MasukDua kali dikhianati oleh pria yang memilih berselingkuh dengan kakak tirinya, Calista kehilangan kepercayaan pada cinta. Saat mantan tunangannya mengancam bisnisnya bahkan merendahkannya, Calista terpaksa menerima perjodohan yang baru ia ketahui dengan William Sinclair, pewaris keluarga paling berkuasa di dunia bisnis yang kabarnya lumpuh. Calista hanya menginginkan perlindungan, bukan cinta. Namun, di balik sikap dinginnya William menyimpan rahasia besar dan selalu melindungi istrinya tanpa ragu. Ketika sang mantan menyesal dan berusaha merebutnya kembali, semuanya sudah terlambat. Calista kini adalah istri William Sinclair, pria yang tak pernah mereka duga.
Lihat lebih banyak“Kenapa selingkuh, padahal akan menikah denganku?”
Saat menanyakan itu, suara Calista bergetar. Tangannya tampak gemetar di bawah meja, sementara pandangannya lurus tertuju ke pria yang sedang bersamanya
Di seberang meja restoran hotel, alih-alih menjawab pertanyaan tunangannya, Kevin Wibisono justru sibuk memotong dagingnya, seolah tidak ada masalah yang perlu dijelaskan. Pria itu kemudian menyuapkan potongan daging ke mulutnya tanpa sedikit pun menunjukkan rasa bersalah.
Hari ini tepat satu minggu sebelum pernikahan Calista dilangsungkan. Siang tadi, calon suaminya mengajak Calista untuk makan malam bersama setelah keduanya selesai meninjau persiapan pesta pernikahan.
Namun, baru saja Calista akan menyuapkan makanan, calon suaminya itu justru mengatakan bahwa semalam ia tidur dengan wanita lain.
Yang lebih buruk lagi, pria itu tidur dengan Audy Taslim, kakak Calista sendiri.
Bagaimana … Calista harus bersikap setelah mendengar informasi ini?
“Kalau mau membatalkan pernikahan–”
Kevin meletakkan pisaunya dengan sedikit keras. Bunyi logam beradu dengan piring terdengar tajam di antara ketegangan mereka. Ia menyandarkan punggung ke kursi, lalu menatap Calista dengan senyum penuh cemooh.
“Tidak perlu drama, Cal,” ucap pria itu santai. “Apa salahnya aku tidur dengan kakakmu? Lagipula, aku juga sudah tahu kalau kamu tidak sesuci yang selama ini kamu tunjukkan di depan publik.”
Calista mengernyit. “Apa maksudmu?”
Kevin mengangkat sebelah alisnya. “Audy sudah mengatakan semuanya padaku.”
Ia berhenti sejenak, seolah sengaja memberi waktu bagi Calista untuk menebak informasi apa yang sudah ia dapatkan.
“Kamu sudah menyerahkan keperawananmu kepada mantan calon suamimu beberapa tahun lalu, kan?”
Ucapan itu berhasil menghantam dada Calista hingga ia sulit bernapas. Pandangannya terpaku pada Kevin, tetapi pikirannya seketika terseret kembali ke masa lalu yang selama ini berusaha ia lupakan.
Lima tahun lalu, Calista yang baru saja lulus kuliah dilamar oleh pacarnya. Mereka hendak melangsungkan pernikahan andai saja ia tidak memergoki pacarnya tersebut berselingkuh dengan Audy sebulan sebelum pernikahan mereka.
Namun, alih-alih membelanya, keluarga justru menyalahkan Calista. Mulai dari menuduh Calista yang terburu-buru menikah padahal kakaknya belum, hingga dikatai gagal menjaga calon suami sendiri.
Ayahnya bahkan mengusirnya dari rumah tanpa memberikan sepeser pun uang.
Calista harus merangkak bangkit sendirian. Ia menelan penghinaan, bekerja keras, dan membangun bisnis yang selama ini hanya berani ia impikan.
Ketika Kevin datang membawa perhatian, cinta, dan janji ikatan suci pernikahan, Calista sempat percaya bahwa akhirnya ia menemukan seseorang yang bisa menerimanya. Tanpa bayang-bayang kakak tirinya.
Akan tetapi, ternyata lagi-lagi ia salah memilih.
Calista baru saja hendak membuka mulutnya saat suara tawa kecil yang terdengar feminin menghentikannya.
Tawa itu berasal dari ponsel Kevin yang menelungkup di atas meja.
“Calista, Calista,” ucap sebuah suara wanita yang ia kenal baik. “Harus kuakui, selera priamu memang bagus. Aku juga suka yang ini.”
Sepasang mata Calista membola. “Kamu … menelepon kakakku?”
Rupanya sejak tadi, ponsel Kevin terhubung ke panggilan aktif. Audy Taslim sedang mendengarkan percakapan mereka, menikmati setiap detik ketika Calista dipermalukan oleh pria yang seharusnya menjadi suaminya.
“Dia berhak tahu kalau aku sudah memberimu pelajaran,” ucap Kevin. “Toh, berkat dia, aku jadi tahu betapa nakalnya dirimu sebelum bersamaku.”
“Aku tidak pernah tidur dengan siapa pun.” Calista berusaha menjaga suaranya agar tidak pecah. “Kenapa kamu lebih percaya pada orang lain daripada calon istrimu sendiri?”
Kevin tertawa pendek, seolah ucapan Calista sama sekali tidak layak didengar.
“Sudahlah. Yang penting sekarang kita impas, kan? Kamu sudah tidur dengan mantanmu, dan aku juga sudah tidur dengan wanita lain semalam,” ucap Kevin lagi. “Kotor sama kotor, betul?”
“Kalau kamu menganggapku menjijikkan, lebih baik kita batalkan saja pernikahan ini,” ucap Calista. Suaranya masih bergetar, tapi ada ketegasan di dalamnya. “Aku tidak keberatan.”
“Bukan kamu yang harusnya mengambil keputusan di sini. Aku, yang paling dirugikan,” tukas Kevin. Ia mengembuskan napas kasar, tampak kesal karena harus menjelaskan sesuatu yang menurutnya sudah jelas. “Undangan sudah disebarkan ke seluruh relasi bisnis. Aku tidak mungkin membatalkan pernikahan ini dan membiarkan semua orang menertawakanku.”
Tatapannya bergerak dari wajah Calista hingga ke pakaiannya dengan tatapan merendahkan.
“Meskipun sudah bekas pakai, kamu masih bisa digunakan. Jadi, nikmati saja status barumu sebagai istriku.”
Calista merasa mual, sementara napasnya makin lama makin pendek-pendek karena menahan kemarahan di dada.
Dua kali ia memberikan kesempatan kepada cinta. Dua kali pula ia harus berhadapan dengan pengkhianatan yang datang dari orang-orang terdekatnya.
“Lalu, ini.” Perhatian Calista terfokus pada kartu akses kamar hotel yang diulurkan oleh Keviin. “Susul aku ke kamar kalau kamu sudah puas mengasihani dirimu sendiri. Kita harus melakukan pemanasan sebelum hari pernikahan. Kamu paham maksudku, kan?”
Calista menatapnya dengan rahang mengeras. Ia masih sulit menerima kenyataan bahwa pria yang akan menjadi suaminya dalam tujuh hari ke depan bisa memperlakukannya sehina ini, seolah ia tidak punya harga diri sama sekali.
Kevin kemudian bangkit hingga kursinya bergeser kasar, lalu bangkit dan menghampiri Calista. Disentuhnya bahu gadis itu, lalu diremasnya pelan sembari membungkuk, mendekatkan wajahnya ke arah Calista. Senyum di bibirnya menghilang, digantikan tatapan dingin yang membuat ancamannya terdengar semakin nyata.
“Keluarga Wibisono memegang kendali penuh atas bisnis kecilmu itu. Kalau kamu berani kabur, modal investasiku akan kutarik sekarang juga,” bisiknya dengan suara rendah tepat di samping telinga Calista. “Jadi jangan pernah main-main denganku, Sayang.”
“Apa maksudmu memblokir nomorku, Cal?”Kevin Wibisono menghantam meja kerja Calista hingga beberapa dokumen di atasnya bergeser. Wajahnya memerah, sementara napasnya terdengar berat menahan amarah.Undangan pernikahan mereka sudah tersebar ke seluruh relasi bisnis di penjuru kota. Pembatalan sepihak yang dilakukan Calista bukan hanya mempermalukannya di hadapan publik, tetapi juga membuatnya merasa kehilangan kendali atas keadaan.Calista mengangkat wajah dari layar komputer. Ia menatap mantan tunangannya tanpa menunjukkan rasa takut.“Hubungan kita sudah selesai, Kevin.” Suaranya terdengar tegas. “Sekarang, keluar dari ruanganku sebelum aku memanggil petugas keamanan.”Kevin mendengus sinis. Alih-alih menurut, ia justru merangsek mendekati meja dan mencengkeram lengan Calista dengan kasar.Calista seketika meringis kesakitan karena cengkeraman Kevin menyakiti tangannya. Ia berusaha menarik tangannya, tetapi jari-jari pria itu mengunci pergelangan tangannya begitu erat hingga rasa sak
Senyum Audy seketika menghilang. “Apa?”“Katamu dia pewaris keluarga kaya dan pernikahan dengannya bisa menjamin masa depan.” Calista menatapnya tenang. “Kalau memang itu yang paling penting, kenapa kamu tidak mengambil kesempatan ini?”“Bukankah selama ini kamu selalu menginginkan apa pun yang menjadi milikku?” sindir Calista.“Aku tidak sebodoh itu!” bentak Audy. Wajahnya merah padam kali ini. “Aku tidak mau menghabiskan hidup dengan pria yang bahkan tidak bisa berjalan sendiri!”“Jadi, kamu sendiri tidak mau menerimanya, tetapi kamu menyuruhku bersyukur karena mendapatkannya?”Wajah Audy memerah. “Jangan memutarbalikkan ucapanku!”“Aku hanya mengulang apa yang baru saja kamu katakan.” Calista menatap ayah dan ibu tirinya bergantian. “Kalian menyebut perjodohan ini sebagai kesempatan besar, tetapi tidak satu pun dari kalian bersedia mengambilnya sendiri. Kalian hanya ingin aku yang menanggungnya.”Dody menggebrak meja. “Jaga bicaramu, Calista!”Calista tidak mundur. Setelah bertahun
Calista masih bergeming di depan pintu. Tatapannya terkunci pada ketiga orang di depannya dengan penuh kebencian.Dody Taslim langsung mengernyit melihat sikap putrinya yang tetap diam.“Cara berdiri dan sikapmu itu menunjukkan kalau kami gagal mendidikmu, Calista” tegurnya tajam. “Bukankah seharusnya kamu menyambut kami dan bersikap lebih sopan.”Yuni Taslim segera mengelus lembut lengan suaminya, berusaha meredakan suasana dengan senyum tipis.“Sudahlah, Ayah. Calista mungkin masih syok karena pernikahannya batal. Kita harus memakluminya.” ucap Yuni dengan nada lembut, seolah ia adalah seorang ibu yang baik bagi Calista.Audy Taslim yang sedari tadi berdiri di samping Ibunya ikut tersenyum. Ia melangkah mendekati Calista sambil membenahi tas mahal yang tersampir di lengannya.“Kami datang karena khawatir padamu, Calista,” ujarnya dengan nada manis yang malah terdengar dibuat-buat di telinga Calista. “Setelah kabur dari Kevin, kamu mau ke mana? Daripada hidup luntang-lantung tanpa a
Calista menahan napas ketika pria asing itu masih berdiri begitu dekat di hadapannya. Ia bisa mencium aroma parfum maskulin dari tubuh pria itu.Calista memberanikan diri untuk menatap pria asing yang membantunya itu. Wajahnya tertutup masker hitam, sementara topi yang ditarik rendah membuat sebagian besar wajahnya tersembunyi dalam bayangan. Hanya sepasang mata tajam yang terlihat, mengawasi ujung lorong tanpa sedikit pun mengalihkan perhatian.Tangan besarnya masih menutupi mulut Calista. Meski sentuhannya tidak menyakitkan, cengkeramannya cukup kuat untuk membuatnya itu tak berani bergerak sembarangan.Di ujung lorong, Kevin masih mondar-mandir dengan jubah mandi kusut. Sesekali, pria itu berhenti untuk melihat ke arah koridor utama, seolah sedang mencari seseorang. Calista menahan diri agar tidak mengeluarkan suara. Ia tak ingin Kevin menemukan mereka, tetapi keberadaan pria asing yang tiba-tiba menariknya ke tempat tersembunyi juga membuatnya sulit memahami situasi.Siapa pria i


















Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.