LOGINNiat kabur dari perjodohan dengan pria tua beristri 3, Freya Winata malah terjebak tawaran pernikahan kontrak dengan Bos dingin tempatnya bekerja. Pria yang tegas dan tak tersentuh. Tak punya pilihan, Freya menerima kontrak pernikahan yang ditawarkan. Lantas, bagaimana Freya menjalani kehidupannya setelah ini?
View More‘Tidak, aku tidak mau menikah dengan pria tua bangka itu!’ jerit Freya panik di dalam hati.
Freya Winata menggeleng kuat, sambil terus mengayunkan kedua kakinya lebih lebar untuk lepas dari kejaran dua pria bertubuh besar yang ada di belakangnya.
Beberapa menit lalu, Freya baru saja pulang dan dia sudah dibuat syok ketika ayahnya ingin menyerahkannya kepada dua pria yang datang ke rumahnya.
Yang membuat Freya lebih panik, Freya ingin dinikahkan dengan pria tua bernama Pak Kusuma—juragan kos yang sudah berusia 50 tahunan dan memiliki 3 istri muda, demi melunasi hutang-hutang ayahnya.
Ayahnya mungkin gila, tapi tidak dengan Freya. Dia tidak akan mau menerima begitu saja menjadi alat pembayaran hutang ayahnya, walau dia akan dianggap durhaka.
Freya tidak peduli!
Freya berlari sekuat tenaga. Dia tidak mau tertangkap. Dia tidak mau menikah dengan pria tua bangka itu!
Dalam kegelapan, Freya terus mengayunkan langkahnya.
Tak sekali dua kali kakinya terseok karena memakai heels tinggi, sampai-sampai Freya akhirnya melepas sepatunya agar bisa berlari lebih cepat.
“Itu dia, jangan lari!”
Suara teriakan itu mengejutkan Freya, wajahnya semakin memucat karena ketakutan yang memuncak.
Freya kembali berlari. Sekuat tenaga meski kakinya perih tergores kerikil dan benda-benda asing di jalanan yang dilewatinya.
Freya tak peduli lagi seperih apa kakinya terluka, yang dia pikirkan sekarang hanyalah, lari.
Sampai mata Freya melihat sorot lampu yang begitu terang.
Jalan raya.
Ya, dia bisa kabur sepenuhnya begitu sampai di jalan raya. Dia bisa naik taksi untuk menghindari para pria itu.
Dengan napas terengah-engah Freya menatap ke arah taksi yang ada di seberang jalan. Bibirnya sejenak tersenyum penuh kelegaan.
Freya berlari ke jalan raya tanpa melihat situasi, hingga ketika sampai di tengah jalan, sebuah kilat menyilaukan menyorot matanya.
Tubuh Freya mendadak membeku melihat mobil melesat cepat menuju ke arahnya.
“Aaa!”
Sebuah teriakan kepanikan yang menumpuk lolos dari bibir Freya.
Saat matanya terpejam seolah pasrah dengan apa yang akan terjadi padanya, Freya justru tak merasakan apa pun.
Freya membuka matanya perlahan. Hingga dia menyadari kalau mobil yang hampir menabraknya, berhenti tepat di depannya sebelum menyentuh kakinya.
Tubuh Freya mendadak lemas, jantungnya berdegup sangat cepat. Ingin rasanya dia luruh dan jatuh di aspal, tapi saat mengingat kejaran dua orang suruhan Pak Kusuma, membuat Freya menggunakan sisa tenaganya untuk kabur.
“Anda baik-baik saja, Nona?”
Freya melihat kepala sopir menyembul dari jendela mobil. Tatapan pria tua itu menyorot panik ke arahnya.
Tak membuang waktu, Freya mendekati sang sopir setelah melihat dua pria itu hampir mengejarnya.
“Pak, tolong beri saya tumpangan. Saya mohon bantu saya.” Suara Freya bergetar menahan lelah dan kepanikan yang luar biasa dia alami.
“Tapi–”
“Biarkan dia masuk.” Suara dingin dan datar dari kursi belakang memotong cepat kalimat sang sopir sebelum diselesaikan.
Freya terkejut mendengar ucapan itu, tapi juga lega karena diperbolehkan menumpang.
“Silakan masuk, Nona.” Sopir menekan tombol agar kunci pintu terbuka otomatis.
“Terima kasih, terima kasih, Pak.” Freya benar-benar lega. Dia bergegas ke pintu belakang, lalu masuk ke dalam mobil.
Tepat setelah Freya duduk, tatapannya kembali panik melihat dua pria yang mengejarnya hampir tiba di mobil ini.
“Pak, apa bisa segera jalan? Jangan biarkan mereka menangkap saya.” Freya memohon panik dengan tatapan tertuju ke luar mobil.
“Jalan.” Suara laki-laki di samping Freya kembali terdengar.
Sopir langsung melajukan mobil meninggalkan tempat itu, melesat cepat meninggalkan dua pria yang mendekat berada jauh di belakang hingga akhirnya hilang dari jangkauan.
Freya mengembuskan napas lega. Tatapannya masih tertuju ke belakang, ke arah para pria yang tak bisa mengejarnya lagi.
Sambil mengurut dada untuk menetralkan detak jantungnya, kini tatapan Freya tertuju pada pria yang duduk di sebelahnya.
Pria yang sudah menolongnya dari bahaya.
“Terima kasih karena Anda sudah ….” Kalimat yang akan meluncur dari bibir Freya menggantung di ujung lidah, saat sepasang mata cokelatnya melihat wajah penolongnya.
Lidahnya mendadak kelu, kepanikan luar biasa menyergah dadanya. “Pak … Pak Keano,” lirihnya sebelum meneguk ludah kasar.
Keano Pradipta, pria tampan pemilik PD Mall tempat Freya bekerja. Pria tegas dan dingin ini terkenal sangat sulit didekati.
Bahkan rumor mengatakan jika para wanita kelas atas yang mendekati Keano, tidak bisa berdiri lebih dekat di jarak dua langkah dari Keano, apalagi satu mobil bersamanya.
Lalu sekarang, Freya dengan lancang duduk di samping Keano karena meminta bantuan? Freya panik, apakah Keano akan tersinggung. Apa Freya akan mendapat masalah?
“Se-sepertinya saya sudah aman. Anda bisa menurunkan saya di depan, Pak.” Freya tak ingin terkena masalah, apalagi dia masih ingin bekerja di PD Mall.
Melihat Keano yang diam, membuat Freya meneguk ludah kasar dengan kepanikan luar biasa yang kembali membuat jantungnya berdegup cepat.
“Apa yang membuatmu dikejar para pria itu? Kamu mencuri?” Suara tegas penuh penekanan Keano menggema di dalam kabin mobil.
Punggung Freya menegak, matanya membola lebar mendengar pertanyaan Keano.
“Ti-tidak, Pak.” Freya membalas dengan tergagap. “Sa-saya tidak mencuri.”
Freya melihat Keano menggerakkan kepala, tatapan pria itu tertuju padanya.
Untuk pertama kalinya, Freya melihat dengan jelas dari dekat pria ini. Biasanya Freya hanya melihat Keano dari kejauhan ketika pria ini melakukan sidak di mall.
“Tidak mencuri, tapi kamu kabur seperti buronan? Apa kamu sedang menyeretku ikut dalam masalahmu? Apa aku sedang membantu seorang kriminal?” Nada bicara Keano sedingin es.
Freya terkesiap. Kepalanya menggeleng kuat. “Tidak, tidak seperti itu, Pak! Saya–”
“Kalau begitu jelaskan, jika jawabanmu tak memuaskan atau kamu berani membohongiku, aku akan menyerahkanmu ke polisi, atau ke para pria yang mengejarmu!”
Freya tersentak. Punggungnya menegak saat kepalanya kembali menggeleng. Mata Freya berkaca-kaca dan memerah.
“Jangan, Pak! Saya mohon jangan serahkan saya ke mereka.” Suara Freya bergetar.
Keano menatap ke arloji yang melingkar di pergelangan tangan, seolah menghitung waktu, Keano kembali bicara. “Lima menit, jika penjelasanmu tidak masuk akal, aku akan membawamu kembali ke tempat tadi.”
Freya panik luar biasa, hingga dengan cepat dia menjelaskan. “Mereka mengejar saya karena ingin menjadikan saya alat tukar hutang, Pak. Ayah saya ingin menikahkan saya dengan pria tua beristri empat. Saya tidak mau, Pak.”
Keano menoleh cepat pada Freya. Ada kerutan dalam di keningnya. Sampai senyum tipis nyaris tak terlihat terpajang di bibirnya.
“Dipaksa menikah dengan pria beristri? Apa alasanmu tidak ada yang lebih baik, Freya Winata?”
Acara usai menjelang tengah malam. Freya sudah berada di dalam mobil bersama Keano.Di dalam kabin, Freya bersandar pelan di jok. Senyum yang dia pertahankan sepanjang malam mulai terasa pegal di pipinya. Kakinya berdenyut karena hak sepatunya yang terlalu tinggi, dan jari-jarinya juga terasa dingin. Jas Keano masih tersemant di bahunya karena dia lupa mengembalikannya.Keano tidak banyak bicara. Dia duduk dengan satu tangan di atas lutut dan pandangan tertuju ke jendela. Sesekali Freya menangkap pantulan wajah Keano dari spion tengah, dan pria itu selalu berpaling saat menyadari tatapan Freya.Freya hanya diam, tak ada pembahasan sama sekali di dalam mobil.Hingga beberapa saat kemudian, mobil mereka tiba di kediaman Pradipta.Freya melangkah turun dari mobil, dia tatap Keano yang sudah berdiri di hadapannya.“Ayo.” Tangan Keano terulur pada Freya.Freya meraihnya, hangat menjalar di kulitnya. Dia melangkah mengikuti Keano yang berjalan menuntunnya masuk ke dalam rumah.Begitu pint
Mobil berhenti di pelataran Hotel Prada tepat ketika lampu-lampu kristal di lobi menyala semua. Seorang petugas valet membuka pintu, dan udara malam yang dingin menyapu bahu Freya yang hanya tertutup kain tipis.Dia menggenggam clutch di pangkuannya dengan kedua tangan. Lalu, perlahan turun dari mobil saat Keano mengulurkan tangan ke arahnya.Freya berdiri dengan anggun, bahkan dia sampai tak mengenali kalau wanita berpakaian kelas atas ini adalah dirinya.Dari mobil di belakang, Jordan dan Nadine turun. Nadine melangkah mendekat bersama Jordan ke arah Freya dan Keano berdiri.Begitu ada di hadapan Freya, Nadine mengulurkan tangan, merapikan helai rambut Freya yang menjuntai di pelipis dengan gerakan ringan seperti ibu yang mengantar anaknya ke panggung."Cantik," bisik Nadine. "Tegakkan bahumu. Kamu tidak perlu takut pada siapa pun malam ini." Senyum Nadine begitu menghangatkan.Freya mengangguk. Dadanya berdegup begitu keras sampai dia khawatir suaranya terdengar.Keano menekuk le
Keesokan harinya.Freya ada di dalam kamar mandi. Dia tidak ke mall, Keano sudah membuatkan izin untuknya agar tak masuk hari ini.Freya melangkah keluar dari kamar mandi begitu selesai. Dia berjalan sambil mengusap rambutnya yang basah, dan langkahnya terhenti ketika mendengar suara ketukan pintu. “Freya, ini Mama.” Suara Nadine terdengar dari pintu luar.“Ya, Ma.” Freya membalas. Dia berjalan ke arah pintu, lalu membuka.Freya kaget melihat Nadine datang tak sendirian.Nadine masuk bersama dua pelayan yang mendorong rak gantungan berisi gaun-gaun malam."Keano sudah meminta izin ke supervisor tokomu, kan?" kata Nadine sambil menunjuk koleksi itu. "Jadi, ayo pilih gaun yang harus kamu pakai buat acara nanti."Freya canggung, dia tatap Nadine yang tampak begitu antusias. "Ma, tidak usah repot-repot—""Mama tidak repot." Nadine menarik satu gaun dari gantungan. "Mama senang."Freya tidak tahu bagaimana menolak orang yang berkata ‘senang’ dengan wajah sebahagia itu. Dia pasrah. Beberap
Makan malam tiba. Sup buatan Freya sudah disajikan di atas meja. Uapnya mengepul dengan aroma rempah yang begitu kuat.Jordan duduk di kursinya, menatap menu di atas meja, menunggu makan malam siap.Nadine duduk berhadapan dengan Keano yang bersebelahan dengan Freya. Freya menunduk sambil memutar sendok di mangkuknya sendiri. Dia terlalu gugup untuk menatap Keano.Keano menyendok kuahnya, meniup pelan, lalu menyesap.Tidak ada yang bicara.Keano menyendok lagi. Sekali, dua kali, tiga kali. Tanpa berkata apa pun, dia mengambil sepotong iga, memisahkan dagingnya dengan sendok, dan memakannya dengan tenang. Mangkuk pertama habis. Dia menambah satu mangkuk lagi tanpa menoleh pada siapa pun.Jordan menurunkan sendoknya perlahan. Dia menatap heran pada putranya yang makan begitu lahap."Sudah lama Papa gak lihat kamu makan sebanyak ini." Jordan tak mengalihkan pandangannya sama sekali dari Keano.Nadine juga menatap pada putranya, nafsu makan Keano mendadak berubah begitu besar."Supnya en






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviews