Compartir

Bab 25

Autor: Iyustine
last update Fecha de publicación: 2026-09-14 13:00:32

Pergerakan roda empat itu amat pelan. Dengan jendela yang tampak sengaja dibuka. Dan Dion menoleh ke arah gang…

Set. Tiara segera menarik diri. Bersembunyi di belakang badan Eva yang lebih besar darinya.

“Kenapa, Kak?” Eva tampak panik.

Tiara lebih panik lagi. Otaknya cepat berputar, lalu mendadak memegangi perut. “Tiba-tiba mules.”

Eva terkekeh. “Ya, ampun, Kak… kirain kenapa. Udah tinggal aja nggak pa-pa, taksinya juga sebentar
Continúa leyendo este libro gratis
Escanea el código para descargar la App
Capítulo bloqueado
Comentarios (1)
goodnovel comment avatar
Culuu Culkeng
curiga ,,, semoga mbak tiara aman2 aja
VER TODOS LOS COMENTARIOS

Último capítulo

  • Cinta Kedua Setelah Menjanda   Bab 32

    Josh tidak merespon telepon Tiara, tapi tiga puluh menit kemudian lelaki itu mengirimkan pesan. Mengatakan bahwa saat ini dia sedang berada di klub sepak bolanya sampai sekitar jam dua belas. “Va, Josh mengundang kita makan siang di rumahnya. Gimana?” Tiara bertanya dengan layar ponsel yang masih menyala. “Katanya, sore nanti mau keluar kota untuk pertandingan.”“Terserah Kakak, aku ngikut aja,” sahut Eva. “Hari ini kuliahku jam dua.”“Gimana ya? Nggak enak ngerepotin terus, tapi kalau menunggu sampai Josh pulang… masih dua hari lagi.” Tiara merasa dia perlu bertemu Josh sesegera mungkin, ingin memohon agar Josh berhenti memberi bantuan. Bukannya tidak bersyukur, tapi dia merasa yang Josh lakukan untuk dirinya sudah terlalu banyak.“Ya udah, terima aja… eh, gimana kalau kita datengnya jam sebelas, bantuin mamanya siapin makan siang?” usul Eva. “Bang Josh tinggal berdua sama mamanya, kita beri kejutan aja gitu.”Tiara setuju. Lalu menginformasikan pada Josh bahwa mereka menerima undan

  • Cinta Kedua Setelah Menjanda   Bab 31

    “Mamah paham kalau kamu kecewa sama Dion, kemarahan kamu itu wajar… banget, tapi jangan menghilang. Yang tersiksa itu ayahmu, Sayang.” Bu Lela terus membujuk. “Atau kalau memang kamu belum mau pulang. Kasih tau Mamah kamu ada di mana, paling nggak ayahmu ini tenang kalau tau kamu di tempat yang aman.”Tiara menyeka air matanya. “Mah, tolong… biarin aku bicara sama Ayah dulu.”Terdengar dengusan kuat yang menerpa telinga Tiara, disambung decak kesal yang tentu saja itu keluar dari mulut ibu tirinya.“Tiara,” panggil Pak Reza. Nadanya menggantung. Sementara sayup-sayup terdengar suara Bu Lela di belakangnya. Seperti sedang mendikte sang suami dengan kalimat-kalimat untuk membujuk Tiara pulang.Tiara memejamkan mata. Bisa mendengar maksud yang diucapkan Bu Lela. “Yah, aku baik-baik aja di sini. Ada orang baik hati yang menolong aku.”“Jadi benar kamu pergi sama laki-laki?” Pak Reza terdengar tidak dapat menutupi rasa terkejutnya.Tiara menelan ludah. Bingung, tapi pada akhirnya mengiyaka

  • Cinta Kedua Setelah Menjanda   Bab 30

    “Dijemput laki-laki?” Mata Dion membelalak tak percaya.“I-iya… ganteng, mobilnya bagus….” Suara Bu Munji sayup, terdengar ringan mengalir.Lelaki itu menghembus napas pelan-pelan, tangannya yang memegang ponsel meluruh perlahan. Tanpa salam, dia menekan tombol untuk mengakhiri sambungan. Dion tercenung dalam posisi itu sampai menit berlalu. Sesekali menarik napas lagi, menelan ludah. Siapa laki-laki yang bersama Tiara? Rasanya Tiara sudah lama tidak bersosialisasi dengan teman-temannya, apalagi teman lelaki. Mungkinkah orang baru? Tapi siapa?Kret. Pintu terbuka, tampak sosok Pevita. Tersenyum manis.“Mas… belum selesai?” Perempuan itu berangsur mendekat. Meletakkan kedua tangan di bahu Dion. Melihat laptop yang terbuka dengan dokumen berjudul ‘laporan bulanan’. “Apa laporannya harus beres malam ini juga, Mas?”“Iya, buat bahan meeting besok pagi. Tapi sebentar lagi selesai kok.” Jari Dion mulai memegang keyboard laptop yang sedari tadi sebenarnya tidak dia sentuh. Lalu bergerak, se

  • Cinta Kedua Setelah Menjanda   Bab 29

    Pak Reza mengangguk.“Cepat, Yah. Takut nanti dia kabur!” Bu Lela nyaris berteriak.Pak Reza, yang badannya juga tambun, bergerak secepat dia bisa. Bu Lela mengikutinya dari belakang. Di tengah koridor mereka bisa melihat seorang perempuan berjaket, turun dari motor, membuka helm… bukan Tiara.Keduanya spontan berhenti. Saling menatap. “Bukan ternyata, Mah,” desis Pak Reza. “Mungkin betul kata ibu itu, Tiara sudah pergi dari sini.”“Ck, mana mungkin, Yah. Tiara baru pergi tiga hari dari rumah, mana ada nge-kost cuma tiga hari. Kita balik ke ibu itu, biar aku yang paksa….” Bu Lela melangkah bergegas kembali ke rumah Bu Munji.Sang empunya rumah sudah dalam keadaan duduk di teras. Tampak lebih santai dari ketika Bu Lela tinggalkan tadi. Dia tersenyum saat kedua orang tua Tiara itu berangsur mendekat.“Bu, jangan kira kami hanya menggertak ya.” Bu Lela menghembus napas, sedikit ngos-ngosan karena tubuh gemuknya rentan capek jika dibawa jalan terlalu cepat.“Saya juga bicara apa adanya, B

  • Cinta Kedua Setelah Menjanda   Bab 28

    Dion menghembuskan napas. Bergerak merogoh saku celana.Bu Lela tampak menjawil lengan Pak Reza. Lelaki itu pun meringis, dan berkata, “Nak Dion… apa boleh sekalian minta jatah yang bulan besok? Kan tinggal dua hari lagi dari jadwal biasa?”“Iya, Nak. Cuma maju dua hari nggak apa-apa ya.” Bu Lela tersenyum-senyum.Dion menghentikan gerakannya. Tidak jadi mengambil dompet, melainkan kembali membuka ponselnya. “Aku transfer kalau gitu.”“Tapi dilebihin sama ongkos yang sekarang ya, hehe mengingatkan saja… takut lupa.” Kedua orang tua Tiara itu cengengesan sambil saling melirik.Dion diam saja. Tetap menggerakkan jari jemarinya di layar ponsel. Sesaat kemudian ponsel Pak Reza berbunyi, dan detik itu juga senyum ayah kandung Tiara tersebut merekah sumringah. “Makasih, Nak Dion.”“Aku tunggu ya, Yah. Nggak usah telpon, langsung bawa Tiara pulang aja.” Dion bangkit.“Siap, siap.” Pak Reza ikut bangkit. Demikian pula dengan Bu Lela.Tanpa perlu menunggu keduanya meninggalkan rumah, Dion lang

  • Cinta Kedua Setelah Menjanda   Bab 27

    Satu pesan masuk lagi. Mengirim sebuah titik lokasi yang dimaksudkan.Dion spontan mengepalkan tangan. Senang bukan main karena firasatnya tidak salah. Tadi dia sudah bolak balik menyusur jalan di sekitar gangnya, sebelum akhirnya menemukan sebuah tongkrongan bapak-bapak tak jauh dari situ.Lelaki itu menghembus napas lega, berjalan ke ruang makan sembari tersenyum. Senyumnya yang terlalu sumringah justru membuat Pevita menjadi curiga.“Jangan bilang alasan pipis tadi karena mau telponan sama cewek lain ya,” cetus Pevita. Matanya kembali menghunjam.Yang lain ikut menatap Dion.“Sayang…” Dion gegas merangkul istrinya itu. Meremas lembut bahu Pevita. “Yang bikin aku senang itu karena bonus tiga bulanan baru aja cair.”Tatapan Pevita perlahan berubah, senyumnya pun merekah. “Serius?”Dion mengangguk.“Bisa pas ya, Mas. Buat bulan madu kedua kita.” Pevita tanpa malu memeluk sang suami, lalu mendaratkan cium di pipi Dion dalam-dalam.“Hmm… makanya jangan curiga dulu kamu,” celetuk Bu Nita

Más capítulos
Explora y lee buenas novelas gratis
Acceso gratuito a una gran cantidad de buenas novelas en la app GoodNovel. Descarga los libros que te gusten y léelos donde y cuando quieras.
Lee libros gratis en la app
ESCANEA EL CÓDIGO PARA LEER EN LA APP
DMCA.com Protection Status