LOGINAfter watching Desmond murder her family. Annabelle is forced to live under the control of the same man who destroyed her life. Feared by everyone and respected by society. Desmond hides a cruel obsession behind his perfect image. But Annabelle heart belongs to someone else Michael. Desmond calm and unreadable best friend. Desperate for freedom, Annabelle risk everything for the man she was never supposed to love. But one dangerous night ends in tragedy, turning love into guilt, betrayal and revenge. Years later, her sister Elisa returns with one goal to destroy Desmond. To bring him down, she must get close to Michael unaware that he is hiding a deadly secret connected to Annabelle's death. In a world built in lies, obsession and revenge loving the wrong person could destroy them all
View MoreKAMU YANG KUCINTAI
Part 1 Ikut denganmu? "Mas, boleh aku ikut denganmu?" tanya Kimmy sambil memandang pria berjaket kulit yang duduk di hadapannya. Tatapan gadis itu penuh harapan. "Kamu nggak akan aman bersamaku. Hidupku belum jelas. Aku juga memiliki banyak musuh, Kim." Pria itu menghembuskan asap rokok ke udara. Yang akhirnya buyar tersapu angin malam dari balkon kafe. Kimmy tidak berkedip. Matanya yang bulat tampak berkaca-kaca, memantulkan cahaya lampu kota. "Aku lebih bahaya lagi jika tetap tinggal bareng Mama di rumah itu. Mama lebih mendengar dan lebih mempercayai suami dan anak-anak tirinya. Menjaga perasaan mereka dengan baik, seolah aku yang anak kandungnya ini nggak punya perasaan. Memang hidup kami bergantung padanya, sih. Mama sudah terlalu bangga dengan gelar nyonya besar di rumah itu." "Papa tirimu jahat?" tanya Langit dengan tatapan menyelidik. "Bukan beliau yang jahat. Tapi aku takut dengan anak-anaknya." Kimmy menunduk sambil memperhatikan gelas es teh yang digenggam dengan kedua tangannya. Wajah itu terlihat begitu resah. Kakak tirinya itu tidak pernah bicara kasar. Tapi matanya selalu mengikutinya. Di meja makan, di lorong rumah, bahkan dia seperti berdiri di depan pintu kamarnya saat malam sudah larut. Kimmy pernah cerita pada sang mama. Tapi wanita itu bilang, Kimmy terlalu berlebihan. Padahal Arsel itu sopan dan pendiam. Bagi Kimmy, pria seperti itu bisa saja menjadi predator yang bersembunyi di balik wajah tampan, kemeja rapi, dan senyum sopannya. "Mereka keluargamu. Lebih aman bersama keluarga daripada dengan orang asing, Kim. Belum tentu aku terus baik seperti sangkaanmu." "Kita bukan orang asing, kan? Kita sudah berteman sejak kecil lagi. Sejauh ini aku aman bersamamu." Hening. Kimmy memandang Langit. Tapi pria itu mengalihkan perhatian pada suasana jalanan di bawah kafe sana. Kemacetan di tengah kota Surabaya tampak seperti aliran lava merah yang membara. Rahangnya yang tegas tampak menengang. Langit ingin lari dari sangkar emas. Ia muak dengan intrik bisnis ibu tirinya, muak dengan kekuasaan yang dibangun di atas air mata orang lain. Baginya pergi dari rumah adalah kematian baginya, tapi membawa Kimmy pergi adalah perjudian nyawa. Keluarga Fardhan tidak akan tinggal diam. Mereka akan mencari Kimmy hingga ke lubang semut sekali pun. Ia seperti halnya Kimmy. Papanya menikah lagi dengan rekan bisnisnya. Dan wanita itu penuh ambisi untuk menguasai semuanya. "Mas Langit, hendak pergi ke mana?" Pertanyaan Kimmy memecah lamunan berat lelaki itu. "Jauh dari sini," jawab Langit terdengar parau menahan sebak dalam dada. Dia tidak ingin pergi. Tapi memang tidak punya pilihan selain menjauh. Ia ingin merengkuh Kimmy, memberinya perlindungan, tapi hidupnya sendiri entah bagaimana setelah pergi dari keluarga. "Di mana?" Kimmy mendesak. "Ke tempat di mana aku nggak dikenali, Kim. Ke tempat di mana aku cuma Langit, bukan pewaris apa pun." Kimmy menggeser duduknya, merapat ke meja. "Kalau begitu bawa aku ke sana. Aku bisa masak, aku bisa bersih-bersih, aku nggak akan merepotkan. Nanti aku juga akan bekerja, jadi nggak bergantung hidup padamu. Selain Mama, kamu yang kupunya." Langit memandang Kimmy. "Aku juga nggak akan menjadi penghalangmu jika suatu saat nanti Mas Langit menemukan gadis yang tepat yang ingin kamu nikahi. Bil-bilang saja aku adikmu." Suara Kimmy bergetar dan dadanya terasa sesak. Ada sesuatu yang tidak bisa ia ucapkan. Kimmy menarik napas sejenak. "Aku nggak tahan di rumah itu, Mas. Salsa juga terus-terusan menyindirku. Dia bilang aku dan Mama hanya benalu yang mau merebut harta papanya." "Harta ini benda mati yang bisa membuat manusia menjadi iblis, Kim." "Tapi aku dan mamaku bukan iblis, Mas." "Maaf, aku tidak mengataimu begitu. Aku bicara tentang wanita lain." "Iya. Aku ngerti." "Kamu harus menyelesaikan kuliahmu. Aku pergi dan nggak tahu bagaimana nasibku nanti. Bisa jadi aku mungkin akan tidur di pom bensin, atau di emperan toko." Mendengar itu Kimmy tersenyum tipis. Tidak mungkin seorang Langit tak punya uang. Sekalipun dia bilang pergi dari rumah tanpa membawa apapun. Ia lebih baik tidur di aspal bersama Langit daripada tidur di kasur empuk tapi harus mengunci pintu karena takut Arsel masuk. Namun ia sadar, tidak bisa memaksakan diri karena Langit mungkin juga ribet kalau dirinya ikut. Apalagi dia hanya teman bagi pria itu. Teman yang suka merepotkannya. "Bertahanlah, selesaikan dulu kuliahmu. Tinggal setahun lagi, kan?" ujar Langit yang akhirnya membuat Kimmy mengangguk lemah. Ia menyerah. 🖤LS🖤 "Baru pulang berkencan, ya? Jam segini baru nongol. Wangi asap jalanan banget sih, nggak cocok sama parfum ruangan di sini," ejek Salsa. Saat Kimmy masuk lewat pintu samping rumah. Gadis itu duduk bersedekap di sofa kulit impor. Kakinya disilangkan dengan angkuh. Matanya yang dipulas eyeliner tajam memindai penampilan Kimmy dari ujung kepala hingga ujung kaki, seolah sedang memeriksa perempuan jalanan yang salah masuk ke rumah mewah. Kimmy memilih membisu. Ia menunduk sambil merapatkan jaketnya dan terus melangkah melewati ruang tengah secepat mungkin. Namun langkah Salsa lebih gesit. Ia berdiri, menghalangi jalur menuju tangga. "Ditanya itu dijawab, Kim. Mamamu nggak pernah ngajarin sopan santun kalau masuk rumah orang?" desis Salsa. "Belagu banget. Numpang di sini tapi nggak mau jawab saat ditanya tuan rumah. Harusnya kamu sadar posisi, dong. Kamu dan Mamamu itu cuma tamu yang kebetulan dapet 'tiket gratis masuk ke sini' karena Papa merasa kasihan." Kata-kata itu menghujam ulu hati Kimmy, tapi ia hanya mengeratkan pegangan pada tas ranselnya. Tidak ingin memicu keributan yang akan membuat sang mama menasehatinya panjang lebar. Dengan gerakan menghindar, Kimmy memutar tubuh dan menaiki anak tangga satu per satu. "Jangan pikir karena Papa baik, kamu bisa seenaknya di sini!" teriak Salsa dari bawah. "Kamu itu nggak lebih dari benalu, Kimmy!" Kimmy menarik napas panjang untuk melonggarkan dada yang sesak nyaris meledak. Kalau ada orang tua mereka, Salsa tidak akan berkata demikian. Pasti bersikap sok manis. Makanya sang mama tidak percaya dengan cerita Kimmy. Dan sudah dua hari ini, sang mama ikut suaminya ke luar kota. Kimmy benar-benar sendirian di rumah itu. Lantai dua terasa lebih sunyi, tapi suasananya jauh lebih mencekam. Kamar untuk anak-anak ada di lantai dua semua. Kimmy ingin pindah ke bawah, tapi tidak diperbolehkan oleh Pak Fardhan. Papa tirinya. Untuk mencapai kamarnya, Kimmy harus melewati balkon ruang tamu atas. Dan di sana, di bawah temaram lampu gantung, sosok tinggi tegap itu berdiri. Arsel menoleh dan memandangnya sekilas. Namun tatapan itu tajam. "Dari mana kamu?" Next ....One lie would protect a killer. One truth would bury her brother. Annabelle had one choice.Desmond walked into the interrogation room with the same composed confidence that had made him one of the most feared businessman in the country. His polished shoes echoed against the titled floor as he approached the chair placed opposite from two officers.A camera stood in one corner of the room, it's red light blinking steadily. The interrogation was being recorded and broadcast to the media as part of the investigation into the murder of Clinton and his wife.Desmond adjusted the sleeve of his tailored suit before taking his seat.The officer seated across from him folded his hands on the table.“Mr Desmond, thank you for honoring our invitation.”Desmond gave a slight nod. “I have nothing to hide.”The officer studied him for a moment before asking his first question.“What was your relationship with late Mr. Clinton.”Desmond answered without hesitation.He was my business partner and at
Annabelle lay motionless on the enormous bed, her eyes squeezed shut as though refusing to acknowledge the reality around her. She clung to the fragile hope that if she opened them, she would wake up in her room, hear her mother's voice calling her downstairs and find her father watching the news on TV as though nothing had happened.But reality was cruel than dreams. With a trembling breath, she slowly opened her eyes. The luxurious bedroom remained unchanged.The expensive chandelier hanging above shocked her misery, while the elegant furniture and silk curtains only reminded her that she was trapped inside the mansion of the man that destroyed her family.A bitter smile appeared on her lips. "So, this is my life now."She sat up slowly, every part of her body aching from exhaustion. She barely remembered falling asleep. Her mind had been overwhelmed by grief, fear and endless questions that refuse to leave her.Dragging herself toward the bathroom, she closed the door behind and st
The moment the blade touched her brother's skin, Annabelle realized something terrifying, Desmond wasn't asking for loyalty anymore. He was demanding her soul.The room felt suffocatingly silent.Desmond slightly tightened his grip around Anna's waist, pulling her closer until she could feel the heat radiating from his body.."Now.." he whispered darkly against her ear, his eyes roaming over her trembling figure. "It's finally just the two of us."His fingers slid up her thigh possessively as he leaned in, his lips inches away from hers.Her breath hitched. Quickly, she covered her mouth with shaky hands. Panic flashing across her face."It's...my first time," she whispered softly. He paused.For a brief second, surprise crossed his face before a dangerous smirk curved on his lips."You're still a virgin?" He asked, with amusement dancing in his eyes. Embarrassed Annabelle lowered her head silently.Desmond brushed his fingers through her hair slowly almost tenderly but the darkness i
The moment Desmond stepped into the room, Annabelle realized something terrifying, death was no longer the worst thing that could happen to her.The instant Annabelle heard the guard announced from outside the room that the police had arrived and were asking for her, hope exploded inside her chest."They're here!" She screamed, struggling against the bed. "I'm here! Please help me!"Desmond face darkened instantly. Panic flickered across his eyes for the first time since she had met him.He yanked the door open. The guard bowed respectfully. "Sir, the police and media are outside the mansion."Annabelle seized the opportunity. She rushed toward the door barefoot, her heart pounding wildly.But before she could escape, the guard grabbed her violently. "Let me go?" She cried.He slammed her against the wall and dragged her back into the room. "I don't want to stay here."Within seconds, the guard tied her wrist to ankles tightly with a rope."You think this will save you?" She shouted
Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.