แชร์

It Sounds You're Jealous

ผู้เขียน: Kalla Lunara
last update วันที่เผยแพร่: 2026-09-27 23:57:48

Raia memalingkan wajah, mendengus pelan mendengar kalimatku.

Alih-alih mereda, dia justru menatapku dengan sudut bibir terangkat sinis—sebuah senyuman sarkas yang sangat khas dirinya saat mencoba membangun kembali dinding pertahanan.

"Yakin, aku gak masuk kantor, bisa istirahat tenang di sini? Sama kamu? I'm not sure," sindirnya telak.

Matanya turun sekilas, melirik lenganku yang masih mengunci pinggangnya, lalu kembali menatapku dengan binar menantang yang sialnya selalu berhasil menyulut ses
อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป
บทที่ถูกล็อก

บทล่าสุด

  • Cinta Jatuh Tempo   It Sounds You're Jealous

    Raia memalingkan wajah, mendengus pelan mendengar kalimatku. Alih-alih mereda, dia justru menatapku dengan sudut bibir terangkat sinis—sebuah senyuman sarkas yang sangat khas dirinya saat mencoba membangun kembali dinding pertahanan."Yakin, aku gak masuk kantor, bisa istirahat tenang di sini? Sama kamu? I'm not sure," sindirnya telak.Matanya turun sekilas, melirik lenganku yang masih mengunci pinggangnya, lalu kembali menatapku dengan binar menantang yang sialnya selalu berhasil menyulut sesuatu di dalam dadaku. Dia sedang mengingatkanku tentang apa yang terjadi semalam, dan bagaimana "istirahat" bukanlah agenda utama jika aku berada di dekatnya.Aku terkekeh rendah, sebuah dengusan geli yang tidak bisa kutahan. Aku memajukan wajah, sengaja mengikis jarak hingga ujung hidung kami nyaris bersentuhan, membiarkannya merasakan embusan napas pagiku."Kamu meragukan kontrol diri saya, hm?" bisikku, sengaja merendahkan suara hingga menjadi geraman halus di dekat telinganya. Ibu jariku

  • Cinta Jatuh Tempo   Aksenna dan Isi Kepalanya

    POV AKSENNAMungkin aku sudah tidak waras. Semua yang kulihat dalam diri Raia juga tubuhnya membuatku gila. Cahaya matahari pagi menyelinap tipis di sela gorden, memantulkan pendar keemasan di atas kulitnya yang halus. Perempuan itu masih terlelap di sampingku, bertumpu pada bantal yang agak miring, dengan selimut tebal yang membungkus tubuhnya sebatas dada. Sisa-sisa pergulatan kami semalam tercetak jelas di sana—tanda kemerahan samar di sekitar tulang selangkangnya yang kukecup tanpa ampun. Aku bertopang dagu, memandangi wajah damainya saat tidur. Tanpa benteng pertahanan, tanpa kilat mata menantang yang semalam. Sialan. Mengingat kata-katanya semalam membuat dadaku kembali berdenyut nyeri. Budak. Transaksi. Utang.Bagaimana bisa isi kepalanya sekeras dan sekelam itu? Bagaimana bisa dia mengira aku mengulurkan tangan, menulis cek, dan menariknya ke dalam hidupku hanya untuk menjadikannya barang gadaian? Aku tahu persis bagaimana keluarganya yang keparat itu memperlakukannya s

  • Cinta Jatuh Tempo   A Moment of Doubt

    ​“Lepas, Senna...” Raia mendesis, berusaha meronta saat tangan Aksenna mendadak mencengkeram kedua pergelangan tangannya dan mendorong tubuhnya kembali rebah ke kasur tanpa perlawanan berarti. "Jangan sok tahu!"​“Saya tahu persis,” potong Aksenna tajam, mengurung tubuh Raia di bawahnya.​Dadanya bergemuruh hebat. Kalimat Raia barusan menghantam ulu hatinya telak-telak. Budak. Transaksi. Utang. 'Jadi selama ini, di balik setiap desah napas dan kehangatan yang mereka bagi, perempuan di bawah kurungannya ini melihatnya sebagai seorang rentenir?''​Sialan!'​Aksenna menatap manik mata Raia yang menyala menantang. Ia tahu betul latar belakang perempuan itu—ia adalah orang yang sama yang menulis cek seratus lima puluh juta untuk melunasi kekacauan yang dibuat kakak Raia di kantornya beberapa waktu lalu. Ia tahu persis bagaimana keluarga Raia memperlakukan perempuan itu tidak lebih dari sekadar mesin ATM berjalan, penopang ekonomi yang seluruh harga dirinya diukur dari lembaran uang.​

  • Cinta Jatuh Tempo   Bunga Berbunga, Amarah Membara

    Tubuh Raia terhempas ke atas kasur baru itu. Pegasnya mendesah pelan, sprei katun dingin menyentuh kulit punggungnya yang mendadak panas.Aksenna belum melepaskan pandangannya. Pria itu menopang tubuh di atas Raia dengan kedua lengan, mengurung perempuan itu di antara dada bidangnya dan kasur queen-size yang belum pernah dipakai siapa pun.Raia menelan ludah. Jantungnya berdebar terlalu kencang, sampai ia yakin Aksenna bisa merasakannya lewat udara yang menipis di antara mereka.“Sen…” suaranya nyaris hilang.Aksenna menunduk, hidungnya menyentuh pipi Raia, lalu berhenti tepat di sudut bibir.“Just say if you want to stop.”Kalimat itu diucapkan dengan suara berat, tapi tegas. Bukan ancaman. Justru semacam jaring pengaman yang sengaja dilempar di detik terakhir.Raia menatap lelaki di atasnya. Topeng bosnya hilang. Yang tersisa hanya Aksenna—dengan rahang mengeras, napas memburu, dan mata gelap yang menahan sesuatu terlalu lama.“Don’t stop,” bisik Raia.Dan bagi Aksenna itu cukup. I

  • Cinta Jatuh Tempo   Satisfying Reward

    Pintu unit apartemen baru itu terbuka setelah Raia menekan kombinasi password yang diberikan Aksenna. Begitu melangkah masuk, Raia terpaku tepat di balik pintu masuk apartemennya. Matanya membelalak, menyapu setiap sudut ruangan yang bernuansa modern-minimalist dengan sentuhan warna hangat dan jendela kaca besar yang langsung menghadap ke gemerlap lampu kota di waktu senja.Langit-langit tinggi. Lampu gantung linen putih yang memantulkan cahaya keemasan ke lantai kayu oak. Jendela kaca besar di sisi kanan—dan di baliknya, city view yang mulai menyalakan lampu-lampunya, berkelip seperti bintang yang jatuh.Warna bumi yang hangat. Modern, tapi tidak dingin. Ringkas, tapi tidak sesak.“Wow, manis banget.”Di sudut ruangan, sofa beludru abu-abu tua dengan bantal mustard dan terracotta berdiri menghadap jendela. Di sebelahnya, rak buku rendah—dan Raia mengenali tiga judul di sana. Buku-buku yang pernah ia sebutkan dalam obrolan santai mereka minggu lalu.“Dan buku itu? Amazing ya kamu mas

  • Cinta Jatuh Tempo   Have a Breathtaking Night, Sweetie!

    Raia merapatkan bibir, matanya melirik ke kanan-kiri sebelum memajukan tubuhnya lebih dekat ke tengah meja."Itu fasilitas kata dia. Dan reward..." Raia menelan ludah sejenak, suaranya merosot jadi bisikan super pelan, "... for being so damn satisfying in bed. Kata dia."“Astaga!” Dira sontak memukul meja.Beberapa pengunjung di meja sebelah refleks menengok, membuat Raia langsung melotot panik dan memberi isyarat tangan agar sahabatnya itu diam. Tapi Dira sudah telanjur histeris dengan tangan menangkup mulutnya sendiri."Ah gila! For being so damn satisfying in bed. Astaga, stop it! Gue ga sangggup lagi dengernya. Bisa ikutan horny gue!" seru Dira dengan suara tertahan yang dipenuhi tawa heboh.Raia refleks menyambar bantal kursi di sebelahnya dan memukulkannya pelan ke lengan Dira. "Mulut lo ya, Dira!""Gue cerita gini karena gue stres ya, bukan buat bikin lo ikut kepancing!""Ya gimana gue nggak kepancing, Raia!" Dira melepaskan tisu dari wajahnya sambil masih terpingkal-pingkal. "

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status