Bounty Hunter: The Space Bender

Bounty Hunter: The Space Bender

last updateHuling Na-update : 2022-07-15
By:  Panda WritesOngoing
Language: English
goodnovel16goodnovel
10
1 Rating. 1 Rebyu
15Mga Kabanata
3.6Kviews
Basahin
Idagdag sa library

Share:  

Iulat
Buod
katalogo
I-scan ang code para mabasa sa App

Synopsis

Eurie Sanchez is just a simple high school student. Her future is already planned: go to college, find a good job, and reclaim her father's house. But, everything changes when one day a man from another universe, named Kaizer Dragunflare, barged in to her play, sliced arms, and saved her to some possessed kidnappers. Her world swirls and goes back to zero as she learns that she is not the orphan girl she thought she was. She is actually a Zaenoth lost girl, from the clan of Cezanne who can freeze things, her apartment, and even the space and time. In a blink of an eye, she travels through worlds as she tries to unravel the past of her lost self... the past of the little Elliot Cezanne, the last space bender.

view more

Kabanata 1

PROLOGUE

Ruangan privat itu tiba-tiba menjadi sangat sunyi.

Tangan Izzy yang terangkat di udara membeku. Jantungnya berdetak semakin cepat tanpa bisa dikendalikan. Dia menahan napas, seolah sedang menunggu sebuah vonis.

Setelah lama terdiam, suara Arsa terdengar datar, "Aku menganggapnya sebagai adik."

"Adik?!" Suara teman-temannya langsung meninggi. "Dia temani kamu selama tiga tahun dan kamu cuma anggap dia sebagai adik? Arsa, jangan bilang kamu masih mikirin Lyra? Waktu kamu kecelakaan dulu, dia bahkan nggak peduli sedikit pun dan langsung pergi. Sekarang setelah kamu sembuh, dia malah kembali. Siapa pun yang kamu sukai, jangan sampai itu dia!"

Arsa tidak menjawab.

Berdiri di luar pintu, Izzy merasa jantungnya seperti diremas dengan kejam. Terkadang, diam adalah jawaban yang paling jelas. Izzy mengira kebersamaannya selama tiga tahun bisa ditukar dengan ketulusan hati.

Ternyata, di dalam hati Arsa selalu hanya ada satu orang, yaitu wanita yang pernah meninggalkannya.

Tiga tahun lalu, Arsa masih merupakan putra kebanggaan kalangan elite ibu kota. Lulusan universitas ternama, pewaris perusahaan keluarga, mahir bermain ski dan berkuda. Bahkan wajahnya pun tampak seperti karya seni yang dipahat dengan sempurna oleh Tuhan.

Sedangkan Izzy hanyalah seorang mahasiswa miskin yang mendapat bantuan pendidikan dari keluarga Arsa.

Pertama kali dia melihat Arsa adalah saat upacara penghargaan di sekolah.

Arsa berdiri di atas panggung penerima penghargaan dengan raut wajah dingin dan sosok tegap, bagaikan sosok yang tak mungkin digapai.

Sementara itu, Izzy duduk di barisan paling belakang, menggenggam amplop beasiswanya erat-erat, bahkan tak berani bertepuk tangan terlalu keras.

Saat itu, yang berdiri di sisi Arsa adalah Lyra, gadis tercantik di kampus yang memiliki latar belakang keluarga setara dengannya. Semua orang mengatakan bahwa mereka serasi seperti pangeran dan putri dalam dongeng.

Sampai kecelakaan itu terjadi.

Tulang belakang Arsa mengalami cedera parah dan dokter menyatakan bahwa kemungkinan besar dia tidak akan pernah bisa berdiri lagi seumur hidupnya. Lyra bahkan tidak masuk ke ruang perawatan. Dia hanya mengirimkan sebuah pesan putus sebelum menghilang tanpa jejak.

Tuan muda Keluarga Radhika yang dulunya dipuja banyak orang, jatuh ke titik terendah dalam semalam. Dia menjadi pemarah, murung, bahkan pernah mencoba mengakhiri hidupnya sendiri. Ayah dan ibunya menangis setiap hari, tetapi tidak tahu harus berbuat apa.

Saat itulah, Izzy melangkah maju. Dia berjongkok di depan kursi roda Arsa dan berkata dengan lembut, "Arsa, semuanya akan membaik. Aku akan temani kamu."

Selama tiga tahun berikutnya, Izzy mempelajari berbagai teknik pijat. Dia hanya tidur dua jam sehari karena takut Arsa melakukan hal nekat di tengah malam.

Saat Arsa kehilangan kendali emosi dan menghantam kakinya sendiri dengan bangku, Izzy tanpa ragu berdiri di depannya dan menerima pukulan itu secara langsung.

Tahun demi tahun, dia terus menemani Arsa hingga menjadi orang yang paling penting dalam hidupnya. Semua orang mengatakan bahwa Arsa hanya bisa tidur nyenyak ketika melihat Izzy.

Kini Arsa telah sembuh. Semua orang mengira dia akan menikahi Izzy.

Izzy sendiri pernah membayangkan hal yang sama. Namun sampai di titik ini, mana mungkin dia masih tidak memahami maksud Arsa?

Sekarang Arsa telah sembuh, Lyra telah kembali, dan dirinya yang hanya dianggap sebagai "adik" sudah saatnya meninggalkan panggung. Dia menarik napas dalam-dalam, lalu mendorong pintu masuk.

Suara tawa dan obrolan di dalam ruangan langsung terhenti. Semua orang menoleh ke arahnya dan sekelompok sahabat Arsa tampak bersalah. "Izzy? Ka ... kapan kamu datang?" tanya seseorang dengan hati-hati.

"Baru saja."

Izzy tersenyum, berpura-pura tidak mendengar apa pun. Dia menyerahkan hadiah itu kepada Arsa. "Selamat atas kesembuhanmu."

Arsa baru saja hendak menerimanya ketika pintu ruangan kembali terbuka. Lyra berdiri di ambang pintu dengan mata sedikit memerah. "Arsa, aku dengar kamu sudah sembuh. Aku datang untuk mengucapkan selamat."

Suasana di dalam ruangan langsung membeku.

"Untuk apa kamu datang?" Wajah teman-teman Arsa langsung berubah muram. "Waktu Arsa kecelakaan dulu, kamu lari paling cepat. Sekarang masih berani kembali?"

Wajah Lyra langsung memerah karena malu. Matanya juga mulai berkaca-kaca. Setelah menyerahkan hadiahnya kepada Arsa, dia berbalik dan hendak pergi.

Namun, tiba-tiba Arsa meraih pergelangan tangannya. "Toh sudah datang, tetaplah di sini."

Semua orang tercengang dan tanpa sadar menoleh ke arah Izzy. DIa berdiri di sana dengan senyum yang tidak berubah sedikit pun, sementara kuku-kukunya telah menancap dalam ke telapak tangannya.

Jadi, kebersamaan selama tiga tahun itu pada akhirnya tetap tidak mampu menandingi setetes air mata Lyra.

Sepanjang acara berikutnya, suasana terasa begitu aneh hingga membuat orang sesak napas. Teman-teman Arsa sengaja mengabaikan Lyra dan terus-menerus menggoda Izzy serta Arsa.

"Izzy, waktu Arsa menjalani rehabilitasi, kamu memang pijat dia setiap hari, 'kan?"

"Tentu saja. Kemampuannya sudah profesional. Arsa cuma mau dipijat sama dia. Kalau orang lain sentuh dia sedikit saja, dia langsung marah!"

Izzy menundukkan kepala, berpura-pura tidak melihat tatapan penuh kebencian yang dilemparkan Lyra kepadanya.

Sementara itu, meskipun Arsa tampak diam dan tidak mengatakan apa-apa, Izzy bisa merasakan bahwa seluruh perhatiannya tertuju pada Lyra. Di tengah acara, seseorang mengusulkan untuk bermain permainan.

Lyra menjadi orang pertama yang kalah. Hukumannya adalah meminta kontak dari lawan jenis. Dia refleks menoleh ke arah Arsa, matanya dipenuhi harapan meminta bantuan. Namun, Arsa hanya menunduk memainkan ponselnya, berpura-pura tidak melihat.

Lyra menggigit bibirnya, lalu berdiri dengan kesal. "Aku pergi sendiri."

Izzy memperhatikan saat Lyra berjalan ke area meja di sebelah. Tak lama kemudian, beberapa pria langsung mengerumuninya. Salah satu pria yang sudah mabuk menarik pergelangan tangannya. "Cewek cantik, boleh tukar kontak. Tapi boleh nggak aku pegang dulu?"

"Lepaskan aku!" Teriakan Lyra tiba-tiba terdengar.

Arsa langsung mengangkat kepala. Pada detik berikutnya, dia sudah berlari ke sana dan menghantam wajah pria itu dengan satu pukulan.

"Sialan! Cari mati, ya?!"

Situasi langsung menjadi kacau.

"Arsa! Sudah, jangan berkelahi lagi!"

Teman-temannya buru-buru maju untuk melerai. Takut kondisi tubuh Arsa yang baru sembuh mengalami masalah, Izzy juga bergegas menghentikannya. "Arsa, jangan ...."

Sebelum dia sempat menyelesaikan kalimatnya, Arsa mendorongnya dengan satu tangan. "Minggir!"

Brak!

Izzy tidak sempat bersiap. Kakinya terpeleset dan tubuhnya langsung terguling menuruni tangga. Bagian belakang kepalanya menghantam lantai dengan keras.

Pandangan di depan matanya langsung menggelap. Darah hangat mengalir dari pelipisnya dan mewarnai penglihatannya menjadi merah. Dengan susah payah, dia menopang tubuhnya untuk bangkit. Namun, yang dia lihat hanyalah punggung Arsa yang sedang menggendong Lyra dan pergi dari sana.

Arsa bahkan ....

Tidak menoleh sekali pun untuk melihatnya.

Jantungnya seakan dicabik paksa hingga terbuka, rasa sakitnya begitu hebat sampai membuatnya hampir tidak bisa bernapas.

Tiba-tiba, dia teringat masa lalu.

Saat itu kedua kaki Arsa lumpuh. Karena putus asa, Arsa menghantam kakinya sendiri dengan kursi.

Izzy berlari untuk menghentikannya.

Akibatnya, hantaman yang kehilangan kendali itu membuat tiga tulang rusuknya patah. Dengan mata memerah, Arsa berteriak marah, "Kakiku sudah cacat! Nggak masalah kalau dihantam lagi! Apa kamu sudah nggak peduli sama nyawamu sendiri? Nggak bisa membedakan mana yang lebih penting?"

Izzy yang kesakitan hingga tubuhnya dipenuhi keringat dingin tetap memeluk kedua kakinya dengan keras kepala.

Dengan suara lembut, dia berkata, "Aku bisa bedain. Justru karena kakimu sangat penting, makanya aku harus menghentikanmu. Karena suatu hari nanti, aku pasti akan membuatmu berdiri kembali."

Pada saat itu, Arsa yang selama ini selalu angkuh dan penuh harga diri, gemetaran saat memeluk Izzy.

Suaranya tercekat saat berkata, "Izzy, jangan tinggalkan aku ...."

Semua orang mengatakan bahwa Arsa bisa berdiri kembali adalah sebuah keajaiban. Namun, hanya mereka berdua yang tahu.

Mana ada keajaiban?

Semua itu terjadi karena Izzy mempertaruhkan segalanya dan sedikit demi sedikit menariknya keluar dari jurang keputusasaan.

Sekarang ....

Arsa telah keluar dari jurang itu, tetapi tidak lagi membutuhkan dirinya.

Tepat saat itu, ponsel Izzy tiba-tiba berdering. Dengan tangan gemetar, dia mengeluarkan ponselnya. Tulisan "Juwita" di layar membuat matanya terasa perih. Dia sangat paham apa arti panggilan ini.

Benar saja.

Begitu panggilan tersambung, terdengar suara Juwita yang berbicara dengan hati-hati dari seberang sana.

"Izzy, gimanapun juga, sekarang Arsa adalah direktur utama sebuah perusahaan publik. Dia nggak boleh punya istri yang nggak ada latar belakang atau status, dan nggak bisa memberinya bantuan apa pun ...."

"Aku sangat berterima kasih karena selama tiga tahun ini kamu tetap setia merawatnya. Tapi kamu juga harus mengerti, kalau dulu bukan karena Keluarga Radhika membiayaimu, kamu bahkan nggak akan bisa kuliah. Anggap saja semua budi dan jasa itu sudah impas, gimana?"

Di seberang telepon, Juwita terdiam sejenak. Seolah menunggu Izzy melontarkan pertanyaan penuh emosi, atau memohon dengan rendah hati. Namun, Izzy hanya mengangkat pandangannya ke arah tempat Arsa pergi tadi.

Lorong yang kosong itu seakan sedang menertawakan cinta sepihak yang dia pertahankan selama tiga tahun terakhir. "Baik."

Izzy mendengar suaranya sendiri terdengar begitu tenang hingga menakutkan. "Aku akan pergi. Aku nggak akan pernah muncul lagi di hadapannya."

Palawakin
Susunod na Kabanata
I-download

Pinakabagong kabanata

Higit pang Kabanata

To Readers

Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.

Rebyu

MaidenRose7
MaidenRose7
Such an amazing story from amazing writer . Love it (*˘︶˘*).。*♡
2021-09-17 11:02:01
0
0
15 Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status