Home / Romansa / Cinta Jatuh Tempo / Aksenna dan Isi Kepalanya

Share

Aksenna dan Isi Kepalanya

Author: Kalla Lunara
last update publish date: 2026-09-26 22:39:25

POV AKSENNA

Mungkin aku sudah tidak waras. Semua yang kulihat dalam diri Raia juga tubuhnya membuatku gila.

Cahaya matahari pagi menyelinap tipis di sela gorden, memantulkan pendar keemasan di atas kulitnya yang halus.

Perempuan itu masih terlelap di sampingku, bertumpu pada bantal yang agak miring, dengan selimut tebal yang membungkus tubuhnya sebatas dada. Sisa-sisa pergulatan kami semalam tercetak jelas di sana—tanda kemerahan samar di sekitar tulang selangkangnya yang kukecup tanpa ampun.
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Cinta Jatuh Tempo   Here I Am, On a Normal Day

    Aku tertegun, kehilangan kata-kata untuk membalas klaim sepihak yang mendadak terasa seperti rantai baru di leherku.Jantungku berdegup liar, tatapannya selalu begitu—menelanjangiku, bahkan di tengah kemacetan pagi ini.Lampu lalu lintas di depan berubah hijau. Aksenna menarik kembali tubuhnya ke posisi semula, menginjak pedal gas, dan melajukan kendaraan membelah sisa jalan menuju gedung perkantoran Distrik Utama. Sepanjang sisa perjalanan yang singkat itu, keheningan kembali menguasai kabin mobil, namun kali ini atmosfernya terasa berbeda—lebih panas dan sarat akan riak emosi yang tertahan.Begitu mobil memasuki area parkir VIP dan mesin mati, kami tahu bahwa waktu privat kami telah habis. Di luar kaca mobil yang gelap ini, Nusabuy menuntut profesionalisme.'Back to reality.'Aksenna melepaskan sabuk pengamannya. "Draf kontrak dari Gavin kemarin sudah saya pelajari. Kamu bisa minta tim admin cetak revisinya, lalu bawa ke ruangan saya jam sepuluh nanti, Raia."Aku cuma menganggu

  • Cinta Jatuh Tempo   It Sounds You're Jealous

    Raia memalingkan wajah, mendengus pelan mendengar kalimatku. Alih-alih mereda, dia justru menatapku dengan sudut bibir terangkat sinis—sebuah senyuman sarkas yang sangat khas dirinya saat mencoba membangun kembali dinding pertahanan."Yakin, aku gak masuk kantor, bisa istirahat tenang di sini? Sama kamu? I'm not sure," sindirnya telak.Matanya turun sekilas, melirik lenganku yang masih mengunci pinggangnya, lalu kembali menatapku dengan binar menantang yang sialnya selalu berhasil menyulut sesuatu di dalam dadaku. Dia sedang mengingatkanku tentang apa yang terjadi semalam, dan bagaimana "istirahat" bukanlah agenda utama jika aku berada di dekatnya.Aku terkekeh rendah, sebuah dengusan geli yang tidak bisa kutahan. Aku memajukan wajah, sengaja mengikis jarak hingga ujung hidung kami nyaris bersentuhan, membiarkannya merasakan embusan napas pagiku."Kamu meragukan kontrol diri saya, hm?" bisikku, sengaja merendahkan suara hingga menjadi geraman halus di dekat telinganya. Ibu jariku

  • Cinta Jatuh Tempo   Aksenna dan Isi Kepalanya

    POV AKSENNAMungkin aku sudah tidak waras. Semua yang kulihat dalam diri Raia juga tubuhnya membuatku gila. Cahaya matahari pagi menyelinap tipis di sela gorden, memantulkan pendar keemasan di atas kulitnya yang halus. Perempuan itu masih terlelap di sampingku, bertumpu pada bantal yang agak miring, dengan selimut tebal yang membungkus tubuhnya sebatas dada. Sisa-sisa pergulatan kami semalam tercetak jelas di sana—tanda kemerahan samar di sekitar tulang selangkangnya yang kukecup tanpa ampun. Aku bertopang dagu, memandangi wajah damainya saat tidur. Tanpa benteng pertahanan, tanpa kilat mata menantang yang semalam. Sialan. Mengingat kata-katanya semalam membuat dadaku kembali berdenyut nyeri. Budak. Transaksi. Utang.Bagaimana bisa isi kepalanya sekeras dan sekelam itu? Bagaimana bisa dia mengira aku mengulurkan tangan, menulis cek, dan menariknya ke dalam hidupku hanya untuk menjadikannya barang gadaian? Aku tahu persis bagaimana keluarganya yang keparat itu memperlakukannya s

  • Cinta Jatuh Tempo   A Moment of Doubt

    ​“Lepas, Senna...” Raia mendesis, berusaha meronta saat tangan Aksenna mendadak mencengkeram kedua pergelangan tangannya dan mendorong tubuhnya kembali rebah ke kasur tanpa perlawanan berarti. "Jangan sok tahu!"​“Saya tahu persis,” potong Aksenna tajam, mengurung tubuh Raia di bawahnya.​Dadanya bergemuruh hebat. Kalimat Raia barusan menghantam ulu hatinya telak-telak. Budak. Transaksi. Utang. 'Jadi selama ini, di balik setiap desah napas dan kehangatan yang mereka bagi, perempuan di bawah kurungannya ini melihatnya sebagai seorang rentenir?''​Sialan!'​Aksenna menatap manik mata Raia yang menyala menantang. Ia tahu betul latar belakang perempuan itu—ia adalah orang yang sama yang menulis cek seratus lima puluh juta untuk melunasi kekacauan yang dibuat kakak Raia di kantornya beberapa waktu lalu. Ia tahu persis bagaimana keluarga Raia memperlakukan perempuan itu tidak lebih dari sekadar mesin ATM berjalan, penopang ekonomi yang seluruh harga dirinya diukur dari lembaran uang.​

  • Cinta Jatuh Tempo   Bunga Berbunga, Amarah Membara

    Tubuh Raia terhempas ke atas kasur baru itu. Pegasnya mendesah pelan, sprei katun dingin menyentuh kulit punggungnya yang mendadak panas.Aksenna belum melepaskan pandangannya. Pria itu menopang tubuh di atas Raia dengan kedua lengan, mengurung perempuan itu di antara dada bidangnya dan kasur queen-size yang belum pernah dipakai siapa pun.Raia menelan ludah. Jantungnya berdebar terlalu kencang, sampai ia yakin Aksenna bisa merasakannya lewat udara yang menipis di antara mereka.“Sen…” suaranya nyaris hilang.Aksenna menunduk, hidungnya menyentuh pipi Raia, lalu berhenti tepat di sudut bibir.“Just say if you want to stop.”Kalimat itu diucapkan dengan suara berat, tapi tegas. Bukan ancaman. Justru semacam jaring pengaman yang sengaja dilempar di detik terakhir.Raia menatap lelaki di atasnya. Topeng bosnya hilang. Yang tersisa hanya Aksenna—dengan rahang mengeras, napas memburu, dan mata gelap yang menahan sesuatu terlalu lama.“Don’t stop,” bisik Raia.Dan bagi Aksenna itu cukup. I

  • Cinta Jatuh Tempo   Satisfying Reward

    Pintu unit apartemen baru itu terbuka setelah Raia menekan kombinasi password yang diberikan Aksenna. Begitu melangkah masuk, Raia terpaku tepat di balik pintu masuk apartemennya. Matanya membelalak, menyapu setiap sudut ruangan yang bernuansa modern-minimalist dengan sentuhan warna hangat dan jendela kaca besar yang langsung menghadap ke gemerlap lampu kota di waktu senja.Langit-langit tinggi. Lampu gantung linen putih yang memantulkan cahaya keemasan ke lantai kayu oak. Jendela kaca besar di sisi kanan—dan di baliknya, city view yang mulai menyalakan lampu-lampunya, berkelip seperti bintang yang jatuh.Warna bumi yang hangat. Modern, tapi tidak dingin. Ringkas, tapi tidak sesak.“Wow, manis banget.”Di sudut ruangan, sofa beludru abu-abu tua dengan bantal mustard dan terracotta berdiri menghadap jendela. Di sebelahnya, rak buku rendah—dan Raia mengenali tiga judul di sana. Buku-buku yang pernah ia sebutkan dalam obrolan santai mereka minggu lalu.“Dan buku itu? Amazing ya kamu mas

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status