MasukTerjebak dalam ancaman video rahasia oleh mantan kekasihnya yang kejam, Thalia harus menuruti segala perintah menjijikkan di tempat kerja. Namun, rahasia itu terbongkar ketika bos barunya yang dingin dan berkuasa, Zacky, tidak sengaja memergokinya. Alih-alih memecatnya, Zacky justru menarik Thalia ke dalam perlindungan mutlaknya, “Aku bisa menjaga rahasiamu dan melindungi mu, asal..."
Lihat lebih banyak"Lagi, Thalia. Mendesah lebih keras! Aku tidak bisa mendengar suaramu kalau cuma berbisik seperti itu."
Suara Arjuna terdengar begitu menuntut dari speaker ponselnya, wajah pria itu penuh akan kepuasan yang menjijikkan. Arjuna, mantan kekasih sekaligus manajernya itu tampak menyeringai, bersandar nyaman di kursi kerjanya di apartemen. Thalia memejamkan mata di sudut ruang rapat yang gelap, tangannya gemetaran mencengkeram tepi meja yang dingin. Air matanya sudah mengalir, membasahi pipi yang terasa panas karena malu. "Arjuna, kumohon... Cukup," bisik Thalia dengan suara serak, berusaha merendahkan volume suaranya sekuat tenaga. "Seseorang bisa masuk kapan saja, ini di kantor." "Kantor? Bukankah semua orang sedang pergi ke restoran untuk makan malam privat perusahaan? Termasuk CEO barumu yang sok disiplin itu," Arjuna terkekeh, menatap layar dengan tatapan penuh nafsu. "Sekarang, jangan banyak alasan. Buka kancing kemejamu, lalu lakukan apa yang kuperintahkan. Atau foto yang baru saja kukirimkan akan mendarat di grup obrolan divisi kita dalam hitung ketiga." Thalia melirik potongan gambar yang masuk layarnya. Di sana terpampang foto seksi dirinya, sedang melepas pakaian di ruang ganti karyawan dua minggu lalu. Arjuna diam-diam mengambil foto itu tanpa izin setelah mereka putus. Sebuah tindakan kriminal, yang mampu menghancurkan seluruh hidup, harga diri, dan karier Thalia kalau itu tersebar. Thalia tidak punya pilihan selain menuruti pria itu. "Satu..." Arjuna mulai menghitung. Dengan tangan gemetar hebat, Thalia melepaskan kancing teratas kemeja kerjanya, memperlihatkan sedikit kulit leher dan tulang selangkangnya ke arah kamera ponsel. "Dua..." "I-iya, Tolong, Arjuna. Jangan seperti ini." potong Thalia cepat, menahan tangisnya agar tidak meledak. Thalia menggigit bibir bawahnya, menahan rasa hina yang mengikis habis harga dirinya. Sambil menatap kamera dengan pandangan kosong, ia terpaksa mengeluarkan suara yang diinginkan Arjuna sambil melepas kancing kemejanya. Sebuah desahan sensual yang terputus-putus karena rasa takut yang luar biasa. "Sshhh.. Aah... Thalia.. Kamu memang menggoda…" Di seberang panggilan video, Arjuna tampak semakin bergairah. Napas pria itu mulai memburu. "Bagus, Thalia. Sentuh dirimu sendiri, remas bergantian. Biar aku lihat.." Air mata Thalia mengalir semakin deras saat jemarinya terpaksa bergerak ke arah dadanya sendiri, menuruti perintah bejat pria itu demi melindungi masa depannya. Setiap sentuhan terasa seperti racun, namun dia harus berpura-pura menikmatinya di depan kamera. "Arjuna, hentikan setelah ini, ya?" rintih Thalia, nada memohonnya justru terdengar seksi di telinga Arjuna. "Lebih cepat, Thalia. Sedikit lagi.. Turunkan kamera ke bawah rok kamu!" perintah Arjuna, napasnya semakin pendek dan berat, menandakan pria itu sudah berada di puncak pelepasannya. Suara desahan dan erangan Arjuna terdengar semakin keras dari speaker ponsel Thalia, menggema tipis di ruang rapat yang sunyi. Thalia memejamkan mata. Ia hanya bisa pasrah. Klik! Bunyi gagang pintu yang berputar membuat jantung Thalia terasa berhenti berdetak. Pintu ruang rapat yang tadinya tertutup rapat tanpa dikunci perlahan terbuka. Cahaya masuk dari koridor luar, menyinari kegelapan ruangan dan menampilkan siluet tubuh tegap seorang pria. Thalia membeku seketika, napasnya terasa tertahan di tenggorokan, wajahnya terasa panas bersiap menahan malu. Pria itu melangkah masuk dengan langkah tegas yang penuh wibawa. Begitu wajahnya terkena sinar lampu koridor, lutut Thalia langsung terasa lemas hingga ia terduduk di lantai. "Siapa disana? Kenapa tidak ikut makan malam kantor—" Kalimat pria itu terputus di udara. Zacky. Bos barunya. Pria itu terlihat membawa sebuah map dokumen di tangan kirinya. Langkah kakinya terhenti tepat beberapa meter di depan Thalia yang bersandar tak berdaya di bawah meja rapat. Tepat di detik itu, suara erangan Arjuna mencapai puncaknya. Suara klimaks yang berat, vulgar, dan penuh kepuasan terdengar begitu jelas dan nyaring dari ponsel yang masih digenggam Thalia. "Ahhh… Aku keluar Thalia! Oh sial, kamu luar biasa malam ini, sayang. Aku sangat puas, besok tunjukkan bagian lain.." Suasana didalam ruangan itu seketika hening, suara napas Arjuna yang memburu di seberang telepon menjadi satu-satunya bunyi yang tersisa. Zacky berdiri mematung, matanya yang tajam dan dingin menatap lurus ke arah Thalia yang terduduk lemas di lantai dengan kemeja terbuka, lalu beralih ke layar ponsel yang menampilkan wajah Arjuna yang sedang mengatur napasnya. Rahang Zacky mengeras seketika, urat di pelipisnya menegang. “Kamu—apa yang kamu lakukan?!” ***"Z-Zacky... Bangun... Ini sudah pagi..." cicit Thalia lirih dengan suara khas orang baru bangun tidur.Mata cokelat Thalia perlahan terbuka saat merasakan kehangatan yang luar biasa memeluk seluruh tubuhnya. Hal pertama yang ia lihat saat terbangun, dada bidang Zacky yang terbalut kemeja hitam sedikit terbuka, serta detak jantung pria itu yang terdengar berirama teratur di telinganya.Zacky tidak langsung membuka matanya. Lengan kekarnya justru semakin mempererat cengkramannya di pinggang Thalia, menarik tubuh mungil itu makin merapat tanpa menyisakan celah sedikit pun."Sebentar lagi, Thalia..." gumam Zacky rendah dengan suara serak khas bangun tidur yang sangat sensual. Pria itu mendaratkan ciuman hangat di pelipis Thalia."Tapi ini sudah jam enam pagi, Zacky!" sergah Thalia panik, mencoba menggerakkan bahunya meski sulit. "Nanti kalau Tante Tamara atau Bi Asih ngetok pintu gimana? Aku harus bersiap-siap buat ke kantor!"
Thalia menundukkan kepalanya dalam-dalam, merasakan hembusan napas hangat Zacky yang menyapu pucuk kepalanya. Penjelasan Zacky yang begitu posesif dan penuh perlindungan selalu berhasil meluluhkan seluruh dinding pertahanan dirinya."Aku cuma... Aku cuma kaget, Zacky," lirih Thalia pelan. "Aku takut Papa Joshua makin tidak menyukaiku karena menganggap aku membawa pengaruh buruk untukmu..."Zacky menyentuh dagu mulus Thalia dengan jari telunjuk dan ibu jarinya, mengatas pandangan gadis itu agar kembali menatap manik matanya."Jangan pernah memikirkan jalan pikiran orang lain," pangkas Zacky tegas namun lembut. "Cukup lihat aku. Selama kamu bersamaku, kamu tidak perlu mengkhawatirkan penilaian siapapun, termasuk Papaku."Thalia menghembuskan napas halus, senyuman tipis yang sangat manis perlahan terukir di bibirnya. "Iya, Zacky... Maafkan aku yang selalu gampang cemas.""Tidak perlu minta maaf,"
"Z-Zacky..." cicit Thalia panik setengah mati saat mendengar pernyataan Zacky yang tiba-tiba. Ia berjinjit sedikit, berbisik sangat lirih tepat di samping telinga Zacky tidak terdengar oleh orang lain. "K-kamu jangan bercanda berlebihan di depan orang tuamu... Ini bisa jadi masalah panjang..." Zacky tidak merenggangkan cengkraman tangannya di pinggang Thalia. Pria itu menunduk sedikit, menatap manik mata Thalia dengan keseriusan yang mutlak. "Aku tidak sedang bercanda, Thalia," pangkas Zacky tegas tanpa ada keraguan sedikitpun di matanya. Pria itu kembali mendongak, menatap mamanya dan Joshua. "Malam ini kami akan menginap di sini. Dan Thalia akan tidur di kamarku bersamaku." "Zacky!" tegur Joshua seketika dengan nada berat dan alis bertaut tajam. "Jaga batasanmu. Kamu dan Thalia belum resmi menikah. Tidak pantas kalian tidur satu kamar di rumah ini!" "Pa
Thalia tersentak kecil, refleks menatap Zacky dengan rasa canggung. Menginap di mansion keluarga Alvarez tentu terasa sangat membingungkan baginya. ‘Menginap?!’ batinnya gelisah. Sebelum Zacky sempat memberikan jawaban, Sabrina yang duduk di sofa samping mendadak menyela pembicaraan dengan suara lembut yang manis. "Iya, Thalia... Menginaplah disini malam ini," ucap Sabrina tersenyum manis. "Kamar tamu di lantai dua sangat luas dan bersih. Kamarku tepat di sebelahnya, kalau kamu mau, kamu bisa tidur di kamarku saja, biar aku menggunakan kamar tamu. Aku tidak keberatan kok.." Thalia yang merasa makin tidak enak hati buru-buru menggelengkan kepalanya secara sopan. "E-eh... Nggak usah, Sabrina, Mama Tamara... Terima kasih banyak atas tawaran baiknya. Tapi Thalia rasa... Thalia lebih baik pulang ke apartemen saja malam ini—" "Kenapa harus pulang?" potong Joshua tegas dari kurs






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Peringkat
Ulasan-ulasanLebih banyak