya sudah sampai di rumah, tapi kamu tidak ada di rumah?” Suara Lidya dari seberang sana.

“Lagi main di rumah teman,” jawab Rajendra berbohong.

“Pulang jangan sampai larut malam, Mas. Soalnya besok aku akan ke luar kota, aku ada kerjaan di sana.”

Mendengar perkataan Lidya, Rajendra memutar jengah bolanya sambil mengusap gusar wajahnya. Istrinya itu selalu ke luar kota dan selalu sibuk dengan pekerjaan. Sampai lupa dengan tugasnya sebagai istri. Semuanya dia serahkan pada ART dan itu sangat memuakkan bagi Rajendra.

Pernikahan mereka sudah menginjak satu tahun, tapi istrinya itu tidak pernah melakukan perannya sebagai istri. Lidya selalu sibuk dengan pekerjaan dan juga sibuk dengan urusannya yang lain.

Rajendra merasa kesepian, karena selalu ditinggal ke luar kota. Sekarang yang ada di rumah yang menyiapkan segala kebutuhannya adalah Khanza, ART pilihan istrinya.

“Berapa hari?” tanya Rajendra setelah diam beberapa menit.

“Dua minggu, Mas. Nanti semua perlengkapan dan kebutuhan Mas disiapkan sama Khanza,” kata Lidya.

“Oke, kalau begitu. Kamu tidur duluan saja, aku masih mau main sama teman-teman.” Tidak mau berlama-lama dan tidak mau membuang waktu bersama ART cantik pilihan istrinya itu dia pun langsung mematikan sambungan telepon.

Usia berbicara dengan Lidya, Rajendra melempar ponselnya ke arah ranjang. Kemudian kakinya melangkah menghampiri Khanza yang masih berdiri mematung di depan pintu.

“Ja–jangan mendekat, Pak.” Dengan satu tangannya Khanza memberikan aba-aba agar suami majikannya itu tidak mendekat.

Rajendra tetap diam. Namun, langkahnya terus menghampiri Khanza. Ia tidak peduli dengan larangan Khanza yang meminta untuk tidak mendekat.

Matanya menatap lekat wajah cantik nan ayu wanita yang selama ini mempersiapkan segala kebutuhannya layaknya seorang istri. Wajah itu begitu damai, lembut, menenangkan… sesuatu yang sudah lama tak dia rasakan dari pernikahannya.

Rajendra semakin mendekat. Tangannya terangkat, hampir menyentuh pipi Khanza. Nafas wanita itu tercekat, tubuhnya menggigil kecil saat merasakan hawa tubuh pria itu begitu dekat.

“Pak… jangan,” Khanza berbisik, nyaris seperti desahan ketakutan.

Tangan Rajendra nyaris menyentuh kulit halus itu, lalu tiba-tiba terhenti. Dia diam, jemarinya menggantung di udara.

Pandangan Rajendra masih menatap Khanza, tapi dalam sekejap sorot matanya berubah. Bukan lagi sorot pemangsa yang haus akan pelarian, melainkan kekosongan yang tiba-tiba menguasai seluruh dadanya.

Dan di sanalah, di detik itu juga, kesadarannya menabrak dirinya sendiri.

Apa yang sedang ia lakukan?

Hanya karena kesepian, hanya karena istrinya lebih sibuk dengan dunia luar daripada rumah sendiri. Dan sekarang, di hadapan perempuan yang bahkan hanya melakukan tugasnya sebagai ART untuk patuh pada perintah majikannya, dia hampir jatuh. 

Tanpa sepatah kata pun, Rajendra menurunkan tangannya perlahan. Tatapannya jatuh, tidak lagi menatap Khanza. Tubuhnya mundur satu langkah.

Suasana mendadak sunyi, hanya suara napas mereka yang tersisa. Satu berat dan tertahan, satu cepat dan cemas.

Tanpa berkata apa-apa, Rajendra memutar tubuh dan melangkah pelan menjauh, menghilang dalam bayang kamar tanpa meninggalkan jejak atau alasan.

Bukan karena takut pada Khanza. Tapi karena takut melihat bayangan dirinya sendiri, bayangan yang hampir mengkhianati satu-satunya ikatan yang masih tersisa dalam hidupnya.

Sementara Khanza, untuk saat ini dia merasa lega ketika Rajendra pergi. Namun, bagaimana jika nanti tuannya itu benar-benar bisa berbuat lebih … akankah Khanza mampu menolaknya?

Tampilkan Lebih Banyak
Bab Selanjutnya
Unduh

Bab terbaru

Bab Lainnya

To Readers

Bloody Red Moon The Alpha Twins Male Luna Volume I is a werewolf romance novel written by Hazeus. The story follows the life of Angelo, a young man who has been powerful until age 15, when he meets two men. He is fascinated by the first man who offers him support and love, while the other man shows some aggressiveness and bad behavior towards Angelo. Everything changes when he turns 17. Read the novel and see what happens when the Red Moon appears on Angelo's window.

Peringkat

10
96%(24)
9
0%(0)
8
0%(0)
7
0%(0)
6
0%(0)
5
0%(0)
4
0%(0)
3
0%(0)
2
4%(1)
1
0%(0)
9.3 / 10.0
25 Peringkat · 25 Ulasan-ulasan
Tulis Ulasan

Ulasan-ulasanLebih banyak

Helen Grace
Helen Grace
Please have mercy and update your "Pampered Reborn Little Priest pleaseಥ‿ಥ
2023-04-05 07:25:18
0
0
Helen Grace
Helen Grace
Author. I'm one who paid real money to read your book.
2023-04-05 07:23:48
0
0
Helen Grace
Helen Grace
I finish it all.
2023-04-05 07:23:27
0
0
Gaiege
Gaiege
You should give a warning first so we become prepared about the sex scene. I hope this can be applied when you write another book.
2023-03-15 18:03:57
0
0
Gaiege
Gaiege
Completed book(Unlocked chapters)
2023-03-15 18:02:53
0
0
64 Bab
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status