Chapter: BAB 552“Mommy, kenapa semuanya sakit? Nenek sakit, Daddy juga sakit. Meskipun Daddy udah sembuh, tapi kenapa gantian jadi Nenek sekarang?” Suara polos Naren memecah suasana makan malam di kantin rumah sakit. Djiwa tersenyum tipis. Ia meraih tisu, lalu mengusap lembut sudut bibir anaknya. “Namanya juga manusia, sayang,” ucapnya pelan. “Kadang sehat, kadang sakit. Itu hal yang gak bisa kita hindari.” Naren mengangguk kecil, meski jelas belum sepenuhnya paham. “Kapan Nenek bangun, Mom? Udah malam belum bangun juga. Besok pagi bangun, ya?” tanyanya lagi, penuh harap. Djiwa menahan napas sejenak. “Naren … nanti kalau Nenek sudah sadar, Mommy kabarin, ya. Sekarang kamu makan dulu.” Nada suaranya terdengar datar. Fairish yang duduk di seberangnya melirik sekilas. Ia tahu Djiwa sedang tidak baik-baik saja. Pikirannya bercabang. Radja yang tak ada kabar, dan Karin dengan segala masalahnya. “Mommy … nanti Ratu mau telepon Daddy, ya,” ucap Ratu pelan dari samping. Gerakan tangan Djiwa terhenti
ปรับปรุงล่าสุด: 2026-05-27
Chapter: BAB 551“Kamu yang laporin istri aku, Mas?” suara Kaisar rendah, namun sarat tekanan. Ada jeda. Sultan melirik Karin sekilas, tatapan yang dingin, tajam—sebelum kembali menatap adiknya. “Ini bukan keputusan ringan, Kai,” ucapnya pelan, berusaha menahan emosi yang jelas bergejolak di balik ketenangannya. “Karin itu istri kamu. Adik ipar saya. Menantu di keluarga ini.” Ia menarik napas dalam. “Dan dia sedang mengandung anak kamu. Tapi saya tidak bisa tutup mata setelah saya tahu semuanya. Setelah saya pegang bukti yang kuat kalau dia pelakunya.” Napas Kaisar tercekat di tenggorokan. Rahangnya mengeras. “Kamu tahu saya,” lanjut Sultan, suaranya tetap stabil. “Saya tidak akan bertindak sejauh ini kalau tidak yakin.” Kaisar menelan ludahnya berat. “Asal kamu tahu dampak dari perbuatannya—” “Usia Mas Radja divonis beberapa bulan lagi?” potong Kaisar tiba-tiba, suaranya bergetar tipis. Sultan mengernyit. Informasi itu belum pernah ia dengar secara langsung, tapi ia tahu bahwa kondisi kakakn
ปรับปรุงล่าสุด: 2026-05-27
Chapter: BAB 550Begitu Sekar jatuh dengan tangan mencengkeram dada, Fairish langsung sigap memanggil ambulans, sementara Djiwa berdiri membeku beberapa detik sebelum akhirnya tersadar dan ikut membantu. Kaisar tidak ikut. Ia memilih tetap di mansion, menjaga Karin yang masih terbaring lemah—atau setidaknya terlihat seperti itu. Sultan tidak bisa dihubungi. Dan Radja jauh di Jerman. Lampu merah bertuliskan UGD menyala terang di atas pintu rumah sakit. Pintu dorong terbuka, lalu tertutup kembali dengan cepat saat tubuh Sekar dibawa masuk oleh tim medis. “Dok, pasien serangan jantung, tekanan turun!” terdengar suara panik perawat. Fairish berdiri tepat di depan pintu itu, napasnya masih memburu. Kedua tangannya mengepal tanpa sadar, menahan cemas yang terus merayap naik. Sementara itu di sudut ruang tunggu, Djiwa duduk sendiri. Tubuhnya lemas, bahunya turun, dan tatapannya kosong lurus ke depan. Air mata masih terus mengalir tanpa suara, seolah tak ada lagi yang bisa ia tahan. Semua terasa
ปรับปรุงล่าสุด: 2026-05-26
Chapter: BAB 549“Bagaimana kondisi menantu saya, Dok?” tanya Sekar begitu dokter kandungan yang ia panggil selesai memeriksa Karin. Dokter itu tidak langsung menjawab. Ia melepas stetoskop dari telinganya, lalu mengalungkannya kembali ke leher dengan tenang. “Secara keseluruhan, kondisinya baik,” ujarnya akhirnya. “Tidak ada tanda-tanda yang mengkhawatirkan. Hanya kelelahan dan sedikit stres. Jadi Anda tidak perlu terlalu cemas, Nyonya.” Sekar mengangguk pelan, meski sorot matanya masih menyimpan kegelisahan. “Baik, Dok. Terima kasih.” Dokter itu tersenyum sopan sambil merapikan tas medisnya. “Kalau begitu saya pamit.” “Hati-hati di jalan, Dok,” balas Sekar. Pintu kamar itu terbuka sesaat, lalu kembali tertutup rapat. Di luar, Fairish dan Djiwa berdiri tak jauh dari sana. Keduanya terdiam, namun jelas menangkap setiap kata yang keluar dari dalam. Tak ada yang serius. Kalimat itu seharusnya menenangkan. Namun entah kenapa, justru membuat dada Djiwa terasa semakin sesak. Ia menunduk, menarik
ปรับปรุงล่าสุด: 2026-05-26
Chapter: BAB 548“Jenis kelamin bayinya perempuan, ya, Pak, Bu,” ucap dokter obgyn itu lembut, matanya masih tertuju pada layar USG. Karin dan Kaisar saling menoleh hampir bersamaan. Ada jeda sesaat. Lalu senyum itu muncul pelan, tapi penuh. Keduanya sama-sama tidak pernah mempermasalahkan jenis kelamin sejak awal. Namun tetap saja, mendengar kabar itu secara langsung ada rasa hangat yang menjalar di dada. “Terima kasih banyak, Dok,” ucap Kaisar tulus. Dokter itu mengangguk, lalu mulai membersihkan gel di perut Karin dengan hati-hati. Setelahnya, ia membantu Karin untuk duduk perlahan. “Saya cetakkan hasilnya dulu, ya,” ujar dokter tersebut sambil berdiri dan berjalan menuju meja kerjanya. Karin mengusap perutnya pelan, senyum tipis masih terukir di wajahnya. Sementara Kaisar tak bisa berhenti menatap layar yang tadi menampilkan bayinya. Beberapa saat kemudian, dokter kembali dengan selembar hasil cetakan. “Ini, bisa disimpan sebagai kenang-kenangan,” ucapnya sambil menyerahkan kertas itu. Ka
ปรับปรุงล่าสุด: 2026-05-25
Chapter: BAB 547“Kalau anaknya laki-laki, kamu mau kasih nama siapa, Mas? Masih Adipati, kayak yang pernah kamu bilang dulu?” tanya Fairish sambil mengusap perutnya yang mulai membuncit. Sultan hanya bergumam singkat tanpa mengalihkan pandangan dari ponselnya. “Hm.” Fairish mendengus pelan, sedikit kesal. “Mas, bisa simpan dulu gak HP-nya?” Sultan melirik sekilas. “Ada yang sedang saya urus, Rish.” “Soal rumah sakit? Atau lagi baca jurnal medis?” cecar Fairish, nada suaranya mulai terdengar tidak sabar. Tanpa menjawab lebih jauh, Sultan meletakkan ponselnya di atas nakas. “Saya ke kamar mandi sebentar.” Ia turun dari ranjang dan berjalan menuju kamar mandi. Pintu tertutup. Fairish melirik ke arah pintu kamar mandi, lalu kembali pada ponsel di atas nakas. Tangannya terulur perlahan, ragu—namun rasa penasaran mengalahkan segalanya. Ting. Satu notifikasi masuk. Jantungnya seketika berdegup lebih cepat. “Dia chat-tan sama siapa sih dari tadi?” gumamnya pelan. Ia mengambil ponsel itu, matanya
ปรับปรุงล่าสุด: 2026-05-25
Chapter: CHAPTER 400 |Paris menjadi salah satu negara yang dikunjungi oleh Isandro bersama keluarganya. Dan ini adalah pertama kalinya ketiga anak mereka menjejakkan kaki di luar negeri. Penampilan Arby, Yessy, dan Arbil tampak menggemaskan dengan jaket tebal, topi rajut, serta syal yang melingkar rapi di leher masing-masing. Udara dingin Paris membuat pipi mereka sedikit memerah, kontras dengan wajah polos yang penuh rasa penasaran. “Kenapa kita jalan kaki, Pa?” tanya Yessy sambil mendongak ke arah sang ayah yang menggendong Arbil. “Emang Papa gak punya mobil di sini?” Isandro tersenyum kecil. “Lebih seru jalan kaki, Nak. Biar sehat. Lihat tuh, orang-orang Eropa pada jalan kaki semua.” Yessy menoleh ke sekitar, memperhatikan orang-orang yang berlalu lalang dengan santai. “Oh iya,” gumamnya pelan. “Sini,” Arby mengulurkan tangannya ke arah sang adik. “Jalan sama kakak, biar kamu gak ilang.” Yessy menatap tangan kakaknya sejenak, lalu menggenggamnya erat dengan jari-jari kecilnya. “Nah, gitu,
ปรับปรุงล่าสุด: 2026-01-30
Chapter: CHAPTER 399 |“Senyum kalau kamu mau nambah anak,” bisik Yessa pelan, tepat di telinga sang suami. Isandro bukan tersenyum—ia justru tertawa lepas, bahunya sedikit bergetar. “Mas?” Yessa membulatkan matanya sambil ikut tertawa kecil. “Aku bilang senyum, bukan ketawa. Kamu gak mau nambah anak, ya?” Isandro menyipitkan mata, menatap istrinya penuh arti. “Emangnya kamu mau?” Yessa menyengir lebar, senyum kuda khasnya muncul. “Enggak, sih. Cukup tiga aja, ya?” “Tiga?” Isandro mengangkat sebelah alis. Tangannya refleks menarik pinggang ramping Yessa, membuat wanita itu duduk di pangkuannya. “Berarti kurang satu lagi. Arby kan anak aku dari istri sebelumnya.” “Tapi Arby itu anak aku juga,” balas Yessa tanpa ragu. Tatapannya lembut, dalam. “Aku udah anggap dia kayak anak kandung sendiri, Mas. Tiga anak cukup.” Isandro terdiam sejenak, lalu mengangguk singkat. “Oke. Terserah kamu, sayang. Kamu yang punya tubuh, aku gak akan maksa. Tiga anak udah cukup. Yang penting, kita kasih mereka kasih sa
ปรับปรุงล่าสุด: 2026-01-30
Chapter: CHAPTER 398 |“Jalan, Nak. Kan kamu udah bisa jalan,” ucap Isandro sambil berjongkok, menepuk pelan karpet di depannya. Arbil yang semula merangkak berhenti sejenak. Ia menatap sang ayah ragu-ragu, lalu kembali menumpukan kedua telapak tangannya ke karpet, memilih merangkak pelan. Yessa tersenyum kecil melihatnya. “Dia takut jatuh, Mas. Keseimbangannya belum stabil.” Isandro terkekeh pelan. “Penakut kayak Mamanya,” godanya ringan. Yessa melirik tajam, tapi sudut bibirnya justru terangkat. Ia kemudian menatap sang suami lebih lama, rautnya melunak. “Nanti sore ikut aku, gak?” Isandro langsung menoleh penuh perhatian. “Ke mana?” “Kamu gak ke rumah sakit hari ini?” alis Yessa terangkat. “Bisa aku atur. Ke mana dulu?” balas Isandro cepat. “Kalau memang sore kita pergi, sekarang aku berangkat ke rumah sakit.” “Hari ini Fika keluar dari rumah sakit, Mas. Aku mau jenguk dia. Sekalian ajak anak-anak.” “Fika?” dahi Isandro berkerut sesaat. “Sakit apa?” “Habis lahiran.” “Oh,” Isandro me
ปรับปรุงล่าสุด: 2026-01-30
Chapter: CHAPTER 397 |“Raka, kamu jangan deket-deket terus,” keluh Yessy, matanya melirik dingin ke arah bocah laki-laki itu. Langkahnya diperlambat agar tetap sejajar dengan Arsy yang menggenggam tangannya erat. “Aku jalan biasa, gak deket-deket, Ci. Aku juga mau pulang,” balas Raka datar, tanpa mempercepat ataupun memperlambat langkahnya. “Ya udah sana,” Yessy mendorong lengan Raka pelan, memberi isyarat agar bocah itu berjalan lebih dulu. “Eci, gak boleh gitu,” tegur Arsy. Ia justru mengulurkan tangan kecilnya ke arah Raka. “Sini, Raka. Jalan di samping aku aja. Kita gandengan tangan bertiga.” Raka sempat terdiam sesaat, lalu tersenyum tipis sebelum menerima uluran tangan Arsy. Ketiganya pun berjalan beriringan, meninggalkan kelas menuju luar gedung sekolah, siap bertemu orang tua masing-masing yang masih tertib dalam menunggu. Di luar, Isandro dan Yessa masih setia menunggu sambil menemani Arbil. Bayi itu tampak tenang di gendongan, matanya sesekali bergerak ke sana kemari, sama sekali tak
ปรับปรุงล่าสุด: 2026-01-30
Chapter: CHAPTER 396 |Halaman Lumina Kids Academy pagi itu dipenuhi suara tawa dan langkah-langkah kecil yang berlarian. Warna-warni tas mungil dan seragam rapi membuat suasana terasa hidup. Yessy berdiri sedikit di belakang Isandro, jemarinya menggenggam ujung baju sang ayah. Matanya bergerak ke sana kemari, mengamati anak-anak lain yang tampak sebaya dengannya. Ada yang berlarian, ada yang saling pamer botol minum, pamer tas, pamer sepatu, ada pula yang sudah duduk manis menunggu guru mereka datang. “Eci masuk, ya, Pa,” ucapnya pelan. Isandro berlutut agar sejajar dengan tinggi sang anak. “Masuk. Papa nunggu di luar. Kamu kan anak hebat.” Yessy mengangguk kecil, lalu berjalan mendekat ke arah seorang guru perempuan yang tersenyum ramah. Di dekat pintu kelas, dua anak perempuan langsung memperhatikannya. “Hai,” sapa salah satu dari mereka, rambutnya dikuncir dua. “Nama kamu siapa?” “Yessy,” jawabnya
ปรับปรุงล่าสุด: 2026-01-29
Chapter: CHAPTER 395 |Pukul sebelas malam, Isandro baru saja pulang dari rumah sakit. Hari ini lebih lama dari biasanya, karena ada operasi besar. Namun, siapa sangka ketika dia masuk kamar sudah menemukan istrinya duduk di tepi ranjang, mengenakan piyama satin yang tipis. “Ada apa? Kamu belum tidur nungguin aku, hm?” tanyanya sembari melangkah mendekati sang istri. Ia membungkuk, mensejejarkan tubuhnya dengan wajah Yessa. Cup. Satu kecupan lembut mendarat di kening wanita itu. Ia kemudian menegakkan punggungnya kembali, mengulurkan tangan mengusap rahang kecil Yessa. “Tumben? Mungkin mau ....” “Nggak,” Yessa buru-buru menggeleng sambil menahan senyum. Isandro menghela napas panjang. “Sampe kapan pabriknya tutup, sayang?” “Gak tahu,” balas Yessa asal. “Aku nungguin kamu karena mau cerita soal Eci di sekolah tadi, Mas. Mau denger, gak?” “Tentu mau,” sahut Isandro cepat. “T
ปรับปรุงล่าสุด: 2026-01-29
Chapter: BAB 118“Tenang,” ucap Kaelix rendah. “Paling hanya beberapa detik sampai genset menyala.” Namun Sasqia tak menjawab, napasnya justru mulai memburu. JEDAR!!! Petir kembali menyambar, membuat tubuh kecil itu tersentak hebat. Jemarinya mencengkeram bagian belakang kemeja Kaelix sampai kusut. Kaelix akhirnya menyadari ada yang aneh. “Sasqia?” Tak ada jawaban. Napas wanita itu terdengar pendek-pendek, tidak beraturan. “Sasqia?” kali ini nada suara Kaelix berubah lebih serius. Ia mencoba melepaskan pelukan itu perlahan, namun tubuh Sasqia justru melemah di pelukannya. “Hei—” Kaelix dengan cepat menopang tubuh wanita itu sebelum jatuh ke lantai. “Sasqia.” Wajahnya menunduk, mencoba melihat dalam gelap. Napas Sasqia semakin kacau, dadanya naik turun cepat seperti kekurangan udara. Tangannya gemetar. “Lihat saya,” ucap Kaelix tegas. “Tarik napas.” Namun Sasqia tetap tak mampu menjawab. Bibirnya sedikit terbuka, berusaha mengambil udara, tapi justru semakin sesak. Kaelix mengeraskan raha
ปรับปรุงล่าสุด: 2026-05-27
Chapter: BAB 117Makan malam pun berakhir. Sasqia sudah berdiri, bersiap membawa Mahendra pulang. “Sebentar.” Suara Kaelix menghentikan langkah mereka. Ia berdiri di hadapan keduanya, tenang. “Di luar hujan deras.” “Hujan?” Mahendra terkejut. Kaelix tidak menjawab. Ia menekan tombol remote di tangannya. Perlahan, tirai besar yang menutupi jendela apartemen terbuka. Pemandangan di luar langsung terlihat—langit gelap, hujan turun deras, disertai kilatan petir yang sesekali menyambar. Suara gemuruhnya bahkan terdengar jelas ketika Kaelix membuka pintu balkon. “Lebih baik menginap,” ucapnya datar. “Berkendara dalam kondisi seperti ini tidak aman.” Mahendra dan Sasqia saling menatap. Sasqia segera meraih ponselnya. “Saya sudah pesan taksi.” Kaelix mengangguk singkat. “Baik. Kita tunggu.” Mereka bertiga kemudian berpindah ke ruang tengah. Beberapa menit berlalu. Hujan tak kunjung reda, justru semakin deras. Drrt. Ponsel Sasqia bergetar. Ia membuka layar, lalu wajahnya langsung berubah. “Dibat
ปรับปรุงล่าสุด: 2026-05-27
Chapter: BAB 116“Kenapa kamu tidak ikut makan, Nak?” tanya Mahendra, memperhatikan Kaelix yang sejak tadi hanya berdiri dengan kedua tangan terlipat di dada, punggungnya bersandar santai pada kursi. Kaelix belum sempat menjawab. Ding. Dong. Suara bel apartemen menggema. Ia melirik sekilas ke arah pintu, sudut bibirnya terangkat tipis. Orang yang ia tunggu akhirnya datang. “Saya sedang menunggu tamu,” ucapnya singkat, lalu bangkit dari duduknya. Mahendra mengerutkan kening. “Siapa? Orang penting?” Kaelix hanya tersenyum tipis tanpa menjawab, lalu melangkah meninggalkan dapur. Langkahnya tenang, pasti. Begitu pintu dibuka, Sasqia berdiri di sana, napasnya sedikit memburu, wajahnya menyimpan cemas yang jelas terlihat. “Di mana Papa saya?” tanyanya datar, tanpa basa-basi. Kaelix tidak langsung menjawab. Ia hanya menggeser tubuhnya, memberi jalan. “Silakan masuk.” Sasqia menarik napas dalam, menahan dirinya. “Saya datang untuk menjemput Papa saya. Tidak berniat masuk.” Senyum tipi
ปรับปรุงล่าสุด: 2026-05-26
Chapter: BAB 115Mahendra berdiri di ambang pintu dapur, masih sedikit canggung. Sementara Kaelix sudah melepas jasnya, menyisakan kemeja navy yang pas di tubuhnya. Lengan kemeja itu digulung rapi hingga siku, memperlihatkan urat-urat halus di lengannya. Tak lama, ia mengambil dua celemek dari laci. “Pakai ini, Pak,” ucapnya sambil menyerahkan satu pada Mahendra. Mahendra tersenyum kecil, menerima celemek itu. “Wah … sudah seperti chef profesional saja.” Kaelix hanya tersenyum tipis. Di atas meja dapur, ikan hasil pancingan tadi sudah dibersihkan. Kaelix memilih satu yang paling besar. “Kita masak grilled salmon saja,” ucapnya tenang. Mahendra mengangkat alisnya. “Salmon? Ini kalau beli di restoran mahal, kan?” “Lumayan,” sahut Kaelix singkat. “Tapi yang penting rasanya.” Mahendra terkekeh pelan, lalu mulai membantu menyiapkan bahan. Ia mengambil pisau, memotong beberapa bumbu dengan gerakan yang masih cukup terlatih meski sudah lama tak memasak. Kaelix di sisi lain tampak sangat terampil.
ปรับปรุงล่าสุด: 2026-05-26
Chapter: BAB 114Sasqia tiba di rumah tepat saat langit benar-benar kehilangan cahayanya. Jam menunjukkan pukul enam sore, namun suasana sudah gelap dan terasa sunyi. Ia menyeret koper masuk dengan langkah tergesa, napasnya masih tersisa lelah dari perjalanan panjang. “Papa mana, Ma?” tanyanya begitu melihat Soraya duduk santai di ruang tengah bersama Shiren, Sherly, dan Raka. Soraya mengalihkan pandangannya sekilas. “Diajak jalan sama Tuan Kaelix, dari tadi siang.” Langkah Sasqia terhenti sepersekian detik. “Belum pulang?” Soraya menggeleng pelan. “Kenapa?” Sasqia menahan sesuatu di dadanya, lalu menggeleng singkat. “Nggak apa-apa.” Tanpa menambah kata, ia kembali berjalan menuju kamar, menyeret koper yang terasa semakin berat. Begitu pintu tertutup, ia menjatuhkan koper di tengah ruangan, lalu duduk di tepi ranjang. Tangannya bergerak cepat meraih ponsel, berniat mengirim pesan pada Kaelix—menanyakan di mana ayahnya dan kapan akan diantar pulang. Namun sebelum sempat mengetik, layar ponseln
ปรับปรุงล่าสุด: 2026-05-25
Chapter: BAB 113Mahendra melempar kailnya pelan, lalu menyandarkan tubuh di kursi lipat. Tatapannya lurus ke permukaan air yang tenang. “Terakhir kali saya mancing ...,” gumamnya pelan, “Rasanya sudah lama sekali.” Kaelix duduk di sampingnya, satu kaki sedikit maju, tangannya menggenggam joran dengan santai. “Kenapa berhenti?” tanyanya singkat. Mahendra tersenyum tipis, sorot matanya sedikit menerawang. “Sibuk kerja. Lalu sakit. Lama-lama … lupa kalau saya punya hobi.” Kaelix hanya mengangguk. Tak menyela. Beberapa detik berlalu dalam hening yang justru terasa nyaman. “Saya suka tempat seperti ini,” lanjut Mahendra. “Tenang. Tidak banyak suara, membuat pikiran lebih ringan.” “Hm,” sahut Kaelix pendek. “Memang harus sesekali berhenti.” Mahendra meliriknya sekilas. “Kamu juga sering mancing?” “Tidak,” jawab Kaelix datar. “Hari ini saja.” Mahendra terkekeh pelan. “Berarti saya beruntung.” Kaelix tak membalas, hanya menarik sedikit sudut bibirnya tetap dengan ekspresi datar. Obrolan kembali
ปรับปรุงล่าสุด: 2026-05-25
Chapter: BAB 500 : TAMAT SEASON - 2Kini Elvano dan Amel sudah duduk di sebuah ruang private di restoran mahal yang ada di pusat kota. Makan malam sekaligus kencan pertama mereka setelah resmi berpacaran. “Ini ... apa gak terlalu berlebihan kita dinner di sini?” tanya Amel, pada Elvano yang duduk tenang di hadapannya. Mata Amel sesekali bergerak liar ke arah lain, mengamati setiap sudut ruangan mewah tersebut, bukan karena bosan, melainkan karena kegugupan. Meja mereka berada tepat di samping jendela full glass yang menjulang tinggi, memberikan pemandangan yang menakjubkan. Pemandangan dari sana langsung menghadap ke keindahan panorama kota saat malam hari. Gedung-gedung pencakar langit menjadi hamparan yang memanjakan mata, di mana lampu-lampu terang dari gedung-gedung perkantoran dan rumah-rumah di bawah sana berkelip layaknya bintang yang jatuh ke bumi. Suasana remang restoran dan gemerlap kota menciptakan kontras yang dramatis, menambah nuansa romantis namun sedikit mencekam bagi Amel yang pikirannya seda
ปรับปรุงล่าสุด: 2025-11-28
Chapter: BAB 499 : Season 2 - Kencan pertamaAmel menatap refleksinya di cermin kamar. Ia mengenakan dress santai yang sudah ia pilih dengan hati-hati. Pikirannya berkelana ke mana-mana, dipenuhi gejolak perasaan yang sulit diurai. Hari ini, Elvano akan menjemputnya untuk kencan resmi—sebuah langkah besar setelah mereka menghabiskan waktu pendekatan intens selama sebulan terakhir, lalu resmi berpacaran. "Aku pantes, gak, ya?" gumamnya pada bayangan di cermin. Perasaan ragu itu datang menyerbu, bukan karena Elvano, tapi karena dirinya sendiri. Usianya terpaut dua tahun lebih tua dari Elvano, dan ia pernah melalui serangkaian konflik besar yang melibatkan keluarga Elvano. Ia merasa terbebani oleh masa lalunya dan tidak yakin apakah ia layak menerima ketulusan pemuda itu setelah pernah membuat adiknya membencinya. "Dia terlalu baik. Sedangkan aku cuma ...," Amel menarik napas dalam. “Aku anak biasa, level kita beda jauh. Tapi aku udah nerima dia, gimana dong?” Ia memutar badannya, menilai penampilannya lagi. Amel tahu
ปรับปรุงล่าสุด: 2025-11-28
Chapter: BAB 498 : Season 2 - Permintaan maafSatu bulan berlalu pasca persalinan mendebarkan di rumah sakit. Kini, Elvara resmi menyandang gelar sebagai ibu muda di usianya yang sebentar lagi menginjak usia 21 tahun. Elvara duduk di tepi ranjangnya, wajahnya terlihat sedikit kelelahan tetapi memancarkan aura bahagia yang tak terbantahkan. Ia sedang mengamati putra kecilnya yang diberi nama Varrel yang diambil dari nama panggilannya dengan sang suami—Vara dan Darell. Varrel tengah tidur pulas di ranjang bayi di sampingnya. Sesekali bayi mungil menggemaskan itu menggeliat pelan, membuat senyum sang ibu merekah seperti bunga mawar. Kehidupan Elvara telah berubah total. Jadwal tidurnya kini diatur oleh jam menyusui dan tangisan putranya. Tugas kuliah dan tanggung jawab sebagai istri kini ditambah dengan peran sebagai seorang ibu dengan ilmu parenting seadanya. Meskipun ada saat-saat baby blues dan rasa frustrasi, kebahagiaan melihat Varel tumbuh sehat mengalahkan segalanya. “Dia tidur pulas sekali,” bisik Darell, yang
ปรับปรุงล่าสุด: 2025-11-28
Chapter: BAB 497 : Season 2 - Elvara siuman“Kenapa dengan istri saya, Bu? Kenapa dia pingsan setelah melahirkan anak kami?” desak Darell pada bidan yang menangani istrinya. Bidan tersebut tersenyum mencoba menenangkan kepanikan Darell. “Tidak perlu khawatir, Pak. Itu sudah biasa dialami oleh ibu hamil setelah melahirkan. Karena kehilangan banyak tenaga.” “Anda yakin?” tatapan Darell menajam, menusuk dan meminta penjelasan. “Tentu saja, Pak. Jangan khawatir, serahkan pada tim medis. Anda silakan mendamping bayi Anda yang sedang dibersihkan darahnya oleh perawat,” kata bidan tersebut, lalu meninggalkan Darell menuju Elvara yang sedang ditangani. Darell berbalik, menatap ranjang pasien di mana sang istri tampak dipasangkan nasa kanul oleh dokter. Hatinya seperti diremas dari dalam, takut terjadi apa-apa pada sang istri. Oek. Oek. Di sisi lain, perawat tengah membersihkan tubuh sang anak sebelum membalutnya dengan selimut agar tidak kedinginan. Darell segera menghampiri dan mengambil alih dari perawat tersebut. “Te
ปรับปรุงล่าสุด: 2025-11-28
Chapter: BAB 496 : Season 2 - Tangani ibunya“Mas, bukannya ... dokter bilang persalinannya kurang dua minggu lagi?” tanya Savana pada sang suami sambil berjalan menuju ruang VIP tempat Elvara melahirkan. “Gak harus pas, sayang. Kehamilannya sudah memasuki minggu ke tiga puluh tujuh. Bukannya sudah bisa lahiran?” “Iya, sih,” sahut Savana singkat. Di depan ruang VIP tersebut, Darell sudah menunggu di depan pintu ruangan. Dia memutuskan masuk ketika dokter sudah memanggil dan Elvara pembukaan terakhir. Karena tidak mungkin dia membiarkan keluarganya datang tanpa ada yang menyambut. Dan ketika telinganya menangkap langkah kaki di lorong, ia menemukan kedua mertuanya. “Gimana sama Elvara, Rell?” Savana bertanya dengan nada tak sabaran, hampir berlari menghampir menantunya. “Lagi di dalem, Ma. Dokter bilang mau panggil kalau sudah pembukaan terakhir,” tatapan Darell beralih ke lorong lagi. “Yang lain mana? Vano tidak datang ke sini?” “Vano lagi di jalan mungkin, tadi kita bareng berangkatnya. Tapi dia beda mobil. Kalau
ปรับปรุงล่าสุด: 2025-11-28
Chapter: BAB 495 : Season 2 - Meja bersalin“Vara?” gumam Elvano terkejut, begitu juga dengan Amel. Amel dengan cepat menarik genggaman tangannya dari Elvano, dan mundur beberapa langkah untuk menjauh. Kedua tangannya langsung mengusap bahu, canggung. Elvara dengan langkahnya yang lumayan susah payah karena perutnya yang besar, terus menghampiri Elvano dan Amel berdiri. Lalu, berdiri diantara keduanya. “Mau ngapain kakak tadi?” celetuk Elvara sinis. “Nembak Amel?” “Vara, ini bukan urusan kamu,” tegur Elvano tak suka, merasa tak enak dengan Amel. “Udah sana, kamu masuk ke dalem. Di sini nanti kamu bisa masuk angin,” ucapnya lembut. Tapi Elvara tak mengindahkan ucapan sang kakak. Tatapannya lurus pada Amel, “Kamu licik juga ya, ternyata. Bisa-bisanya kamu pake cara licik kayak gini!” Amel membulatkan matanya kaget, terkejut dengan ucapan Elvara yang tak dia mengerti. “Maksud kamu apa, El?” “Gak usah pura-pura polos kamu, Mel. Dasar munafik!” ucapnya tajam. “Vara! Jangan bicara sembarangan!” Elvano kembali menegur.
ปรับปรุงล่าสุด: 2025-11-28