Chapter: BAB 279Pupus sudah harapan dan bayangan Radja tentang hari-hari di mana ia akan merawat kedua anak mereka bersama Djiwa. Kenyataannya, kini ia berdiri sendiri menjadi ayah sekaligus ibu bagi dua bayi kecil itu. Saat ini Radja menggendong si bungsu, Narendra—bayi yang paling cengeng dibandingkan kakaknya. Baru saja diletakkan di atas ranjang, tangisnya langsung meledak, pecah dan nyaring, seolah tak mau dilepas barang sedetik pun. Berbeda dengan Regantara. Si sulung berbaring tenang di sisi lain ranjang, tubuh kecilnya sesekali menggeliat tanpa suara. Sepasang matanya yang polos menatap langit-langit kamar, diam, seolah sedang mengamati dunia dengan caranya sendiri. Radja menunduk, menempelkan bibirnya ke dahi Narendra. “Ke mana Mommy kalian, hm?” bisiknya lirih. “Kenapa dia pergi meninggalkan kita, bahkan seluruh koneksi Daddy tidak bisa menemukannya di mana pun.” Dadanya mengencang.
Last Updated: 2026-02-24
Chapter: BAB 278Djiwa. Melahirkan. Dua bayi laki-laki. Pandangan Radja mengabur. Lututnya terasa lemah, sementara dadanya seperti diremas kuat. Ia menatap dua kehidupan kecil di hadapannya, anak-anaknya dengan perasaan yang terlalu penuh untuk diberi nama. “Di mana … istri saya, Djiwa?” suaranya parau, nyaris tak terdengar. Tangis bayi masih memenuhi ruangan, menjadi satu-satunya jawaban yang menggantung. Mbok Inem dan Mbok Iyam saling pandang, seolah mencari keberanian satu sama lain sebelum kembali menatap Radja. “Hanya dua bayi ini yang dititipkan di lobi, Tuan,” ucap Mbok Iyam akhirnya, suaranya dijaga tetap pelan. “Orang yang menitipkan bilang, kami diminta mengambilnya. Tidak ada pesan lain.” Rahang Radja mengeras seketika. Otot di pelipisnya menegang. “Apa maksud kalian?” tanyanya rend
Last Updated: 2026-02-24
Chapter: BAB 277“Mas, akhirnya ASI aku keluar,” seru Fairish dengan senyum lebar. “Sayang lihat, akhirnya kamu bisa minum ASI Mama,” ucapnya lembut pada Binar yang terbaring di sisi ranjang. Pandangan Fairish lalu beralih pada botol kecil di alat pumping yang mulai terisi. Senyumnya mengembang, bercampur haru. “Memang masih sedikit,” gumamnya pelan, “Tapi gak apa-apa. Yang penting Binar bisa ngerasain ASI Mama-nya.” Sultan yang sejak tadi diam akhirnya melangkah mendekat. Tanpa banyak bicara, ia berlutut di sisi ranjang, memperhatikan posisi alat pumping yang menempel di dada Fairish. Tangannya terulur, membetulkan selang dan posisi corong agar lebih pas. “Posisinya jangan miring,” ucapnya datar namun fokus. “Nanti malah bikin gak nyaman.” Ia lalu memijat lembut area sekitar payudara, sekadar membantu aliran ASI agar lebih lancar—gerakannya hati-hati, nyaris profesional. Fai
Last Updated: 2026-02-24
Chapter: BAB 276Sekar baru saja tiba di penthouse Radja. Untuk pertama kalinya ia menginjakkan kaki di tempat tinggal putra sulungnya itu—dan ironisnya, di saat Djiwa sudah tidak lagi berada di sana. Belum ada kepastian. Apakah menantunya itu menghilang karena disembunyikan seseorang, atau memang dengan sadar memilih menjauh dari Radja. “Di mana Radja?” tanya Sekar dingin pada Mbok Inem yang membuka pintu. Mbok Inem menelan ludah dengan susah payah. “Tuan Radja ada di dalam, Nyonya. Di bar mini.” “Bar?” ulang Sekar lirih. Seulas senyum pahit terbit di sudut bibirnya. Ia sudah bisa menebak apa yang akan ditemuinya. Tanpa menunggu, Sekar melangkah masuk. Dadanya terasa nyeri sejak mendengar kabar hilangnya Djiwa, namun ia memaksa diri. Bagaimanapun, Radja pasti menanggung luka yang jauh lebih dalam. Pintu bar mini terbuka. Radja ada di sana. Duduk di sofa,
Last Updated: 2026-02-23
Chapter: BAB 275“Djiwa menghilang, Mi,” ucap Kaisar pelan namun tegas pagi itu, memecah sunyi meja makan. Sekar yang tengah menyendok bubur terhenti. Ia mengangkat wajahnya perlahan, menatap anak bungsunya dengan sorot mata tajam. “Menghilang bagaimana maksud kamu?” Kaisar menghela napas panjang, bahunya turun. “Tidak ada kabar. Tidak ada jejak. Yang jelas, Djiwa pergi sebelum melahirkan.” Tangan Sekar refleks terangkat menutup mulutnya. Wajahnya pucat. “Radja tahu?” “Tentu. Dia suaminya,” jawab Kaisar datar, lalu menatap ibunya lurus-lurus. “Mi, apa ini ada hubungannya dengan Mami?” Sekar langsung menyipitkan mata. “Maksud kamu apa?” “Mami pernah bilang gak suka Djiwa dan keturunannya,” ucap Kaisar tanpa berbelit. “Bahkan pernah bilang, ambil aja anaknya dan singkirkan Djiwa. Kalau Djiwa pergi sekarang, wajar kalau aku mikir ke sana.” Sekar terdiam. Tenggorokannya bergerak naik turun. “Jadi kam
Last Updated: 2026-02-23
Chapter: BAB 274Radja tidak pernah mengingkari ucapannya. Laporan terhadap Satya benar-benar masuk ke meja kepolisian, lengkap dengan dugaan penculikan dan kronologi hilangnya Djiwa. Ia tak peduli jika proses ini berimbas pada aset atau reputasi Satya bisa tercium oleh aparat—yang terpenting, istrinya harus ditemukan. Namun Satya pun bukan orang sembarangan. Ia sudah memperhitungkan kemungkinan terburuk. Malam itu, ia duduk tenang di ruang interogasi, berhadapan dengan seorang detektif yang sejak tadi mencatat setiap ucapannya. “Nyonya Adjiva Nadjwa terakhir kali terekam kamera berada bersama Anda di taman apartemen,” ujar detektif itu datar. “Apa yang Anda bicarakan dengannya?” Satya menghela napas panjang, berusaha tetap kooperatif. “Saya memang menemui Djiwa. Dia putri dari sahabat lama saya, Danu Raharja.” Detektif mengangguk pelan. “Lalu?” “Saya hanya menyampaikan belasungkawa atas wafatnya Danu,” lanjut
Last Updated: 2026-02-23
Chapter: CHAPTER 400 |Paris menjadi salah satu negara yang dikunjungi oleh Isandro bersama keluarganya. Dan ini adalah pertama kalinya ketiga anak mereka menjejakkan kaki di luar negeri. Penampilan Arby, Yessy, dan Arbil tampak menggemaskan dengan jaket tebal, topi rajut, serta syal yang melingkar rapi di leher masing-masing. Udara dingin Paris membuat pipi mereka sedikit memerah, kontras dengan wajah polos yang penuh rasa penasaran. “Kenapa kita jalan kaki, Pa?” tanya Yessy sambil mendongak ke arah sang ayah yang menggendong Arbil. “Emang Papa gak punya mobil di sini?” Isandro tersenyum kecil. “Lebih seru jalan kaki, Nak. Biar sehat. Lihat tuh, orang-orang Eropa pada jalan kaki semua.” Yessy menoleh ke sekitar, memperhatikan orang-orang yang berlalu lalang dengan santai. “Oh iya,” gumamnya pelan. “Sini,” Arby mengulurkan tangannya ke arah sang adik. “Jalan sama kakak, biar kamu gak ilang.” Yessy menatap tangan kakaknya sejenak, lalu menggenggamnya erat dengan jari-jari kecilnya. “Nah, gitu,
Last Updated: 2026-01-30
Chapter: CHAPTER 399 |“Senyum kalau kamu mau nambah anak,” bisik Yessa pelan, tepat di telinga sang suami. Isandro bukan tersenyum—ia justru tertawa lepas, bahunya sedikit bergetar. “Mas?” Yessa membulatkan matanya sambil ikut tertawa kecil. “Aku bilang senyum, bukan ketawa. Kamu gak mau nambah anak, ya?” Isandro menyipitkan mata, menatap istrinya penuh arti. “Emangnya kamu mau?” Yessa menyengir lebar, senyum kuda khasnya muncul. “Enggak, sih. Cukup tiga aja, ya?” “Tiga?” Isandro mengangkat sebelah alis. Tangannya refleks menarik pinggang ramping Yessa, membuat wanita itu duduk di pangkuannya. “Berarti kurang satu lagi. Arby kan anak aku dari istri sebelumnya.” “Tapi Arby itu anak aku juga,” balas Yessa tanpa ragu. Tatapannya lembut, dalam. “Aku udah anggap dia kayak anak kandung sendiri, Mas. Tiga anak cukup.” Isandro terdiam sejenak, lalu mengangguk singkat. “Oke. Terserah kamu, sayang. Kamu yang punya tubuh, aku gak akan maksa. Tiga anak udah cukup. Yang penting, kita kasih mereka kasih sa
Last Updated: 2026-01-30
Chapter: CHAPTER 398 |“Jalan, Nak. Kan kamu udah bisa jalan,” ucap Isandro sambil berjongkok, menepuk pelan karpet di depannya. Arbil yang semula merangkak berhenti sejenak. Ia menatap sang ayah ragu-ragu, lalu kembali menumpukan kedua telapak tangannya ke karpet, memilih merangkak pelan. Yessa tersenyum kecil melihatnya. “Dia takut jatuh, Mas. Keseimbangannya belum stabil.” Isandro terkekeh pelan. “Penakut kayak Mamanya,” godanya ringan. Yessa melirik tajam, tapi sudut bibirnya justru terangkat. Ia kemudian menatap sang suami lebih lama, rautnya melunak. “Nanti sore ikut aku, gak?” Isandro langsung menoleh penuh perhatian. “Ke mana?” “Kamu gak ke rumah sakit hari ini?” alis Yessa terangkat. “Bisa aku atur. Ke mana dulu?” balas Isandro cepat. “Kalau memang sore kita pergi, sekarang aku berangkat ke rumah sakit.” “Hari ini Fika keluar dari rumah sakit, Mas. Aku mau jenguk dia. Sekalian ajak anak-anak.” “Fika?” dahi Isandro berkerut sesaat. “Sakit apa?” “Habis lahiran.” “Oh,” Isandro me
Last Updated: 2026-01-30
Chapter: CHAPTER 397 |“Raka, kamu jangan deket-deket terus,” keluh Yessy, matanya melirik dingin ke arah bocah laki-laki itu. Langkahnya diperlambat agar tetap sejajar dengan Arsy yang menggenggam tangannya erat. “Aku jalan biasa, gak deket-deket, Ci. Aku juga mau pulang,” balas Raka datar, tanpa mempercepat ataupun memperlambat langkahnya. “Ya udah sana,” Yessy mendorong lengan Raka pelan, memberi isyarat agar bocah itu berjalan lebih dulu. “Eci, gak boleh gitu,” tegur Arsy. Ia justru mengulurkan tangan kecilnya ke arah Raka. “Sini, Raka. Jalan di samping aku aja. Kita gandengan tangan bertiga.” Raka sempat terdiam sesaat, lalu tersenyum tipis sebelum menerima uluran tangan Arsy. Ketiganya pun berjalan beriringan, meninggalkan kelas menuju luar gedung sekolah, siap bertemu orang tua masing-masing yang masih tertib dalam menunggu. Di luar, Isandro dan Yessa masih setia menunggu sambil menemani Arbil. Bayi itu tampak tenang di gendongan, matanya sesekali bergerak ke sana kemari, sama sekali tak
Last Updated: 2026-01-30
Chapter: CHAPTER 396 |Halaman Lumina Kids Academy pagi itu dipenuhi suara tawa dan langkah-langkah kecil yang berlarian. Warna-warni tas mungil dan seragam rapi membuat suasana terasa hidup. Yessy berdiri sedikit di belakang Isandro, jemarinya menggenggam ujung baju sang ayah. Matanya bergerak ke sana kemari, mengamati anak-anak lain yang tampak sebaya dengannya. Ada yang berlarian, ada yang saling pamer botol minum, pamer tas, pamer sepatu, ada pula yang sudah duduk manis menunggu guru mereka datang. “Eci masuk, ya, Pa,” ucapnya pelan. Isandro berlutut agar sejajar dengan tinggi sang anak. “Masuk. Papa nunggu di luar. Kamu kan anak hebat.” Yessy mengangguk kecil, lalu berjalan mendekat ke arah seorang guru perempuan yang tersenyum ramah. Di dekat pintu kelas, dua anak perempuan langsung memperhatikannya. “Hai,” sapa salah satu dari mereka, rambutnya dikuncir dua. “Nama kamu siapa?” “Yessy,” jawabnya
Last Updated: 2026-01-29
Chapter: CHAPTER 395 |Pukul sebelas malam, Isandro baru saja pulang dari rumah sakit. Hari ini lebih lama dari biasanya, karena ada operasi besar. Namun, siapa sangka ketika dia masuk kamar sudah menemukan istrinya duduk di tepi ranjang, mengenakan piyama satin yang tipis. “Ada apa? Kamu belum tidur nungguin aku, hm?” tanyanya sembari melangkah mendekati sang istri. Ia membungkuk, mensejejarkan tubuhnya dengan wajah Yessa. Cup. Satu kecupan lembut mendarat di kening wanita itu. Ia kemudian menegakkan punggungnya kembali, mengulurkan tangan mengusap rahang kecil Yessa. “Tumben? Mungkin mau ....” “Nggak,” Yessa buru-buru menggeleng sambil menahan senyum. Isandro menghela napas panjang. “Sampe kapan pabriknya tutup, sayang?” “Gak tahu,” balas Yessa asal. “Aku nungguin kamu karena mau cerita soal Eci di sekolah tadi, Mas. Mau denger, gak?” “Tentu mau,” sahut Isandro cepat. “T
Last Updated: 2026-01-29
Chapter: BAB 500 : TAMAT SEASON - 2Kini Elvano dan Amel sudah duduk di sebuah ruang private di restoran mahal yang ada di pusat kota. Makan malam sekaligus kencan pertama mereka setelah resmi berpacaran. “Ini ... apa gak terlalu berlebihan kita dinner di sini?” tanya Amel, pada Elvano yang duduk tenang di hadapannya. Mata Amel sesekali bergerak liar ke arah lain, mengamati setiap sudut ruangan mewah tersebut, bukan karena bosan, melainkan karena kegugupan. Meja mereka berada tepat di samping jendela full glass yang menjulang tinggi, memberikan pemandangan yang menakjubkan. Pemandangan dari sana langsung menghadap ke keindahan panorama kota saat malam hari. Gedung-gedung pencakar langit menjadi hamparan yang memanjakan mata, di mana lampu-lampu terang dari gedung-gedung perkantoran dan rumah-rumah di bawah sana berkelip layaknya bintang yang jatuh ke bumi. Suasana remang restoran dan gemerlap kota menciptakan kontras yang dramatis, menambah nuansa romantis namun sedikit mencekam bagi Amel yang pikirannya seda
Last Updated: 2025-11-28
Chapter: BAB 499 : Season 2 - Kencan pertamaAmel menatap refleksinya di cermin kamar. Ia mengenakan dress santai yang sudah ia pilih dengan hati-hati. Pikirannya berkelana ke mana-mana, dipenuhi gejolak perasaan yang sulit diurai. Hari ini, Elvano akan menjemputnya untuk kencan resmi—sebuah langkah besar setelah mereka menghabiskan waktu pendekatan intens selama sebulan terakhir, lalu resmi berpacaran. "Aku pantes, gak, ya?" gumamnya pada bayangan di cermin. Perasaan ragu itu datang menyerbu, bukan karena Elvano, tapi karena dirinya sendiri. Usianya terpaut dua tahun lebih tua dari Elvano, dan ia pernah melalui serangkaian konflik besar yang melibatkan keluarga Elvano. Ia merasa terbebani oleh masa lalunya dan tidak yakin apakah ia layak menerima ketulusan pemuda itu setelah pernah membuat adiknya membencinya. "Dia terlalu baik. Sedangkan aku cuma ...," Amel menarik napas dalam. “Aku anak biasa, level kita beda jauh. Tapi aku udah nerima dia, gimana dong?” Ia memutar badannya, menilai penampilannya lagi. Amel tahu
Last Updated: 2025-11-28
Chapter: BAB 498 : Season 2 - Permintaan maafSatu bulan berlalu pasca persalinan mendebarkan di rumah sakit. Kini, Elvara resmi menyandang gelar sebagai ibu muda di usianya yang sebentar lagi menginjak usia 21 tahun. Elvara duduk di tepi ranjangnya, wajahnya terlihat sedikit kelelahan tetapi memancarkan aura bahagia yang tak terbantahkan. Ia sedang mengamati putra kecilnya yang diberi nama Varrel yang diambil dari nama panggilannya dengan sang suami—Vara dan Darell. Varrel tengah tidur pulas di ranjang bayi di sampingnya. Sesekali bayi mungil menggemaskan itu menggeliat pelan, membuat senyum sang ibu merekah seperti bunga mawar. Kehidupan Elvara telah berubah total. Jadwal tidurnya kini diatur oleh jam menyusui dan tangisan putranya. Tugas kuliah dan tanggung jawab sebagai istri kini ditambah dengan peran sebagai seorang ibu dengan ilmu parenting seadanya. Meskipun ada saat-saat baby blues dan rasa frustrasi, kebahagiaan melihat Varel tumbuh sehat mengalahkan segalanya. “Dia tidur pulas sekali,” bisik Darell, yang
Last Updated: 2025-11-28
Chapter: BAB 497 : Season 2 - Elvara siuman“Kenapa dengan istri saya, Bu? Kenapa dia pingsan setelah melahirkan anak kami?” desak Darell pada bidan yang menangani istrinya. Bidan tersebut tersenyum mencoba menenangkan kepanikan Darell. “Tidak perlu khawatir, Pak. Itu sudah biasa dialami oleh ibu hamil setelah melahirkan. Karena kehilangan banyak tenaga.” “Anda yakin?” tatapan Darell menajam, menusuk dan meminta penjelasan. “Tentu saja, Pak. Jangan khawatir, serahkan pada tim medis. Anda silakan mendamping bayi Anda yang sedang dibersihkan darahnya oleh perawat,” kata bidan tersebut, lalu meninggalkan Darell menuju Elvara yang sedang ditangani. Darell berbalik, menatap ranjang pasien di mana sang istri tampak dipasangkan nasa kanul oleh dokter. Hatinya seperti diremas dari dalam, takut terjadi apa-apa pada sang istri. Oek. Oek. Di sisi lain, perawat tengah membersihkan tubuh sang anak sebelum membalutnya dengan selimut agar tidak kedinginan. Darell segera menghampiri dan mengambil alih dari perawat tersebut. “Te
Last Updated: 2025-11-28
Chapter: BAB 496 : Season 2 - Tangani ibunya“Mas, bukannya ... dokter bilang persalinannya kurang dua minggu lagi?” tanya Savana pada sang suami sambil berjalan menuju ruang VIP tempat Elvara melahirkan. “Gak harus pas, sayang. Kehamilannya sudah memasuki minggu ke tiga puluh tujuh. Bukannya sudah bisa lahiran?” “Iya, sih,” sahut Savana singkat. Di depan ruang VIP tersebut, Darell sudah menunggu di depan pintu ruangan. Dia memutuskan masuk ketika dokter sudah memanggil dan Elvara pembukaan terakhir. Karena tidak mungkin dia membiarkan keluarganya datang tanpa ada yang menyambut. Dan ketika telinganya menangkap langkah kaki di lorong, ia menemukan kedua mertuanya. “Gimana sama Elvara, Rell?” Savana bertanya dengan nada tak sabaran, hampir berlari menghampir menantunya. “Lagi di dalem, Ma. Dokter bilang mau panggil kalau sudah pembukaan terakhir,” tatapan Darell beralih ke lorong lagi. “Yang lain mana? Vano tidak datang ke sini?” “Vano lagi di jalan mungkin, tadi kita bareng berangkatnya. Tapi dia beda mobil. Kalau
Last Updated: 2025-11-28
Chapter: BAB 495 : Season 2 - Meja bersalin“Vara?” gumam Elvano terkejut, begitu juga dengan Amel. Amel dengan cepat menarik genggaman tangannya dari Elvano, dan mundur beberapa langkah untuk menjauh. Kedua tangannya langsung mengusap bahu, canggung. Elvara dengan langkahnya yang lumayan susah payah karena perutnya yang besar, terus menghampiri Elvano dan Amel berdiri. Lalu, berdiri diantara keduanya. “Mau ngapain kakak tadi?” celetuk Elvara sinis. “Nembak Amel?” “Vara, ini bukan urusan kamu,” tegur Elvano tak suka, merasa tak enak dengan Amel. “Udah sana, kamu masuk ke dalem. Di sini nanti kamu bisa masuk angin,” ucapnya lembut. Tapi Elvara tak mengindahkan ucapan sang kakak. Tatapannya lurus pada Amel, “Kamu licik juga ya, ternyata. Bisa-bisanya kamu pake cara licik kayak gini!” Amel membulatkan matanya kaget, terkejut dengan ucapan Elvara yang tak dia mengerti. “Maksud kamu apa, El?” “Gak usah pura-pura polos kamu, Mel. Dasar munafik!” ucapnya tajam. “Vara! Jangan bicara sembarangan!” Elvano kembali menegur.
Last Updated: 2025-11-28
Chapter: BAB 24“Bagaimana dengan pramugari itu?” tanya sang kakek pada perawat pribadinya yang tengah membantunya sarapan pagi.Perawat itu tersenyum kecil. “Dia ada di sini, Tuan. Tuan Muda Kaelix membawanya kemari.”Kakek menghela napas panjang. “Baguslah. Saya merasa tidak enak padanya.”Perawat itu hanya mengangguk hormat.“Berikan dia sejumlah uang. Saya tidak ingin berutang budi,” lanjut sang kakek, pandangannya lurus ke arah jendela kamar.Perawat itu terdiam sejenak. Entah mengapa, ia ragu wanita itu akan menerima pemberian tersebut. Meski hanya berbincang singkat semalam, ia merasa Sasqia bukan tipe yang mudah menerima imbalan.“Baik, Tuan. Akan saya sampaikan,” jawabnya akhirnya tenang._____Di luar kamar, tepatnya di meja makan, suasana terasa kaku.Kaelix dan Sasqia duduk berhadapan dalam diam. Tak ada percakapan. Hanya suara sendok dan garpu yang sesekali beradu dengan piring.Sasqia tenggelam dalam pikirannya sendiri.Beberapa hari ke depan, berarti ia masih harus berada di sini. Satu
Last Updated: 2026-02-24
Chapter: BAB 23“Bagaimana kondisi kakekmu, Kael?” tanya Remmer dari seberang telepon, suaranya terdengar tegas namun menyimpan kekhawatiran.“Kesehatannya mulai membaik,” jawab Kaelix tenang, satu tangan dimasukkan ke dalam saku celana, satu tangan lagi menahan ponsel di samping telinga.“Sejak awal saya sudah tahu beliau tidak cukup kuat untuk perjalanan itu. Tapi Ayah juga tahu bagaimana keras kepalanya Kakek. Jadi saya biarkan beliau tetap datang ke bandara.”“Kalau kamu sudah yakin beliau tidak kuat, kenapa tetap dibiarkan?” suara Remmer meninggi sedikit. “Tidak ada yang serius, kan? Dokter sudah dipanggil?”Kaelix menghela napas panjang. “Sudah, Yah. Semua sudah ditangani. Saya membiarkan beliau pergi karena tahu tidak ada yang bisa menghentikannya.”Terdengar helaan napas berat dari Remmer. “Baiklah. Kalau kondisinya menurun lagi, segera hubungi Ayah. Ayah dan Ibu akan langsung terbang ke sana.”“Hm,” gumam Kaelix singkat sebelum memutuskan sambungan.Ia memasukkan ponsel ke saku celana dan he
Last Updated: 2026-02-24
Chapter: BAB 22“Silakan duduk, Nona,” ucap perawat itu sopan sambil menarikkan kursi untuk Sasqia.Sasqia tersenyum tipis. “Terima kasih banyak, Kak.”Perawat itu membalas senyumnya. “Sama-sama. Kalau begitu, saya pamit.”“Hah?” Mata Sasqia membulat. “Kakak gak ikut makan?”Perawat itu menggeleng pelan. “Tidak. Bukan posisi saya untuk makan di meja ini.”“Lalu … saya makan sendiri?” Sasqia menunjuk dirinya dengan ekspresi canggung.“Benar. Saya harus menyuapi Tuan makan malam sekaligus memberinya obat,” jelas perawat itu lembut.“Oh … baiklah,” jawab Sasqia pelan, mencoba tersenyum sebelum akhirnya duduk.“Oke, saya permisi.” Perawat itu pun melangkah pergi menuju kamar majikannya.Kini tinggal Sasqia seorang diri di ruang makan yang luas dan elegan itu. Ia menatap deretan hidangan yang tersaji rapi di atas meja, semuanya tampak lezat dan menggugah selera.“Ini … gak harus aku habisin semuanya, kan?” gumamnya pelan.Ia terkekeh kecil, lalu mengambil piring dan mulai mengisinya secukupnya dengan bebe
Last Updated: 2026-02-24
Chapter: BAB 21“Gimana, Ma? Kalungnya asli?” tanya Shiren malam itu, begitu mereka selesai makan malam bertiga bersama Sherly. Di sudut ruang tengah, Sherly asyik memainkan kotak musik balerina pemberian bibinya. Boneka beruang di pelukannya didekap erat, seolah takut ada yang merebutnya. “Asli, dong. Harganya memang sepuluh ribu dolar,” jawab Soraya santai, senyum tipis mengembang di bibirnya. Shiren terperangah. “Serius, Ma? Dari mana Qia bisa dapet kalung semahal itu?” Soraya mengangkat bahu ringan. “Mama sih gak yakin itu dari uang pribadinya. Pasti diam-diam dia punya pacar kaya raya.” Mata Shiren menyipit, penuh perhitungan. “Jangan-jangan dia jadi simpanan orang kaya?” Soraya terdiam sejenak, keningnya berkerut, seolah mempertimbangkan kemungkinan itu. “Hm … entahlah. Tapi kalau memang begitu, apa salahnya?” “Kok malah gak salah, Ma?” Shiren menatap ibunya tak percaya. “Itu kan jadi simpanan.” Soraya terkekeh pelan. “Asal dia pintar menguras uangnya, dan kita bisa hidup enak tanpa perl
Last Updated: 2026-02-23
Chapter: BAB 20Kaelix baru saja selesai mandi. Tubuh atletisnya hanya terbalut handuk putih yang melingkar rendah di pinggangnya yang bidang.“Sial, cuma ada handuk. Tidak ada bathrobe,” gumamnya pelan.Udara malam terasa cukup dingin hingga membuatnya beberapa kali mendecih kesal.Begitu keluar dari kamar mandi, pandangannya langsung tertuju pada koper navy kesayangannya yang tergeletak di samping ranjang king size. Tanpa curiga, ia meraih dan membukanya.Namun alih-alih menemukan setelan jas dan kemeja rapi, yang terlihat justru pakaian dalam wanita dengan warna-warna lembut tertata di dalamnya.Kaelix terdiam sejenak.“Koper ini … milik siapa?”Belum sempat ia menyusun dugaan, pintu kamarnya diketuk pelan.Tok. Tok. Tok.Ia melangkah ke arah pintu dan membukanya.Di ambang pintu berdiri Sasqia. Kepalanya tertunduk, rambut panjangnya menutupi sebagian wajah. Tubuhnya terbalut kemeja navy yang jelas kebesaran di badannya, kemeja miliknya.Sebuah koper lain diseret dan diletakkan di hadapannya.“Sep
Last Updated: 2026-02-23
Chapter: BAB 19“Kenapa dengan kakek saya?”Suara Tristan terdengar tegas saat ia memasuki kabin VIP. Tatapannya langsung mengarah pada perawat pribadi sang kakek.Perawat itu sedikit terperanjat. “Tuan sedang kurang fit sejak pagi. Tapi beliau tetap memaksakan diri untuk berangkat ke Jerman.”Rahang Tristan menegang. Tatapannya beralih pada Kaelix, yang berdiri di sisi kursi, memperhatikan kakek mereka yang kini minum air hangat dengan bantuan Sasqia.“Bawa Kakek pulang,” ujar Tristan tegas pada perawat. Lalu ia menoleh pada salah satu kru. “Umumkan penerbangan ditunda tiga puluh menit.”“Baik, Kapten.”Tristan melangkah lebih dekat untuk membantu. Tangannya hendak meraih bahu pramugari yang tadi sigap menolong, namun ia baru menyadari wajah itu.“Kamu?”Keningnya mengernyit.Sasqia tersenyum kecil, meski rok seragamnya jelas ternoda. “Kapten.”Tatapan Tristan kembali pada perawat. Nada suaranya berubah dingin. “Apa yang kamu lakukan sejak tadi? Kenapa kru saya yang harus turun tangan seperti ini?”
Last Updated: 2026-02-23