MasukDesperation forces Elena to work as a waitress in a notorious underground nightclub to cover her son's mounting medical bills. Her mundane yet precarious life takes a dangerous turn one night when several drunk patrons corner her. Before things spiral out of control, a shadowy figure intervenes — her ex-boyfriend, now a powerful and feared mafia boss, Damien Moretti. Years ago, their love was a whirlwind of passion and chaos, abruptly severed by betrayal and secrets. Now standing before her in a tailored suit with an air of cold authority, Damien isn’t the man she once knew — he’s darker, more ruthless, and unapologetically possessive. Now, he’s no longer a charming rebel but a man who bends the world to his will. His terms are chilling yet inescapable: “You belong to me. Always have. Always will. And I’ll make you remember that.” Damien offers a deal Elena can’t easily refuse — become his mistress, and he’ll wipe out all her debts. Despite her defiant spirit, Elena is torn between pride and a mother’s fierce love. Elena faces an impossible choice while hiding a secret: Draco, her five-year-old son, is Damien's child. Damien's obsession with control intensifies as he becomes increasingly possessive of Elena, keeping her under constant watch. While others label his love psychopathic, She struggles to deny the magnetic pull he still has over her. His dangerous lifestyle threatens to drag her back into a world of blood and shadows, but he’s the only one who can save her son. As their twisted relationship reignites, Damien's enemies close in, putting both Elena and Draco at risk. When Damien uncovers the truth about Draco, his possessiveness reaches a fever pitch — no one will touch what belongs to him, not even fate!
Lihat lebih banyak“Malu, Papa punya putri sepertimu, Amber! Sudah berapa banyak uang yang Papa keluarkan untuk biaya pengobatanmu? Puluhan tahun Papa dan Mama bersabar untukmu, berharap agar kamu bisa mengeluarkan suara. Kenapa kamu tidak bisa berjuang lebih keras untuk bisa berbicara?” tegur seorang pria setengah baya bernama Jackob pada putrinya yang tertunduk sambil menangis.
Wanita itu ingin sekali membela diri, tapi dia sadar tidak mampu melakukannya karena tidak memiliki suara untuk berbicara. Semenjak penculikan yang dia alami waktu kecil, Amber menderita trauma akut yang membuatnya bisu. Bukan hanya itu, dirinya yang disekap di ruangan gelap dan sempit, membuat Amber juga mengidap Nyctophobia yaitu ketakutan berlebihan ketika berada di ruang gelap serta Claustrophobia yaitu ketakutan di ruang sempit dan tertutup. “Mama juga malu. Teman-teman Mama sudah banyak yang punya cucu. Setiap berkumpul, mereka selalu menanyakan kapan kamu menikah? Kapan kamu akan memberi Mama seorang cucu?” seru Ny. Jackob menyambung perkataan suaminya semakin menekan putrinya. Bibir Amber bergetar ingin mengungkapkan segala isi hati, tapi tidak mampu dia lakukan. Siapa yang menginginkan istri bisu dan cacat seperti dirinya? Ingin dia berontak, tapi tidak ada suara yang keluar dari mulutnya, hanya air mata yang membasahi pipi. “Umurmu sudah 28 tahun, keluarlah dari duniamu yang sempit! Jangan terus berdiam diri! Apa kamu tidak mau seperti teman-teman seangkatanmu yang mempunyai suami tampan dan kaya serta masa depan yang cerah? Apa yang harus Papa lakukan untukmu agar kamu menjadi kebanggaan keluarga?” suara Papanya kembali terdengar, menambah luka di hatinya. “Kamu hanya anak pembawa sial dan pembuat malu di keluarga ini. Mama menyesal melahirkanmu di dunia ini,” seru Mamanya membuat Amber tersentak dan menatap Mamanya dengan tatapan sedih. Hatinya seperti diremas dan rasanya sangat menyakitkan. Dia merasa menjadi anak yang paling menyedihkan di dunia ini karena tertolak oleh orang tuanya sendiri. Amber menggerakkan tangan untuk berkata dalam bahasa isyarat merespon perkataan papa dan mamanya. “Aku juga ingin menikah tapi siapa pria yang mau menikah denganku?” tanya Amber sambil menangis terisak, sayangnya tidak ada suara sedikit pun yang keluar dari mulutnya. Pertengkaran orang tua dan anak itu terhenti ketika ponsel Jackob berbunyi. Pria itu mengangkat tangan ke depan muka Amber merentangkan kelima jari sebagai isyarat agar putrinya berhenti bicara dengan bahasanya. Amber seketika berhenti lalu kembali tertunduk sambil meremas tangan, menahan segala emosi yang tidak bisa dia keluarkan. Kemarahan, kesedihan, kekecewaan dan segala macam emosi yang tak pernah bisa dia sampaikan pada satu orang pun di dunia ini. “Halo Frank, apa kabar?” “Jadi ke tempatku?” “Putramu setuju?” “Aku senang sekali, kapan mau ke sini?” “Besok malam? Kabar yang bagus. Kami akan menyambut keluargamu dengan penuh sukacita. Istriku akan memasak masakan yang lezat untuk menyambut kedatangan kalian.” “Ya ... ya ... aku tunggu kedatangan kalian,” tandas Jackob sambil tertawa ramah, lalu menutup telepon. Tawa itu terhenti ketika dia menatap putrinya, lalu berjalan mendekatinya. “Angkat kepalamu!” perintah Jackob, membuat Amber menegakkan kepala dan menatap wajah Papanya. “Kamu ingin menikah bukan? Papa sudah mencarikan calon suami untukmu. Teman Papa yang dulu pernah Papa tolong, bersedia menikahkan putranya. Papa sudah mengatur semuanya, jangan sampai kamu menghancurkan apa yang Papa lakukan untukmu! Mau tidak mau, suka tidak suka, kamu harus menikah dengan putra teman Papa dan Papa tidak ingin mendengar penolakan. Mengerti?!” seru Jackob pada putrinya. Dengan ketakutan, Amber mengangguk setuju, air matanya terus mengalir tapi Jackob dan istrinya tidak peduli. Mereka sudah terlalu sering melihat tangisan putri mereka dan menganggap hal itu adalah hal biasa. Kedua orang tua itu tidak pernah mau mengerti perasaan putrinya, mereka malah lebih sering merendahkan Amber karena kelemahan yang diderita putri mereka, membuat Amber tumbuh menjadi anak yang kurang percaya diri karena menganggap dirinya cacat dan memalukan keluarga. Hari yang Jackob bicarakan tiba, sebuah mobil mewah berhenti di depan rumah. Keluarga Frank yang sudah dinanti oleh Jackob turun dan disambut ramah oleh tuan rumah. “Ini Christhoper? Tampan sekali. Sudah lama kita tidak bertemu dan kamu tumbuh menjadi pria hebat,” puji Jackob yang merasa bangga dan tidak salah mencari calon menantu. “Ya, saya Christhoper. Terima kasih atas pujiannya,” balas Christhoper dengan sopan. “Dia sudah memiliki perusahaan sendiri dan pisah dengan perusahaanku. Sampai aku bingung siapa yang akan meneruskan kerja kerasku,” kata Frank membanggakan putranya, membuat Jackob semakin yakin jika Christhoper akan menjadi menantu terbaik. Mereka kemudian berpindah ke ruang tengah untuk melanjutkan obrolan. “Di mana putrimu?” tanya Frank. “Masih bersiap, sebentar lagi juga selesai. Wanita memang selalu lama jika berdandan,” jawab Jackob sambil terkekeh. “Aku akan memanggilnya,” kata Mama Amber yang kemudian beranjak dari tempat duduk lalu berjalan ke kamar putrinya. Malam itu, Amber berdandan sangat cantik, mengikuti apa yang Mamanya suruh. Gaun panjang berwarna magenta yaitu campuran antara biru dan merah dipadu dengan make up natural, menonjolkan kecantikan alami wanita itu. Setelah melihat bayangannya di cermin, Amber pun puas dengan penampilannya. “Amber, keluarlah! Calon suamimu sudah datang,” seru mamanya. Amber berjalan cepat menuju pintu kamar dan membukanya. Mamanya menatap penampilannya dari ujung kepala sampai ujung kaki. “Tidak mengecewakan, cepat turun dan temui calon suamimu. Bersikaplah yang sopan dan jangan membuat malu!” ujar mamanya. Amber mengangguk patuh dan mengikuti langkah mamanya. Dia meremas tangan cemas serta gugup, bukan masalah dia akan suka atau tidak suka dengan calon suaminya, tapi sebaliknya. Bagaimana jika calon suaminya yang tidak suka padanya karena keadaannya yang bisu lalu menolaknya? Papa dan mamanya akan semakin malu dengan keberadaannya. “Nah ini dia putriku, namanya Amber,” seru Jackob ketika melihat putrinya datang bersama istrinya. “Cantik sekali,” seru Ny. Frank ketika melihat Amber. Amber menganggukkan kepala dan tersenyum sebagai tanda terima kasih mendengar pujian tersebut. “Dia memang sangat cantik, tapi Amber mempunyai satu kekurangan yaitu tidak bisa bicara. Waktu kecil dia mengalami trauma akut yang menyebabkan kehilangan suara, tapi jangan khawatir karena Amber rutin ikut terapi, kami yakin suatu hari nanti dia akan bisa berbicara,” jelas Jackob. Mendengar penjelasan tersebut, suami istri Frank saling menatap, meski tidak menolak tapi terlihat jelas keraguan di mata mereka. Amber sangat tahu arti tatapan itu, dia sudah sering menerima tatapan seperti itu yaitu tatapan penolakan. Namun karena Frank mempunyai hutang budi terhadap Jackob dan tidak ingin merusak kepercayaan pria itu, dia pun berkata, “Semua orang pasti memiliki kelemahan, kami rasa kami bisa menerima kelemahan Amber apalagi masih ada harapan Amber bisa berbicara lagi. Kami sudah tidak sabar menjadikan Amber sebagai menantu kami. Bukan begitu Christhoper?” Pertanyaan Frank pada putranya membuat Amber menoleh pada pria yang bernama Christhoper tersebut. Mata mereka pun saling menatap. Amber sempat melihat sekelebat tatapan kekaguman dari mata pria itu, tapi kemudian hanya tatapan dingin yang dia terima. Hal itu membuatnya ragu dengan kesan pertama yang dia dapatkan dari Christhoper, mungkin itu hanya khayalannya saja. Tidak mungkin pria tampan itu tertarik pada wanita bisu sepertinya. Christhoper memang melebihi ekspektasinya, wajah pria itu sangat tampan, rahangnya kokoh dan tegas dengan rambut tipis menghiasinya, hidung mancung, rambut hitam, kulit yang bersih dan mata tajam yang indah. Matanya unik berwarna hijau seperti keturunan Irlandia atau Skotlandia. “Mata hijau ...?” Deg... Jantung Amber seakan berhenti berdetak. Dia menatap wajah Christhoper dengan lebih teliti dan benar tebakannya, pria itu adalah anak laki-laki yang terkurung bersamanya saat dulu mereka diculik. Amber bisa mengenalinya dari warna mata yang hanya dimiliki kurang dari dua persen penduduk di dunia ini. Dalam hati, Amber bersorak girang, dulu anak laki-laki itu berjanji akan selalu melindunginya, dia tidak menyangka jika pria itu akan menjadi suaminya. Seulas senyum tipis terlukis di bibir Amber, untuk pertama kali dalam hidupnya, dia merasakan kebahagiaan. Anak laki-laki yang dia cintai sudah tumbuh menjadi seorang pria tampan dan sebentar lagi akan menjadi suaminya. Dia sangat berharap Christhoper akan mengenalinya dan mereka akan kembali saling menjaga. Namun kebahagian Amber sirna ketika mendengar jawaban dingin dari pria di depannya. “Jika Papa sudah bersedia, apakah aku masih bisa menolaknya?” sindir Christhoper dengan nada yang jauh dari kata ramah. Mendengar nada terpaksa dari pria itu membuat Amber langsung tertunduk dengan kepercayaan diri yang runtuh. Christhoper tidak mengenalinya, bahkan dia yakin jika pria itu tidak setuju dengan pernikahan mereka. Jawaban Christhoper membuat suasana dua keluarga tersebut menjadi tegang. Semua terdiam, tapi Frank segera mengalihkan keadaan. “Kenapa jadi tegang begini? Christhoper suka bercanda, tentu saja dia sudah tidak sabar menikah dengan Amber. Amber juga setuju untuk menikah dengan Christhoper bukan?” tanya Fank sambil menatap Amber, menuntut jawaban. Dengan mengangguk lemah, Amber mengiyakan, dia tidak mungkin menolak apa yang papa dan mamanya perintahkan meski tahu jika Christhoper tidak sepenuhnya setuju dengan pernikahan tersebut. Jackob menanggapi perkataan Frank dengan tawa senang. “Baiklah kalau begitu, bagaimana jika mereka menikah di akhir bulan ini?” usul Jackob. “Ide bagus, aku setuju dengan hal itu,” jawab Frank. Kedua keluarga itu kemudian melanjutkan acara dengan makan bersama, sedangkan Amber dan Christhoper hanya saling diam karena Christhoper tidak tahu cara berkomunikasi dengan Amber sedangkan Amber tidak memiliki kepercayaan diri untuk mengajak Christhoper berbicara dengan bahasa isyaratnya.The command center seemed to shrink beneath the weight of the silence.Only minutes earlier, the room had been filled with overlapping voices, ringing phones, and hurried reports. Damien's men had moved with purpose, gathering intelligence, tracing signals, and assembling every available resource to find Draco before DeLuca's deadline expired.Now none of that noise mattered.The video had changed everything.The image of Draco sitting in that warehouse chair still lingered in Elena's mind like a wound that refused to close. She could still hear his small voice calling for her. Could still see the uncertainty in his eyes as he searched the camera for a familiar face.Mama?The single word had carved itself into her heart.And now DeLuca expected an answer.The room remained frozen in the aftermath of Elena's declaration.I'm going.No one had expected her to sit quietly while others decided her son's fate.Certainly not Damien.The confrontation that followed had cracked open weeks of
The video ended. The screen went black.For a heartbeat, nobody moved. Nobody breathed. The silence that settled over the safe house felt heavier than any gunfire.Elena stared at the dark screen in Damien's hand, her vision blurring around the edges.Draco. Her baby. Her little boy had looked directly into the camera.Scared. Confused. Trying to be brave.The image burned itself into her mind.Mama? The single word echoed through her chest like a wound being torn open.Around her, the command center remained frozen.Maps covered the walls.Encrypted messages flashed across computer screens.Phones rang unanswered.Men stood waiting for orders.But Elena heard none of it.All she could hear was Draco's voice.All she could see was the fear hiding behind his brave smile.And suddenly, she knew exactly what she had to do.Scene 5: Elena Makes Her ChoiceThe room exploded into motion.Damien immediately shifted into command mode."Trace the signal," he barked.Three men moved instantly.
The war room inside the safe house hummed with controlled chaos.Screens glowed against the dark walls, throwing sharp light across hard faces. Radios crackled with incoming intel. Men moved with purpose now—no confusion, no hesitation. Fear had sharpened into focus.Damien stood at the center of it all.He held a tablet in his hand, its surface reflecting cold blue light onto his face as he pulled up a digital map layered with movement logs, financial trails, and intercepted signals.“DeLuca’s been busy,” Damien said, voice steady, lethal. “But not careful.”He tapped the screen once. A red circle bloomed over the map.“Abandoned industrial zone. East end of the harbor. He’s moved personnel there twice in the last forty-eight hours.”Another tap.“A decommissioned ferry terminal—officially shut down five years ago. Unofficially? Power came back online two nights ago.”The room tightened.Then the third point appeared.“A warehouse,” Damien continued. “Recently cleared under a shell c
Chaos did not announce itself politely.It tore through the safe house like a living thing—screams of warning, boots pounding against floors, the sharp metallic click of weapons being loaded. Orders overlapped. Radios crackled. The illusion of control fractured under the weight of reality.Damien Moretti stood at the center of it.He moved like a man born for this kind of storm—calm, precise, lethal. His voice cut through the noise with brutal authority.“South corridor, lock it down. Nobody fires unless they have a clear shot. I want eyes on every exit—now.”Men snapped into motion without hesitation.But Elena barely heard him.The first gunshot rang out again—closer this time—and something inside her snapped clean in two.Her mind did not weigh options.It did not calculate odds.It went to one place only.Draco.“Mama—!”She didn’t know if she imagined the sound of his voice or if it was memory clawing its way into panic. Either way, her body was already moving.“Elena—wait!”Nico
The hallway felt colder than it had moments ago.Elena leaned her back against the wall just outside Draco’s room, the wood pressing lightly between her shoulder blades. The faint hum of the safe house surrounded her—distant footsteps somewhere downstairs, a door opening and cl
The day unfolded lazily, the kind of afternoon that felt borrowed from a life none of them truly belonged to. The safe house, usually thick with tension and whispers of danger, now basked in a rare stillness.Sunlight streamed through the trees, filtering in warm streaks across the porch. The dist
Sunlight filtered through the thick drapes of the safehouse, casting long streaks of gold across the wooden floor. The house sat nestled deep in the countryside, far from the chaos that seemed to follow them like a shadow. For the first time in days, a fragile calm had settled. Draco was curled up
The estate was in chaos.Damien’s men moved in a frenzied blur, their voices sharp with urgency as they barked orders into phones and scanned through security footage. The tension in the air was thick enough to choke on, swirling with a volatile mix of panic and rage. The dim glow of overhead light






Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.
Ulasan-ulasan