MasukIt was a small pull, that had her confused at first, but kept bothering her like a strand of hair attached to your arm that you can't find and remove. When she focused on it, the pull drove her to touch his chest lightly. She cleared her mind to make sense of the foreign sensation that spoke to her and when she did, it was strange and dark. He was calling for fire. ---- Brianna is a witch that tends to the needs of nature by controlling the four elements. Nathaniel is a phoenix assigned to her village by a mysterious and suspicious organization, the Council. He is a master of fire, unwaveringly dedicated to his life's work. She is an untamable force of nature. Can their unexpected encounter alter the path of fate?
Lihat lebih banyak[Suamimu datang ke sini dengan selingkuhannya.]
Lily Orlantha membaca sebaris pesan dan foto yang dikirim Vina Prajaya dengan nanar. Maxwell Kalandra, suami yang selalu menatapnya dingin setiap bertemu pandang dengannya sejak pernikahan dua tahun lalu, tampak berbinar saat menatap seorang wanita yang menggelayut manja di sampingnya. Hati Lily pedih, terlebih kala pandangannya turun pada kedua kakinya yang telah lumpuh. Jika Max tidak menabraknya dua tahun yang lalu, ayahnya mungkin masih hidup. Lily juga masih bebas berkeliaran di luaran sana tanpa terkurung menyedihkan di dalam sangkar yang gelap dan sepi seperti ini.Dan Lily tidak perlu mencintai sendirian.
Sayangnya, nasi sudah menjadi bubur. Di bawah tekanan Ibu tirinya yang membawa perihal pengobatan terbaik untuk adiknya yang autis, Lily terjebak dalam pernikahan semu. Drrrt! Notifikasi email di ponsel membuat Lily tersadar dari lamunan. Ada pesan masuk dari sekolah desainer terkenal di Paris bernama Belle School of Fashion. Pesan itu berisikan undangan khusus agar Amarilis bisa sekolah di sana dengan beasiswa penuh. Tentu saja undangan itu datang setelah Lily melewati tahap penyeleksian yang ketat dalam waktu yang lama. Kesempatan ini bagaikan emas baginya. Usianya masih muda, masih ada waktu untuk mengejar masa depannya. Lily tak ingin terus menerus terkungkum dalam mansion yang besar namun penuh dengan kesedihan di dalamnya. Mungkinkah ini petunjuk dari Tuhan? [Aku ingin meminta cerai pada Max. Apakah aku akan mendapatkan uang darinya?] Gegas Lily memberi pesan pada sang sahabat. Hanya dalam hitungan detik, Vina langsung menelepon Lily. "Apa kau benar-benar ingin bercerai? Kalau iya, aku akan mengadakan syukuran untukmu selama tiga hari." "Iya, aku akan meminta cerai. Kedengarannya kau sangat senang," balas Lily. "Apa kau bercanda? tentu saja aku sangat senang. Aku senang karena akhirnya kau akan lepas dari jeratan Max si pria brengsek!" Sejak dulu, sahabat Lily itu memang tak suka Max. Dia bahkan sampai menawari sejumlah uang agar pernikahan tersebut dibatalkan. Namun Lily menolak tawaran Vina, dia tidak ingin memiliki hutang budi pada orang lain. "Terima kasih atas dukunganmu selama dua tahun ini, Vina." "Ya ampun, Lily! Untuk apa kamu berterima kasih? Tidak pantas kamu mengatakan hal itu, harusnya aku yang berterima kasih karena disaat penderitaanmu yang datang bertubi-tubi saja kamu masih bisa membantu butik mamaku yang hampir collapse dengan karya desainmu." Beberapa bulan setelah Lily menikah, dia mencoba memberanikan diri untuk mengirim hasil desainnya ke butik mama Vina yang hampir bangkrut, tetapi memang memiliki langganan ibu-ibu pejabat serta artis papan atas. Siapa sangka jika hal itu berbuah manis ke depannya? Lily menjadi sering mendapatkan permintaan dari ibu-ibu pejabat langganan Sandra untuk membuatkan sketsa gaun yang berbeda dari lainnya. "Oh, iya…. tapi kenapa kamu peduli soal harta gono-gini?" tanya Vina lagi. "Maksudku... kamu kan sudah bisa menghasilkan uangmu sendiri lewat karya desain yang selama ini kamu kirimkan ke butik mamaku. Aku kira mengandalkan penghasilanmu yang itu saja pasti sudah akan cukup untuk menghidupimu dan keluargamu. Yah... aku hanya tidak rela saja kalau Max nanti menghina dan merendahkanmu saat kau membahas soal harta gono-gini di persidangan nanti." "Apa kau ingat kalau aku pernah mengirimkan email pada Belle School? Tadi pagi, mereka mengirimkan undangan beasiswa untuk sekolah di sana. Jadi..." “WOW!” Terdengar jeritan yang keras dari seberang sana hingga membuat Lily harus menjauhkan ponsel dari telinganya. “Kamu harus segera berangkat ke Paris! Aku akan melawan orang yang menghalangi jalanmu, tak peduli Max sekalipun!" Lily tersenyum beberapa saat sebelum kembali berkata, "Aku tahu, tapi masalahnya aku tidak memiliki uang yang cukup untuk membuat ibu tiriku bungkam." Jika Saphira tahu Lily hendak mengajukan cerai dengan Maxwell, pasti dia tak akan tinggal diam karena satu-satunya sumber uang akan terputus karenanya. Gaya hidup wanita paruh baya itu hedon sekali. Dia kerap mengikuti arisan sosialita menggunakan uang bulanan yang dikirim Lily--yang mana uang bulanan itu adalah nafkah yang diberikan Maxwell untuknya setiap bulan. Sebenarnya Lily tak masalah untuk apa Saphira menggunakan uang itu, yang terpenting pengobatan dan pendidikan Arsen tidak terputus. Masalahnya Saphira menjadi ketergantungan karenanya. Sedang pendapatan sendiri tak cukup jika untuk sekedar memenuhi gaya hidup hedon Saphira. "Oh, kau benar. Ibu tirimu itu tak kalah brengsek dari Maxwell. Kau tahu? Aku dengar dari orang lain kalau ibu tirimu telah memiliki pacar yang usianya jauh lebih muda. Aku yakin ibu tirimu juga memberi uang pada pacarnya itu." "Benarkah? Aku baru mendengar berita itu." Suara Lily terdengar tak semangat. "Vina, aku takut kalau lama-kelamaan Saphira tidak akan peduli lagi dengan Arsen. Meski Arsen adalah anak kandungnya sendiri, tapi aku sangat paham tabiat Saphira yang gila harta." Lily merasakan kekhawatiran luar biasa terhadap adiknya. Sebulan yang lalu saat dia pulang ke rumah, dia melihat Arsen sedang tantrum hingga memukul tembok sampai jari-jarinya berdarah. Lily menjadi ragu jika Saphira menggunakan uang miliknya dengan semestinya. "Kau tenang saja. Aku akan mengurusnya nanti, sebaiknya kamu fokus dulu pada perceraianmu. Kau tidak akan bisa berbuat apapun selama masih terikat dengan keluarga Kalandra."The camp near the southern border was perhaps one of the oldest. It lost many residents throughout the years, but still held more people than the resources could feed. The movement of the desert’s sand was the only thing indicating the passing of time on the otherwise static land. Even the strong willed eventually caved to the ruthlessness of the camp, the inevitability of its reality. It was the apex of grief, that much power constrained by the invisible shackles of danger. The self-imposed imprisonment eroded the souls of the adventurers and crushed the wishes of the dreamers.
“Allow me to shed some light into your path, my dears” The couple turned to the woman, surprised to see she was still there. Bree trusted her implicitly, but she knew Nate was still apprehensive. The anger from his drawn need was present, pulsing behind his eyes. She heard him fuming against her hair and intertwined their fingers to help him calm down. The old woman motioned them to take a sit again, and Bree took the opportunity to quickly peck Nate on the lips. It was working, the little contact she was establishi
Bree was the first to accept the situation. She was barely functional during the four days she spent with the older woman, but it was enough for her to understand she was as mysterious as she was caring.“Cassie, where should we start”“Tell me everything you know, child”Nate was beginning to catch up with the ladies.
Brianna was trying to keep herself together, but she was livid. It took her over an hour to calm Nate down enough for him to tell her the story. An hour and two punches to the wall. She felt the anger pouring out of his every word and by the end, most of it was shared between the two.She was sitting on their bed while he paced around, both trying to breath through the rage. “We need to leave” Her voice was sure, probably more that she really felt.
“So, Angel, hm?” Bree threw him an amused look while arching her left brow. He was still laying in the grass by the river after they explored eac
Nate jumped into the river like he was seeking to put out a fire. In a sense, he was, but reaching the water did nothing to calm his need. They reconnected e
Bree and Nate left the room way too late for a morning meal, and both their stomachs were complaining when they got to the main flor of the library. Lady Cas
Bree knew her routine for the past couple of days was absurd. She tried to spiral out of it, but it was impossible to control matters of the heart with a rat






Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.
Ulasan-ulasanLebih banyak