Mag-log inDeru mesin SUV hitam itu memecah kesunyian dini hari Griya Zadewa. Jam di ruang tengah baru saja berdenting menunjuk pukul dua pagi ketika Dewa, Bima, dan Dika melangkah masuk. Kemeja hitam Dewa basah terkena air hujan, namun matanya terbuka lebar, memancarkan kemenangan yang sekian lama tertahan. Tanpa membuang waktu untuk mengganti pakaian, Dewa langsung menuju ruang kerja pribadinya. "Kunci pintunya, Dika. Bima, siapkan laptop yang tidak terhubung ke internet. Kita tidak tahu apakah hardisk ini memiliki sistem pelacak atau tidak," perintah Dewa cepat, melepas kemeja basahnya dan meraih kaos bersih dari atas sofa. Bima bergerak sigap. Ia menyalakan sebuah laptop lalu menyambungkan hardisk hitam pemberian Dimas Aryo. Di tengah kesibukan itu, pintu ruang kerja berderit pelan. Zea berdiri di ambang pintu, mengenakan gaun tidur panjang berbahan satin, mengusap matanya yang masih mengantuk sambil memegangi perut buncitnya. "Kak Dewa...? Baru pulang?" tegur Zea dengan suara
Tiga hari berlalu sejak sidang pertama digelar. Hujan deras mengguyur ibukota Jakarta sejak sore, menciptakan tirai air yang membasahi kaca jendela besar di ruang kerja Dewa. Waktu tujuh hari yang diberikan oleh Majelis Hakim terasa seperti pasir yang mengalir cepat di dalam jam pasir. Tekanan publik tak kunjung mereda, dan berita tentang mertua Sadewa Adiraja masih menghiasi layar kaca setiap harinya. Di dalam ruang kerjanya yang temaram, Dewa berdiri bersedekap menghadap jendela. Tatapannya lurus menembus derasnya hujan, namun pikirannya berkecamuk menyusun ribuan skenario. Sesekali, ia menoleh ke arah sofa panjang di sudut ruangan. Di sana, Zea tertidur pulas dengan napas yang teratur. Selimut tebal berwarna abu-abu membalut tubuhnya yang tengah hamil delapan bulan. Di atas meja kecil di samping sofa, draf skripsinya berserakan bersama dengan coretan spidol tentang alur pencucian uang korporasi. Selama tiga hari berturut-turut, Zea memaksakan diri ikut menganalisis berkas, me
Dewa melangkah keluar dari arah pintu utama Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, disambut oleh kilatan lampu kamera dan cecaran puluhan jurnalis. Barikade petugas keamanan kewalahan menahan gelombang manusia yang saling dorong demi mendapatkan pernyataan langsung dari sang pengacara kondang. "Pak Dewa! Apakah tuduhan rekayasa korporasi dalam Eksepsi Anda tadi memiliki bukti kuat?" "Pak Dewa, JPU menyebut Eksepsi Anda salah kaprah dan terlalu dramatis! Bagaimana tanggapan Anda?" Dewa berhenti sejenak di anak tangga terakhir. Ia tidak menghindar, namun tatapannya yang tajam dan rahangnya yang tegas sudah cukup membuat beberapa wartawan di barisan depan menurunkan volume suara mereka. "Eksepsi kami bersandar pada logika hukum dan rentetan kejanggalan fakta," jawab Dewa dengan suara bariton yang menggema, menembus keriuhan suara para awak media. "Tugas Jaksa Penuntut Umum adalah membuktikan dakwaannya, bukan sekedar memamerkan kertas yang sudah dirancang sedemikian rupa oleh pih
Dewa menutup eksepsinya dengan kalimat yang menggetarkan. "Oleh karena itu, kami memohon agar Majelis Hakim Yang Mulia menyatakan Surat Dakwaan Jaksa Penuntut Umum Batal Demi Hukum, atau setidak-tidaknya tidak dapat diterima, dan membebaskan Terdakwa Hasan Kurniawan dari segala tahanan." Ruang sidang hening selama beberapa detik, sebelum akhirnya keriuhan meledak. Para jurnalis di barisan belakang sibuk mencatat, sementara bisik-bisik tajam memenuhi area pengunjung. Argumen Dewa baru saja melemparkan tuduhan telak bahwa petinggi Mahesa Group-lah dalang di balik semua ini. Sagara Mahesa mengeraskan rahangnya, urat di lehernya menonjol, sementara Hendra Sadikin menelan ludah dengan susah payah. TOK! TOK! TOK! "Pengunjung sidang harap tenang!" suara bariton Hakim Ketua menggema tajam, mengetukkan palunya hingga ruangan kembali senyap. Hakim Ketua kemudian menoleh ke sisi kanan ruangan. "Saudara Jaksa Penuntut Umum, Majelis telah mendengar nota keberatan atau Eksepsi dari piha
Dua puluh hari sudah berlalu. Di dalam sel Rutan Cipinang, Hasan menghabiskan hari-harinya di balik jeruji besi. Tubuh rentanya semakin menyusut, dan batuk kering mulai sering menderanya akibat udara sel yang lembap. Meski Dewa telah mengerahkan tim dari Adiraja & Associates untuk memastikan keamanan dan kenyamanan mertuanya, tak ada kemewahan yang bisa menggantikan kebebasan. Sementara itu di Griya Zadewa, Zea hanya bisa menghitung hari dengan perut yang semakin membesar. Usia kandungannya kini menginjak akhir bulan kedelapan. Sesuai janjinya pada Dewa, ia tak lagi menangis histeris. Ia menelan semua pedihnya dalam doa-doa panjang di sepertiga malam. Ia harus kuat. Hari ini adalah hari penentuan, hari di mana perang di meja hijau resmi dimulai. Pagi itu, Dewa berdiri di depan cermin besar kamarnya. Kemeja putih dan dasi hitamnya telah terpasang rapi. Di tangannya, ia memegang Toga Advokat berwarna hitam dengan garis merah di kerahnya. Zea melangkah pelan mendekati suaminy
Di balik kaca jendela mobil Alphard hitam yang melaju membelah pagi menuju kawasan Universitas Erlangga, suasana begitu hening. Hanya deru halus mesin dan hembusan pendingin udara yang mengiringi perjalanan mereka. Sepanjang perjalanan, tangan kokoh Dewa tak sekalipun melepaskan genggamannya dari jemari dingin Zea. Dewa menoleh, menatap profil wajah istrinya dari samping. Wajah cantik itu masih tampak pucat dengan lingkaran hitam samar di bawah mata. Sudah berhari-hari Zea tertekan, menelan pilu dan menangis diam-diam meratapi nasib Hasan yang kini mendekam di tahanan. "Zea," panggil Dewa pelan, meremas lembut jemari istrinya untuk menarik perhatiannya. Zea tersentak halus dari lamunannya, lalu menoleh lambat. "Iya, Kak?" "Dengarkan aku baik-baik," ujar Dewa dengan intonasi rendah. "Tiga jam dari sekarang, Pak Supri sudah harus menunggumu di lobi Fakultas Hukum. Selesaikan urusan revisi Bab Empat dan Lima dengan bu Hana, serahkan berkasnya, lalu langsung pulang. Jangan







