INICIAR SESIÓNBegitu putra tunggalnya tewas, Tiara langsung dianggap tidak berharga, hanya karena dia tidak bisa hamil lagi. Seminggu kemudian suaminya pun menikahi seorang perempuan muda. Tiara hancur, tapi tidak tinggal diam. Dia berjuang agar dapat lepas secepatnya dari rumah yang sudah meremehkannya itu. Sementara di luar sana ada Josh Antony, seorang mantan atlet yang rupawan, yang terus menaruh peduli pada Tiara sejak pertama kali mereka bertemu. Pria itu tenang, senyap, tapi selalu terdepan mengulurkan tangan.
Ver más“Jangan bodoh, Tiara! Cepat kamu balik ke rumah suamimu sekarang juga!” Suara Pak Reza menggelegar.
Tak cukup hanya dengan bentakan, ayah kandung Tiara itu juga mendorong Tiara keluar, bahkan sebelum sang anak benar-benar melewati pintu ruang tamu untuk masuk ke rumah mereka. Tiara terhuyung. Terpaksa membiarkan tas besar yang dia bawa lepas dari genggamannya, daripada dia ikut jatuh bersama tas itu. “Ayah….” Tiara menatap ayahnya tidak percaya. Air matanya yang sedari tadi meluncur, bertambah deras. “Kemana lagi aku harus pulang kalau bukan ke rumah ini? Aku nggak punya siapa-siapa lagi, Yah.” “Tuh, sadar udah nggak punya siapa-siapa, kenapa kamu malah pergi dari rumah suamimu?” timpal Bu Lela, ibu tiri Tiara. Perempuan yang memakai daster itu bersedekap, sedikit mendongak. Tiara menggeleng-geleng. “Mah, Mas Dion mau nikah lagi...” “Ya terus masalahnya di mana?” Bu Lela meninggikan suara. “Suamimu cuma mau nikah lagi, bukan menceraikan kamu.” “Kok Mamah tega ngomong gitu? Kita sama-sama perempuan, Mah, coba seandainya—” “Diam!” Pak Reza memotong ucapan Tiara. “Nggak perlu seandainya-seandainya… Dion itu sudah minta ijin sama Ayah, dan dia bilang kamu akan tetap menerima semua yang biasanya kamu terima selama ini, nggak akan dikurangi sedikit pun.” “Kamu harusnya bersyukur, Tiara. Masih bisa hidup gratis di rumah suamimu, tidur nyaman, makan kenyang… intinya kamu masih bisa menikmati hidup. Lagian kamu sudah tua juga, jangan kayak anak kecil!” Lagi-lagi Bu Lela menyambar. “Kamu pikir enak jadi janda? Mamah ini pernah jadi janda sebelum nikah sama ayahmu. Mau apa-apa susah, apalagi di jaman sekarang yang semuanya pakai duit. Kalau Mamah masih mending, dulu waktu jadi janda masih muda, masih banyak laki-laki yang mau, lah kamu….” Bu Lela mencibir. “Liat dirimu, udah tua, nggak bisa punya anak lagi—” Ocehan Bu Lela berhenti saat mendengar suara dehem dari Pak Reza. Namun hanya sedetik saja, setelah itu dia menatap suaminya. “Loh, bener kan, Yah? Mau bujang, duda atau kakek-kakek sekali pun, yang dicari laki-laki pasti ya perempuan muda. Yang masih seger, montok…” Bu Lela beralih memandang Tiara kembali. Menghela napas. “Sadarlah, Tiara, bukan Mamah mau menghina kamu, tapi umurmu udah nggak muda lagi. Udah deket ke lima puluh kan? Nggak akan laku lagi kamu.” Tiara menggigit bibirnya. Pedih mendengar semua ucapan itu. Padahal tadi saat terburu meninggalkan rumah, Tiara berpikir akan mendapat pelukan, atau setidaknya sambutan yang hangat seperti yang biasa ibu tirinya lakukan kalau dia berkunjung ke sini. Dia bahkan berangan-angan ayahnya marah lalu pergi untuk melabrak Dion. Nyatanya? Tiara bergerak menghapus air matanya. Menatap kedua orang tua yang selama ini dia hormati. “Yah, aku memilih bercerai demi harga diriku, bukan ingin mencari suami baru.” “Tiara, Tiara... harga diri yang gimana sih? Kalau kamu bercerai, Dion nggak kasih uang bulanan, terus gimana kita hidup? Masa kamu tega membebankan semua sama kami? Ayahmu ini sudah tua loh.” Seperti tadi, Bu Lela lagi yang menyahut. “Yah… tolong aku, sama siapa lagi aku minta tolong kalau bukan sama Ayah?” Tiara mencoba mengabaikan ocehan ibu tirinya. Dia masih sangat berharap ayah kandungnya ini bersedia berpikir ulang. “Tolong pahami perasaanku. Sakitku kehilangan Lio belum sembuh. Sakit banget, Yah, apalagi harus tinggal serumah sama maduku.” Lionel, anak semata wayangnya, baru saja meninggal setelah mengalami kecelakaan seminggu yang lalu. Namun Dion yang seharusnya menjadi tempat sandaran untuk saling menguatkan, justru ribut ingin cepat menikah lagi. Katanya dia harus mengejar waktu agar mempunyai keturunan sesegera mungkin, sebagai penerus nama keluarganya. Pak Reza menghela napas. Menoleh pada istrinya. “Mah, ambilkan kunci mobil, kita antar Tiara balik ke rumah suaminya.” “Yah… kenapa Ayah tega sama aku? Anakmu ini sudah disia-siakan suami sendiri, harusnya Ayah bela aku.” Tiara spontan bersimpuh di kaki sang ayah. Tangisnya benar-benar meledak. “Sudah, Tiara. Bangunlah, nanti kalau tetangga dengar malah kita jadi tontonan, jadi bahan gosip. Ayo bangun!” Pak Reza mencekal lengan Tiara. Sekuat tenaga dia memaksa Tiara berdiri. “Bukan Ayah tega, tapi hidup harus realistis. Kalau kamu pergi dari suamimu, kita semua jadi susah. Ingatlah, hidup Ayah sekarang juga sebagian besar mengandalkan uang dari kamu, kalau kamu bercerai dari Dion….” Tiara menggigit bibir. Menahan tangisnya yang siap meledak kembali. “Lagian suamimu juga punya alasan jelas. Dia anak tunggal dari ayahnya yang juga tunggal. Kalau kamu masih bisa hamil, Dion juga nggak akan menikah lagi. Seharusnya kamu bersyukur nggak diceraikan.” Pak Reza mengusap pundak Tiara. “Sekarang Ayah balik tanya, apa kamu nggak kasihan sama Ayah? Kamu anak pertama Ayah, sudah sepatutnya kamu menjadi sandaran hidup Ayah di masa tua ini. Atau kamu pengen liat Ayah jualan lagi di pasar? Tiap subuh harus memanggul karung?” “Ayah….” Tiara menghambur. Memeluk sosok ringkih di depannya. Kilasan kondisi mereka yang susah dulu, menambah lubang di dalam dadanya. Mendadak dia merasa bersalah. Bersamaan dengan itu, Bu Lela yang tadi masuk untuk melaksanakan perintah suaminya, keluar dengan kunci mobil di tangan. Dia pun langsung ikut bergabung dalam pelukan suami dan anak tirinya tersebut. “Tiara, kami sayang sama kamu. Percaya sama Mamah, dimadu itu jauh lebih baik daripada jadi janda. Apalagi janda setua kamu.” Suara Bu Lela begitu lembut. Sungguh berbeda dengan sikapnya yang tadi. “Ayo, kita pulang ke rumahmu.” *** Sampai di rumah Dion, mereka disambut wajah kesal Bu Nita, ibu kandung Dion alias mertua Tiara. “Ngapain kamu balik?” “Bu Nita….” Bu Lela meraih tangan besannya itu. Dia sampai membungkukkan badan ketika mencium tangan Bu Nita. “Maafkan Tiara, tapi tadi kami sudah nasehatin dia, Bu. Tiara sekarang sudah sadar dan mengakui kesalahannya.” Bu Lela menoleh pada Tiara. Tersenyum lembut. “Tiara, ayo bersimpuh minta maaf sama bundamu.” “Nggak usah! Pergi saja sana, dipikir Dion akan kehilangan?” Bu Nita terkekeh. “Lagian Dion sudah ada Pevita. Lebih cantik, lebih muda, lebih pantas jadi menantu Bunda.”Tiara spontan melongo. Terlebih pada panggilan ‘Nyonya’ yang dia yakin itu untuk Pevita. “Jadi… aku diusir dari kamarku sendiri?”Bi Ima terdiam. Kepalanya semakin menunduk.Tiara menelan ludah. Rasanya perkataan ibu tirinya satu per satu mulai menjadi kenyataan. “Bu, yang sabar ya.” Bi Ima mendekati Tiara. “Maaf lancang… kalau boleh saran, Ibu jangan cepat menyerah. Terus bertahan. Bibi yakin, Bapak sebenarnya masih mencintai Ibu.”Tiara tersenyum getir. Ayah, ibu tirinya, keluarga besar Dion, dan kini asisten rumah tangganya juga meminta dia bersabar, bertahan dan menerima menjadi istri yang diduakan. Apa benar karena dia sudah tidak terlalu berguna menjadi istri, seperti ucapan Dion?“Maaf, Bibi bersihkan dulu ya, Bu.”Tiara tidak menjawab, tetapi dia bergerak menuju balkon. Tangannya masih memegang gambar singa itu. Dipandangnya lekat-lekat. Kertasnya yang sudah sangat lusuh, ada bekas selotip di setiap sudutnya yang meninggalkan sobekan halus. Mungkin suatu saat nanti kertas ini
Tiba-tiba Tiara terkekeh. Meski telinganya sendiri menangkap jika nada tawanya begitu hambar. “Sandiwara apa yang mau kamu mainkan, Pevita? Mau memfitnah aku? Untuk apa? Kan kamu sudah berhasil menikahi suamiku.”“A-apa maksud Mbak Tiara?” Suara Pevita tercicit serak. Suara Tiara masih meninggi. “Jangan pura-pura polos kamu—”“Cukup!” Dion akhirnya bisa memotong. Matanya nyalang menatap Tiara.“Kamu juga sama, Pa, nggak punya otak!” Tiara melengking, emosinya tidak lagi dibendung. Tanpa gentar dia menatap balik mata sang suami yang melotot besar. Sementara dadanya naik turun, hampir terasa meledak. “Lio, anak kita, Pa. Anakmu! Darah dagingmu! Dan dia baru saja pergi, bahkan mungkin belum sepenuhnya pergi dari rumah ini, bukannya menggelar doa untuk Lio, tapi malah… agh… sialan!”“Kalian orang-orang nggak beradab! Anakku baru saja mati, dia mati! Dan kalian bersuka cita di rumahnya sambil berharap menggantikan anakku secepatnya?”Lalu perlahan, isak tangis Tiara mulai mengisi udara d
Pevita tetap memasang wajah ceria. Senyumnya lebar. Seolah-olah tidak peduli semua orang di hadapannya mendadak membeku dan saling lirik.“Teman-temannya Lio ya?” Dia berjalan dengan sedikit melengok. Mendekati kelima remaja yang duduk berjajar, menyalaminya satu per satu. Lalu berhenti tepat di hadapan Josh. Tanpa canggung dia menyentuh lengan Josh. “Kalau Mister…?”Josh mengambil tangan Pevita yang masih menepuk lengannya. Mengajak bersalaman. “Saya Josh, pelatih sepak bola di klub Lio.”“Oo… pantesan badannya tinggi kekar ya, ternyata atlet. Kenalin, saya Pevita.” Perempuan itu mengguncang tangan Josh, seraya berderai ringan. “Mbak Tiara, ada tamu kok nggak diajak masuk? Yuk, semua… kita ke dalam saja. Ada syukuran kecil-kecilan, tapi makanannya dijamin enak-enak loh.”“Terima kasih. Kami di sini saja.” Josh membuka suara.Wajah Pevita membias kecewa. Namun dia kembali melempar senyum manis, apalagi saat bertatapan dengan Josh. “Apa itu punya Lio?” Pevita menunjuk tas yang terbuka
Tiara membuang muka. Kok rasanya sakit sekali?“Ti, dengerin Mamah. Saat ini sebaiknya kamu jangan terlalu berlarut dalam kesedihan, daripada kamu kehilangan semua. Kamu sudah kehilangan Lio, kalau kamu kehilangan Dion, artinya kamu juga kehilangan hidupmu!”Mata Bu Lela perlahan melembut. “Iklas aja sekarang ini, jalani yang sedang terjadi.”***Ternyata melihat suami menikah lagi itu rasanya perih luar biasa. Meski Tiara sudah menyiapkan hati semalaman, tapi saat mendengar Dion mengucap ikrar pernikahan yang sama dengan ikrar yang dulu ditujukan untuknya, air mata Tiara berlinangan tak bisa dibendung. Apalagi tempat dilaksanakan pernikahan itu tepat berada di bawah sebuah pigura besar. Di mana ada foto dirinya, Dion dan Lionel yang berpose saling memegang tangan sambil memasang senyum bahagia, layaknya keluarga sempurna. Ya, mereka memang keluarga sempurna. Setidaknya, pernah sempurna, sebelum…“Bu.”Tiara terkesiap manakala pundaknya ditepuk. Saat dia menoleh, Bi Ima, ART-nya meny
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.