Share

BAB 327

Author: Langit Parama
last update publish date: 2026-03-11 07:02:05

“Nenek, kenapa marahin Mommy?” Regantara maju satu langkah, berdiri tepat di depan Djiwa. Tubuhnya kecil, tapi sikapnya tegak. “Jangan galak-galak sama Mommy kami.”

“Iya, Nek,” Narendra ikut maju, berdiri di sisi kakaknya. Wajahnya merah menahan emosi. “Kenapa Nenek jahat sama Mommy?”

Kata jahat itu seperti tamparan. Sekar yang masih diliputi amarah menatap kedua cucu laki-lakinya lekat-lekat.

Anak-anak yang sejak k
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter
Comments (12)
goodnovel comment avatar
Yur Dania
lanjutkan thoorrr bikin penasaran
goodnovel comment avatar
Ais Rin
Thor, buat Djiwa smart dikit lah jgn 100 persen polos sprti anak kecil
goodnovel comment avatar
Sri Agus s
ikln lgi ikln lgi
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Candu Dekapan Kakak Ipar   BAB 556

    Tatapan Sultan berubah tajam. “Apa maksudmu?” suaranya merendah, penuh tekanan. Kaisar tidak mengalihkan pandangannya sedikit pun. “Aku yang hapus rekaman itu,” ulangnya tenang. “Karena aku tidak mau Mami terus terngiang dengan kejadian malam kecelakaan Mas Radja. Seperti yang Mas ketahui, sesayang apa Mami sama dia.” Rahang Sultan mengeras. “Kamu sadar apa yang kamu lakukan, Kai?” suaranya mulai meninggi. “Kamu menghilangkan barang bukti.” “Aku melindungi mental Mami, Mas,” balas Kaisar dingin. “Itu yang kita semua inginkan.” “Kamu bisa menggunakan dengan cara lain, Kai,” ucap Sultan dingin. “Kamu bisa pindah semua datanya ke iPad milikmu.” Kaisar tersenyum tipis. Tipis sekali. “Dan itu akan lebih memudahkan kamu untuk menuduh istriku. Karena daripada mengakses milik Mami, Karin lebih mudah mengakses barang elektronikku.” Sultan bangkit dari duduknya. “Apapun itu, yang kamu lakukan sangat salah. Buktinya, Mami juga terkejut rekaman CCTV itu hilang. Dan saya yakin, Mami tidak

  • Candu Dekapan Kakak Ipar   BAB 555

    “Mas, gimana sama Karin?” tanya Fairish pagi itu, saat Sultan tengah merapikan jam tangannya sebelum berangkat. Sultan menoleh sekilas, alisnya berkerut tipis. “Memangnya kenapa dengan dia? Kandungannya bermasalah?” Fairish sempat terdiam sepersekian detik, lalu menelan ludahnya. “Iya … katanya kemarin badannya gak enak. Makanya Kai sama istrinya gak dateng semalem ke rumah sakit. Padahal Mami lagi sakit,” jawabnya, berusaha terdengar biasa. Sultan mengangguk pelan. “Hm … begitu, ya.” “Aku ikut kamu ke rumah sakit ya, Mas,” lanjut Fairish cepat, sudah berbalik menuju wardrobe tanpa menunggu persetujuan. Sultan tidak menahan. Ia hanya mengira istrinya ingin menjenguk ibunya. _____ Tak lama kemudian, mereka bertiga, Sultan, Fairish, dan Binar tiba di rumah sakit. Di lorong menuju ruang rawat inap, mereka berpapasan dengan Kaisar. “Kamu datang sendiri?” tanya Sultan datar. “Di mana istrimu?” “Karin lagi gak enak badan,” jawab Kaisar tenang. “Aku putusin dateng sendiri.” Tanpa

  • Candu Dekapan Kakak Ipar   BAB 554

    “Jadi … bukan kamu yang bales?” gumam Djiwa pelan. Ia menarik napas panjang, lalu menghela perlahan. Jarinya kembali menekan tombol rekam. “Mas … kalau memang kamu yang bales, kamu gak akan manggil aku ‘Bu’,” ucapnya pelan, tapi jelas. “Kamu lagi sibuk, aku ngerti. Tapi jangan sampai chat aja kamu serahin ke orang lain.” Ada jeda. Nada suaranya melembut. “Jangan lupa istirahat, kalau sakit jangan dipaksain kerja. Aku marah kalau sampe ada apa-apa sama kamu.” Pesan itu terkirim. Djiwa menatap layar lagi. Kali ini lebih lama, namun tak ada balasan. Layar tetap sunyi. “Mommy ….” Djiwa tersentak pelan saat mendengar suara itu. Ia menoleh, mendapati Regan berdiri tak jauh darinya—masih dengan wajah tenangnya, tapi sorot matanya penuh perhatian. “Mommy belum tidur?” tanya bocah itu sambil melangkah mendekat. Djiwa tersenyum tipis, cepat-cepat merapikan posisi duduknya. “Belum ngantuk, Nak,” jawabnya lembut. “Kamu sendiri? Kenapa belum tidur? Malah nyamperin Mommy ke sini?” Regan

  • Candu Dekapan Kakak Ipar   BAB 553

    “Saya sudah melihat rekaman yang Mas Sultan dapatkan,” ucap Kaisar pelan, setelah suasana di kamar kembali tenang. Karin tak langsung menoleh. Tatapannya tetap lurus ke langit-langit, namun tangannya bergerak pelan mengusap perutnya—seolah mengingatkan, atau mungkin menegaskan sesuatu. Kaisar menarik napas panjang. “Di rekaman itu memang ada kamu,” lanjutnya, suaranya rendah namun tegas. “Masuk ke mobil Mas Radja sambil membawa paper bag. Tapi saat keluar barang itu sudah tidak ada.” Karin akhirnya mengedip pelan, lalu menoleh sedikit ke arah suaminya. “Itu makanan,” jawabnya tenang. “Aku yang buat.” Kaisar menyipitkan mata tipis. “Untuk siapa?” “Untuk Djiwa,” jawab Karin tanpa ragu. “Malam sebelumnya aku dengar mereka lagi berantem. Tentang kematian Sankara yang selama ini Mas Radja tutupi.” Nada suaranya tetap stabil. Kaisar memperhatikannya lekat. “Makanan apa?” tanyanya lagi, singkat. Karin menarik napas pelan sebelum menjawab. “Makanan yang dulu paling dia suka,” ucapny

  • Candu Dekapan Kakak Ipar   BAB 552

    “Mommy, kenapa semuanya sakit? Nenek sakit, Daddy juga sakit. Meskipun Daddy udah sembuh, tapi kenapa gantian jadi Nenek sekarang?” Suara polos Naren memecah suasana makan malam di kantin rumah sakit. Djiwa tersenyum tipis. Ia meraih tisu, lalu mengusap lembut sudut bibir anaknya. “Namanya juga manusia, sayang,” ucapnya pelan. “Kadang sehat, kadang sakit. Itu hal yang gak bisa kita hindari.” Naren mengangguk kecil, meski jelas belum sepenuhnya paham. “Kapan Nenek bangun, Mom? Udah malam belum bangun juga. Besok pagi bangun, ya?” tanyanya lagi, penuh harap. Djiwa menahan napas sejenak. “Naren … nanti kalau Nenek sudah sadar, Mommy kabarin, ya. Sekarang kamu makan dulu.” Nada suaranya terdengar datar. Fairish yang duduk di seberangnya melirik sekilas. Ia tahu Djiwa sedang tidak baik-baik saja. Pikirannya bercabang. Radja yang tak ada kabar, dan Karin dengan segala masalahnya. “Mommy … nanti Ratu mau telepon Daddy, ya,” ucap Ratu pelan dari samping. Gerakan tangan Djiwa terhenti

  • Candu Dekapan Kakak Ipar   BAB 551

    “Kamu yang laporin istri aku, Mas?” suara Kaisar rendah, namun sarat tekanan. Ada jeda. Sultan melirik Karin sekilas, tatapan yang dingin, tajam—sebelum kembali menatap adiknya. “Ini bukan keputusan ringan, Kai,” ucapnya pelan, berusaha menahan emosi yang jelas bergejolak di balik ketenangannya. “Karin itu istri kamu. Adik ipar saya. Menantu di keluarga ini.” Ia menarik napas dalam. “Dan dia sedang mengandung anak kamu. Tapi saya tidak bisa tutup mata setelah saya tahu semuanya. Setelah saya pegang bukti yang kuat kalau dia pelakunya.” Napas Kaisar tercekat di tenggorokan. Rahangnya mengeras. “Kamu tahu saya,” lanjut Sultan, suaranya tetap stabil. “Saya tidak akan bertindak sejauh ini kalau tidak yakin.” Kaisar menelan ludahnya berat. “Asal kamu tahu dampak dari perbuatannya—” “Usia Mas Radja divonis beberapa bulan lagi?” potong Kaisar tiba-tiba, suaranya bergetar tipis. Sultan mengernyit. Informasi itu belum pernah ia dengar secara langsung, tapi ia tahu bahwa kondisi kakakn

  • Candu Dekapan Kakak Ipar   BAB 193

    “Mengabulkan gugatan Penggugat untuk seluruhnya. Menyatakan perkawinan antara Rajendra Afnand Reinard sebagai Penggugat dan Inggrit Anindya Satya sebagai Tergugat yang dilangsungkan pada tanggal hari ini dinyatakan putus karena perceraian.” Palu hakim diketuk satu kali. Sunyi memenuhi ruang sidang

    last updateLast Updated : 2026-03-27
  • Candu Dekapan Kakak Ipar   BAB 131

    “Djiwa nggak mau, Mas.” Suara Djiwa terdengar pelan, namun tegas. Tatapannya lurus ke depan, menolak menoleh. Radja melirik singkat ke arahnya, lalu kembali fokus ke jalan. “Maksudnya?” “Djiwa gak mau ke dokter obgyn. Apalagi USG untuk tahu jenis kelamin anak ini.” Sudut bibir Radja terangka

    last updateLast Updated : 2026-03-24
  • Candu Dekapan Kakak Ipar   BAB 127

    “Terima kasih banyak ya, dok?” ucap Fairish sembari mengulas senyum manis yang dipaksakan. Ia merapikan pakaiannya sebelum turun dari ranjang pasien. “Sama-sama, Bu. Kalau begitu, tunggu sebentar, ya. Saya cetak dulu foto hasil USG-nya,” ucap dokter obgyn tersebut sambil melangkah ke meja kerjanya

    last updateLast Updated : 2026-03-23
  • Candu Dekapan Kakak Ipar   BAB 123

    “Non Djiwa, istirahat, ya?” Mbok Inem segera membantu Djiwa berbaring di atas ranjang. “Non pasti kaget,” ucapnya lirih, mata wanita paruh baya itu berkaca-kaca. Djiwa menyandarkan punggung ke sandaran ranjang, memejamkan mata sejenak sambil berusaha menstabilkan napasnya yang masih memburu. Mbok

    last updateLast Updated : 2026-03-23
More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status