author-banner
Langit Parama
Langit Parama
Author

Novels by Langit Parama

Gairah Terlarang: Sahabat Suamiku, Nafsu Rahasiaku

Gairah Terlarang: Sahabat Suamiku, Nafsu Rahasiaku

Memiliki suami narsistik yang gemar mabuk dan kerap melakukan KDRT adalah neraka tak berujung bagi Yessa. Ia bertahan bukan untuk dirinya, melainkan demi sang ibu yang sudah memantapkan pilihannya pada Kaveer sebagai menantu. Tekanan semakin mencekik ketika dua keluarga terus menuntutnya hamil, sementara sudah dua tahun berlalu pernikahan, tak ada secuil janin di rahimnya. Di tengah kehampaan itu, hadir Isandro—sahabat Kaveer yang ternyata adalah senior Yessa di rumah sakit. Isandro menyimpan tatapan penuh rahasia—tatapan yang menelanjangi Yessa tanpa sentuhan, membakar darahnya setiap kali mereka berduaan. Yessa mencoba menjaga jarak, namun Isandro tak pernah mundur. Semakin ia menolak, semakin Isandro mendekat—mencuri waktu, perhatian, hingga akhirnya mencuri tubuhnya. Di antara dinginnya pelukan suami, Yessa menemukan panas yang memabukkan di pelukan lelaki lain. Sebuah rahasia yang menjadi candu—dan jika terbongkar, akan menghancurkan segalanya.
Read
Chapter: CHAPTER 327 |
“Tipe manusia yang akan jatuh cinta setelah kehilangan?” gumam Luke pelan, setelah percakapannya dengan Isandro sudah lama selesai. Tatapannya kosong, seolah menembus udara. “Maksud Isandro, setelah aku pergi, Aurora akan menyesal?” Ia tersenyum pahit. “Menyesal, lalu sadar kalau dia butuh aku. Baru setelah itu … dia jatuh cinta?” Luke menghela napas berat, dadanya terasa sesak. “Kalau iya begitu. Kalau tidak?” Pertanyaan itu menggantung tanpa jawaban. Karena dia bertanya pada dirinya sendiri, di taman yang sepi karena Isandro dan Yessy sudah meninggalkan taman satu menit yang lalu. “Papa,” panggil Arsy, berjalan tertatih ke arahnya yang duduk di kursi taman dengan langkah kecil yang belum sepenuhnya seimbang. Luke tersentak dari lamunannya. “Ada apa, Nak?” tangannya segera terulur. Arsy langsung meraih jari ayahnya, menggenggam erat. “Sini,” ujar Luke lembut sambil menarik tubuh kecil itu ke pangkuannya. “Duduk sama Papa.” Arsy naik, lalu menarik kedua tangan Luke agar melingka
Last Updated: 2026-01-10
Chapter: CHAPTER 326 |
Pagi itu, Isandro membawa Yessy berjalan-jalan. Tangannya menggenggam tangan si kecil yang tinggi badannya bahkan belum sampai lututnya. Langkah mereka santai, menyusuri taman di kawasan tempat tinggal, bukan taman pribadi di mansion, melainkan taman umum yang sengaja Isandro pilih karena satu alasan. Luke. Pria itu sudah lebih dulu datang, mendampingi Arsy yang sedang bermain perosotan. Sesekali terdengar tawa bocah kecil itu, disambut senyum tipis di wajah Luke. “Kamu mau main perosotan sama Arsy, sayang?” tanya Isandro sambil menunduk, menatap putri kecilnya. Yessy menoleh, lalu mengangguk singkat. “Main,” celotehnya polos, sebelum melepaskan genggaman tangan sang ayah. “Aciiih,” panggilnya nyaring ke arah Arsy. Arsy langsung menoleh. Senyum lebarnya mengembang, sempat melirik Luke sejenak sebelum turun dari perosotan dan menghampiri Yessy. Dua bocah itu lalu bermain bersama, berbicara dengan bahasa mereka sendiri—ocehan yang hanya mereka berdua pahami. “Jangan berantem, y
Last Updated: 2026-01-10
Chapter: CHAPTER 325 |
“Sayang,” bisik Isandro tepat di telinga Yessa. Ia baru saja tiba di rumah usai dari rumah sakit, tepat pukul sepuluh malam. Yessa sebenarnya sudah terlelap, namun tak ada satu hari pun bagi Isandro tanpa membangunkannya. Seolah ada yang kurang jika istrinya tidur lebih dulu tanpa menyambut kepulangannya. “Mas …,” Yessa melenguh pelan sambil mengerjapkan mata, berusaha menyesuaikan diri dengan cahaya lampu kamar yang temaram. “Bangun, aku udah pulang,” bisik Isandro lagi. Tangannya bergerak refleks, mengusap perut sang istri yang kini memasuki usia tujuh bulan kehamilan. Gerakannya lembut naik turun. “Hm … ya udah, sana mandi dulu,” gumam Yessa dengan suara serak, sambil mendorong dada suaminya lemah. “Ada yang mau aku omongin, tapi mandi dulu.” “Mandiin,” balas Isandro lirih, nada suaranya terdengar manja dan sengaja. Yessa tersenyum kecil, matanya masih setengah tertutup. “Nyebelin banget sih, Mas. Aku lagi enak-enaknya tidur malah dibangunin.” Ia lalu berusaha duduk. Isandro
Last Updated: 2026-01-10
Chapter: CHAPTER 324 |
Isandro melirik Yessa yang refleks memegangi perutnya, mengusapnya pelan seolah menenangkan diri sendiri. Setelah itu, pandangannya beralih pada Arby yang berdiri polos di hadapannya, sama sekali tak menyadari getaran halus yang baru saja ia ciptakan. “Mama kamu yang bilang begitu?” tanya Isandro, suaranya rendah namun terkontrol. Arby menoleh dan mengangguk cepat. “Iya, Pa. Mama yang bilang sama Arby tadi. Katanya Arby ganteng, pinter, dan baik kayak Papa. Jadi mau adek yang sekarang sama.” Rahang Isandro mengeras sesaat. Ia menahan banyak hal yang ingin keluar, lalu memilih satu jalan paling aman untuk anak di depannya. “Kamu pasti salah dengar,” ucapnya kemudian, nadanya datar tanpa emosi berlebih. “Maksud Mama kamu itu seperti Papa Luke. Karena adik yang di perut Mama kamu sekarang anak Mama kamu dan Om Luke.” Isandro mencondongkan tubuhnya sedikit, menatap Arby tepat di mata. “Kamu paham?” Arby mengernyit. Ia belum sepenuhnya mengerti rangkaian kalimat itu, tapi ia paham s
Last Updated: 2026-01-09
Chapter: CHAPTER 323 |
“Mas …,” bisik Fika lirih, suaranya bergetar. Matanya berkaca-kaca saat menatap Braga yang masih berlutut di hadapannya. Ia lalu mengangguk pelan. “Aku mau, Mas. Mau banget.” Senyum Braga langsung mengembang lebar, nyaris tak mampu ia sembunyikan. Ada lega, haru, dan bahagia yang bercampur jadi satu di dadanya. Empat bulan pendekatan yang penuh kesabaran, percakapan panjang hingga larut malam, saling mengenal luka dan mimpi satu sama lain—semuanya terbayar di detik itu. Braga berdiri, lalu dengan tangan yang sedikit gemetar menyematkan cincin itu ke jari manis Fika. Pas. Seolah memang sejak awal cincin itu diciptakan untuknya. “Syukurlah,” lirih Braga, dahinya menempel ke dahi Fika. “Saya takut keburu kehilangan kamu. Takut kamu berubah pikiran, atau diambil orang lain.” Fika terkekeh kecil di sela air matanya. “Kalau aku udah bilang mau, berarti aku serius, Mas.” Di belakang mereka, Salma mengusap sudut matanya yang basah. Ikut terharu meski Fika bukan anak kandungnya sendiri.
Last Updated: 2026-01-09
Chapter: CHAPTER 322 |
“Fika, ada apa, Nak?” Salma langsung menghampiri anak angkatnya itu. Fika menurunkan ponselnya dengan gerakan yang begitu pelan, meletakkannya ke atas meja. Tatapannya kemudian beralih pada Salma yang berdiri di sebelahnya. “Mas Braga masuk rumah sakit, Ma,” jawab Fika lirih. “Ya ampun,” Salma memegangi dadanya yang tiba-tiba terasa sesak. “Di rumah sakit mana, Fik? Kalau begitu, ayo kita ke rumah sakit sekarang,” Salma segera melepaskan celemeknya, bersiap untuk menemani Fika menemui Braga. Keduanya bergegas kembali ke kamar masing-masing, meraih ponsel dan dompet sambil memesan taksi online untuk menuju ke rumah sakit yang alamatnya sudah dikirim. _____ “Mama, Om Luke udah dateng dari belanja,” seru Arby begitu kembali ke kamar ibunya, Aurora. Wanita itu hanya menghela napas panjang, malas menanggapi lebih jauh. Tak lama, pintu kamar dibuka, dan menampilkan Luke datang membawa beberapa kantong belanja. “Aku udah beliin kamu susu ibu hamil, semua varian rasa. Yang mana kamu
Last Updated: 2026-01-09
Candu Dekapan Kakak Ipar

Candu Dekapan Kakak Ipar

Menjadi menantu termuda di keluarga konglomerat bukanlah suatu kebahagiaan, melainkan penjara. Djiwa diperlakukan layaknya pembantu oleh ibu mertuanya, dituntut sempurna, sementara suaminya hanya diam tak pernah membela. Di rumah besar itu, semua mata mengawasinya. Namun justru tatapan Radja—kakak ipar tertua yang dingin sekaligus dominan dan berwibawa, mampu membuat Djiwa tak bisa tenang. Lelaki itu hadir di antara keputusasaan Djiwa tinggal di rumah besar itu, menyalakan api hasrat yang seharusnya tak pernah ada. Semua ini salah. Cinta itu terlarang. Itu semua dosa. Tapi ketika Radja menyentuhnya, Djiwa tahu dirinya telah terjerat dalam dosa paling manis dan tak ada jalan untuk kembali.
Read
Chapter: BAB 137
“Pokoknya aku gak ikhlas,” Djiwa membuka suara saat mereka baru saja keluar dari ruang dokter kandungan. Langkahnya cepat, napasnya masih belum stabil.“Gak ikhlas kamu nanya macam-macam ke dokter. Bahkan aku sendiri gak mau tahu hasil pemeriksaan USG tadi. Jenis kelaminnya, plasentanya ada berapa—aku gak mau tahu apa pun.”Radja tetap berjalan di sampingnya dengan tenang, kedua tangan masuk ke saku celana. Wajahnya lurus menghadap depan, seolah kata-kata Djiwa hanya angin lalu.“Mas,” Djiwa berhenti mendadak dan berdiri tepat di hadapan Radja. “Kamu denger aku ngomong, gak?”Radja ikut menghentikan langkahnya. Ia menurunkan pandangan, menatap Djiwa dengan sorot mata yang jauh lebih lembut dari sikapnya barusan.“Iya, sayang,” jawabnya singkat, hampir berbisik.Satu kata itu membuat dada Djiwa mengencang. Panggilan itu, lagi, untuk kedua kalinya. Pipinya langsung memanas, jantungnya berdetak tidak beraturan.Radja mengulurkan tangan, menggenggam lengan Djiwa dengan mantap. “Sekarang k
Last Updated: 2026-01-10
Chapter: BAB 136
Radja melangkah masuk dengan santai, namun wibawanya langsung memenuhi ruangan.Aura dominan itu membuat udara terasa menegang seketika, seolah kehadirannya menggeser seluruh poros perhatian ke satu titik.Djiwa kembali menatap dokter di hadapannya. Tatapannya dingin, menuntut penjelasan tanpa kata. Dokter itu hanya menggeleng singkat, jelas tak tahu apa-apa, ia bahkan juga kaget.“Kamu datang ke sini tidak mengajak suami kamu, sayang?” tanya Radja ringan sambil mendekat, kedua tangannya terselip santai di saku celana.Ia menarik kursi di samping Djiwa, lalu duduk tanpa ragu. Satu tangannya terangkat dan merangkul bahu wanita itu seolah tindakan tersebut adalah hal biasa.Djiwa melirik tangan Radja di pundaknya, lalu menatap wajah pria itu dengan napas tertahan.“Mas ….” bisiknya menegur, tak nyaman karena masih ada dokter di hadapan mereka.“Hm?” Radja mengangkat kedua alisnya santai, sama sekali tak merasa bersalah.Ia menunduk, lalu mengecup kening Djiwa dengan lembut. Terlalu lemb
Last Updated: 2026-01-10
Chapter: BAB 135
Dokter kandungan itu tersenyum ramah setelah selesai memeriksa. Ia meletakkan pulpen, lalu menatap Djiwa dengan ekspresi menenangkan, cara khas dokter yang ingin memastikan pasiennya tidak cemas. “Baik, Bu Djiwa,” ucapnya dengan suara tenang dan profesional. “Dari hasil pemeriksaan hari ini, kehamilan Anda dalam kondisi sehat dan normal.” Djiwa mengangkat pandangan, napasnya sedikit lega. “Tekanan darah ibu stabil, detak jantung janin terdengar baik, dan perkembangan janin sesuai dengan usia kehamilan,” lanjut dokter itu sambil membuka lembar catatan medis. “Tidak ada tanda-tanda kontraksi dini atau gangguan pada rahim.” Dokter kemudian menjelaskan lebih rinci, menggunakan bahasa yang mudah dipahami. “Selama ibu tidak mengalami keluhan seperti nyeri hebat, pendarahan, atau pusing berlebihan, kehamilan ibu tergolong aman.” Djiwa mengangguk pelan, jemarinya refleks menyentuh perutnya. “Untuk aktivitas sehari-hari,” sambung dokter itu, “Ibu tetap boleh bekerja dan beraktivitas ri
Last Updated: 2026-01-10
Chapter: BAB 134
“Mantan gimana, Mi?” Inggrit mengangkat bahu, nada suaranya terdengar malas. “Gimana Inggrit bisa tahu, kalau orangnya aja belum pernah Inggrit lihat?” “Oh, soal itu …,” Sekar menyahut tenang. “Mami punya fotonya. Anggun sempat ambil gambar kemarin dan langsung kirim ke Mami. Dan Mami cukup yakin, pria ini sangat mirip dengan Anggi.” Sekar membuka tas tangannya yang mahal, mengeluarkan ponsel, lalu menyodorkannya pada Inggrit. Layar ponsel sudah terbuka pada galeri, menampilkan satu foto seorang pria. Dengan ragu, Inggrit menerima ponsel itu. Dan seketika, wajahnya menegang. Seorang pria berkemeja hitam, lengan digulung hingga siku memamerkan ototnya yang kekar, berdiri dengan sorot mata tajam yang begitu ia kenali. Dante. Darah Inggrit serasa tersedot turun. Namun ekspresi itu hanya bertahan sepersekian detik, cukup singkat untuk ia sembunyikan. “Kamu kenal?” tanya Sekar, menelisik wajah menantunya dengan saksama. “Mantan kamu?” Inggrit segera menggeleng pelan, lalu me
Last Updated: 2026-01-09
Chapter: BAB 133
“Keguguran?” gumam Radja dengan nada rendah, lalu tersenyum tipis. “Mana ada keguguran hanya karena berhubungan intim?” “Bisa jadi ada,” Djiwa mendorong wajah Radja yang terlalu dekat, cukup jauh agar ia bisa bernapas normal meski masih mencium aroma mint dari pria itu. Radja mengernyit, jelas tak sepenuhnya setuju dengan jawaban ambigu itu. Namun Djiwa melanjutkan, suaranya menurun dan sedikit ragu. “Gerakan yang terlalu intens bisa bikin janin terguncang.” Ia menggigit bibirnya, pipinya memerah karena malu. “Takutnya rahim aku kontraksi.” Radja terkekeh pelan. “Selama saya tidak kasar, harusnya aman.” “Tapi kan Mas Radja gak pernah pelan-pelan,” balas Djiwa refleks, terlalu jujur. Radja terdiam. Fakta itu sulit dibantah. Ia tak menyangka Djiwa akan menggunakan itu. Ia menghela napas berat, lalu menarik tubuhnya sedikit menjauh. “Saya janji bakal pelan,” ucapnya rendah, nyaris seperti permohonan. “Boleh?” Djiwa menggeleng. “Nggak. Djiwa gak yakin Mas Radja bisa nepatin janji
Last Updated: 2026-01-09
Chapter: BAB 132
“Anak Fairish laki-laki, Yun?” tanya Mbah Kinasih pada keponakannya, Sekar Ayunda, yang hari itu datang berkunjung untuk menyampaikan kabar baik. Sekar tersenyum lebar. “Iya, Bi. Akhirnya, setelah hampir lima tahun, ada juga yang memberi keturunan laki-laki dari tiga menantuku. Tapi ya … sebenarnya harapanku cuma dari dua menantu saja.” Anggun, adik kandung Sekar yang ikut duduk di sana, menyunggingkan senyum kecil. “Mbak, Mbak. Tetap saja, ketiganya menantu kamu. Mereka sama-sama mengabdi ke anak-anak kamu. Jangan dibeda-bedain begitu.” Sekar melirik Anggun dengan tatapan sinis. “Suka-suka aku, lah.” “Syukurlah,” ucap Mbah Kinasih tulus, matanya berbinar. “Akhirnya Fairish dan Kaisar akan segera punya anak.” Anggun spontan menutup mulutnya, menahan tawa. “Lho, kok jadi Kaisar, Bi? Fairish itu istrinya Sultan.” “Eh?” Mbah Kinasih tampak terkejut. “Terus … istrinya Kaisar siapa namanya?” “Kalau menantu dianggap gak penting, memang susah diingat, Bi,” sela Sekar dengan na
Last Updated: 2026-01-09
Dipaksa Nikah, Malah Kecanduan

Dipaksa Nikah, Malah Kecanduan

Di usianya yang baru delapan belas tahun, Savana Melati Wirajaya terpaksa menerima ajakan menikah Daryan Bumi Ardhanata—seorang CEO dingin dan dominan—demi biaya kuliah dan demi menyelamatkan ayahnya dari pemecatan. Walaupun begitu, pernikahan mereka berdua hanyalah pernikahan kontrak. Daryan hanya menggunakan Savana untuk melawan perjodohan sang ibu. Akan tetapi, seiring berjalannya waktu, batas-batas yang mereka bangun mulai runtuh dan tumbuh benih cinta di antara mereka.
Read
Chapter: BAB 500 : TAMAT SEASON - 2
Kini Elvano dan Amel sudah duduk di sebuah ruang private di restoran mahal yang ada di pusat kota. Makan malam sekaligus kencan pertama mereka setelah resmi berpacaran. “Ini ... apa gak terlalu berlebihan kita dinner di sini?” tanya Amel, pada Elvano yang duduk tenang di hadapannya. Mata Amel sesekali bergerak liar ke arah lain, mengamati setiap sudut ruangan mewah tersebut, bukan karena bosan, melainkan karena kegugupan. Meja mereka berada tepat di samping jendela full glass yang menjulang tinggi, memberikan pemandangan yang menakjubkan. Pemandangan dari sana langsung menghadap ke keindahan panorama kota saat malam hari. Gedung-gedung pencakar langit menjadi hamparan yang memanjakan mata, di mana lampu-lampu terang dari gedung-gedung perkantoran dan rumah-rumah di bawah sana berkelip layaknya bintang yang jatuh ke bumi. Suasana remang restoran dan gemerlap kota menciptakan kontras yang dramatis, menambah nuansa romantis namun sedikit mencekam bagi Amel yang pikirannya seda
Last Updated: 2025-11-28
Chapter: BAB 499 : Season 2 - Kencan pertama
Amel menatap refleksinya di cermin kamar. Ia mengenakan dress santai yang sudah ia pilih dengan hati-hati. Pikirannya berkelana ke mana-mana, dipenuhi gejolak perasaan yang sulit diurai. Hari ini, Elvano akan menjemputnya untuk kencan resmi—sebuah langkah besar setelah mereka menghabiskan waktu pendekatan intens selama sebulan terakhir, lalu resmi berpacaran. "Aku pantes, gak, ya?" gumamnya pada bayangan di cermin. Perasaan ragu itu datang menyerbu, bukan karena Elvano, tapi karena dirinya sendiri. Usianya terpaut dua tahun lebih tua dari Elvano, dan ia pernah melalui serangkaian konflik besar yang melibatkan keluarga Elvano. Ia merasa terbebani oleh masa lalunya dan tidak yakin apakah ia layak menerima ketulusan pemuda itu setelah pernah membuat adiknya membencinya. "Dia terlalu baik. Sedangkan aku cuma ...," Amel menarik napas dalam. “Aku anak biasa, level kita beda jauh. Tapi aku udah nerima dia, gimana dong?” Ia memutar badannya, menilai penampilannya lagi. Amel tahu
Last Updated: 2025-11-28
Chapter: BAB 498 : Season 2 - Permintaan maaf
Satu bulan berlalu pasca persalinan mendebarkan di rumah sakit. Kini, Elvara resmi menyandang gelar sebagai ibu muda di usianya yang sebentar lagi menginjak usia 21 tahun. Elvara duduk di tepi ranjangnya, wajahnya terlihat sedikit kelelahan tetapi memancarkan aura bahagia yang tak terbantahkan. Ia sedang mengamati putra kecilnya yang diberi nama Varrel yang diambil dari nama panggilannya dengan sang suami—Vara dan Darell. Varrel tengah tidur pulas di ranjang bayi di sampingnya. Sesekali bayi mungil menggemaskan itu menggeliat pelan, membuat senyum sang ibu merekah seperti bunga mawar. Kehidupan Elvara telah berubah total. Jadwal tidurnya kini diatur oleh jam menyusui dan tangisan putranya. Tugas kuliah dan tanggung jawab sebagai istri kini ditambah dengan peran sebagai seorang ibu dengan ilmu parenting seadanya. Meskipun ada saat-saat baby blues dan rasa frustrasi, kebahagiaan melihat Varel tumbuh sehat mengalahkan segalanya. “Dia tidur pulas sekali,” bisik Darell, yang
Last Updated: 2025-11-28
Chapter: BAB 497 : Season 2 - Elvara siuman
“Kenapa dengan istri saya, Bu? Kenapa dia pingsan setelah melahirkan anak kami?” desak Darell pada bidan yang menangani istrinya. Bidan tersebut tersenyum mencoba menenangkan kepanikan Darell. “Tidak perlu khawatir, Pak. Itu sudah biasa dialami oleh ibu hamil setelah melahirkan. Karena kehilangan banyak tenaga.” “Anda yakin?” tatapan Darell menajam, menusuk dan meminta penjelasan. “Tentu saja, Pak. Jangan khawatir, serahkan pada tim medis. Anda silakan mendamping bayi Anda yang sedang dibersihkan darahnya oleh perawat,” kata bidan tersebut, lalu meninggalkan Darell menuju Elvara yang sedang ditangani. Darell berbalik, menatap ranjang pasien di mana sang istri tampak dipasangkan nasa kanul oleh dokter. Hatinya seperti diremas dari dalam, takut terjadi apa-apa pada sang istri. Oek. Oek. Di sisi lain, perawat tengah membersihkan tubuh sang anak sebelum membalutnya dengan selimut agar tidak kedinginan. Darell segera menghampiri dan mengambil alih dari perawat tersebut. “Te
Last Updated: 2025-11-28
Chapter: BAB 496 : Season 2 - Tangani ibunya
“Mas, bukannya ... dokter bilang persalinannya kurang dua minggu lagi?” tanya Savana pada sang suami sambil berjalan menuju ruang VIP tempat Elvara melahirkan. “Gak harus pas, sayang. Kehamilannya sudah memasuki minggu ke tiga puluh tujuh. Bukannya sudah bisa lahiran?” “Iya, sih,” sahut Savana singkat. Di depan ruang VIP tersebut, Darell sudah menunggu di depan pintu ruangan. Dia memutuskan masuk ketika dokter sudah memanggil dan Elvara pembukaan terakhir. Karena tidak mungkin dia membiarkan keluarganya datang tanpa ada yang menyambut. Dan ketika telinganya menangkap langkah kaki di lorong, ia menemukan kedua mertuanya. “Gimana sama Elvara, Rell?” Savana bertanya dengan nada tak sabaran, hampir berlari menghampir menantunya. “Lagi di dalem, Ma. Dokter bilang mau panggil kalau sudah pembukaan terakhir,” tatapan Darell beralih ke lorong lagi. “Yang lain mana? Vano tidak datang ke sini?” “Vano lagi di jalan mungkin, tadi kita bareng berangkatnya. Tapi dia beda mobil. Kalau
Last Updated: 2025-11-28
Chapter: BAB 495 : Season 2 - Meja bersalin
“Vara?” gumam Elvano terkejut, begitu juga dengan Amel. Amel dengan cepat menarik genggaman tangannya dari Elvano, dan mundur beberapa langkah untuk menjauh. Kedua tangannya langsung mengusap bahu, canggung. Elvara dengan langkahnya yang lumayan susah payah karena perutnya yang besar, terus menghampiri Elvano dan Amel berdiri. Lalu, berdiri diantara keduanya. “Mau ngapain kakak tadi?” celetuk Elvara sinis. “Nembak Amel?” “Vara, ini bukan urusan kamu,” tegur Elvano tak suka, merasa tak enak dengan Amel. “Udah sana, kamu masuk ke dalem. Di sini nanti kamu bisa masuk angin,” ucapnya lembut. Tapi Elvara tak mengindahkan ucapan sang kakak. Tatapannya lurus pada Amel, “Kamu licik juga ya, ternyata. Bisa-bisanya kamu pake cara licik kayak gini!” Amel membulatkan matanya kaget, terkejut dengan ucapan Elvara yang tak dia mengerti. “Maksud kamu apa, El?” “Gak usah pura-pura polos kamu, Mel. Dasar munafik!” ucapnya tajam. “Vara! Jangan bicara sembarangan!” Elvano kembali menegur.
Last Updated: 2025-11-28
You may also like
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status